Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijebak
Selama acara berlangsung, Angkasa duduk bersama Pak Gugun dan beberapa orang guru lainnya. Mereka bukan hanya membahas masa lalu atau bernostalgia saat masih berada di SMA galaxy. Tetapi pembicaraan mereka mulai meranah ke arah bisnis. Sebab mereka tahu, betapa hebatnya Angkasa sebagai seorang pengusaha.
Ting!
Ponselnya berbunyi.
Awalnya Angkasa mengabaikan. Tetapi notifikasi itu terus berdatangan seperti rantai teror yang tiada henti.
"Sebentar ya Pak?" pamit Angkasa.
Ia mengambil ponselnya dari dalam saku jas. Awalnya ia kesal, karena suara notifikasi itu sangat mengganggu. Tetapi kekesalannya langsung sirna, saat melihat nama sang pengirim.
"Enaknya yang di luar sana! Aku disini kesepian?" tulis pesan yang dikirimkan oleh Leya.
Gadis itu juga menyertakan sebuah foto. Foto dimana ia sedang duduk di balkon dengan wajah murung dan bibir yang mengerucut.
"Jangan ngambek dong sayang! nanti pulangnya Mas beliin makanan mau?" tawar Angkasa. Tahu betul jika mood kekasihnya, biasanya gampang diubah jika sudah dipancing dengan makanan.
"Ok! Bawa yang banyak!" balas Leya dengan cepat.
Tak lama masuk foto baru dari kekasihnya. Kali ini bukan lagi foto murung dengan wajah cemberut. Tetapi foto senyum manis dengan stiker cium di pipinya.
"Dasar manja. Padahal dia bisa pesan pakai ojol!" gumam Angkasa, kembali menyimpan ponselnya.
Seribet dan senyebelin apapun seorang Harleya Putri Calista... Angkasa Bimantara Felix tidak akan pernah bisa marah padanya.
"Istrinya ya Nak?" tanya Pak Gugun, mengamati wajah Angkasa yang full senyum saat melihat ponselnya tadi.
"Iya Pak!" jawabnya.
Angkasa kembali ke topik obrolan. Tidak ia hiraukan acara dan hiburan yang disediakan oleh panitia penyelenggara. Padahal tamu yang lain sangat menikmati acara tersebut.
"Ini minumannya Pak!" ucap seorang pelayan, yang tiba-tiba datang memberikan segelas minuman padanya.
Angkasa mengerutkan kening. Ia tidak merasa memesan ataupun meminta minuman pada pelayan. Tetapi ia tetap menerimanya.
"Terima kasih!" balas Angkasa.
Pelayan itu mengangguk. Ia langsung pergi setelah melihat Angkasa sudah meminumnya.
"Bagiamana, sukses?" tanya seorang wanita, saat pelayan itu kembali menghampirinya.
"Sukses Mbak. Dia udah minum!" jawabnya.
Wanita itu memberikan beberapa lembar uang sebelum pelayan itu kembali ke belakang.
"Angkasa! sebelumnya kamu boleh menolakku. Tapi... setelah kamu tahu bagaimana nikmatnya tubuhku! Aku yakin kamu akan bertekuk lutut di hadapanku!" batinnya tersenyum penuh keyakinan, jika rencananya pasti berhasil.
Dialah Rose. Wanita penuh obsesi yang akan melakukan apa saja demi mendapatkan apapun yang dia inginkan. Jika ia menginginkan sesuatu, maka tidak ada yang bisa melarangnya. Bahkan orangtuanya sekalipun.
"Rose, kamu mau kemana?" tanya Anita, yang baru kembali dari toilet.
"Ada urusan dikit!" jawabnya.
Rose mengedipkan sebelah matanya. Entah apa artinya, tapi yang pasti... Anita merasa ada yang tidak beres setelahnya.
Rose meninggalkan Anita menuju ke tempat lain. Kemana lagi jika bukan berada di dekat Angkasa yang mulai merasa tak nyaman.
"Kamu kenapa Angkasa?" tanya Pak Gugun, melihat Angkasa mulai gelisah dan beberapa kali menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa Pak!" jawabnya. Angkasa berusaha kembali fokus pada percakapan mereka. Namun hawa panas dalam dirinya semakin meningkat, hingga ia tidak sadar mulai mengendurkan dasi dan membuka satu kancing kemejanya.
"Kenapa ruangan ini makin panas sih?" batin Angkasa, mulai menyadari ada yang aneh. Tapi belum kepikiran jika ada yang berniat untuk menjebak dirinya.
Angkasa semakin gelisah. Rasa panasnya semakin membara. Bukan hanya itu saja, hasratnya yang selama ini selalu bisa ia kontrol. Kini muncul dengan gila-gilaan. Ia butuh pelepasan, ia butuh kekasihnya.
"Ada yang gak beres dengan minuman itu!" ucapnya, dengan deru nafas yang memburu.
"Maaf Pak saya ke toilet dulu!" Angkasa pamit, karena rasanya semakin mencekik dan nafsunya pun makin tak terkendali.
Mati-matian ia berusaha mengontrol sisa kesadaran yang semakin terkikis. Niat yang tadinya ingin ke toilet, urung dilakukan.
"Harus pulang sekarang! Aku butuh Leya ku!" gumamnya.
Ia melangkah lebar, sedikit terhuyung. Berjalan menuju ke pintu keluar hotel.
"Angkasa, biar aku bantu!" sentuhan halus dan kata-kata lembut menyapa telinganya.
Angkasa menegang. Nafsunya makin membara. "Pergi!" usirnya, mendorong tubuh Rose menjauh.
Saat ini mereka sudah ada di luar hotel. Sepi, sunyi, tidak ada siapapun disana selain mereka.
Rose tersenyum nakal, ia sengaja makin menurunkan dress-nya.
"Aku tahu kamu butuh ini Angkasa!" Rose menyentuh permukaan buah dadanya yang bulat sempurna dengan sensual.
Angkasa mundur. Disisa kesadarannya yang hanya sedikit, ia berusaha keras menolak wanita itu. Meski, nafsunya mengatakan hal yang sebaliknya.
"Jangan melawan Angkasa! Kamu hanya akan semakin tersiksa!" Rose semakin gencar melakukan godaan. Ia sangat yakin, malam ini Angkasa pasti jadi miliknya.
"Pergi!" Angkasa mendorong keras tubuh Rose dengan sisa tenaga yang ia punya. "Meskipun harus mati, aku tidak akan pernah mengkhianati kekasihku!"
Angkasa meninggalkan Rose yang jatuh tersungkur ke tanah. Ia melangkah cepat, sempoyongan menuju ke mobilnya.
Rose bangun dengan capat, ia menyusul Angkasa. "Angkasa jangan pergi! kamu bisa mati. Obat itu dosisnya sangat tinggi. Kamu butuh pelepasan sekarang!" ia mengetuk kaca mobil dengan keras, berharap Angkasa mau mendengarnya.
Tapi Angkasa sudah tidak bisa mendengar apapun yang ada disekitarnya. Tujuannya saat ini hanya pulang dan bertemu kekasihnya.
"Dasar perempuan sinting! setelah ini, kamu akan tahu akibatnya!" geramnya.
Angkasa memacu mobilnya dengan kencang. Menyalip kendaraan demi kendaraan agar segera sampai di rumah. Leya, Leya, Leya, nama itu terus berputar dalam otaknya. Bayangan bibir lembut dan manisnya. Bayangan tubuh seksi yang selama ini selalu berusaha ia abaikan meskipun sangat menggoda. Serta dua bongkahan bulat padat yang sering tak sengaja menyembul dari balik pakaiannya.
"Aah! Harleya!" tanpa sadar ia mendesah.
Setelah berjuang melawan nafsu dan kesadaran yang hampir habis. Akhirnya ia sampai di rumah.
Angkasa memarkirkan mobilnya sembarangan. Ia melangkah makin lebar, bergerak cepat menuju ke lantai dua.
Di ruang keluarga ada Sukma. Tetapi wanita itu tampak sibuk dengan laptop dan berkas menumpuk yang ada di sampingnya.
Angkasa tidak berniat menghampirinya. Ia melanjutkan langkah, mengabaikan sapaan asisten rumah tangga yang tak sengaja berpapasan di tengah anak tangga.
Angkasa tak sempat mengetuk pintu. Ia langsung masuk, dan melihat kekasihnya sedang berbaring di ranjang sambil bermain ponsel.
Ia mengunci pintu dan membuang kunci itu asal.
"Mas, kamu sudah pulang?" Leya menyadari kedatangan kekasihnya. Tetapi ia bingung melihat gelagat Angkasa yang berbeda.
"Mas kenapa?" Leya menghampiri, menatap wajah kekasihnya yang sudah memerah.
Angkasa tak bisa menjawab. Pandangannya fokus pada bibir merah alami milik Leya yang sangat menggoda.
Ia segera menciumnya.
Bukan ciuman biasa. Tapi ciuman yang terburu-buru, dan penuh nafsu. Ia menyesap, memilin, dan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Leya. Ia mengabsennya setiap inci tanpa ada yang terlewat. Ini bukan gaya berciuman Angkasa yang selalu lembut. Leya menyadari ada yang tidak beres, terbukti dari kedua tangan tangan Angkasa yang mulai bergerilya menjamah seluruh tubuhnya. Terutama dua bongkahan bulat miliknya dan inti tubuhnya.
"Mas kamu kenapa?" Dengan susah payah, Leya menyudahi ciuman Angkasa yang menuntut. Hanya butuh waktu sebentar, bibirnya sudah membengkak karenanya.
"Aku menginginkan kamu sayang!" Angkasa ingin membuka paksa kaos yang Leya kenakan.
"Ini bukan kamu Mas! Kamu tidak pernah memaksaku begini!" Leya menjauh, mendorong tubuh Angkasa yang semakin tersiksa.
Plaaak!