IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lagu yang di rilis oleh Zack Tabudlo. Yang berjudul Give Me Your Forever, mengalun lembut saat Anin menghempaskan tubuhnya di jok mobil yang di kendarai Naufal.
I want you to know
(Ku ingin kau tahu)
I love you the most
(Aku sangat mencintaimu)
I’ll always be there right by your side
(Aku akan selalu ada di sisimu)
Cause baby you’re always in mind
(Karna, sayang. Kau selalu ada di pikiranku)
Naufal ikut melafalkan penggalan lirik itu, sengaja ia tujukan pada kekasihnya.
"Manis sekali, dan terdengar sangat merdu." Anin menanggapi perlakuan kekasihnya tadi,.di sertai senyuman manis.
Naufal balas tersenyum, "Sayang, aku harap ini bukan cuma lirik lagu. Tapi kamu benar-benar bisa mengerti, kalau sebenarnya aku memang cinta sama kamu. Dan pengen ada di sisi kamu terus. Karna yang ada di otak aku itu selalu kamu."
"Tapi kita masih belum bisa berada di sisi masing-masing, karna hubungan kita sekarang justru seperti lirik lagu secret love song, milik Little Mix feat. Jason Derulo. Ya kan?" Anin menatap manik mata Naufal lebih dalam.
Naufal menghela nafas berat, "Berat banget sih sayang, kenapa kita nggak bisa kaya Albie sama Qistina aja. Dalam lima hari bilang mau nikah, langsung nikah. Tanpa ada penghalang apa-apa. Tapi kita?"
"Kalo berat, gimana kalo berhenti aja?" sela Anin.
Dan membuat Naufal terlonjak, hatinya justru bagai di cubit begitu keras saat Anin mengucapkannya. Bahkan ia tidak percaya kalau kalimat itu begitu mudah Anin lontarkan.
"Nggak!" suara Naufal tegas. "Aku merasa berat bukan karna mau berhenti, tapi karna aku sungguh-sungguh memikirkannya. Tolong, di tingkatkan lagi literasinya, biar kamu nggak asal bicara, kaya barusan!"
Anin terkekeh mendengar ucapan Naufal, ia tahu Naufal sedang kesal. Tapi entah kenapa kekesalan Naufal terasa membahagiakan untuknya.
"Belum juga sampe ke wedding nya Albie sama Qistina, eh udah marah-marah aja." Anin mencoba berseloroh, agar kekasihnya itu menurunkan emosinya.
"Kamu sih, mancing-mancing!" sahut Naufal, kesal.
"Udah sih, aku minta maaf. Jangan ngambek, kan kalo ngambek nanti cakep nya ilang." bujuk Anin.
"Sun dulu, baru maafin" Naufal menyodorkan pipinya.
"Ogah, akad nikah dulu baru mau!" sergah Anin.
"Jadi mau di nikah-in sama aku?" goda Naufal, dengan kerlingan nakalnya.
"Ya mau lah, cowok cakep gini. Siapa yang bakal nolak, mana tajir lagi." Anin menjawab dengan menaikkan kedua alisnya.
"Gila! Mulai blak-blakan dia!" timpal Naufal dengan tawa terbahak-bahak.
***
Gedung galeri Alveron sudah di sulap bak istana oleh weding organizer yang di tunjuk keluarga Dewangga, untuk menyambut resepsi.
Di dalam gedung sudah ramai para tetamu undangan. Sesuai kesepakatan Anin dan Naufal harus terpisah saat memasukinya. Anin bergabung dengan Zifa dan Yoan. Sedang Naufal bersama teman-teman sejawatnya dari rumah sakit pusat.
Sesekali mereka melemparkan pandangan. Saat mata mereka saling bertemu, keduanya seperti saling berbicara dengan bahasa yang mereka sendiri yang mampu memahaminya.
Lantas di sebuah meja tidak jauh dari Naufal berdiri, orang tua Naufal tengah duduk bersama kerabat-kerabatnya. Naufal pun menghampiri dan ikut duduk bersama mereka.
"Kamu Mama telepon-in dari tadi nggak angkat, kemana sih kamu?" Regina bertanya, saat anak semata wayangnya itu sudah bergabung bersama mereka.
"Nggak kemana-mana Ma, lagi perjalanan kemari mungkin, Ponsel Naufal silent." timpal Naufal.
"Tadi kayanya tante lihat kamu deh Naf, sama cewek kalo nggak salah. Di parkiran." ujar Megan.
Naufal menaikkan alisnya sebelah, "Tante salah liat kali..." dalihnya. Padahal jelas-jelas yang di lihat Megan adalah Anin.
"Masa sih Tante salah lihat, kayanya nggak deh" Imbuh Megan.
"Oh ya, Gerald mana Tan?" Naufal sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Ada, tadi dia bareng Viola Ama Ale di sana. Nggak tahu tuh pada bahas apa." timpal Megan.
Cara jitu Naufal jika sedang berkumpul bersama kerabatnya yang kadang melempar pertanyaan yang ia malas untuk menjawab adalah mengalihkan dengan pertanyaan lain mengenai anggota keluarga lainnya.
"Gimana, kamu jadi handle langsung kafe itu jadi resto?" sela Regina pada Paulina.
Paulina mengangguk, "Jadi, dan chef Vincent sudah tanda tangani kontrak kerjanya."
"Wah bagus, nanti kita bisa buat markas kalo pas kumpul-kumpul." timpal Regina.
"Emang di mana sih kafenya?" Frans yang sedari tadi diam, kini ikut bertanya.
"Itu yang di kelola sama Alied dan Nico. Mereka lebih betah di Jerman, katanya. Jadi biarlah kafe itu aku yang handle, lagi pula aku rasanya sudah ingin pensiun. Dan ingin menjalani sisa usiaku di sana aja nanti." Tutur Paulina, sambil melirik Fredrick suaminya.
Naufal sendiri tidak terlalu fokus dengan pembicaraan para kerabatnya itu, ia justru sibuk mencari-cari di mana Anin berada. Dengan segelas jus di tangan, Naufal memperhatikan Anin yang bersenda gurau dengan teman-temannya. Namun Naufal sedikit kesal, pasalnya Anin terlalu asyik dengan temannya hingga tak sempat menoleh ke arahnya.
"KYN Kafe memang menyimpan banyak kenangan kita waktu muda ya." tutur Fredrick.
Serta merta Naufal terbatuk. Hingga gelas jusnya bergoyang dan isinya tumpah keluar.
"Pelan-pelan, Naf. Kamu kenapa sih?" Regina panik, menarik beberapa tisyu untuk mengelap tumpahan jus tersebut.
"Kamu ada-ada aja deh, minum belepotan begini." tegur Regina.
"Apa nama kafenya Om? KYN kafe?" ulang Naufal.
Frederick mengangguk, "Iya KYN kafe. O... iya, kami juga baru tahu kalau ternyata Qistina pernah bekerja menjadi kasir di kafe kami. Jangan-jangan kamu dan Albie sudah sering ke sana?" tanyanya.
Bukan itu yang Naufal maksud, tapi Anin yang menjadi manajer di sana. Dan itu artinya, Paulina dan Fredrick pastilah mengenalnya.
Dan benar,
"Anin, eh Pa...itu sepertinya Anin." seru Paulina ketika ekor matanya menemukan Anin.
"Mana? Oh iya itu Anin." timpal Fredrick.
"Anin memangnya siapa?" Megan penasaran.
"Dia itu, manajer di KYN. Anaknya lembut, tapi tegas. Dan kinerjanya selama ini patut di acungi jempol. Dia punya semangat yang tinggi untuk membuat KYN jadi lebih baik lagi. Aku salut dengan gadis itu." Paulina banyak memberi informasi mengenai Anin. Dan itu membuat Naufal semakin khawatir.
"Sebentar aku panggil dia, untuk berkenalan dengan kalian. Jadi kalau kalian ke KYN sedang aku tidak ada, dia sudah mengenal kalian semua." ujar Paulina, lantas berdiri.
"Eh ..nggak usah Tante, aduh...itu.." cegah Naufal, tapi ia bingung bagaimana cara mencegahnya.
"Kenapa sih kamu? Kamu anti banget apa kalo ada cewek cantik di sini?" Regina yang mendengar penuturan Naufal waktu itu, bahwa dia mau sama Albie, jadi selalu was-was. Ia takut kalau Naufal sebenarnya memang mempunyai kelainan. Yaitu suka pria dan anti wanita.
"Nggak Ma, tapi itu..." Naufal masih tidak punya alasan untuk mencegah, hingga akhirnya pasrah. Karna Paulina sudah lebih dulu menghampiri Anin.
Dan lihatlah, kini Paulina tengah mengamit tangan Anin dan membawanya untuk duduk bergabung bersama mereka.
"Perkenalkan ini Anin. Gadis cantik, manajer di kafe & Resto kami." ujar Paulina dengan sorot mata berbinar-binar.
Semua mata tertuju pada wajah cantik Anin, membuat pemiliknya menjadi gugup. Anin gugup karna kini ia tengah di kenalkan oleh calon mertua. Meski belum di perkenalkan sebagai menantu. Tapi tetap saja, membuat jantung Anin berdetak tak menentu.
"Hai, Anin. Cantik sekali kamu, sini duduk dekat Tante. Siapa tahu bisa jadi menantu." celetuk Regina, dengan senyum tulusnya.
Anin pun terkejut, sontak tatapannya bertemu dengan tatapan Naufal yang tak kalah terkejutnya dengan Anin.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍