Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Harus Nenek.
Shafiya memasuki kamar dan melihat Arash duduk di sofa dengan laptop yang berada di atas pahanya.
Shafiya menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, menghampiri suaminya itu dengan meletakkan secangkir kopi di atas meja.
Mata Arash melihat serius ke arah minuman tersebut dan melihat kembali ke arah Shafiya.
"Apa kau ingin aku melempar minuman itu ke wajahmu," ucap Arash dengan sinis.
Shafiya mengambil minuman itu kembali, rasa panas pada kakinya belum hilang akibat perburuan Arash, jika terus menantang Arash yang adanya tubuh mulusnya benar-benar penuh dengan luka.
"Hmmm, Abi dan Umi mengadakan acara syukuran tahunan di rumah," ucap Shafiya berbicara begitu gugup membuat Arash melihat kembali ke arah istrinya itu dengan satu kali terangkat.
"Dan itu alasanmu tiba-tiba membutakan minuman untukku, setelah membuat kekacauan drama dan mengadukkan ku kepada Nenek?" tanya Arash sekarang sudah mengerti apa maksud istrinya itu.
"Semenjak menikah aku belum pernah pulang. Kakak mengabari untuk menyuruh datang ke rumah menghadiri acara syukuran tersebut," ucap Shafiya.
"Pergilah....." Shafiya cukup kaget dengan jawaban Arash.
"Kau ingin aku mengatakan pergilah menemui keluargamu?" tanya Arash seolah-olah mempermainkannya.
"Sayang sekali, aku tidak peduli sama sekali, jika orang tuamu mengadakan syukuran atas keberhasilan mereka karena saat ini masih bisa lolos dari kejahatan, maka biarlah," ucap Arash kembali fokus pada laptopnya.
"Abi belum tentu melakukan semua itu Dan jangan mengaitkannya dengan suatu hal yang tidak ada buktinya," bantah Shafiya tidak ingin jika suaminya itu terus menuduh keluarganya.
Arash tersinggung mendengar perkataan itu dan menatap tajam Shafiya.
"Apa kau buta dan tuli, aku sudah memperlihatkanmu bagaimana gundukan tanah itu di dalamnya ada wanita yang tidak bersalah harus mati sia-sia akibat perbuatan apimu yang terjadi di depan mataku!" tegas Arash.
"Aku tidak ingin mengungkit hal itu, aku hanya ingin mengatakan bahwa Abi dan Umi mengundang untuk acara syukuran di rumah," ucap Shafiya tidak ingin bertengkar dengan suaminya.
"Mau mereka mengadakan syukuran dan mengundangmu itu bukan urusanku!" tegas Arash kembali memalingkan wajahnya fokus pada laptopnya benar-benar tidak peduli dengan keinginan Shafiya.
"Apa yang harus aku katakan kepada keluargaku jika aku tidak hadir?" tanya Shafiya.
"Itu bukan urusanku," jawab Arash dengan santai.
"Oh aku tahu, jangan-jangan kamu begitu ingin pulang ke rumahmu karena ingin mengadukan apa yang terjadi di rumah ini? Kau ingin mengatakan kepada Abi mu akibat perbuatannya yang sudah membunuh kekasihku dan akhirnya kau yang bertanggung jawab atas semua itu?"
"Kau ingin menceritakan kepada keluargamu bagaimana aku memperlakukanmu, bagaimana setiap hari kau tidur tidak tenang, harus menangis dan terluka?" ucap Arash.
"Aku bisa saja menyampaikan semuanya, maka dengan begitu aku tidak akan berada di rumah ini lagi dan kamu akan masuk penjara akibat perbuatanmu," ucap Shafiya dengan lantang menjawab semua balasan dari perkataan suaminya itu.
"Hah!" Arash mendengus mendengar pernyataan Shafiya.
"Apa katamu? Aku akan masuk penjara?"
"Shafiya aku tidak pernah melakukan tindak kekerasan kepadamu secara langsung. Tidak ada bukti yang membuatku harus masuk penjara, dan justru Abi mu yang akan masuk penjara atas perbuatannya!" tegas Arash.
Shafiya terdiam mendengarnya.
"Tetapi mana mungkin dia masuk penjara, dia memiliki kuasa dan lagi pula lebih menyenangkan jika putrinya harus bertanggung jawab," ucap Arash tersenyum miring.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kau tidak terima dengan apa yang aku katakan? Kau ingin menyangkal ucapanku?" tanya Arash.
Shafiya hanya menatap suaminya itu penuh dengan kekesalan, tanpa mengatakan apapun kemudian langsung berlalu dari hadapan Arash. Shafiya merasa percuma berbicara dengan laki-laki penuh dendam.
"Ingin bermain-main denganku, apa dia pikir bisa melawanku," desis Arash dengan kesal.
*****
Makan malam di kediaman Arash, suasana makan malam di meja makan itu terasa hening hanya terdengar suara dentingan sendok.
Shafiya juga berada di sana yang duduk di sebelah suaminya. Karena pernah mendapat penolakan untuk tidak membuat makanan. Shafiya akhirnya memutuskan untuk tidak membuat makanan apapun Arash.
Di rumah itu juga memiliki lebih dari dua pelayan dan bisa mengurus rumah dan juga masakan di rumah itu.
"Shafiya apa kamu sudah bersiap-siap?" tanya Nenek.
"Sudah Nek, hanya tinggal menunggu Mas Arash saja," jawab Shafiya.
Namanya disebut membuat Arash mengangkat kepala menatap serius pada Nenek.
"Bersiap-siap untuk apa?" tanya Arash.
"Bukankah kamu harus menemani istri kamu untuk acara syukuran besok di keluarganya. Jadi malam ini kalian menginap di kediaman orang tua Shafiya," jawab Nenek.
Bukan hanya Arash yang kaget mendengar pernyataan dari Nenek, tetapi juga Tami dan Amelia.
"Tante kenapa harus memutuskan sesuatu tanpa membicarakan terlebih dahulu dengan Arash?" tanya Amelia.
"Amelia, Arash memutuskan sendiri untuk menikah dan artinya dia juga harus bisa membagi waktu untuk keluarga istrinya," jawab Nenek dengan tegas.
"Nenek, tetapi Arash tidak harus pergi bersama dengan Shafiya," sahut Tami.
"Tami daya tidak suka jika kamu ikut berkomentar masalah urusan rumah tangga Arash dan Shafiya. Kamu sebagai tamu di rumah ini harus menghormati pemilik rumah dan orang-orang inti yang berada di rumah ini," jawab Nenek cukup menohok sampai membuat Tami tidak berani berkutik.
"Tapi aku tidak mengatakan untuk pergi," sahut Arash sudah pasti tidak tertarik untuk ikut bersama istrinya.
"Bukan hanya aku saja yang tidak pergi, tetapi aku juga tidak mengizinkan dia untuk pergi," lanjut Arash.
Tami tersenyum mendengar keputusan Arash. Sementara Shafiya terkejut dengan pernyataan itu.
"Arash jangan bertingkah seperti anak kecil!" tegur Nenek.
"Bukan aku anak kecil, tetapi dia? sedikit-sedikit harus mengadukan semua kepada Nenek. Shafiya jangan mentang-mentang ada Nenek di rumah ini dan kau pikir aku tidak bisa melakukan apa yang aku mau. Aku hanya pertama kali membawa masuk ke rumah ini," ucap Arash memberi ancaman bahkan di depan Nenek dia tidak takut sama sekali.
"Arash cukup! Kamu itu manusia dan bukan hewan tidak memiliki hati nurani!" tegas Nenek.
"Nenek tidak mau tahu, kamu temani Shafiya ke rumah kedua orang tuanya!" tegas Nenek.
Arash menjatuhkan sendok di atas piringnya sehingga terdengar suara dentingan cukup keras kemudian berdiri dari tempat duduknya terlihat begitu kesal.
"Jika aku mengatakan tidak, maka tidak, jangan sampai hanya karena masalah kecil dan aku akan membesarkannya, Nek di luar kamar, Nenek bisa mengawasi ku menguras cucu menantu kesayangan Nenek itu, tetapi di dalam kamar Nenek tidak memiliki campur tangan apapun!" tegas Arash seolah-olah menekankan kepada neneknya berhenti ikut campur dengan urusan rumah tangganya.
Shafiya bisa saja mendapatkan masalah darinya dan sudah pasti Nenek tidak bisa turut ambil ikut campur ketika mereka berada di kamar.
Cukup mengatakan kalimat itu membuat Arash kemudian langsung pergi.
"Ternyata kamu hanya berani kepada istri kamu saja dan tidak berani kepada kedua orang tuanya, kamu takut, merasa bersalah di depan kedua orang tuanya karena memperlakukan putrinya sangat buruk," langkah Arash terhenti ketika mendengar pernyataan dari Nenek.
"Ya seseorang yang merasa bersalah tidak akan berani berhadapan langsung dengan orang yang dianggap salah. Tidak salah Nenek memberi kamu julukan pengecut," lanjut Nenek.
Arash mengepal tangan dan kemudian kembali membalikkan tubuhnya.
"Nenek mengatakan aku pengecut? Apa Nenek pikir aku takut bertemu dengan kedua orang tuanya, takut bertemu dengan laki-laki pembunuh itu. Aku tidak takut sama sekali dan akan mengatakan secara langsung kepada mereka bahwa aku menikahi putrinya hanya untuk membalas kematian Chantika!" tegas Arash semakin emosi jika sudah ditantang.
Shafiya sudah mulai merasa panik dengan ketegangan pertengkaran suaminya dengan Nenek dan bahkan ancaman itu terdengar sedikit menakutkan.
"Lalu Nenek pikir setelah aku mengatakan kepada mereka dan mereka bisa membawa putri mereka pulang. Tidak akan, mereka akan menyesal karena pernah mempermainkan nyawa seseorang dan akhirnya penyesalan itu harus dibayar dengan pertanggungjawaban!" tegas Arash.
"Jika kamu tidak pengecut, maka kamu sudah pasti bisa menemani Shafiya ke rumah kedua orang tuanya," ucap Nenek dengan santai menghadapi ancaman dari cucunya.
"Baiklah! Aku akan menemaninya sesuai dengan keinginannya, mungkin sudah waktunya keluarganya yang terhormat itu kembali mengingat kesalahan buruk yang mereka lakukan!" tegas Arash tidak henti-hentinya memberi ancaman.
Shafiya memejamkan mata dengan berusaha menenangkan diri. Arash juga langsung pergi meninggalkan meja makan itu.
Shafiya melihat ke arah Nenek. Tatapan mata Nenek hanya memberikan perhatian kepada Shafiya agar benar-benar sabar dan percaya kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja.
Entahlah Shafiya harus seperti apa menghadapi pernikahannya yang benar-benar rumit
Bersambung....