Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Bucin Dimulai
Realita ironis sampai pria setegas Arvin menangis gara-gara bubur; hanya karena bubur buatan Ayu 100 persen mirip kelezatannya seperti buatan mendingan sang ibu.
Takaran air, bumbu, dan tingkat kematangan. Hanya sang ibu yang mampu membuatnya. Tapi entah bagaimana Ayu juga bisa membuatnya.
Apa cuma kebetulan, atau wanita itu memang punya bakat menjadi chef?
Yang jelas, Arvin sekarang tertunduk malu. Air mata rindunya kepada masa lalu mengalir tidak bisa dibendung.
Sementara Ayu sudah berdiri di luar kamar, tepat di depan pintu. Tangannya beberapa kali menyentuh gagang pintu untuk masuk lagi. Namun selalu berakhir diurungkan.
Dan siapa sangka, bubur itu menjadi awal perubahan rumah tangga Ayu.
Lalu yang terjadi di hari-hari berikutnya. Arvin mulai bertingkah bucin sedikit demi sedikit.
Dia mantap untuk tidak menghilangkan satu dari dua nama wanita di hatinya. Baik Aurelia atau Ayu akan dipelihara dengan baik di dalam dadanya.
Lebih baik memang begini. Dua hati terpecah jadi dua, bukannya setiap pria juga begitu, pikirnya.
Malamnya, Arvin diam-diam juga merobek kertas surat cerai itu, lalu membuang semua serpihannya ke toilet.
...***...
Demam Arvin hanya berlangsung 2 hari. Begitu sembuh, urusan kantor kembali ia hajar. Ayu belum melihat perubahan mencolok Arvin. Dia Tetap tenang, dingin, dan tatapannya tajam sinis seperti biasa.
Padahal, sang suami sebenarnya sudah berangsur menurunkan sikap dinginnya, hanya saja Ayu tidak terlalu memperhatikan.
Hingga datanglah pagi ini. Pagi pertama Ayu akan berangkat kuliah dan merasakan jelas perubahan suaminya itu.
Ayu menggendong tas hitam. Ia memakai jaket hoodie pink pemberian Arvin. Rambutnya diikat ekor kuda biasa.
Penampilan sederhana yang sudah cukup membuat setiap mata di luar sana akan menilai; dia tidak butuh make up tebal atau baju mencolok untuk tetap dikatakan wanita yang menarik.
Langkahnya baru sampai di ruang tengah.
Arah depan sana, Arvin muncul mengenakan pakaian formal. Rapi dan elegan seperti biasa.
Mendapati suaminya jalan mendekat, Ayu merapatkan kaki dan menunduk sopan.
“Hari ini mulai kuliahnya?” tanya pria itu setelah sampai di hadapan Ayu.
“Iya, Pak.”
“Oh.” Arvin mengangguk kecil.
Lalu mereka sama-sama diam. Saling tatap-tatapan.
Sebenarnya Arvin ingin mengobrol lebih banyak lagi. Namun, dia yang tidak biasa basa-basi jatuhnya berakhir canggung begini.
Ayu memaling kaku, begitu juga Arvin.
Ayu melangkah menyamping duluan. Arvin melangkah ke arah yang sama.
Tatap-tatapan canggung berlangsung lagi.
“Kalau bapak mau duluan, duluan saja,” tawar Ayu, tidak enak.
Arvin diam sejenak. “Begini … aku antar kamu ke kampus boleh?”
“Heh?” dahi Ayu seketika berkerut bingung.
“Jangan, Pak. Saya bisa naik bis kota. Nanti bapak terlambat, hehe” tolak Ayu.
“Kamu kuliahnya di kampus Bima Negara, kan? Itu jalannya searah. Sekalian saja.”
“Soal itu …” Ayu mulai menunduk tidak enak. Kepalanya tidak berhenti bertanya-tanya, ini sedang mimpi atau kenyataan?
Gara-gara Ayu kelamaan mikir, Arvin bergegas duluan ke pintu.
“Kalau tidak cepat-cepat, kita berdua bakalan terlambat!”
“Baik Pak!” Ayu buru-buru menyusul.
Dalam perjalanan turun ke lantai bawah, Ayu berkesimpulan. Dia yakin Arvin belum sepenuhnya sembuh dari demam. Panas di kepalanya membuat isi kepalanya masih eror. Buktinya, seorang Arvin tiba-tiba menawari tumpangan.
Kalau hari-hari biasa, jangankan diajak jalan-jalan, cuma minta tumpangan ke supermarket saja tidak pernah disudikan.
Mobil Arvin sudah melintasi jalan raya kota. Ayu di kursi depan duduk tidak nyaman sembari terus curi-curi pandang ke sebelah, memastikan apa masih ada pucat di wajah Arvin.
“Kenapa dari tadi lihatin saya?” Arvin bersuara tiba-tiba dengan kepala tetap lurus kedepan.
Ayu sekejap meluruskan pandang. “Tidak. Saya tidak lihatin Bapak. Cuma …”
“Cuma apa?”
“Emm .. apa bapak masih demam atau kurang enak badan?”
Sudut mata Arvin mengerut. “Aku sudah sembuh. Kenapa nanya begitu?”
“Soalnya bapak hari ini aneh?”
“Aneh gimana?”
“Ya … aneh saja. Seperti lebih … ramah,” lirih Ayu.
Arvin tidak berekspresi mendengarnya. Dia malah langsung menanyakan hal lain.
“Bagaimana dengan jaket yang kamu pakai itu. Apa kamu suka?”
Ayu mengangguk cepat.
“Ko bapak bisa tahu saya suka jaket warna pink?”
“Cuma nebak. Saya pikir semua cewek suka warna pink.”
“Kalau mau lagi bilang saja. Aku belikan 500 jaket sekaligus, kalau mau.”
“Eh … ini saja cukup ko Pak. Makasih!” suara Ayu gelagapan.
Kulit di sekujur lengan Ayu langsung dibuat merinding.
Ternyata benar. Pak Arvin masih sakit. Sikapnya terlalu baik.
Mobil sampai di sekitar gerbang kampus. Begitu mobil berhenti, Ayu cepat-cepat melepas sabuk pengamannya.
“Makasih Pak sudah nganterin saya.”
Arvin mengangguk.
Saat hendak membuka pintu, Ayu menoleh sebentar dan berpesan. “Pak jika kepala bapak masih sakit, saya bisa panggilkan dokter lagi. Permisi.”
Ayu buru-buru keluar.
Arvin melempar mata tajam. “Saya tidak sakit. Sudah sem—” ucapannya terpotong karena Ayu sudah turun duluan dan pintu ditutup rapat.
Dia menghela napas heran. “Kenapa dia malah berpikir aku masih sakit?”
Ketika mobil akan ia jalankan lagi, di saat yang sama, sudut matanya terhenti kepada Ayu di luar sana yang sedang setengah berlari memasuki gerbang kampus. Melihat gaya jalan istrinya yang menggemaskan itu, punggungnya turun nyender santai.
Dia jadi masih ingin menyaksikan sosok wanita itu lebih lama lagi.
Dari arah samping Ayu, terlihat Cintia datang menyambut, memeluk, dan mereka pun mengobrol heboh bersama sembari bergandengan masuk.
Begitu Ayu dan temannya tidak terlihat, punggung Arvin tegak kembali lalu mobil dijalankan.
Jarak antara kampus dan kantor tempatnya bekerja tidak terlalu jauh. Arvin sampai tepat waktu. Langkahnya memasuki lobi kantor. Seperti biasa, beberapa karyawan berlalu lalang menyapa sang CEO.
“Selamat pagi Pak Arvin.”
“Pagi.” Arvin merespon cepat. Ramah.
Beberapa karyawan yang menyapa sontak menganga tak percaya. Sesuatu yang sangat langka. Biasanya hanya dibalas pakai anggukan sekarang pakai suara.
“Pak Arvin ko balas sapaan kita? Ada apa nih?”
“Entahlah? Tapi beliau terlihat cerah hari ini.”
“Aku suka Pak Arvin yang seperti itu.”
“Benar. Terasa mudah digapai”
“Hus! Dia udah punya istri!”
Sampai di ruang kantor, Arvin langsung duduk di kursi kebesarannya. Seorang sekretaris wanita masuk, datang meletakkan beberapa dokumen di atas meja.
Begitu sang sekertaris keluar, Arvin menghela napas lelah. Pagi-pagi sudah dapat dokumen menumpuk.
Itu normal dan biasanya bikin greget untuk segera dikerjakan. Namun beda dengan hari ini. Hasratnya sedang condong ke arah lain. Dia tiba-tiba kepikiran malam ini mau mengajak Ayu makan malam di luar.
Bibirnya jadi tersenyum sendiri membayangkan momen berdua di restoran bintang lima yang akan ia dapat bersama istrinya nanti malam.
Urusan dokumen di meja ia kesampingkan.
Tak pikir panjang, HP dikeluarkan. Dia mengetik pesan.
Pesan terkirim.
Ayu sedang menerima jam kuliah pertamanya. Merasa HP-nya bergetar, dia memeriksanya diam-diam.
Isi pesan Arvin:
[Nanti malam ikut aku diner]
Ayu mematung sejenak sebelum bergumam sendiri. “Pak Arvin benar-benar masih sakit parah!
Kondisi kelas sedang ada dosen. Jadi Ayu buru-buru membalas seadanya.
Balasan Ayu:
[baik Pak]
Ayu dan Cintia jalan keluar bersama setelah selesai jam kuliah.
Cintia berseri-seri menggandeng tangan Ayu. Dari dulu dia sangat ingin sahabatnya ini bisa kuliah bersamanya. Sekarang akhirnya tercapai meski Ayu sudah berstatus ibu rumah tangga.
“Kita jalan-jalan Yuk,” ajaknya.
“Boleh tapi sampai sore saja. Soalnya pak Arvin nyuruh jangan telat pulang.”
Cintia cemberut. “Ih.. suamimu itu! Selalu saja nyebelin. Kapan sih dia bisa berubah!”
Mendengar kata berubah dari mulut Cintia, Ayu jadi ingin cerita soal perubahan Arvin hari ini.
“Sebenarnya, Pak Arvin hari ini rada berubah.”
Cintia melirik cepat. “Hah? Berubah gimana!”
“Entahlah. Dia kaya yang … eehh!”
Duuk!
Ayu baru akan cerita panjang lebar sebelum akhirnya terhenti. Bahunya tidak sengaja menyenggol seseorang yang berpapasan di sebelahnya.
“Maaf!” seru Ayu.
“Enggak apa-apa. Eh Ayu?” seru Raka.
“Mas Raka?” kaget Ayu.
“Kamu ngapain di sini?”
“Aku kuliah.”