Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Rasa Bersalah
Gejolak getaran hati itu belum juga usai.
Arvin sekarang menghadiri rapat yang sempat ia ajukan tunda kemarin.
Dia menyimak rapat tapi masalah tamparan Ayu tadi pagi serta getaran rasa bersalahnya justru semakin menghimpit fokusnya.
Masalah yang lalu-lalu, yang sampai buat dia rela pergi minum-minum demi mengusir Ayu dari kepalanya saja belum kelar, sekarang malah nambah pikiran baru.
Dia tidak tahan.
Kepalanya terasa mau meledak.
Selesai rapat, Arvin menyender lemas di kursi kebesarannya. Ruang kerjanya luas dan ber AC. Namun ia merasa sempit di ruangannya ini, serta pengap gara-gara pikirannya yang sesak.
Haruskah pergi minum-minum lagi?
Tidak. Arvin tidak suka.
Minum-minum kemarin cuma ide gila. Dia tidak berbakat di ranah itu.
Alhasil, Alden si kakak sepupu dipanggil masuk ke ruangannya. Alden orang yang cukup bijak dan sosok pendengar yang baik.
Tidak ada orang lain selain dia yang tahu banyak tentang hidup Arvin. Arvin sendiri tidak pernah keberatan berbagi kisah hidup. Baginya, Alden sudah dianggap sebagai kakak kandung dan tempat curhat yang baik.
“Ada apa?” sambut Alden lalu menutup pintu kembali. Dia langsung duduk di sofa.
Arvin segera bangun, ikut duduk di sofa berlawanan dan langsung memijat-mijat kepalanya.
Tanpa diberitahu, Alden langsung tahu Kalau adik sepupunya pasti punya masalah lagi dengan Ayu. Dia jadi tidak sabar untuk mendengar kisahnya.
Arvin mulai bercerita panjang lebar.
Sampai di akhir cerita, Alden merespon dengan tawa terbahak-bahak.
“Lucu ya?” sinis Arvin.
“Lucu banget. Niat ngejauhin istri malah berakhir dirawat istri.”
Arvin menghujami Alden dengan tatapan serius. Seketika itu juga tawa Alden hilang. “Maaf, Pak Arvin.”
Arvin mendengus. “Jadi apa kakak punya solusi agar sesak di kepalaku ini hilang?”
Alden meletakkan dua lengannya santai ke atas sandaran sofa. “Kalau menurutku sih tinggal bawa santai saja. Toh Ayu tidak melakukan apa-apa. Justru kamu harus berterima kasih ke Ayu karena dia masih sempat ngurus kamu saat tak sadarkan diri”
Arvin menatap sinis. “Jadi Kakak lebih percaya ke Ayu ketimbang adikmu ini? Jelas-jelas aku bangun ada dia tidur di atasku.”
“Ya mungkin saja memang kamu yang narik dia lalu memeluknya erat. Kamu kan sedang mabuk.”
Arvin menggeleng. “tidak. Mustahil!”
Alden menggaruk-garuk kepalanya. Dia sendiri memang lebih percaya Ayu. Sedangkan adiknya yang keras kepala ini terkadang sangat menyebalkan.
“Aku yakin. Dia sudah hamil karena berhasil memasukkan paksa benihku kepadanya. Wanita murahan!”
“Wow stop!” seru Alden tiba-tiba. Dua tangannya cepat turun dari sandaran dan dia mulai menegakkan punggung. Menatap serius.
“Aku tidak menyangka kamu sampai ngatain istrimu sendiri wanita murahan.”
“Memang kenapa? Itu benar!”
“Ya ampun!”
Alden menggeleng tidak percaya. Dia mendengus berat sebelum merespon dengan nada tegas.
“Aku paham kamu belum bisa menerima dia jadi istrimu tapi paling tidak,” Alden mengacungkan telunjuk tajam, “jaga mulutmu agar tidak berkata kotor!”
Arvin terdiam. Mulutnya sontak menutup rapat.
Alden juga dikenal sebagai sosok yang santai dan menyenangkan. Sangat jarang pria itu menunjukkan emosi marahnya.
Tapi sekali ditunjukkan — seperti sekarang — Arvin langsung sadar; pasti ada sesuatu yang dinilai Alden telah kelewat batas.
Arvin sendiri tidak menyangka kakaknya justru malah memihak Ayu.
Arvin ikut memasang duduk tegak sempurna. Sementara Alden masih diam menatap serius adiknya.
Alden membuka mulut. “Ayu bukan tipe orang seperti itu. Aku mengenalnya, dan kamu juga mengenalnya.”
Arvin menghela napas. Sorot matanya beralih malas ke arah lain. Melihat itu, Alden berdiri mendatangi Arvin.
Lalu, Alden menempelkan jari telunjuknya dalam-dalam ke dada Arvin. “Di dalam sini… kamu percaya Ayu tidak melakukan hal kotor seperti itu.”
“Tapi di dalam sini” telunjuk Alden beralih naik dan menekan kuat ke dahi adiknya, “tetap menyalahkan Ayu karena kamu selalu merasa paling benar.”
Sebelum menarik telunjuknya, Alden menyentil gemas dahi Arvin hingga sang adik mengadu kesakitan.
“Sakit, Kak!”
Alden tersenyum tipis. Dia balik badan untuk pergi.
Sebelum melewati ambang pintu, Dia berpesan, “Minta maaflah ke dia!”
Arvin sewot, “kenapa aku harus minta maaf. Dia yang—”
“Kamu laki-laki, kan?” potong Alden. “Turuti kata hatimu, lalu minta maaflah ke dia!”
Dan pintu pun ditutup. Kepala Arvin makin pusing.
...***...
Arvin pulang lebih cepat. Percuma terus di kantor dalam keadaan tidak fokus begini. Tidak ada gunanya.
Mobil ringseknya kemarin sudah berakhir di tempat sampah. Bukan masalah bagi orang berada untuk mendapatkan mobil baru.
Mobil lama dibuang, mobil baru dipakai.
Selama perjalanan pulang, Arvin tidak berhenti uring-uringan. Sesekali tangannya memukul-mukul klakson hanya untuk mengusir mobil di depan yang dianggap menghalangi jalan.
Dia jadi tidak sabaran. Dan itu gara-gara perasaan bersalah di hatinya yang terus mengganggu.
Rasa bersalah itu menancap seperti duri kecil. Semakin dibiarkan menancap, semakin kulit membengkak.
Dia ingin menghilangkannya sampai benar-benar lenyap. Tapi bagaimana caranya?
Sebenarnya, getaran menyesal juga sedikit ada. Apalagi dia sendiri tidak menyangka, Ayu yang sosoknya penyabar bisa-bisanya nekat menampar pipinya.
Arvin jadi teringat kata-kata sang kakak tadi siang, yang bilang hati Arvin sebenarnya mengakui Ayu tidak bersalah, namun otaknya menolak karena merasa paling benar.
Mobil hitam Arvin perlahan melambat, berhenti tepat di belakang zebra cross. Lampu lalu lintas di atas sedang merah.
Selama menunggu menjadi hijau, Arvin merenungi kata-kata kakaknya itu.
Pelan-pelan, hatinya mulai terketuk.
Dia menghembus napas pelan. Raut emosinya juga mereda.
“Sepertinya aku memang harus minta maaf. Paling tidak, aku melakukannya biar rasa bersalah di hati ini bisa hilang. Serta biar bisa kembali fokus bekerja dengan tenang” gumam Arvin.
Ketika lampu lampu lintas mulai hijau, gas kembali ditancapkan. Mobil melaju namun memutar arah.
Arvin beralih tujuan, mengendarai mobilnya menuju mall terdekat.
Kata maaf saja belum cukup. Dia seorang CEO. Maka, mengucapkan maaf disertai hadiah adalah hal wajib untuk golongan orang sepertinya.
Selesai membeli hadiah, Arvin langsung pulang ke rumah. Dia pergi berdiri di depan pintu kamar Ayu sambil memegang kotak hadiah.
Arvin mengetuk pelan.
Sebelah tangannya mulai mengibas-ngibas tak tenang.
“Aneh. Kenapa aku malah gugup?” gumam Arvin, merasa aneh sendiri.
“A–Ayu!” panggil Arvin karena pintu tak kunjung dibuka.
Suara kunci memutar terdengar.
Ayu membuka pintu kamarnya setengah. Wajahnya tertunduk takut.
“Iyah?” lirihnya, hampir tak terdengar.
“Saya mau …” suara Arvin terhenti. Di mau bilang minta maaf tapi tercekat.
Ayu menunggu.
Arvin mengulangi, “Saya mau minta…”
Lagi-lagi kata ‘minta maaf’ seolah tersangkut di tenggorokannya. Tidak mau keluar.
Ayu menatap bingung.
“Bapak mau apa?”
“Saya mau …”
“Heh?”
“Saya mau min…”
Gara-gara kata maaf tak kunjung bisa keluar, Arvin menyerah.
Dia menyodorkan paksa hadiah yang ia bawa.
“Nih buat kamu!”
Ayu menerima. “Ini apa?”
“Sudah jangan banyak omong!”
Arvin pergi. Ayu melihat keheranan.
Ayu kembali masuk ke kamarnya. Dengan raut bertanya-tanya, Ayu membuka kotak hadiah dari Arvin di lantai.
“Ini kan?” Ayu tertegun.
Dia mengangkat isi hadiah itu
Sebuah jaket hoodie merah muda oversize. Lucu. Menggemaskan.
“Kenapa pak Arvin tiba-tiba ngasih ini?” gumamnya menerka-nerka.
Awalnya dia termenung lama dengan bibir cemberut. Lama-lama bibir itu menjadi senyum lebar. Pipinya memerah.
Ayu memeluk jaket itu. Dia seolah-olah paham kalau Arvin tadi ingin meminta maaf tapi terhalang watak egoisnya.
Ayu melirik ke sudut kamarnya. Di sana ada koper yang sudah berisi semua baju-bajunya.
Dia kemudian bangun berjalan ke nakas. Di atas sana, sudah ada selembar kertas berisi kata-kata perpisahan untuk Arvin.
Akan tetapi, gara-gara kedatangan Arvin dan hadiah jaket di tangannya ini, Ayu merobek kertas itu lalu mengeluarkan lagi semua baju dari dalam koper.
Entahlah.
Semesta seakan menolak mereka berpisah.
Mungkin Ayu dan Arvin memang ditakdirkan jodoh.
...****...
Sementara di tempat lain, Raka di meja kamarnya senyum-senyum sendiri memikirkan Ayu.
Dia menulis beberapa hal yang ingin dicapai tahun ini di catatan keciil. Sebuah target tahunan.
Dan salah satu keinginannya adalah: menjadi suami Ayu.