NovelToon NovelToon
BEYOND THE DOOR OF DEATH

BEYOND THE DOOR OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Mata Batin
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: elrznta

Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BACK TO HUMAN LIFE

Perpustakaan kerajaan kembali sunyi setelah penjelasan ibunya Harvey tadi. Hyeana masih terduduk lemas di sofa sambil memegangi kepalanya.

“Aku masih nggak ngerti gimana itu bisa terjadi.”

Ibunya Harvey duduk santai di kursi seberang sambil menyeruput teh hitamnya.

“Manipulasi waktu antar dimensi bukan hal yang terlalu sulit bagi keluarga kerajaan Veilstead.”

“Hah?!”

“Meski memang cukup melelahkan.”

“ITU TETEP AJA NGGAK NORMAL”

Harvey yang berdiri di dekat rak buku hanya memperhatikan Hyeana diam-diam, sudut bibirnya sempat naik tipis kecil lagi karena ekspresi panik Hyeana selalu terasa…hidup. Harvey sangat menyukai itu. Hyeana akhirnya menghela nafas panjang.

“Jadi…di dunia manusia beneran belum lewat lama?”

“Belum Hyeana.” jawab ibunya Harvey lembut.

“Kau masih bisa kembali tepat seperti saat Harvey membawamu ke sini.” lanjutnya

Kalimat itu justru membuat dada Harvey terasa sedikit berat. Kembali......Artinya Hyeana memang harus pergi dari Veilstead sebentar lagi. Tatapan merah Harvey perlahan turun dan Hyeana yang duduk di sofa langsung menyadari perubahan kecil itu.

“Harvey?”

Harvey mengangkat wajah pelan.

“Apa kau ingin pulang sekarang Hyeana?” Suaranya terdengar sangat tenang namun itu yang membuat Hyeana merasa aneh karena mata merah Harvey terlihat seperti sedang menahan sesuatu.

“Eumm…aku memang seharusnya pulang sih…”

Harvey mengangguk kecil.

“Aku akan mengantarmu pulang Hyeana.” Jawaban itu terdengar biasa.

Tapi entah kenapa…malah terasa sedih, Ibu Harvey memperhatikan putranya beberapa detik lalu tersenyum kecil samar.

“Aku akan segera menyiapkan portal.”

Wanita itu lalu berdiri dan berjalan keluar meninggalkan mereka berdua di perpustakaan.

Begitu pintu tertutup…Suasana langsung terasa jauh lebih sunyi.

“Harvey.”

“Hmm?”

“Kamu kenapa?”

Harvey diam beberapa detik lalu berjalan perlahan mendekati sofa tempat Hyeana duduk.

“Aku tidak apa-apa.”

“Itu bohong.”

Harvey berhenti tepat di depan Hyeana, mata merah itu menatapnya lama sekali sampai akhirnya Harvey mengangkat tangan pelan lalu menyentuh rambut Hyeana lembut.

“Aku hanya tidak suka kau pergi.”

Jantung Hyeana langsung berdetak lebih cepat.

“Veilstead terasa jauh lebih hidup saat kau ada di sini.” lanjutnya

Suara rendah itu terlalu tulus, tidak ada nada bercanda sedikit pun. Hyeana bahkan bisa melihat kelelahan dan kesepian samar di mata merah Harvey sekarang. Seolah beberapa hari bersama Hyeana membuat Harvey akhirnya mengingat lagi bagaimana rasanya bahagia. Dan sekarang…Ia harus kembali ke dunia nya.

Dada Hyeana tiba-tiba terasa sesak kecil, itu aneh.

Padahal ia hanya kembali ke rumahnya sendiri.

Namun kenapa rasanya seperti akan meninggalkan seseorang yang sangat penting?

“Hyeana.”

“Hmm?”

“Kalau kau sudah kembali ke duniamu…”

Harvey menunduk sedikit hingga wajah mereka sangat dekat sekarang.

“Apa kau akan tetap mau jika aku ajak kembali ke sini?”

Tatapan merah itu terlalu serius, terlalu dalam, dan untuk pertama kalinya…Hyeana sadar sesuatu.

Harvey benar-benar takut ditinggalkan. Bukan takut sendirian tapi takut kehilangan dirinya, lagi.

Tanpa sadar…Hyeana perlahan menggenggam ujung mantel hitam Harvey.

“Aku tetap mau kesini lagi kok…”

Mata merah Harvey sedikit melembut.

“Benarkah Hyeana?”

Hyeana mengangguk pelan.

“Aku berjanji.”

Sunyi beberapa detik. Lalu perlahan….Harvey menutup matanya sebentar sebelum akhirnya menyentuhkan dahinya pelan ke dahi Hyeana. Gerakan itu lembut sekali, Hampir seperti seseorang yang sedang menenangkan dirinya sendiri.

“Kalau begitu aku akan selalu mengajakmu berbahagia disini.”

Wajah Hyeana langsung merah total lagi. Namun anehnya…Kali ini ia tidak mundur sedikit pun.

Beberapa menit setelah suasana sunyi itu…pintu perpustakaan akhirnya kembali terbuka pelan. Ibu Harvey masuk bersama cahaya tipis berwarna perak yang melayang di belakangnya.

“Portalnya sudah siap.”

Harvey perlahan menjauh sedikit dari Hyeana walau tatapan merah itu masih tertahan padanya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Hyeana berdiri pelan sambil merapikan bajunya yang sedikit kusut. Jantungnya masih belum tenang gara-gara Harvey tadi.

Mereka bertiga lalu berjalan keluar dari perpustakaan kerajaan. Lorong istana Veilstead malam itu terasa sangat tenang. Cahaya kristal biru di dinding memantul lembut di lantai hitam mengilap. Para pelayan yang berpapasan langsung menunduk hormat begitu melihat Harvey dan ibunya lewat.

Namun beberapa dari mereka diam-diam melirik Hyeana penuh rasa penasaran karena untuk pertama kalinya…Pangeran Veilstead terlihat berjalan bersama seseorang dengan ekspresi setenang itu.

Dan untuk pertama kalinya juga…Harvey membiarkan seseorang berdiri sangat dekat di sisinya.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Mereka tiba di aula utama istana. Langit-langitnya tinggi sekali sampai hampir tidak terlihat ujungnya. Pilar-pilar hitam raksasa berdiri mengelilingi ruangan dengan simbol perak bercahaya yang bergerak pelan seperti hidup. Di tengah aula, portal besar berwarna putih keperakan sudah terbuka. Anginnya lembut dan ada hawa yang hangat seperti cahaya bulan.

Hyeana menatap portal itu beberapa detik sebelum akhirnya berbalik ke arah ibunya Harvey.

“Eumm…”

“Hmm?”

“Aku dari tadi bingung sebenarnya…”

Ibu Harvey tersenyum kecil.

“Bingung apa?”

“Aku harus manggil ibu siapa?”

Harvey yang berdiri di samping langsung melirik kecil ke arah ibunya. Sedangkan Ibunya malah tertawa pelan. Tawanya lembut sekali sampai aura dingin aula itu terasa mencair sedikit.

“Benar juga. Dari awal kau hanya memanggilku ‘ibu Harvey.’”

“Iyaa…hehe”

Wanita itu kemudian melangkah mendekat lalu sedikit membungkukkan badan anggun ke arah Hyeana.

“Namaku Lilyant Elspethfaye Alystair.”

Hyeana langsung bengong.

“Namamu panjang sekali bu.”

Harvey menutup matanya sebentar seperti sudah menduga reaksi itu, sedangkan Lilyant malah tertawa kecil lagi.

“Biasanya semua yang berada disini memanggilku Lily.”

“Hah…syukurlah ada versi pendeknya.”

“Kalau begitu kau juga boleh memanggilku Lilyant.”

Hyeana tersenyum kecil.

“Baik ibu.”

Tatapan Lilyant langsung melembut hangat.

“Aku akan menunggu kau datang bermain lagi ke Veilstead, Hyeana.”

Kalimat itu terdengar sangat tulus bukan sekadar formalitas kerajaan. Benar-benar seperti seseorang yang sudah menganggap Hyeana bagian dari tempat ini dan entah kenapa…itu membuat hati Hyeana terasa hangat kecil lagi. Tiba-tiba....

DUK.

Suara armor berbunyi memenuhi aula. Hyeana langsung menoleh kaget. Seluruh kesatria Veilstead yang berjaga di sekitar aula mendadak berlutut serentak. Puluhan pelayan istana ikut menundukkan kepala dalam diam. Bahkan beberapa roh cahaya yang melayang di udara ikut berhenti bergerak pelan.

Hyeana membelalak panik.

“EH?!”

Harvey berdiri tenang di sampingnya.

“Ini salam penghormatan.”

“UNTUK APA AKU DIHORMATIN?!”

“Karena kau tamu istimewa Veilstead.”

“ITU MALAH BIKIN AKU TAKUT.”

Beberapa pelayan wanita sampai menahan senyum kecil melihat kepanikan Hyeana. Sedangkan Harvey…Untuk kesekian kalinya malam itu sudut bibirnya naik tipis kecil lagi dan itu cukup membuat seluruh aula terasa semakin mustahil. Karena semua orang di Veilstead tahu.....Pangeran mereka hampir tidak pernah tersenyum.

Harvey kemudian berjalan mendampingi Hyeana sampai tepat di depan portal. Harvey tidak ikut pulang ke dunia Hyeana malam itu karena ia harus menyelesaikan sesuatu di istana.

“Aku akan mengantarmu sampai portal tertutup.” ucap Harvey

Hyeana mengangguk kecil. Namun sebelum masuk…Tangannya tiba-tiba terasa ditarik pelan.

Hyeana menoleh, Harvey menggenggam tangannya sebentar. Genggaman itu terasa erat, sangat erat seolah benar-benar takut kehilangan lagi.

“Hyeana.”

“Hmm?”

“Jangan hilang.”

Tatapan merah itu terlalu serius sampai dada Hyeana kembali berdetak cepat.

“Aku kan udah janji bakal balik kesini lagi..…”

Harvey menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Aku akan selalu menunggu hari itu.”

Dan untuk pertama kalinya…Hyeana sadar sesuatu.

Mungkin sekarang ada seseorang di dunia lain yang benar-benar menunggunya pulang.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Cahaya portal mulai menyelimuti tubuh Hyeana perlahan.

“Dadah Harvey.”

“Hmm.”

“Dadah Ibu Lilyant.”

Lilyant tersenyum hangat.

“Sampai jumpa lagi, Hyeana.”

Dan beberapa detik kemudian....Tubuh Hyeana menghilang ke dalam cahaya putih. Portal perlahan tertutup, aula kembali sunyi, namun Harvey masih berdiri di tempat yang sama cukup lama untuk menatap ruang kosong bekas portal tadi sampai akhirnya Lilyant berjalan mendekat sambil tersenyum tipis.

“Kau sangat menyayanginya.”

Harvey diam sebentar.

“Aku hanya tidak ingin kehilangan-nya lagi.” jawaban itu begitu pelan namun cukup membuat Lilyant menatap putranya lembut.

Karena setelah sekian lama…Akhirnya Harvey kembali memiliki alasan untuk menunggu hari esok.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Sementara itu, Hyeana muncul lagi di gang dekat rumahnya. Langit sore masih sama, suara kendaraan masih ramai, tidak ada yang berubah, namun entah kenapa…dunia terasa sedikit berbeda sekarang.

“Aku beneran punya jalan pulang ya…”

Lalu ia mulai berjalan pulang santai. Begitu sampai didepan rumah, pintu rumah dibuka....

“KAMU DARIMANAAA?!” Kakaknya langsung muncul dari dapur sambil membawa sendok sayur.

Hyeana kaget setengah mati.

“ASTAGA KAK.”

“Kamu ilang lama banget.”

“Kan cuma bentar.”

“Bentar dari mana?!”

Hyeana langsung salah tingkah kecil.

“Pokoknya bentar.”

Kakaknya langsung menyipit curiga.

“Hmmm…jangan-jangan habis ketemu cowok.”

“NGGAK.”

“Cepet banget jawabnya.”

“YA KARENA EMANG NGGAK.” Padahal wajahnya sudah merah sendiri.

Malam itu mereka makan sambil ngobrol santai seperti biasa. Kakaknya beberapa kali bercanda soal Hyeana yang senyum-senyum sendiri dari tadi.

Dan sialnya…Setiap mengingat Harvey, Jantung Hyeana memang langsung tidak normal.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Akhirnya malam datang, Hyeana rebahan di kasur sambil memegang liontin hitam itu, Lampu kamar sudah mati. Lalu....ada rasa hangat kecil terasa lagi dari liontin.

Deg.

Hyeana langsung menatap benda itu.

“Harvey?”

Tidak ada jawaban.

Namun entah kenapa…Ia bisa membayangkan mata merah itu sekarang. Dan perlahan…Hyeana tertidur sambil memegang liontin tersebut dekat dadanya.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Pagi hari, Sekolah kembali ramai seperti biasa. Begitu Hyeana masuk kelas.

“HYEANAAAAA!” Olla langsung nyamper heboh padahal biasanya dia kalem banget

“KAMU TAU AKU KEMARIN NANGIS.”

“Kenapa lagi…”

“Karena tugas fisika.”

“Itu bukan alasan nangis.”

“ITU SANGAT VALID.”

Haras datang sambil ketawa kecil.

“Tumben Hyeana keliatan happy.”

Ara langsung nimbrung.

“Iya serius. Auranya beda.”

Anne ikut duduk di meja depan.

“Dan dia senyum sendiri dari tadi.”

Deg.

Hyeana langsung refleks menutupi wajah.

“Apaan sih kalian.”

Lidia yang sedang membaca buku perlahan mengangkat wajahnya.

“Kau terlihat seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.”

BUK.

Buku Hyeana langsung jatuh.

“KENAPA SEMUA ORANG BILANG GITU SIH?!”

Olla langsung menunjuk dramatis.

“NAHHH.”

Haras ketawa makin keras.

Ara sampai nepuk meja.

“Fix banget.”

Seana yang sedari tadi diam dekat jendela akhirnya bicara pelan.

“Tapi memang ada yang berubah dari Hyeana.”

Hyeana langsung diam sesaat, tangannya refleks menyentuh liontin di balik seragamnya. Ia merasa seperti ada suara rendah familiar berbisik dekat telinganya.

“Aku menemukanmu lagi.”

Mata Hyeana langsung melebar kecil, sedangkan jauh di balkon istana Veilstead, Harvey berdiri sendirian memandang langit hitam dunia itu dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…Veilstead tidak lagi terasa kosong baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!