Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin
Hening.
Canggung.
Dan sangat tidak nyaman.
Brielle berdiri kaku di depan Kalista Garendra sambil memaksakan senyum manisnya. Sedangkan Nevran berdiri beberapa langkah di belakang mommy-nya dengan wajah datar khasnya. Tatapannya lurus ke Brielle. Menyebalkan.
“Lho?” Kalista tersenyum lembut. “Kalian malah diem-dieman?”
“Eh… anu tante…” Brielle nyengir canggung. “Aku lagi jalan sama temen.”
Kalista mengangguk pelan. “Bagus dong. Kebetulan Nevran juga di sini.”
Brielle langsung melirik Nevran tajam. Sedangkan cowok itu cuma berdiri santai dengan tangan di saku celana. Diam. Namun auranya ngeselin.
“Yaudah,” lanjut Kalista lembut. “Lanjutkan dinner kalian.” Lalu sebelum pergi, wanita elegan itu menatap Nevran. “Nanti jangan lupa antar Brielle pulang ya.”
Deg. Brielle langsung panik. “Eh tante gak usah repot—”
“Tante tenang kalau sama Nevran.”
“Iya tapi—”
Kalista malah tersenyum hangat. “Jangan pulang terlalu malam.” Dan pergi begitu saja. Meninggalkan Brielle dan Nevran yang sekarang saling menatap dingin.
Hening. Lima detik. Sepuluh detik.
Lalu—
“Pergi sana.”
Nevran diam.
Brielle mendelik. “Lo denger gak sih?”
Nevran tetap diam.
“WOI CADEL!”
“Beliak.”
“Pergi.”
“Malas.”
“Ini momen date gue!”
“Hm.”
“HM APANYA?!”
Nevran malah bersandar santai di dinding dekat lorong restoran. Tak bergerak sedikit pun. Dan itu sukses bikin Brielle geregetan.
“Lo ganggu banget sumpah.”
“Biasa aja.”
“Biasa aja pala lo!”
Namun Nevran tetap datar. Malah sekarang sibuk memainkan ponselnya. Brielle sampai mengacak rambut sendiri karena kesal. “Nyebelin.”
Tak mendapat respon, Brielle akhirnya mendengus lalu berjalan pergi kembali ke meja restorannya. Namun langkahnya sedikit melambat. Karena entah kenapa, tatapan Nevran tadi terasa berbeda. Dingin. Tapi seperti menahan sesuatu.
Saat Brielle kembali duduk, Elvaro langsung menatapnya lembut. Namun kali ini ada sesuatu yang dingin di matanya.
“Sayang…”
“Hm?”
“Kenapa dia ada di sini?”
Deg. Brielle langsung gugup kecil. “Eh… kebetulan aja.”
“El tadi lihat kalian ngobrol.”
“Itu mommy-nya.”
Elvaro terdiam sebentar. Lalu tersenyum tipis. “Dia ngapain?”
“Cuma nyapa…”
“Dan?”
“…nyuruh Nevran anter aku pulang.”
Seketika rahang Elvaro mengeras. Namun suaranya tetap lembut. “Aku bisa anter kamu.”
“Aku tahu…”
“Terus?”
Brielle menggigit bibir pelan. Sebenarnya dia juga bingung. Dia gak mau pulang sama Nevran. Tapi gimana caranya nolak tanpa membuat mommy cowok itu curiga? Belum sempat menjawab—
Seseorang datang mendekat. Dan langsung duduk di kursi kosong sebelah Brielle.
Nevran.
Deg.
Elvaro langsung menatap tajam. “Lo gak diajarin sopan santun?”
Nevran santai membuka minuman dingin miliknya. “Mommy gue nyuruh.”
“Dan gue pacarnya.”
Nevran menoleh pelan. “Gak nanya.”
Hening. Suasana meja langsung berubah tegang. Brielle mulai panik sendiri.
“UDAH YA…”
“El,” suara Elvaro melembut saat menatap Brielle. “Pulang sama aku.”
Namun sebelum Brielle menjawab, Nevran bicara duluan. Dan kali ini suaranya rendah. “Pulang sama gua.”
Brielle langsung melotot. “Lo maksa?”
“Mommy gue bilang begitu.”
“Kan bisa nolak!”
“Malas debat.”
Elvaro tertawa kecil sinis. “Dia bukan anak kecil yang harus dijemput.”
Nevran menatap Elvaro lurus. Tatapan tajam. Dingin. “Dan lo bukan siapa-siapa buat ngatur.”
Deg. Elvaro langsung mengepalkan tangan. Urat di lehernya mulai terlihat.
Sedangkan Brielle mulai stres sendiri. Kepalanya pusing. Di satu sisi dia ingin cepat-cepat pergi dari situasi mengerikan ini. Di sisi lain dia tahu kalau dia ikut Elvaro, Nevran pasti bakal bikin onar. Dan kalau dia ikut Nevran, Elvaro pasti sakit hati.
“WOI KALIAN BERHENTI—”
“El.” Suara Elvaro melembut lagi, matanya hanya untuk Brielle. “Aku anter pulang ya. Gak usah dengerin dia.”
Brielle membuka mulut. Namun belum sempat bersuara—
Nevran tiba-tiba mendekat.
Bukan ke arah Elvaro.
Tapi ke arah Brielle.
Wajahnya sangat dekat. Sampai Brielle bisa mencium aroma parfum cowok itu. Wangi kayu dan sesuatu yang dingin.
Brielle refleks mundur. “Lo—"
Namun Nevran lebih cepat.
Ia mencondongkan tubuh. Bibirnya nyaris menyentuh telinga Brielle. Lalu berbisik—
“Pulang sama gua… atau seluruh sekolah tahu kalau lo tunangan gua.”
Suaranya pelan. Hanya untuk Brielle. Tapi nadanya tidak main-main. Dingin. Tajam. Dan penuh kepastian.
Deg.
Jantung Brielle langsung jatuh.
Dia membeku.
Matanya melebar.
Dia— dia gak mungkin—
Tapi Brielle tahu. Nevran bukan tipe orang yang mengancam asal-asalan. Kalau cowok itu bilang sesuatu, dia bakal lakukan.
Elvaro mengernyit bingung melihat kedekatan mereka. “Lo ngapain, brengsek?”
Namun Nevran sudah kembali bersandar santai di kursinya. Wajahnya datar lagi. Seolah tidak terjadi apa-apa. “Ngingetin temen lama.”
Brielle menelan ludah. Tangannya gemetar kecil di bawah meja.
Dia benci ini.
Benci rasanya terjebak seperti ini.
Tapi dia juga tidak punya pilihan.
“El…” Suara Brielle pelan.
Elvaro menatapnya. Masih dengan tatapan lembut, tapi kini ada kegelisahan di matanya. “Ya, Sayang?”
“Kayaknya… aku harus pulang sama dia.”
Hening sejenak.
“Bri—”
“Soalnya mommy-nya udah nitip.” Brielle memaksakan senyum. Senyum yang terasa pahit di bibirnya sendiri. “Gak enak kalau nolak.”
Elvaro menunduk. Diam. Terlalu diam.
Brielle tahu kekasihnya itu sedang marah. Bukan marah meledak-ledak. Tapi marah dingin yang justru lebih menakutkan.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, Elvaro akhirnya mengangkat wajah. Tersenyum kecil. Walau jelas dipaksakan. “…Oke.”
Namun tatapannya ke arah Nevran berubah sangat dingin. Seolah mengirim pesan tanpa suara: Lo berani nyentuh dia, lo mati.
Sedangkan Nevran cuma berdiri santai. Seolah menang atau kalah bukan hal penting baginya. Tapi Brielle tahu—pucuk jari cowok itu sedikit memutih karena mengepal terlalu kuat di saku celananya.
Perjalanan pulang sangat sunyi.
Tidak ada ocehan Brielle. Tidak ada ejekan. Hanya suara mesin mobil Nevran yang memenuhi kabin. Brielle duduk sambil melipat tangan. Kesal. Sedangkan Nevran fokus menyetir. Rahangnya keras sejak tadi.
Lampu-lampu jalan melintas bergantian. Hujan gerimis mulai turun, membasahi kaca mobil.
Brielle melirik ke samping. Nevran tidak banyak berubah sejak kecil. Masih cadel. Masih dingin. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya malam ini.
Dan tiba-tiba—
“Gua gak suka cewek mulahan…” Suara Nevran rendah. Dingin. “…yang udah punya tunangan tapi malah punya pacal.”
Deg.
Brielle langsung menoleh cepat. “Apa maksud lo?!”
Nevran tak menjawab. Tatapannya lurus ke jalan. Namun tangannya mencengkram setir sangat kuat sampai uratnya terlihat.
“Lo nyindir gue?”
“Kalau merasa…”
“Hubungan gue sama Elvaro lebih dulu ada sebelum pertunangan konyol ini!”
Nevran tertawa kecil. Sinis. “Dan lo bangga?”
“Minimal gue gak main ancam kayak tadi!” Brielle nadanya meninggi. “Bisik-bisik segala. Lo kira itu keren?”
“Gua cuma ngingetin.”
“Mengingatkan apaan?! Bahwa gue budak lo? Bahwa gue harus nurut karena keluarga kita gitu?”
Nevran mendadak mengerem mobil di pinggir jalan.
Ckittt!
Brielle sampai kaget. Badannya tersentak ke depan. “WOI!”
Dan untuk pertama kalinya, Nevran menatap Brielle penuh emosi. Tatapannya gelap. Marah. Namun seperti menahan sesuatu. Hujan di luar semakin deras. Suara rintik air mengetuk atap mobil menjadi satu-satunya pengisi hening.
“You think this is fun?” ucapnya dalam bahasa Inggris cepat, napasnya berat. “Lo pikir gua suka semua ini?”
Brielle membeku. Karena Nevran jarang sekali bicara sepanjang itu saat emosi. Biasanya dia cuma diem atau nyengir sinis. Tapi sekarang… matanya merah di ujung.
“Lo jalan sama cowok lain…” Nevran tertawa hambar. “…terus gua yang jadi bad guy.”
“Karena lo emang nyebelin!”
“Fine.”
Nevran mengangguk kecil. Lalu kembali menyalakan mobil. Namun suaranya kali ini jauh lebih dingin. Jauh lebih kosong.
“Kalau gitu jangan peduliin gua.”
Deg.
Dan entah kenapa, kalimat itu malah bikin dada Brielle terasa aneh.
Bukan lega.
Bukan menang.
Tapi seperti ada yang hilang.
Sepanjang sisa perjalanan, mereka tidak bicara sepatah kata pun. Brielle menggigit bibir bawahnya. Sesekali melirik ke arah Nevran. Cowok itu duduk kaku. Wajahnya kembali datar. Tapi ada garis tipis di rahangnya yang terus menegang.
Kenapa rasanya… seperti aku yang salah?
Brielle menggeleng kecil.
Gak. Gue gak salah. Dia yang rese.
Namun saat mobil akhirnya berhenti di depan rumahnya, dan Brielle turun tanpa mengucap terima kasih, Nevran tidak mengejar. Tidak berteriak. Hanya duduk diam di balik setir.
Brielle melangkah masuk ke pagar rumahnya. Hujan mulai membasahi rambutnya. Dia berhenti sejenak.
Kalau gitu jangan peduliin gua.
Dia menoleh ke belakang.
Mobil hitam itu masih parkir. Lampu sein menyala ke kiri. Seperti ragu.
Brielle menelan ludah. Ingin bilang sesuatu. Tapi gengsinya terlalu tinggi.
Lalu—
Mobil itu melaju perlahan. Pergi meninggalkan Brielle yang berdiri di tengah rintik hujan.
Bersambung
bantu support juga yaa😇