Bianca berjalan seorang diri menyusuri taman yang mulai sepi pengunjung. Taman yang biasanya ramai lalu lalang orang-orang berolahraga lari ataupun jalan santai. Suasana dingin mulai menusuk kedalam jiwanya, Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang terdapat beberapa bintang. Sesekali ia mengasihani dirinya sendiri, "Pekerjaan bagus,pendidikan bagus semua berjalan sesuai keinginan,tapi entah kenapa rasanya semua hampa.." gumamnya. "Bugh bugh bugh.." Terdengar suara pukulan tak jauh dari tempatnya berdiri,ia segera berlari sembunyi di salah satu pohon besar. "Aku ga salah denger kan,kaya ada yang sedang dihajar.." bathinnya dengan perasaan was-was. Hampir 10 menit ia duduk bersandar dibawah pohon tersebut,merasa aman dengan keadaan ia berjalan keluar sedikit berlari. "Tolonggg aakuuu.." Ucap seseorang dibalik semak-semak tak jauh dari tempat ia bersembunyi. "Astaagaaa.." "Kenapa ini..apa yang terjadii.." ucap bianca meraih tangan seseorang pemuda yang berjalan gontai menghampirinya. Pria tersebut langsung jatuh kepelukan bianca, Darah yang menetes dari sudut bibirnya menetes mengenai sisi bahu bianca.
Bab 33
Jonathan duduk seorang diri diruang kerjanya,
Duduk bersandar di kursi kepimpinan.
Jika biasanya jonathan yang mengalah untuk menemui erik,
Kali ini ia memerintahkan erik untuk datang ke kantornya.
"Benar ini ruangan pak jo.."
Tanya erik kepada riana yang duduk tepat didepannya.
"Benar,maaf dengan siapa?.." sapa riana dengan santun.
Menatap ke arah pria yang berpakaian serba hitam yang tepat berdiri di depan mejanya.
"Perkenalkan saya erik..saya.."
"Saya diminta oleh pak jo sendiri untuk kesini.."
Riana mengernyitkan dahinya,sejauh ini ia faham jika ada tamu dari luar pasti ia pun tau tentang keperluan yang dibawa,tapi kali ini ia sama sekali tidak tau.
"Maaf.."
"Saya tidak bisa membiarkan seseorang masuk menemui pimpinan kami begitu saja.."
"Mohon tunggu sebentar,saya akan menanyakan hal ini kepada pak jo.."
Erik pun mengiyakan ucapan riana dan memilih untuk duduk di kursi tamu.
Lantas beberapa saat kemudian riana pun kembali menghampirinya dan memintanya masuk keruangan atasannya tersebut.
"Mohon maaf sebelumnya.."
"Saya benar-benar tidak dan sekarang pak erik di minta keruangan pak jo.."
Erik pun meninggalkan riana yang terlihat sopan setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.
"Jadi bagaimana..apa kamu sudah menemukan sesuatu?.."
"Apa anak buah kalian yang di bali sudah.."
"Sudah tuan..kami menaruh curiga terhadap beberapa orang dari masalali tuan.."
"tapi kita tidak akan gegabah,kita akan benar-benar menyelidikinya.."
"Bagus.."
"Dan ini.." jonathan menjatuhkan beberapa foto hasil tangkapan cctv yang ada di rumah kaka iparnya juga foto seorang pria bertubuh tegap tak kalah tinggi dengan jonathan.
"Ini siapa tuan?.."
"Dia alex,dia adalah salah satu anak yang tinggal di rumah panti cahaya hati.."
"Kemarin pengurus panti memberitahuku bahwa alex datang dengan keadaan mabuk dan menuntut untuk memberikan data orang tuanya.."
"Lalu apa hubungannya dengan anda tuan.."
"Maksudku kenapa dengan dua foto ini.."
Erik masih terlihat tidak faham dengan ucapan jonathan.
"Hahh.." jonathan menghela nafas panjang.
"Dulu sebelum menikah dengan mamaku,papa katanya sempat menjalin hubungan dengan seorang perempuan.."
"Lalu punya anak.."
"Aa apaa.."
"Jadi.."
"Dengarkan dulu.." gertak jonathan yang membuat erik sedikit kaget.
"Papa berkata bahwa ia tidak pernah sama sekali menyentuh perempuan itu.."
"Tapi entah bagaimana alex ini menuntut papa,bahwa ia adalah ayahnya.."
"Sekitar 10 tahun yang lalu alex menemuiku.."
"Disaat itu aku masih seorang lelaki yang baru belajar di dunia bisnis.."
"Dia datang mengancamku bahwa akan memberitahukan hal ini kepada mama jika aku tidak memberinya uang.."
"Untuk itu aku keluar negri.."
Jonathan pun mulai menceritakan awal ia mengenal alex.
"Apa mungkin sekarang ini alex sedang melancarkan aksinya kembali untuk meminta sesuatu darimu.."
"Lalu dia melakukannya melalui..."
"Jaga bicaramu erik!.."
"Aku masih harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.."
"Dan aku memintamu kesini untuk melakukan sesuatu lagi.."
Jonathan pun menjelaskan apa yang harus di lakukakan oleh erik,termasuk membawa kedua kakanya yang sedang dalam masa perawatan keluar negri beserta orang tuanya tanpa sepengetahuan siapapun.
Jonathan pun meminta penjagaan yang ketat terhadap mereka semua.
"Saya akan melakukannya dengan sangat hati-hati.."
"Dan saya bisa pastikan bahwa tidak akan ada yang tau.."
"Lalu bagaimana dengan pria bernama alex itu?aku harus berbuat apa?.."
"Kamu pulang saja,masih ada hal lain yang ingin saya kerjakan.." perintah jonathan.
*********
Bianca berjalan seorang diri menyusuri ruang kantor menuju ruangan kerjanya seorang diri,
Sebelumnya ia baru saja menghadiri rapat dengan beberapa rekan dan client kerjanya.
Ting "hai bianca.."
Bianca menatap layar ponselnya yang berbunyi,sejenak ia memandang semua sisi ruang.
"Hai dev.."
"Sorry aku telfon duluan.."
"Gapapa bi..ini pertama kalinya kamu telfon aku terlebih dahulu.."
"Ada apa bi.."
"Sedang dimana?.."
"Apa sedang di dekat-dekat sini.."
"Iyaa..mungkin 5 menitan ke kantor kamu.."
"Mau makan siang bareng.."
Beberapa saat kemudian devan sudah memasuki lobby perusahaan tempat dimana bekerja,dari kejauhan ia bisa melihat sebuah tangan melambaikan tangan ke arahnya.
"Yuk kedepan.." ajak bianca.
Setibanya di resto terdekat bianca tengah lahap menyantap makanan yanh ada di piringnya,
Beberapa hari ini ia sangat tidak berselera makan,baru hari ini ia benar-benar bisa menghabiskan makanannya.
"Tumben banget.." ucap devan.
"Mmm.." bianca menikmati suapan terakhirnya lalu menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Aku lagi laper banget.."
"Tadi ga sarapan?"
"Atau.."
"Atau apa?.."
"Aku cuma lagi pengen makan banyak aja.."
"Engga,aku cuma berharap memang kamu sedang baik-baik saja.." ucapan devan kali ini terlihat lebih tulus dari sebelumnya.
"Maaf ini untuk pesanan dessertnya tuan.." ucap seorang pelayan yang tiba-tiba mendatangi meja devan dan bianca.
"Mmm..perasaan saya tadi tidak pesan.."
"Ini bukan pesanan atas nama bianca kan?.."
"Benar ini pesanan atas bianca.."
Sang pelayan kembali menyodorkan dessert ke meja setelah melihat kertas bertuliskan nama bianca.
"Dev.."
"Ini kamu kan?.."
"Aku cukup lama mengenalmu bi.."
"Aku ga mau berharap lebih.."
"Tapi kali ini saja mohon terima niat baikku ini.."
Hai readers..
Selamat datang di karya pertamaku.
Aku sangat berantusias untuk menyelesaikan ceritaku ini..
Aku berharap dukungan dari kalian yang sebesar-besarnya agar aku semangat terus.
Jangan lupa like dan komen ya gaess.