Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 PGS
Fuja adalah teman Ariel sejak kecil, dulu Fuja tinggal di samping rumah Ariel di kampung. Fuja mempunyai cita-cita ingin menjadi guru dan membuat sebuah sekolah TK karena Fuja sangat suka anak-anak. Fuja dan Ariel sekolah sama-sama, bahkan mereka pun sama-sama kuliah untuk jadi guru.
Setelah lulus S1 sarjana pendidikan, Fuja memilih untuk melanjutkannya S2-nya ke luar kota. Awalnya Ariel juga ingin ikut dengan Fuja, tapi Tama tidak mengizinkan anaknya itu untuk pergi dari kampung. Tama yang terkenal keras kepala tidak bisa dibantah lagi, dan Ariel pun terpaksa menuruti semua keinginan Papanya itu.
"Bagaimana kabar kamu sekarang? apa kamu masih ingat denganku?" gumam Ariel kembali.
Fuja adalah cinta pertama Ariel, dulu sebelum berpisah Ariel sempat menyatakan cintanya tapi sayang Fuja belum menjawabnya membuat Ariel galau. Ariel semakin sedih kala Fuja mengganti nomor ponselnya sehingga sampai sekarang Ariel tidak bisa menghubunginya.
***
Keesokan harinya....
Pagi-pagi sekali setelah adzan subuh, Sherina kembali berangkat ke kampung supaya sampai di kampung tidak terlalu siang. Sedangkan Ariel menurut kepada Papanya supaya mengajak jalan-jalan dulu Mamanya selama di Jakarta. Ariel membawa Mamanya dan Rosa ke Mall dan membiarkan kedua wanita yang dia sayangi membeli apa pun yang mereka mau.
"Kak, Rosa boleh beli apa pun 'kan?" seru Rosa.
"Boleh, kamu beli saja yang kamu mau soalnya Papa sudah memberikan uang kepada Kakak," sahut Ariel.
"Ah, Papa memang selalu pengertian," ucap Rosa bahagia.
Hingga menjelang siang, Sherina pun sampai di kampung. Lagi-lagi Sherina beruntung karena para warga sudah berangkat ke kebun dan Sherina meminta Wanto untuk membantunya membawakan barang-barang yang dititipkan oleh Syarif. "Anak itu dasar menyusahkan sekali," gerutu Sherina.
Setelah sampai di rumah, Sherina menyuruh Wanto untuk segera pergi karena takut ketahuan oleh warga. "Sayang, kamu sudah pulang ternyata," seru Mommy Wita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Iya, Mom. Bagaimana, Mommy baik-baik saja 'kan? gak ada yang ganggu Mommy selama aku pergi?" tanya Sherina khawatir.
"Tidak ada Sayang," sahut Mommy Wita.
"Syukurlah. Oh iya, pesanan Mommy ada di sana cari saja soalnya Sherina mau istirahat dulu," seru Sherina sembari masuk ke dalam kamarnya.
"Ok, terima kasih sayang," sahut Mommy Wita dengan bahagianya.
Dari kejauhan orang suruhan Tama sudah standby memantau rumah Wita. Orang itu segera menghubungi Tama, dan tidak membutuhkan waktu lama Tama pun datang ke rumah Wita. Tama membawa sayur mayur dan buah-buahan dari kebunnya sendiri.
"Selamat siang Jeng Wita," sapa Juragan Tama dengan senyumannya.
"Juragan ada urusan apa datang ke sini?" tanya Mommy Wita dengan sinisnya.
"Jangan galak-galak seperti itu Jeng Wita, karena kalau Jeng Wita marah-marah justru Jeng Wita terlihat sangat cantik," puji Juragan Tama.
Wita semakin muak dengan tingkah laku Tama, entah kenapa Wita merasa jika Tama mencoba mendekatinya. "Maaf Juragan, masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan," ucap Mommy Wita.
Pada saat Wita hendak menutup pintu, tapi Tama dengan lancangnya justru malah menahan lengan Wita membuat Wita kaget. "Astaga, tolong lepaskan tangan saya!" geram Mommy Wita.
"Maaf Jeng Wita tapi saya tidak bisa melepaskan mu," sahut Juragan Tama.
"Maksud Juragan apa? tolong lepaskan Juragan, saya takut ada yang lihat dan salah paham," geram Mommy Wita.
"Saya sebenarnya ingin menikahi Jeng Wita untuk menjadi istri ke dua saya, Jeng Wita mau 'kan? saya akan memberikan apa pun yang Jeng Wita mau, bahkan saya akan membelikan rumah untukmu," ucap Juragan Tama dengan senyumannya.
Wita emosi, dia menghentakkan tangannya. "Juragan jangan kurang ajar, sampai kapan pun saya tidak akan mau menikah dengan Juragan!" bentak Mommy Wita.
"Kenapa? kamu mau hidup susah terus dengan Tri? kalau kamu menikah dengan saya, kehidupan kamu akan terjamin bahkan anak-anak kamu juga akan hidup bahagia. Lebih baik baik ceraikan Tri dan jadilah istri kedua saya," ucap Juragan Tama tidak mau menyerah.
"Dasar gila, sampai kapan pun saya tidak akan menceraikan suami saya. Lebih baik sekarang anda pergi dari rumah saya dan jangan pernah ke sini lagi!" bentak Mommy Wita.
Tama emosi, dia mengepalkan tangannya. "Lihat saja Jeng Wita, kamu akan menyesal karena sudah menolak saya!" geram Juragan Tama.
Tama dan ajudannya pun pergi dengan penuh emosi. Wita langsung menutup pintunya dengan sangat kencang. Sherina sama sekali tidak mendengar percakapan antara Mommynya dan Tama, dia sudah terlelap saking lelahnya.
"Kurang ajar, berani sekali dia ingin menjadikanku istri kedua, memangnya dia pikir dia siapa?" Wita begitu sangat emosi atas ajakan Tama.
Tanpa mereka sadari, ada seorang warga yang melihat keduanya. Ibu-ibu itu pulang ke rumah dulu hendak membawa air minum, tapi dia malah melihat Tama dan Wita sedang berbicara. Ibu-ibu itu tidak mendengar apa pembicaraan keduanya, yang dia lihat Tama sedang memegang tangan Wita.
"Apa Juragan Tama ada main dengan Ibu Wita? wah, gosip panas ini," batin Ibu-ibu itu.
Sementara itu Tama terlihat ngamuk, membuat ajudannya merasa takut. "Sok jual mahal sekali dia, padahal di kampung ini banyak sekali yang ingin menjadi istri kedua saya. Padahal saya akan membuat hidup dia dan anak-anaknya enak!" geram Juragan Tama.
Tama duduk di kursi dengan mengepalkan tangannya dan napas yang tampak terengah-engah. "Pokoknya saya tidak akan menyerah, Wita harus menjadi milik saya bagaimana pun caranya," gumam Juragan Tama penuh emosi.
Sore pun tiba....
Ariel, Rosa, dan Ningsih baru saja pulang dari Jakarta. Sore itu Ibu-ibu sedang berkumpul karena mereka sudah pulang dari perkebunan. Ningsih tersenyum ramah saat keluar dari dalam mobil dan menyapa Ibu-ibu itu.
"Wah, Ibu-ibu sedang santai ya?" sapa Mama Ningsih.
"Iya, Juragan. Eh, Juragan Ningsih lebih baik Juragan hati-hati jaga juragan Tama baik-baik takutnya diambil pelakor," celetuk salah satu Ibu-ibu.
"Maksud Ibu apa?" tanya Mama Ningsih bingung.
"Ah tidak Juragan, sekarang di kampung kita itu ada wanita penggoda jadi Juragan Ningsih harus hati-hati apalagi Juragan Tama 'kan orang kaya, pasti ada yang ngincar," sahut Ibu-ibu yang bernama Ida itu.
"Wanita penggoda, siapa maksud Ibu?" tanya Rossa.
"Itu Neng, pendatang baru. Kami juga sangat resah sebenarnya dengan mereka karena suami-suami kita juga jadi sering nongkrong di pos kamling depan rumah mereka. Bahkan setiap malam Badru dan Mail, suka datang ke rumah mereka entah apa yang mereka berikan sampai kedua pemuda itu betah," sahut Ibu Ida.
Ariel mengerutkan keningnya. "Maksud Ibu-ibu, keluarga Sherina?" tanya Ariel.
"Iya Den, siapa lagi pendatang baru di kampung ini," sahut Ibu Ida.
"Ibu-ibu jangan suudzon dulu, ya sudah kalau begitu kami masuk dulu," ucap Mama Ningsih tidak mau memperpanjang.
Ningsih memang beda dengan suami dan anak-anaknya, dia terkenal ramah dan suka berbaur dengan masyarakat di kampung itu. Hanya saja, Tama selalu melarang istrinya bergaul dengan rakyat jelata padahal Ningsih ingin sekali bisa berinteraksi dengan Ibu-ibu di kampung itu.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah