Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neon Ravens
"Nggak, ini hanya kesalahpahaman," lirih Liam yang merobek lembaran demi lembaran yang menjadi keresahan sang kekasih akhir-akhir ini.
Egosnya menolak percaya apa yang baru saja dia ketahui. Ia terus menyangkal bahwasanya antara Arumi dan Seaven hanya terjadi kesalahpahaman. Lagi pula tidak ada bukti yang bisa membenarkan dan meyakinkan semuanya.
Tetesan demi tetesan terus berjatuhan membasahi alas kayu dimana Liam berpijak. Entah apa yang ia tangisi kali ini. Kehilangan kekasihnya, atau fakta yang melukai egonya sebagai seorang pria yang bahkan membayangkannya saja tidak pernah terlintas di pikirannya.
Berkali-kali ia menyeka air mata, dan berulang pula bulir-bulir bening itu berjatuhan membuat penglihatan Liam mengabur.
Ia meninggalkan rumah pohon tersebut sembari mengenggam flashdisk yang entah apa isinya. Sekarang dia tidak tahu harus kemana untuk meluapkan segala rasa didadanya yang terasa menyesakkan sampai rasanya bernapas saja sudah tidak sanggup.
Ia berjalan tertatih menuju mobil setelah mengalami drama jatuh beberapa kali akibat tidak terlalu fokus. Dia melirik ponselnya yang sejak tadi tergeletak di dalam mobil.
Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari adik laki-lakinya padahal selama ini mereka tidak pernah bertukar kabar lewat telepon.
"Ada apa?" tanya Liam yang langsung menjawab panggilan dari adiknya entah yang keberapa.
Sembari menunggu sang adik bicara, ia memutar setir kemudi meninggalkan jalan menuju bukit tersebut. Tanpa arah dan tanpa tujuan yang jelas.
"Aku ada di studio Arumi bersama Sevia dan asisten mas Liam."
"Apa yang kalian lakukan di sana dan sejak kapan Sevia sadar?"
"Aku ingin membicarakan hal serius pada mas Liam."
"Mas nggak mood bicara dengan siapapun Leon."
"Aku tahu siapa yang membawa mobil Arumi dan bengkel mana yang mobil itu tuju setelah keluar dari markas Neon Ravens."
"Mas ke studio sekarang," ujar Liam dan semakin menambah kecepatan mobilnya.
....
Liam mengerutkan keningnya saat tiba di studio dan mendapati beberapa mobil dan motor, sepertinya bukan hanya Leon, Sevia dan asistennya yang ada di dalam. Ia mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan agar dirinya terlihat baik-baik saja.
Bahkan sebelum ke studio dia merapikan penampilannya demi menyembunyikan segalanya.
"Aku dan yang lain sudah di studio dari sore," ujar Leon terlebih sekarang sudah jam 9 malam lewat beberapa menit.
"Apa yang mau kalian bicarakan?" tanya Liam duduk di kursi kerja Arumi, menatap Sevia sebentar yang duduk di kursi roda didampingi oleh asistennya.
"Rekaman cctv di beberapa tempat." Leon meletakkan laptopnya di hadapan Liam, ia tidak banyak bicara sebab ia tahu kakaknya tidak akan percaya perkataan sebelum bukti menyertai.
"Rekaman pertama di sekitar markas Neon Ravens dan itu orang sama yang mengembalikan mobil," ujarnya, terlebih Leon sudah mengonfirmasi kepada Sevia apakah pria itu benar atau tidak.
"Dia bukan?" Leon menunjuk seorang pria yang duduk di kursi diapit oleh dua anggota Neon Ravens.
Liam menganggukkan kepalanya, benar orang yang seharusnya dia temui hari itu adalah pria yang ada di hadapannya. Hanya saja Sevia dan Seaven kecelakan sehingga berhasil kabur.
"Ma-maaf Tuan, saya hanya menerima perintah. Saya terpaksa melakukannya sebab membutuhkan uang untuk pengobatan ayah saya," lirih pria itu kala Liam berjalan mendekat dengan wajah datarnya.
"Maaf setelah apa yang kamu lakukan hm?" Liam menarik kerah kemaja pria dihadapannya.
"Saya tidak melakukan apapun selain mengambil mobil di bengkel dan mengembalikan mobil ke studio, Tuan," ujarnya ketakutan apalagi Liam sudah mengepalkan tangannya hendak memukul. Padahal tubuhnya sudah lelah dihajar oleh anak muda yang datang tiba-tiba menangkapnya.
"Lalu siapa kalau bukan kamu?"
"Kak Seaven," jawab Leon dengan wajah santainya. "Aku nggak akan bicara tanpa bukti mas."
Leon kali ini berpindah pada rekaman cctv selanjutnya yang ia dapatkan dari toko pinggir jalan di mana karyawan Arumi bertukar mobil dengan Seaven. Kemudian berpindah lagi pada rekaman cctv bengkel yang Seaven tuju.
"Mana?" tanya Leon pada anggotanya dan dua anggota lagi membawa pria baruh baya berpakaian lusuh dengan beberapa oli di bajunya.
"Dia pemilik bengkel di mana kak Seaven melonggarkan baut ban."
"Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi Tuan. Saya hanya diperintah untuk mengendurkan baut ban sebab pemiliknya mengatakan baut bannya terlalu kencang."
"Lalu?"
"Sebelum pergi pemilik mobil memasukkan sesuatu ke bagasi mobil Tuan, itu saja yang saya tahu," jawab pemilik bengkel.
Liam membalik tubuhnya hendak menghampiri Leon, tetapi kakinya dipegang oleh pemilik bengkel yang kini berlutut.
"Tolong maafkan saya Tuan, jangan tutup bengkel saya. Hanya bengkel satu-satunya mata pencaharian saya untuk menghidupi keluarga."
Namun, tampaknya Liam kehilangan sisi kemanusiannya akibat fakta menyakitkan yang terus menghantamnya bertubi-tubi. Pria itu melangkah dengar kasar sehingga pengangan pria paruh baya itu terlepas dengan paksa dan dibantu berdiri oleh anggota Neon Ravens.
Tangan Liam mengepal sampai urat-uratnya terlihat saat menonton rekaman cctv hingga tidak tersisa. Pria itu menunduk cukup lama sampai akhirnya mendongak dan menatap semua orang yang ada di ruangan kekasihnya.
"Terimakasih, kalian boleh pergi!" ujar Liam.
"Hanya begini respon mas? Lalu bagaimana dengan kak Seaven yang sudah merencanakan kecelakaan Arumi hanya karena cintanya ditolak oleh Arumi!" protes Leon.
"Mas yang akan menyelesaikannya sendiri."
"Mas masih mempercayai kak Seaven bahkan setelah semua bukti yang aku dapatkan!" Suara Leon semakin meningi.
Dia dan anggotanya berusaha sangat keras mendapatkan semua bukti keterlibatan Seaven karena sangat marah pada pria itu. Selain karena membuat kakaknya menderita Seaven membuatnya dan Sevanya putus dengan alasan klasik.
"Tuan Leon, sebaiknya kita memberi waktu untuk Tuan Liam memikirkan semuanya. Pasti tidak mudah untuk Tuan Liam," ujar asisten Liam menengahi ketika melihat Leon sepertinya akan lepas kendali.
Leon menghempaskan tangan asisten kakaknya dan meninggalkan ruangan Arumi bersama beberapa anggotanya. Kini yang tersisa hanya Liam, Sevia dan asistennya saja.
Tidak ada yang bicara di ruangan itu, terlebih Liam kembali menunduk sambil mengenggam flashdisk yang ia temukan di rumah pohon.
Melihat hal tersebut Sevia mengerakkan kursi rodanya mendekati meja. Mengambil benda pipih yang tersimpan rapi di dalam box, dia tidak tahu apa isi ponsel tersebut tapi seseorang memerintahkan dirinya meletakkan di sana.
"Apa ini?" tanya Liam.
"Ponsel pribadi bu Arumi yang dia tinggalkan malam itu, Tuan."
"Ponsel? Jadi selama ini ponselnya tidak ikut meledak dengan mobil?"
"Tidak Tuan, saya menemukannya sehari sebelum kecelakaan, saya hendak memberitahukan tapi saya malah kecelakaan."
Liam hanya merespon dengan anggukan, mengambil benda pipih itu tanpa peduli pada Sevia dan asistennya yang mulai meninggalkan ruangan Arumi.
jijik