Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Erwin
🦋
Erwin lahir dua puluh enam hari setelah Nadira. Hanya terpaut hitungan minggu, tapi dunia memperlakukan mereka seakan terpaut bertahun-tahun. Nadira lahir di bulan Maret, desah pertama yang membawa harapan baru bagi keluarga besar Wiratama. Sementara Erwin menyusul di bulan April, ketika daun-daun jambu di halaman mulai menua warnanya.
Sejak awal, hidup tidak pernah benar-benar memihak pada Erwin.
Ayahnya, Andra, adalah tipe lelaki yang memegang teguh gengsi sebagai laki-laki Jawa: keras, kaku, dan menganggap kelembutan sebagai bentuk kelemahan. Andra pernah menginginkan anak perempuan, seseorang yang bisa ia beri nama manis, ia cocokkan pita rambut kecilnya, ia ajak duduk di pangkuan sambil membacakan dongeng.
Namun yang lahir adalah Erwin. Anak laki-laki. Dan entah bagaimana, kecewa itu tinggal. Tidak diucapkan, tapi tetap terasa. Bagai udara dingin di kamar sempit yang tak pernah benar-benar hilang meski jendela dibuka selebar-lebarnya.
Riana, ibu Erwin, tidak menghentikan didikan keras dari Andra. Bahkan kadang menambahinya. Mereka percaya, 'anak laki-laki harus kuat.' Harus bisa apa pun. Harus menjadi kebanggaan keluarga besar. Harus bersaing. Harus menang.
Harus. Harus. Harus.
Seolah hidup Erwin adalah tugas panjang yang tak boleh salah sedikit pun.
Lalu datanglah Nadira.
Gadis kecil yang polos dengan wajah teduh dan sikap diam yang membuat orang ingin merengkuhnya. Lahir dari anak kedua putri bungsu keluarga Wiratama. Cucu perempuan terakhir. Cucu yang normal, sehat, dan lembut.
Anak yang selama ini diinginkan oleh Andra.
Kakek Wiratama pun menyambut Nadira seolah kedatangan bunga sakura di tengah musim kemarau. Kasih sayangnya mengalir begitu saja, tanpa hambatan. Sejak itu, posisi Erwin sebagai pusat perhatian perlahan tergeser.
Erwin melihat semuanya dari mata kecilnya, bagaimana kakek menepuk kepala Nadira dengan lembut, bagaimana Nadira disuruh duduk di pangkuan, bagaimana orang-orang memuji wajahnya, kepandaiannya, bahkan cara ia tersenyum.
"Cucu bungsu perempuan yang manis sekali…"
"Mirip ibunya ya, sangat cantik."
"Kecerdasannya nurun dari keluarga besar."
Erwin di satu sisi merasa sayang. Nadira baik, tidak pernah memamerkan apa pun, tidak pernah membuatnya merasa kecil. Tapi di sisi lain, hati kecilnya seperti diiris setiap kali mendengar pujian yang tidak pernah ia dapatkan.
Lalu waktu berjalan. Dan Nadira mulai berkembang menjadi anak yang pandai Dan bisa segala bidang Dan segudang prestasi.
Peringkat satu besar hampir di setiap semester. Piagam menumpuk. Piala hasil perkemahan dan lomba-lomba pramuka menghiasi lemari tua milik kakek. Kakek Wiratama selalu menepuk pundak Nadira sambil berkata, "Kamu harus berusaha lebih keras lagi, jangan hanya sampai di sini saja"
Kata-kata yang tak pernah diucapkan kakek pada Erwin.
Pada suatu malam yang sunyi, ketika hujan mengetuk genteng seperti jari-jari gelisah, Andra memanggil Erwin untuk duduk di depannya.
"Erwin," suaranya rendah tapi penuh tekanan. "Ayah tidak mau tahu. Kenaikan kelas sembilan nanti, kamu harus masuk tiga besar."
Erwin menunduk. "Erwin akan usaha lebih keras lagi, Yah."
"Jangan cuma usaha," bentak Andra. "Lakukan! Tunjukkan hasilnya pada kakek bahwa kamu mampu menyaingi Nadira!"
"Erwin ngerti…"
"Tuh anak Fauzan Dan Fahira itu bisa. Kamu juga harus bisa. Masa anak orang lain lebih bagus dari anakku sendiri?"
Kalimat itu menusuk dalam, lebih dalam dari yang Andra sadari. Bukan karena kalimatnya. Tapi karena nada suaranya.
Seolah nilai diri Erwin bergantung pada prestasi Nadira. Seolah keberhasilan Nadira adalah kegagalan bagi Erwin. Seolah cinta keluarga hanya diberikan pada yang menang Dan tidak berpihak pada yang kalah.
Setelah Andra pergi, Erwin terdiam cukup lama. Menatap buku-bukunya yang menumpuk setinggi bantal. Menatap piala-piala Nadira yang terpajang rapi. Menatap foto keluarga yang tergantung di dinding kusam.
"Ini semua karena kehadiran Nadira…" bisiknya dalam hati.
Ia tidak membenci Nadira. Tidak. Nadira terlalu baik untuk dibenci.
Yang Erwin benci adalah dirinya sendiri, yang merasa kalah sebelum bertanding.
***
Hari-hari berikutnya menjadi berat bagi Erwin.
Setiap pagi ia bangun dengan dada sesak. Rasanya seperti ada tali yang menarik dari belakang leher, menuntutnya untuk terus maju tanpa pilihan mundur. Ia belajar lebih keras, tapi nilai ulangan tak pernah cukup untuk membuat Andra tersenyum.
Sementara Nadira, dengan segala luka batinnya yang tak dilihat oleh siapapun, tetap pulang membawa prestasi yang dianggap membanggakan.
Kakek memuji.nBude Riana membandingkan. Andra mencibir.
Dan Erwin semakin yakin bahwa ruang dalam keluarga ini tidak punya tempat lagi untuknya.
Suatu sore, ia diam-diam melihat Nadira membawa dua piala baru dari sekolah. Ia melihat senyum tipis Nadira, senyum yang dilebur dengan rasa letih dan sakit tapi tetap dipaksakan agar tak menyakiti siapa pun.
Erwin ingin ikut bangga. Ingin memeluk. Ingin mengatakan 'Hebat.'
Tapi kalimat yang keluar justru "Pasti Kakek bakal makin sayang sama kamu."
Nadira mengerutkan kening. "Mas Erwin kenapa ngomong gitu?"
Erwin menggeleng cepat. "Nggak apa-apa."
Namun Nadira bukan anak bodoh. Ia melihat mata Erwin yang meredup, seperti lampu kamar yang mulai kehabisan listrik.
Ia ingin bertanya lebih jauh. Tapi Nadira… Nadira adalah anak yang terlalu sering dilarang merasa. Terlalu sering disuruh menelan rasa takut, sedih, dan marah sendirian.
Jadi ia menahan diri. Dan Erwin pun semakin tenggelam di dalam kepahitannya.
Tak ada yang tahu bahwa pada malam-malam tertentu, Erwin menangis diam-diam. Tak ada yang tahu bahwa ia sering membayangkan hidup tanpa kewajiban membuktikan apa pun. Tak ada yang tahu bahwa ia sering melihat Nadira sebagai cermin, cermin yang menunjukkan bahwa ia kurang, sementara Nadira cukup.
Dan yang paling menyakitkan, ia tidak bisa membenci cermin itu. Karena cermin itu baik. Cermin itu tidak pernah menyombongkan dirinya.
Cermin itu bernama Nadira.
***
Pada suatu pagi, ketika semua orang sibuk hendak beraktivitas, Riana memanggilnya.
"Erwin, nanti bantuin ibu di warung ya. Jangan main terus!"
"Iya, Bu."
"Nadira bantu bude juga!" teriak Fero dari belakang.
"Biarkan dia fokus belajar," sela Riana cepat. "Anak perempuan itu gampang dapat nilai bagus, lagian juga yang di pikiran Nadira cuma belajar gak ada yang lain."
Erwin menelan ludah. Dada kirinya terasa diremas.
Perkataan sekecil itu, yang bagi banyak orang mungkin sepele, bisa menghancurkan seorang anak yang sudah rapuh sejak lama.
Sampai akhirnya, satu-satunya yang Erwin tahu hanyalah, Nadira menjadi simbol sempurna dari segala hal yang tidak pernah ia raih. Prestasi. Kasih sayang. Pengakuan. Perhatian.
Dalam benaknya terukir kuat
"Semua ini terjadi… karena Nadira ada."
Dan dari pikiran itulah, kecemburuan pertama itu tumbuh. Diam, halus, tapi mematikan. Seperti belukar yang tumbuh di tanah kering, menunggu kesempatan untuk terbakar.