Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memburu Rivaldo - 3
Saat mereka hendak menaiki tangga, lorong lantai itu terasa lebih sempit dari biasanya. Beberapa orang bersandar di tembok dengan sikap santai, seolah tempat itu milik mereka. Suara langkah Rio dan yang lain membuat salah satu dari mereka menoleh, lalu tersenyum miring.
“Lihatlah, mereka sudah datang,” katanya, memutus keheningan.
Tangga yang mengarah ke atas kini sepenuhnya terblokir. Tiga orang berdiri di sana, membentuk penghalang alami. Dua orang tidak di kenali tetapi Salah satunya langsung dikenali.
Orang yang selalu mengikuti Rivaldo, salah satu dari tiga eksekutifnya yang paling sering terlihat. Hans Akiro. Posturnya tegak, tapi sikapnya malas, seperti tidak menganggap siapa pun di depannya sebagai ancaman.
Kris memperhatikan mereka tanpa perubahan ekspresi. Tatapannya dingin, datar, nyaris kosong. Sudut bibirnya terangkat sedikit, lalu dia tertawa pelan, tawa pendek yang terdengar lebih seperti ejekan.
“Lucu sekali, memangnya kau pikir ini adalah tower dari novel fantasy?” katanya, suaranya tenang namun menusuk.
Hans berdiri di anak tangga yang lebih tinggi, menatap ke bawah sambil memasukkan tangannya ke kantung celana. Matanya bergerak perlahan, menilai Rio, Riko, Arya, lalu kembali ke Kris, seperti sedang memutuskan siapa yang paling pantas diremehkan.
“Hanya dengan jumlah seperti ini?” katanya dengan nada sombong. “Kalian ingin melawan kami?”
Tanpa ragu, Kris melangkah naik sendirian. Langkahnya tidak tergesa, tidak pula berhati-hati berlebihan. Bahunya lurus, tubuhnya tenang, seperti sudah mengukur jarak dan kemungkinan sejak awal.
“Kalian pergilah duluan,” katanya kepada teman-temannya. “Aku ingin menjinakkan cacing terlebih dahulu di sini.”
Hans menyeringai, sedikit memiringkan kepala saat Kris semakin mendekat.
“Apa ini? Kau sok kuat?” katanya, suaranya bercampur ejekan.
Kris berhenti tepat di depannya. Matanya kini serius, fokus, tanpa sisa tawa. Mereka saling bertatapan, jarak di antara mereka begitu dekat hingga udara terasa berat.
“Aku sendiri juga bisa.” Dia sangat percaya diri.
Rio, Arya, dan Riko mulai bergerak naik melewati mereka. Suara langkah mereka terdengar jelas di tangga sempit itu. Hans refleks menggeser tubuhnya, berniat menghalangi, namun Kris bergerak lebih dulu. Kakinya terangkat lurus ke samping, menghadang langkah Hans dengan posisi mantap dan seimbang.
“Urusanmu di sini bersamaku,” kata Kris dingin. Hans berhenti tepat di hadapannya.
Dua sosok itu kini berdiri berhadapan, tubuh mereka menegang, napas tertahan. Tangga sempit itu berubah menjadi arena kecil, tempat satu pertarungan akan dimulai sementara yang lain melanjutkan langkah ke atas.
“Halangi mereka!!” teriak Hans dengan suara keras, menunjuk ke arah tangga. Dua orang di belakangnya langsung bergerak, langkah mereka cepat dan kasar, jelas berniat mengejar Rio dan yang lain sebelum sempat naik lebih jauh.
Belum sempat mereka melewati lorong sempit itu, Kris berlari dan berdiri di depan mereka. Tubuhnya sedikit condong ke depan, kakinya menapak kuat, seolah lorong itu memang batas terakhir.
Tatapannya dingin, tapi gerakannya cepat. lalu Kris melompat ke arah mereka,Dua orang itu terhenti refleks, langsung mengambil posisi bertahan. Mereka mengira pukulan akan datang.
Namun Kris tidak memukul. Dia justru melompat ke depan, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kedua tangan menyentuh lantai. Dalam satu tarikan napas, tubuhnya berputar rendah. Kedua kakinya terayun lebar, lalu menendang keduanya, Kris bergerak cepat dan ritmis, seperti tarian liar yang meledak di ruang sempit. Gerakannya menyerupai break dance, tapi penuh niat menghancurkan.
“Inilah Capoeira-ku,” kata Kris sambil tersenyum tipis.
Dua tendangan mendarat hampir bersamaan. Bunyi hantaman terdengar tumpul. Kedua anak buah Hans langsung terlempar dan roboh tanpa sempat berteriak.
Tubuh mereka tergeletak diam di lantai lorong, pingsan dalam satu rangkaian gerakan. Kris kembali berdiri dengan tenang, seolah baru saja melakukan pemanasan ringan.
Hans menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. Alih-alih marah, dia justru tersenyum lebar.
“Hebat,” katanya tulus “Aku meremehkanmu.”
Tanpa peringatan, Hans menerjang ke depan. Tubuhnya melesat, tinju kanannya berayun keras dalam sebuah hook yang ditujukan langsung ke kepala Kris. Angin dari serangan itu terasa berat, tapi Kris sudah bergerak lebih dulu.
Kris menundukkan tubuhnya, membiarkan pukulan itu melintas tepat di atas kepalanya. Dalam satu alur gerakan yang mulus, dia memutar badan dan melompat. Tubuhnya berputar di udara, lalu sebuah tendangan memutar mendarat tepat di wajah Hans.
Hans terhuyung ke belakang, punggungnya menghantam tembok dengan suara keras. Dia masih berdiri, tapi jelas terpukul. Kris mendarat dengan ringan di depannya, napasnya stabil "Apa hanya segitu?."
......................
Kembali ke Rio.
mereka berlari cepat hingga mencapai lantai tiga. Nafas mulai berat, langkah bergema di lorong panjang depan kelas yang sunyi. Namun begitu mereka berhenti sejenak, pemandangan di depan langsung menjelaskan satu hal.
Mereka sudah ditunggu. Banyak sekali orang berdiri menyebar di sepanjang lorong, bersandar di dinding kelas, wajah-wajah yang tidak asing bagi Rio. Itu wajah yang sama yang pernah ia lihat di gedung belakang sekolah.
“Ini akan merepotkan.” Rio tersenyum kesal, sudut bibirnya naik tipis. Tubuhnya sudah condong ke depan, bersiap melangkah. Namun sebelum kakinya benar-benar bergerak, sebuah tangan besar mendarat di pundaknya dan menahannya.
“Biar aku saja.” suara Riko terdengar pelan di telinga rio
Tubuhnya yang besar maju ke depan tanpa ragu. Dia melepaskan rompi hitamnya, membiarkannya jatuh ke lantai lorong dengan bunyi lembut. “Pergilah Rio, simpan tenaga mu.”
Rio menatap punggung Riko. “Bagaimana dengan mu?, ada lebih dari tujuh orang di lorong ini.” Nada suaranya rendah, tapi jelas mengandung kekhawatiran. Arya ikut melangkah setengah maju. “Jangan memaksakan diri,Riko."
Lorong itu panjang dan sempit, pintu-pintu kelas berjajar di kiri dan kanan, sementara tangga menuju lantai empat terlihat jauh di ujung. Orang-orang di hadapan mereka mulai bergerak, suara langkah kaki bergeser, udara terasa makin berat.
“Hei, tenanglah.” suara Riko terdengar lagi, kali ini lebih yakin.
“Karena aku sudah ada di sini...!” Tubuhnya tiba-tiba melesat maju. Riko menerjang barisan depan dengan bahunya, menabrak mereka tanpa ragu. “Aku akan membuka jalan!! Kalian duluanlah!”
Benturan keras terdengar. Beberapa orang terhuyung ke samping, keseimbangan mereka pecah. Dalam kekacauan singkat itu, Riko langsung bergerak. Tinju dan bahunya menghantam satu demi satu, gerakannya kasar namun penuh tenaga. Tidak ada eksekutif di sini, tapi jumlah mereka membuat segalanya menjadi berat. Meski begitu, Riko tidak mundur satu langkah pun.
Rio dan Arya tidak menyia-nyiakan celah itu. Mereka berlari melewati Riko, langkah mereka cepat menuju ujung lorong. Dari sudut matanya, Riko melihat mereka menjauh. Senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang penuh tekad.
“Ya, pergilah...”
Tubuh Riko terasa panas, napasnya berat, tapi matanya menyala. “Aku akan berjuang di sini. Jika aku tidak bisa berkembang, aku tidak akan sanggup untuk berdiri di sampingnya di masa depan nanti.” pikirnya.
Tinju kembali terangkat, kakinya menapak kuat di lantai lorong. Baginya, ini bukan sekadar menahan. Ini adalah pembuktian bahwa dia akan terus bersama dengan Rio.
......................
Rio akhirnya sampai di lantai empat, balkon sekolah yang terbuka dan luas. Angin sore berhembus bebas, membawa aroma debu dan panas matahari yang mulai condong ke barat.
Tempat itu terasa jauh lebih besar dari lapangan sekolah, kosong namun menekan, seolah memang diciptakan untuk sebuah akhir. Rio berdiri di sana bersama Arya, menatap ruang terbuka yang menjadi arena tak tertulis.
Di ujung balkon, Rivaldo terlihat duduk santai di pagar besi, kedua kakinya menggantung. Di belakangnya berdiri dua orang lain, diam namun jelas bukan figuran.
“Pantas saja hanya ada Hans, jadi yang dua nya berada di sini?” kata Arya sambil menajamkan pandangannya pada mereka berdua.
“Cukup hebat, kau bisa sampai ke sini..!” suara Rivaldo terdengar mengejek namun puas.
Ia masih duduk, memandang Rio dari kejauhan seolah menilai barang lama. “Anak yang dulu seperti pengecut bisa menjadi seperti ini.” Jarinya terangkat, menunjuk ke arah Rio dan Arya. “Habisi mereka.”
Dua orang itu melangkah maju. Kariel dan Fariel. Saudara kembar dari keluarga Wira, langkah mereka serasi, nyaris seperti bayangan satu sama lain. Wajah mereka tenang, tubuh mereka seukuran Rio, namun aura yang mereka bawa terasa padat. Dua orang yang jelas terbiasa bertarung berdampingan, dua orang yang tidak bisa dipisahkan.
Arya mengamati mereka dengan saksama. Tatapannya berubah, lebih dalam, lebih tenang. “Tubuh mereka hanya seukuran dengan Rio,” pikirnya, “yang sulit adalah jika menghadapi keduanya secara langsung.”
Ia diam sejenak, lalu mendekati Rio dan berbisik pelan. “Kau hadapi Rivaldo langsung. Untuk dua orang ini, biar aku saja.”
“Apa yang kau katakan?” Rio menoleh cepat.
Dadanya terasa sesak. “Yang benar saja?” suaranya sedikit naik.
“Aku tidak bisa membiarkan teman ku seperti ini. Mereka selalu melindungi ku.”
Tangannya mengepal. “Apakah aku terlalu lemah?”
Arya berbalik dari Kariel dan Fariel, lalu menghadap Rio. Tangannya mendarat di pundak Rio, tekanannya ringan.
Ia tersenyum. “Kau tidak lemah. Kau punya teman karena kau kuat.” Suaranya tenang, tidak berlebihan, tapi masuk tepat ke dalam.
“Pergilah. Balaskan dendam mu. Walaupun membalas tidak akan mengembalikan keadaan, tapi paling tidak kau akan merasa puas.”
Arya lalu berbalik dan melangkah maju. Angin sore meniup almamaternya, kain hitam itu berkibar seperti bendera di medan perang. Langkahnya halus, nyaris tanpa suara, berdiri tepat di hadapan Kariel dan Fariel.
Pada saat itu, pandangan Rio terhadap Arya berubah. Bukan lagi sekadar ketua klub. dia adalah orang yang di hormati oleh Rio.
“Ya.” Rio mengangguk pelan.
Senyum bersemangat terbit di wajahnya. Ia melangkah maju, meninggalkan Arya di belakang, dan berjalan lurus ke arah Rivaldo. Di bawah cahaya matahari sore, matanya menyala. Ini bukan lagi pelarian. Ini pembalasan yang telah ia tunggu terlalu lama.
...----------------...
Kembali ke Kris. Di lantai dua, lorong tangga terasa sempit dan pengap, dindingnya kusam, lantainya dingin oleh bayangan sore. Di sana, hanya ada dua orang yang saling berhadapan.
Kris berdiri dengan tubuh santai. sementara Hans berada beberapa langkah di depannya, napasnya stabil, matanya penuh gairah bertarung. Duel satu lawan satu .
“Apa hanya segitu,” kata Kris. Nadanya datar, dingin, seolah ia sedang mengomentari sesuatu yang membosankan, bukan pertarungan. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, hanya tatapan lurus yang menusuk.
Hans berdiri tegak seolah tak terjadi apa-apa meski baru saja terkena tendangan. Bahunya digerakkan sedikit, lehernya diputar pelan. “Ini bahkan tidak terasa,” katanya sambil menyeringai. “Apa barusan semut menggigit ku?” Ia menurunkan posisi tubuhnya, telapak kakinya mulai mencari pijakan.
Tanpa aba-aba, Hans menendang dinding di sampingnya dengan kuat. Dorongan itu melontarkan tubuhnya ke depan dengan kecepatan brutal. Jarak di antara mereka lenyap dalam sekejap. Sebelum Kris sempat membaca arah serangan, tinju Hans sudah meluncur.
Cross kanan itu menghantam wajah Kris secara langsung. Suara benturan terdengar tumpul, kepala Kris sedikit terpelintir ke samping. Tidak ada waktu untuk bertahan, tidak ada ruang untuk menghindar. Semuanya terjadi terlalu cepat.
“Cepat sekali,”
kata Kris. Suaranya keluar pelan, hampir seperti gumaman. Tubuhnya bergeser setengah langkah ke belakang, namun kakinya tetap menapak kuat. Tatapannya kembali fokus
Hans tidak memberi celah. Ia langsung memutar tubuhnya dan melanjutkan dengan hook kiri, ayunannya cepat dan berat. Udara terbelah oleh lintasan tinju itu, diarahkan tepat ke sisi wajah Kris.
Kali ini Kris siap. Kedua lengannya terangkat bersamaan, menahan pukulan itu dengan posisi silang. Dampaknya terasa sampai ke bahu dan lengannya, namun tubuhnya tidak goyah. Sepatu Kris sedikit bergeser di lantai, menghasilkan gesekan kasar.
Kris menahan hook itu dengan kedua lengannya, lalu matanya bergerak cepat membaca posisi tubuh Hans.
Ada satu celah kecil, sepersekian detik yang tidak akan muncul dua kali. Tanpa ragu, Kris mengangkat kaki kanannya dan menendang ke atas. Ujung sepatu menghantam dagu Hans dengan sudut tajam, membuat kepalanya terangkat paksa.
Tubuh Hans terlempar sedikit ke depan, keseimbangannya pecah sebelum sempat jatuh sepenuhnya.
tapi Kris tidak membiarkan dia sempat terjatuh . Dalam satu gerakan lanjutan, ia melangkah maju dan menendang lurus menggunakan telapak kakinya. Tendangan itu menghantam perut Hans dengan keras, memeras napas dari paru-parunya.
Hans terpental dan membentur tembok. Suara benturan bergema di tangga sempit itu. Tubuhnya sedikit goyah saat mencoba berdiri, lututnya hampir menyentuh lantai.
Napasnya berat, matanya masih terbuka, tapi fokusnya mulai terpecah.
Kris tidak memberi kesempatan sedikit pun. Ia melompat ke depan, mengangkat tubuhnya tinggi, lalu menjatuhkan diri dengan niat menginjak Hans secara langsung. Bayangan tubuh Kris menutup cahaya di atas Hans, tekanan psikologisnya bahkan lebih menakutkan dari serangan itu sendiri.
Dengan sisa refleksnya, Hans berguling ke samping. Gerakannya kasar dan dipaksakan, nyaris terlambat. Sepatu Kris menghantam lantai dengan suara keras, meninggalkan bekas goresan. Hans terengah-engah, keringatnya mulai turun, tapi ia berhasil lolos.
Tidak berhenti di situ, Hans segera bangkit dan berlari menaiki tangga. Langkahnya berat, namun cepat, membawa mereka menuju lantai dua bagian lorong depan kelas yang panjang dan lebih terbuka. Ruang sempit berubah menjadi medan yang luas dalam sekejap.
Kris berjalan menyusul tanpa terburu-buru. Langkahnya ringan, bahunya santai, Tatapannya menyapu lorong panjang itu, jendela-jendela kelas di kiri , ruang kosong yang memberi jarak sempurna untuk bergerak.
“Dari banyaknya tempat, kau malah berlari ke sini?” kata Kris sambil tersenyum tipis. Senyum itu bukan ejekan kosong, tapi kepuasan murni. “Tempat yang bagus.”
Tubuhnya mulai bergerak pelan, ritmenya berubah. Pusat gravitasinya rendah, langkahnya melingkar, siap berputar kapan saja.
"Ini adalah panggung ku!" lalu dia tersenyum