"Aku hanyalah wanita biasa yang tak rela suamiku berpoligami"-Maryam Azzahra-
Poligami menjadi penyebab renggangnya ikatan suci pernikahan antara Maryam dan Faiz. Sampai suatu saat Damar Langit datang membawa getaran lain di hati Maryam yang membuatnya bimbang antara bertahan dan melepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Mendekati Saya
"Iya Pak, kasihan kalau Maryam harus sakit hati untuk kedua kalinya," imbuh Willy lagi.
Langit hanya diam tak menyuarakan apa-apa lagi. Hatinya memang sedang bimbang akan perasaannya sendiri.
Ainun juga sudah mewanti-wanti agar dirinya jangan terlalu dekat dengan Maryam hanya karena kasihan. Apalagi jika dalam hati Langit masih tersimpan nama Zoya.
"Lo suruh Maryam datang nanti saat jam makan siang ke restoran biasa. Kasih tahu dia sekarang," kata Langit menyuruh Willy.
"Baik Pak?" meski berat Willy harus menjalankan perintah atasannya. Willy hanya takut Langit akan melukai perasaan Maryam.
Suara drap langkah sepatu pantofel terdengar dari kejauhan mendatangi lantai 17 tempat divisi Maryam berada.
Semua mata tertuju pada asisten kepercayaan Bos mereka dan Willy hanya tersenyum sambil matanya menjelajah dimana kubikel Maryam.
"Maryam,"
"Ah Pak Willy, iya Pak. Ada apa ya?" Maryam menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Pak Langit meminta anda untuk makan siang bersama. Nanti saya tunggu anda di basement jam 12.00 tepat,"
"Pak Damar?"
Maryam menelan salivanya mendengar ucapan Willy.
"Tapi Pak, saya-,"
"Pak Langit tidak mau dibantah. Jadi tolong anda nanti datang tepat waktu. Kalau begitu saya permisi,"
"Iya Pak." Maryam tampak gelisah mana bisa ia pergi memenuhi permintaan Bosnya.
Willy membalikan badannya dan menuju lift naik.
Harusnya aku mengirimkan pesan saja padanya tanpa harus mendatanginya langsung. Semua orang akan curiga.
"Maryam, Pak Willy ada apa ko tumben banget datang ke sini cari kamu?" tanya Agnes
Astaga, apa mereka tahu jika Pak Damar memintaku ikut makan siang?
"Hanya menanyakan pekerjaan kita sampai mana Bu,"
Agnes mengerutkan keningnya
"Loh kenapa tiba-tiba nanya sama kamu. Biasanya kan Pak Waryo secara langsung melaporkannya,"
Aduh aku lupa..
"Saya juga tidak tahu tuh Bu, coba ibu tanya langsung saja sama Pak Willynya. Saya kan hanya ditanya,"
"Ah gak usah, kesannya saya gak percaya sama kamu. Ya sudah kamu lanjut kerjanya. Saya mau keluar sama Pak Waryo, ngurusin produk kita yang baru,"
"Oh iya Bu."
Maryam mendesah lega, meskipun harus berbohong agar tidak timbul gosip tentang dirinya.
Jam menunjukan pukul 11.45, jari-jemarinya saling meremas satu sama lain. Maryam bingung apakah harus memenuhi permintaan Bosnya atau tidak.
Ponselnya berdering nyaring, dilihatnya nomor tak dikenal.
"Hallo,"
"Maryam, anda saya tunggu pukul 12 tepat di basement jangan lupa,"ujar Willy di seberang telepon
Pak Willy..
"Oh iya Pak, saya akan datang." Maryam menaruh kembali ponselnya ke dalam saku blazer.
Ia memutuskan untuk memenuhi ajakan Langit makan siang di restoran. Langkah kaki membawanya ke basement perusahaan. Dimana Willy sedang menunggunya di dalam mobil.
Ragu-ragu Maryam menghampiri Willy dan Willy melihat Maryam berdiri dari kaca spionnya.
Willy lantas segera turun dan memanggil Maryam untuk segera naik sebelum ada orang lain yang melihat mereka.
"Silahkan, Pak Langit sudah menunggu anda di restoran," Maryam mengangguk dan duduk di kursi belakang.
Hatinya berdegup cepat karena harus pergi dengan pria lain selain suaminya. Rasanya aneh dan tidak nyaman.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membawanya ke sebuah restoran mewah.
"Silahkan, Pak Langit ada di ruang VIP," Willy mempersilahkan Maryam untuk masuk.
Petugas restoran membawa Maryam menuju tempat yang sudah direservasi Langit. Sementara Willy memilih duduk untuk makan siang di tempat duduk yang berbeda.
Pria tampan yang mengenakan stelan jas hitam itu tampak sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya. Dengan isyarat tangan Langit menyuruh Maryam untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Tak berselang lama, Langit mengakhiri pembicaraannya dan menaruh ponselnya di atas meja.
"Lo mau pesen apa?"
"Terserah Bapak saja," jawab Maryam sungkan
"Ya sudah gue pesenin makanan yang sama. Lo harus makan banyak biar gak kelihatan kaya orang kurang gizi," Langit memanggil waitres dan memesan menu yang sama dengannya.
Bila diperhatikan tubuh Maryam memang lebih kurus dibandingkan sebelumnya. Mungkin karena dampak dari masalah yang menimpa rumah tangganya.
"Maaf Pak, kenapa Bapak menyuruh saya untuk makan siang sama Bapak? Saya tidak enak jika ada yang melihat dan berpikiran macam-macam,"
Langit menarik sudut ujung bibirnya
"Gue cuma mau makan berdua sama lo saja. Memangnya kenapa jika ada yang melihat? Lo malu jalan sama gue?"
"Bukan begitu Pak, tapi saya hanya tidak enak jika ada orang lain yang mengira saya jalan dengan pria lain selain suami saya. Apa yang mereka pikirkan nanti,"
"Lo gak usah pikirin kata orang. Jadi diri lo sendiri saja itu lebih baik," kata Langit
"Tapi posisi saya sudah menikah, bagaimana jika orang mengira saya berselingkuh,"
"Yang selingkuh kan suami lo, bukan lo. Jadi gak usah takut!"
"Tapi Pak-,"
"Sudah, kita makan dulu. Gue ajak lo makan bukan mau debat."
Memang ya ini orang kepala batu..
Langit menatap Maryam yang sedang melahap makannya. Ia tersenyum tipis dengan tingkah perempuan cantik di depannya.
Dasar gak ada manis-manisnya, makan lahap kaya orang kelaperan..
Selesai menyantap semu makanannya. Langit melanjutkan kembali pembicaraan yang tertunda.
"Jadi kapan lo mau cerai?"
"Uhuk," Maryam tersedak minumannya sendiri
"Minum itu yang pelan."
"Siapa yang mau bercerai Pak? Tolong jangan beragumen seperti itu," pinta Maryam
"Gue gak salah, lambat laun emang lo harus pisah. Jangan mau dibodohi lagi," ucap Langit tanpa beban.
"Saya tidak akan pisah Pak, jadi sebaiknya Bapak jangan mendekati saya lagi. Saya tidak ada masalah dengan rumah tangga saya ke depannya."
Langit menghela nafas beratnya. Untuk saat ini ia memang tidak akan mungkin bisa memaksakan kehendaknya pada Maryam. Ia akan membiarkan perempuan itu untuk tenang terlebih dahulu dan memberikan ruang agar ia bisa masuk secara perlahan.
Maryam dan Langit berjalan ke luar dari restoran dan tanpa sengaja berpapasan dengan Faiz dan Kanaya yang akan masuk.
"Maryam," ucap Faiz lirih sambil matanya menatap Maryam dan Langit bergantian.
Kanaya tersenyum kecut seolah mencibir kebersamaan Maryam dengan pria lain.
"Jadi ini alasan kamu meminta pisah denganku Maryam? Karena Bos kamu ini?" tuduh Faiz menatap tajam keduanya
"Apa aku bilang benar kan Mas, Maryam ini minta cerai karena punya selingkuhan," kata Kanaya menambah suasana kian panas.
"Kalau iya memangnya kenapa? Apa ada yang salah jika Maryam meminta cerai? Untuk apa dia bertahan jika hatinya disakiti terus," Langit tak tinggal diam, hatinya tidak kuat jika melihat Maryam diperlakukan seperti itu.
Maryam hanya diam tak bersuara. Ia tak menyangka Langit akan membela dirinya.
***
Bersambung...
...Berikan dukungan kalian dengan like, komen dan votenya...
penasaran akan mamfir
rela harga diri diinjak2
klu org SDH dak suka kenapa masih memaksakan diri?
laki2 macam apa
ayo Maryam cerai aja cari laki2 yg mencintaimu