NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Baru di Kampus dan Babak Hidup yang Sesungguhnya

Suara derap langkah kaki di koridor lantai dua Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Nusantara pagi itu terasa jauh lebih ringan dan hidup.

Udara pagi awal pekan membawa kesegaran setelah berminggu-minggu atmosfir kampus dihiasi oleh ketegangan, gosip murahan, dan teror psikologis yang melelahkan.

Bagi para mahasiswa, hari Senin selalu identik dengan tumpukan jadwal kuliah yang padat dan laporan praktikum yang menumpuk.

Namun, hari ini ada nuansa berbeda yang dirasakan oleh setiap pasang mata yang berpapasan di koridor.

Di depan loker mahasiswa, Nayara Zayna Az-Zahra menutup pintu lokernya perlahan.

Ia mengenakan gamis bernuansa mocca lembut yang dipadu dengan jilbab panjang berwarna senada.

Wajahnya tampak jauh lebih berseri, memancarkan aura ketenangan dan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Tidak ada lagi beban rahasia atau rasa cemas berlebihan yang menghantui langkah kakinya.

Statusnya kini telah terang-terangan diakui secara administratif dan sosial.

"Nay!"

Sebuah suara akrab memanggil dari ujung koridor.

Alya berjalan cepat menghampiri sahabatnya itu sambil membawa dua botol kopi susu dingin di tangannya, menyerahkan salah satunya kepada Nayara.

"Makasih, Al,"

ucap Nayara tersenyum ramah, menerima botol kopi susu tersebut.

Alya berdiri di samping Nayara, melirik ke arah papan mading utama fakultas yang kini sudah bersih total dari segala selebaran atau foto-foto fitnah masa lalu.

Komisi disiplin kampus memang bergerak cepat membersihkan nama baik Nayara setelah insiden minggu lalu, sementara Jessica kini telah mendekam di balik jeruji besi kepolisian akibat tindakan kriminal percobaan penyerangan di basement.

"Wah, rasanya aneh ya, Nay,"

gumam Alya sambil menerawang menatap koridor.

"Minggu lalu kampus kita rasanya kayak medan perang penuh drama sinetron.

Sekarang... sepi, damai, dan semua orang mendadak jadi anak baik."

Nayara terkekeh kecil.

"Damai itu kan enak, Al.

Kenapa harus cari masalah?"

"Bener juga sih,"

balas Alya menyeringai jahil.

Lalu, ia mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada menggoda.

"Ngomong-ngomong... gimana rasanya jadi Nyonya Al-Gibran seutuhnya sekarang, Bu Nyai?

Suami kamu yang mantan bad boy itu masih posesif nggak?"

Mendengar pertanyaan blak-blakan itu, pipi Nayara merona merah seketika hingga menjalar ke lehernya.

Ia mencubit pelan lengan sahabatnya.

"Alya!

Kebiasaan banget deh kalau ngomong suka nggak disaring!"

Alya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi salah tingkah Nayara.

"Ih, wajar dong kepo!

Kan aku sahabat setiamu dari zaman susah sampai zaman kamu udah bahagia gini!

Oh ya, nanti siang Revan jemput kamu ke kantin lagi nggak?"

Sebelum Nayara sempat menjawab pertanyaan sahabatnya, suara derap langkah kaki tegas yang sangat ia kenal terdengar mendekat dari arah tangga utama.

Bau khas parfum maskulin berpadu wangi gaharu menyergap udara di sekitar mereka.

Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Revan melangkah santai menyusuri koridor.

Pemuda itu mengenakan kemeja katun hitam lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh, dipadu dengan celana bahan hitam formal.

Tidak ada lagi jaket kulit atau kesan urakan; yang terlihat adalah sosok pemuda matang penuh wibawa yang memancarkan aura seorang suami dan pemimpin keluarga sejati.

Kedatangan Revan langsung menarik perhatian sebagian mahasiswi yang berpapasan di koridor.

Beberapa dari mereka berbisik-bisik kagum, meskipun kini mereka tahu persis bahwa pria paling diincar di kampus itu telah sepenuhnya menjadi milik Nayara Zayna Az-Zahra.

Revan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Nayara dan Alya.

Manik matanya yang tajam langsung melembut begitu menangkap wajah istrinya.

"Pagi, Zawjati,"

sapa Revan dengan suara baritonnya yang rendah dan hangat, membuat jantung Nayara berdegup kencang layaknya remaja yang baru jatuh cinta.

"Pagi juga, Mas,"

balas Nayara tersenyum manis, menundukkan pandangannya sejenak karena malu disaksikan oleh Alya.

Alya berdehem sengaja, memasang ekspresi jengah yang dibuat-buat.

"Ehem!

Dunia rasanya milik berdua ya, yang lain mah ngontrak!

Mentang-mentang udah sah di hadapan KUA dan rektorat, pamer kemesraan di depan jomblo nggak kenal tempat nih ye!"

Revan melirik sekilas ke arah Alya, lalu tersenyum tipis.

"Makanya buru-buru cari pasangan, Al.

Jangan suka ganggu pengantin baru."

"Sialan, dikatain jomblo secara langsung!"

protes Alya pura-pura ngambek, lalu melambaikan tangan ke arah Nayara.

"Udah deh, aku mau ngibrit ke ruang dosen sebelum dosen pembimbingku ngamuk.

Dah, Nay!

Dah, Pak Ustaz Revan!"

Alya berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di sudut koridor yang mulai lengang.

Begitu Alya pergi, Revan menggeser posisinya sedikit lebih dekat ke sisi istrinya.

Ia merapikan beberapa helai jilbab Nayara yang sedikit bergeser tertiup angin dari jendela samping.

"Gimana kuliah pagi ini?

Ada yang bikin kamu stres atau kecapekan?"

tanya Revan lembut, telapak tangannya dengan sangat natural menggenggam jemari mungil Nayara.

Nayara menggeleng pelan, merasakan kehangatan yang menjalar dari genggaman tangan suaminya.

"Enggak ada, Mas.

Semua lancar.

Kuliah anatomi tadi juga seru kok.

Kamu sendiri gimana?

Katanya jam sepuluh nanti ada rapat penting sama dekanat bisnis?"

Revan mengangguk kecil.

"Iya, sebentar lagi aku harus ke gedung rektorat.

Tapi sebelum itu, aku sengaja mari ke sini karena mau mastiin keadaan istriku dulu."

Perhatian kecil namun tulus yang ditunjukkan Revan membuat dada Nayara membuncah oleh rasa syukur.

Siapa sangka, pemuda yang dulunya dikenal sebagai penguasa jalanan dan pembuat onar terbesar di kampus kini menjelma menjadi sosok suami paling perhatian dan bertanggung jawab di dunia.

"Mas..."

panggil Nayara lirih.

"Hmm?

Ada apa, sayang?"

"Aku cuma mau bilang... terima kasih,"

ucap Nayara tulus, manik matanya berkaca-kaca menatap wajah suaminya.

"Terima kasih karena sudah sabar menghadapi aku, melindungi aku dari semua teror, dan membimbing aku.

Aku bersyukur banget takdir mempertemukan aku sama kamu."

Revan tersenyum hangat.

Ia mengangkat sebelah tangannya, mengusap lembut pipi Nayara dengan penuh kasih sayang.

"Harusnya aku yang berterima kasih, Nay,"

balas Revan dengan suara berat yang sarat akan ketulusan.

"Kamu adalah hidayah terindah dalam hidupku.

Tanpa kamu, mungkin aku sampai detik ini masih tersesat di jalan kegelapan.

Allah mengirimkan kamu untuk menyelamatkan hidupku, dan tugas ku sekarang adalah menjaga kebahagiaanmu sampai akhir hayat."

Suasana di koridor kampus yang sibuk itu mendadak terasa begitu syahdu bagi mereka berdua.

Tidak ada lagi bayangan masa lalu yang menakutkan, tidak ada lagi rasa ragu.

Yang ada hanyalah keyakinan bahwa masa depan mereka telah tertulis indah di bawah rida Sang Pencipta.

---

Menjelang siang hari, setelah menyelesaikan urusan rapatnya di gedung rektorat, Revan menemui Nayara di kantin utama fakultas untuk makan siang bersama Alya dan Saka.

Suasana meja makan penuh dengan gelak tawa dan candaan ringan.

Saka terus menerus menggoda Revan mengenai perubahan gaya hidupnya yang kini menjadi suami teladan, sementara Alya menimpali dengan komentar-komentar usil yang membuat suasana semakin meriah.

Bagi Revan dan Nayara, momen-momen sederhana seperti makan siang bersama sahabat di tengah kesibukan kuliah adalah kemewahan tersendiri yang tidak ternilai harganya.

Mereka tidak lagi harus menyembunyikan identitas atau merasa takut berjalan berdampingan di bawah terik matahari kampus.

Namun, kehidupan pernikahan tidak berhenti sebatas di bangku kuliah.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir sekaligus kepala rumah tangga muda menuntut kedewasaan dan kerja keras yang luar biasa.

---

Sore harinya, setelah aktivitas kampus selesai, Revan dan Nayara kembali ke ndalem Pondok Pesantren Al-Hikmah.

Suasana pesantren menjelang magrib selalu memberikan ketenteraman batin yang khas suara santri-santri yang melafalkan hafalan Al-Qur'an dari surau berpadu dengan hembusan angin senja yang menyejukkan.

Di dalam kamar pengantin mereka yang tertata rapi, Revan duduk di meja kerjanya, membuka laptop untuk menyelesaikan beberapa laporan bisnis dari perusahaan keluarga yang mulai ia pegang kembali di bawah bimbingan sang ayah dan Kiai Ahmad Zayna.

Sementara itu, Nayara duduk bersila di atas karpet tebal dekat jendela, fokus membaca lembaran jurnal kedokteran untuk persiapan ujian koasisten (koas) tahun depan.

Meskipun berada di ruangan yang sama dengan aktivitas yang berbeda, ada ikatan batin yang begitu kuat di antara mereka.

Sesekali, Revan mengalihkan pandangannya dari layar laptop untuk melihat istrinya yang tampak serius membaca buku, tersenyum kecil melihat betapa berdedikasinya sang istri terhadap dunia kedokteran.

"Jangan terlalu diforsir belajarnya, Zawjati,"

tegur Revan lembut dari meja kerjanya.

"Nanti kalau kamu sakit, aku juga yang repot merawatnya."

Nayara mendongak, menjulurkan lidahnya sedikit menggoda ke arah suaminya.

"Bentar lagi selesai kok, Mas.

Ini tinggal satu bab lagi."

Revan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Nayara, lalu membawa secangkir teh hangat beraroma melati yang baru disiapkan di atas nampan kecil.

Ia meletakkan cangkir itu di dekat meja kecil tempat Nayara belajar, lalu ikut duduk bersila di samping istrinya.

Revan merangkul bahu Nayara, menarik tubuh istrinya agar bersandar nyaman di dada bidangnya.

Nayara tidak menolak; ia menutup buku catatannya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, menikmati ketenangan senja di dalam kamar pesantren mereka.

"Mas..."

panggil Nayara pelan.

"Iya, sayang?"

"Kira-kira... kehidupan kita ke depannya bakal kayak gimana ya?"

tanya Nayara menerawang, menatap keluar jendela ke arah langit senja yang mulai menguning.

"Kamu sibuk dengan bisnis dan kuliah bisnismu, aku nanti harus mulai koas di rumah sakit...

rasanya pasti bakal jauh lebih sibuk."

Revan mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan.

"Sibuk itu pasti, Nay.

Tantangan di depan kita justru bakal jauh lebih besar daripada sekadar gosip kampus atau teror preman kemarin.

Kita bakal menghadapi dunia luar yang sesungguhnya—dunia pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan kedewasaan."

Revan mengeratkan rangkulannya di bahu Nayara.

"Tapi aku nggak takut,"

lanjut Revan dengan suara mantap penuh keyakinan.

"Selama kita melangkah bersama, selama niat kita lillahi ta'ala, badai sebesar apa pun di masa depan pasti bakal bisa kita lewati.

Aku bakal selalu ada di sampingmu, mendukung mimpimu jadi dokter hebat, sekaligus menjadi imam yang membimbing rumah tangga kita."

Mendengar janji tulus dari suaminya, air mata haru kembali bergenang di pelupuk mata Nayara.

Ia memeluk pinggang Revan erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.

"Janji ya, Mas...

kita bakal terus berjuang bersama sampai ke surga-Nya Allah,"

bisik Nayara penuh pengharapan.

"Janji, Zawjati,"

balas Revan tegas, mencium kening istrinya cukup lama dalam keheningan senja pesantren yang damai.

Di luar kamar, kumandang azan Magrib mulai berkumandang dari menara masjid pesantren, mengalun indah membelah langit senja.

Babak baru dalam kehidupan mereka telah resmi dimulai bukan lagi kisah tentang seorang bad boy urakan atau gadis pesantren yang ketakutan, melainkan sebuah perjalanan cinta suci dua insan yang disatukan oleh hidayah, diuji oleh badai, dan disempurnakan oleh rida Ilahi.

1
Alex
sepertinya ini rumah tangga impian setiap org Thor, termasuk aku juga, semua berjalan seimbang atas ridho Allah, apapun slalu ada Allah, insyaallah semua akan berakhir baik,
bawangnya kebanyakan thor
Alex
bahagianya nembus sampai sini thor🥰
Alex
sweet bgtss
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!