NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:131.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Niatnya untuk tidur dan menenangkan diri di rooftop gagal gara-gara kedatangan pada bajingan itu. Shela akhirnya memilih untuk duduk di samping lapangan, dia duduk di bawah dengan tubuh yang disandarkan ke pohon yang rindang. Sekitar lapangan sekolahnya memang banyak menanam pohon jadi cukup sejuk jika berdiam diri di sana.

Shela menatap lapangan yang terisi oleh kelas lain yang sedang ada pelajaran olahraga. Shela mulai memejamkan matanya yang mulai berat. Beberapa kaum Adam yang mengalihkan atensinya pada Shela, apalagi saat terpejam wajag Shela terlihat damai sehingga membuat mereka menatap penuh minat padanya.Lagi, baru saja beberapa menit terpejam ada menganggunya.

Ia membuka matanya dan melihat tiga orang perempuan dengan seragam ketatnya kini tengah berdiri di hadapannya. Shela memutar bola matanya malas, kenapa si nenek sihir ini harus menghampirinya?

Shela tak ingat nama mereka bertiga, tapi ia tau siapa mereka. Ketiga perempuan itu adalah gadis pembawa onar sepertinya yang juga terobsesi pada Marvin. Dulu, Shela sering sekali bertengkar dengan mereka hanya karena memperebutkan Marvin. Mengingat hal itu membuat Shela bergidik sendiri, bagaimana bisa dulu dia jadi manusia tidak berguna yang bertengkar hanya karena seorang laki-laki yang sudah punya kekasih?

Melihat ketiga gadis itu, seakan memperlihatkan bagaimana sifatnya dulu. Yang suka melabrak orang lain hanya karena tak suka melihat mereka mendekati Marvin.

Shela menatap mereka sambil mengangkat sebelah alisnya.

Ketiga gadis itu menatapnya heran. Biasanya jika Shela minat mereka, maka ia akan langsung mengejek ketiga gadis itu dan berakhir bertengkar atau saling menjambak dan berakhir mempermalukan diri sendiri.

Tapi sekarang Shela malah bersikap santai, seolah kehadiran mereka tak berpengaruh apapun pada gadis itu. Benar apa yang orang-orang katakan kalau Shela sudah berubah.

"Tumben lo diem, kenapa? Setelah jatuh dari tangga lo berubah jadi pengecut? Atau lo takut?" Ujar salah satu gadis dengan tampang sombongnya.

Shela melihat name tag gadis itu dan dua temannya,namanya Erlina, dan dua gadis itu bernama Maya dan Bunga. Padahal nama mereka bagus, tapi kenapa perlakuan mereka berbanding terbalik?

Shela tak menghiraukan ucapan gadis itu, dia memilih untuk kembali memejamkan matanya, berharap mereka akan langsung pergi.

" Heh jal*ng! Lo gak tuli kan?"

Shela membuka matanya kembali dengan raut wajah dingin dia menatap ketiga gadis itu.

"Siapa yang jal*ng? Lo gak punya kaca di rumah? Sana ngaca dulu baru Lo ngatain orang,"ujar Shela dengan tenang namun ucapannya itu mampu membuat mereka bertiga terutama Erlina naik pitam.

"Maksudnya Lo ngatain gue jal*ang?" ujar Arlina dengan nada emosi.

Shela tersenyum sambil menatap remeh ketiganya." Gue gak ngomong, Lo sendiri yang ngaku kalau lo jal*ang."

"Sialan!" Erlina maju mendekat ke arah Shela yang masih duduk, tangannya terangkat ke udara hendak menampar Shela. Namun karena Shela bisa membaca gerakan gadis itu, dia bisa dengan cepat menghindar.

Seketika keduanya menjadi tontonan orang-orang yang berada di sekitar lapangan.

"Payah! emosi doang gede tapi nampar orang aja gak bisa," ujar Shela dengan nada congak-nya sehingga membuat Erlina semakin emosi dibuatnya.

"Dasar cewek jal*ng," teriak Maya yang tak terima temannya di perlakukan seperti itu. Gadis itu berniat menjambak Shela, dengan gerakan cepat Shela dapat menghindar, sehingga tangan Maya menarik ikat rambutnya membuat rambutnya yang semula diikat menjadi tergerai.

Sebagain laki-laki yang melihat itu tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya ketika melihat kegesitan dan paras Shela yang terlihat semakin cantik ketika rambutnya tergerai.

Sorak Sorai terdengar dari mereka yang menonton, seolah Shela dan ketiga gadis itu sedang bertanding satu sama lain.

" Cepet pergi kalau lo bertiga gak mau gue apa-apain!" Ujar Shela memperingatkan.

Bukannya pergi ketiganya malah semakin gencar melawan Shela. Shela yang punya kemampuan bela diri dengan  gesit bisa menghindari pukulan dan jambakan mereka.

Shela memutar bola matanya, cewek centil seperti mereka bisa-bisanya ingin melawan dirinya yang bisa bela diri. Ia sebenarnya tak mau menggunakan ilmu bela dirinya untuk melawan orang-orang seperti Erlina dan teman-temannya. Tapi jika dibiarkan mereka akan terus menganggunya.

Ketiga gadis itu secara bersamaan menghampiri Shela, niatnya mungkin Maya dan Bunga akan memegang kedua tangan Shela, sedangkan Erlina akan menjambak atau menamparnya. Dengan cepat Shela memelintir tangan Erlina sehingga gadis itu meraung-raung kesakitan.

"Lemah! Sok-sokan Lo mau nyerang gue, liat baru gue giniin aja lo udah meraung kesakitan," ujar Shela lalu menghempaskan tubuh Erlina ke arah kedua temannya, sehingga mereka terjatuh.

Shela melipat kedua tangannya di dada sambil menghampiri ketiganya. " Jangan cari masalah sama gue, sekali lagi lo cari masalah. Gue pastiin tangan atau kaki Lo patah!"

Erlina melihat raut wajah serius Shela membuatnya ketakutan, dia mengangguk dengan cepat.

"Bagus," ujar Shela lalu pergi meninggalkan mereka bertiga dan berjalan menjauhi lapangan.

Semua yang terjadi tadi tak lepas dari pandangan orang-orang di sekitarnya lapangan, termasuk Marvin dan teman-temannya yang tak sengaja lewat.

" Gila! Shela keren ya, tapi ngeri juga," ujar Satria.

"Iya bener, gak lagi-lagi gue nyari masalah sama dia. Bisa-bisa tangan gue patah," sahut temannya.

"Lemah banget! Dia kan cuma lawan cewek, Erlina pula yang di lawan. Kalau dia lawan kita, udah pasti kalah dia," ujar temannya yang lain.

Dika sebagai kakak Shela merasa heran dengan cara Shela melawan ketiga gadis tadi. Dilihat dari cara dia menghindar dan melawan ketiga gadis itu, Shela terlihat seperti orang yang memiliki ilmu bela diri. Tapi rasanya tidak mungkin. Dika tidak pernah melihat Shela belajar ilmu bela diri seperti itu. Atau mungkin memang Shela belajar bela diri tanpa sepengetahuannya?

____

Sudah tiga puluh menit setelah bel istirahat berbunyi, tapi Dion masih duduk di ruangan OSIS dengan tumpukan kertas di depannya. Dion tak sendiri, seperti biasa pasti akan ada Elang dan Faris di dekatnya, meski kedua orang itu tidak melakukan apapun.

" Lagian Lo ngapain ngurus beginian sendiri, besok kan bisa bareng-bareng sekalian rapat buat nentuin tanggal acara sama kebutuhannya," ujar Faris tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

" Bener tuh yang dibilang Faris, kita bisa diskusi sama yang lain besok," timpal elah.

"Justru itu, karena besok kita rapat, gue harus liat laporan sama proposal tahun sebelum, supaya gue bisa mengira-ngira apa aja yang perlu kita diskusikan buat acara pensi nanti. Gue juga mau setelah rapat selesai kita nyicil buat bikin proposal, supaya nanti semua urusan persuratan selesai sebulan sebelum hari-h. Nah kalau gitu kan, kita cuma fokus buat merealisasikan apa yang kita rencanakan."

Elang dan Faris  menggelengkan kepalanya." Otak anak ambisius emang beda, yaudah lo aja yang kerjain sendiri," ujar Elang.

"Nah itu juga alasan kenapa gue milih buat persiapan dari sekarang, kalian gak bisa diendelin."

Faris dan Elang tak menggubris perkataan Dion.

"Wih! Eh liat deh, ini kan Shela. Jago juga dia ternyata," ujar Faris sambil menunjuk ponselnya pada Elang.

Mendengar nama Shela di sebut Dion langsung menghampiri kedua temannya. " Kenapa si?" tanyanya penasaran.

Faris mendelik." Mau ngapain? Lo kan sibuk tuh liat laporan pensi."

"Yaelah, gue cuma kepo."

Faris menghela napas lalu menunjukkan ponselnya ke Dion, di ponsel itu terlihat sebuah video yang memperlihatkan Shela yang sepertinya tengah bertengkar dengan tiga perempuan lain.

"Videonya rame di grup angkatan sekolah, kalau tau ada beginian gue keluar tadi, sayang banget gue gak bisa liat Shela berantem secara langsung," ujar Faris terlihat kecewa.

Dion menggeplak bahu Faris." Jadi anggota OSIS harus jadi contoh, masa iya ada orang berantem malah lo dukung? Aneh!"

"Iya-iya."

Elang berbicara dengan semangat yang sulit dikendalikan, "Ngomong-ngomong soal Shela, dia tampaknya berubah banyak ya. Gue lihat di Instagram, foto-foto seksi yang biasa ada sekarang udah menghilang. Sekarang gayanya malah terasa begitu keren dan autentik. Tapi yang membuat gue terpesona, dia jadi tampak lebih cantik alami, tanpa balutan make-up,' ujarnya, tersenyum penuh arti.

Dion, dengan tatapan sinis, menanggapi, "Walaupun dia berubah, tetap saja, aura bermasalahnya itu nggak hilang-hilang."

Faris yang selama ini memperhatikan perkembangan Shela pun angkat bicara, "Memang, dia seperti sudah berusaha keras untuk tidak lagi menjadi pusat masalah. Sudah lama tidak terdengar dia mengintimidasi orang lain atau melanggar aturan."

Namun, suasana berubah ketika Faris menggiring pembicaraan ke arah yang lebih personal, "Eh, Dion, pagi tadi gue lihat lo di depan kamar mandi guru bersama Shela. Ada apa ?"

Dion terkejut bukan kepalang, matanya membelalak tak percaya bahwa aksinya telah terpantau."Itu... gue cuma lagi nungguin dia,' ia berkata terbata-bata. "Nunggu? Buat apa?" tanya Elang, penuh kecurigaan

. Dengan hati yang berdegup kencang, Dion pun terpaksa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada pagi itu kepada kedua sahabatnya, memperjelas situasi yang terjadi sekaligus menenangkan gelombang curiga yang mungkin muncul.

"Oh, lo..suka sama dia ya?" Faris bertanya sambil menatap Dion dengan tatapan yang penuh keisengan.

Dion mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepala dengan tegas. "Gak mungkin gue tertarik sama gadis pembuat onar seperti dia!"

"Ah, tapi gue perhatikan akhir-akhir ini lo sering deketin dia," goda Faris sambil tersenyum licik.

"Lo gawasin gue, Ris?" tanya Dion dengan sedikit ketegangan.

Faris menggeleng, "Engga, gue cuma heran aja, beberapa kali gue liat lo sama Shela."

Dion menghela napas, "Gue gak deketin dia,gue cuma menegur karena dia sering melanggar aturan sekolah."

Tatapan kedua temannya menjadi tajam, penuh kecurigaan. "Sesering itu? Gak biasanya, kalau memang tujuan lo cuma buat menegur, kenapa Lo gak ngelakuin hal yang sama kepada Erlina dan teman-temannya?"

Dion terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Tanpa dia sadari, dia selalu mencari alasan untuk mendekati Shela. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, rasa penasaran yang mendalam, dan sekarang ia harus mengakui pada dirinya sendiri: ada ketertarikan yang tak bisa dipungkiri terhadap gadis itu, yang menariknya ke dalam pusaran emosi yang tak terduga.

1
Jirokiyouka
Yang mau ngajarin siapa coba, orang di gak dipeduliin
Tiavitri Vitri
maaf ya tor lama2 malas mo baca,prasaan diawal udah bagus lama2 bosan,
Arum Oke
👍
Nita Renita
ayok Shella kamu pasti bisa 😃👍
david 123
oh...kenapa tdk diproses ya melakukan kekerasan di lingkungan sekolah...malah di biarkan...lanjut thor..
david 123
Ubah alurx thor,Shela selalu tersiksa ya ,dr awal cerita..kapan nasibx baik..,he...he....
Xiaomi Note 14
bodoh, kan sidik jari ada prcm polisi klw gk di prkaa sdik jeri ,nya asl nduh.
kalea rizuky
novel paling buruk yg pernah q baca sejauh ini muter bertele tele pokok bkin mood baca anjlok
kalea rizuky
novel g guna pantes sepi like wong MC goblok biarin aja bokap lu nyesel uda bodo amat ma dika ma bokap lu yg oon ehh ini masih aja mau balik tololllllll q ksih rating jelek biarin slaah sendiri bkin pembaca sebelll
kalea rizuky
kn karena lu semua. bego yg buat novel lebihhh beggggg
kalea rizuky
pecundang semua sella goblok lengkap bgt ne novel paling bego
kalea rizuky
sela. jd goblok terlalu menye menye skip g jelas ne novel
atun atun
lnjutkan
Rita Rita
seorang Dika hanya pecundang sejati laki laki banci,, dulu berjanji mau lindungi Shela,, ini yg salah Dika apa author ya 🤔
Rita Rita
heran sama si author,, udah 2 x Shela dibuat mati,, apa ini tokoh utama dibikin mati beneran 🤔🤣 yg bikin geli itu kaum keluarga Shela,, katanya terpukul atau apalah kalo nurut AQ cuma preetttt,,
Rita Rita
aduh Thor,, sekali kali ga langkah gontai untuk Shela kenapa sih,,
Rita Rita
Shela ga ada punya langkah tegas langkah gontai Mulu,, kapan ada bahagia kalo hidup terus menerus dibebani konflik, masa iya hidup monoton di situasi yang sama.
Rita Rita
heran aja sama si Shela katanya pinter,, tapi kok bego nya makin gedein ya,, masa udah 2 x masih masuk lobang yang sama,,
Rita Rita
cerita nya muter muter gitu aja ga ada titik temunya, berbelit tanpa ada narasi yg jelas,,,
Lenty Fallo
lnjut thor upnya...💪❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!