NovelToon NovelToon
Si Buntung Dan Lengan Bionik Nya

Si Buntung Dan Lengan Bionik Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Dokter Ajaib / Pendamping Sakti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mobs Jinsei

Remake dari karya berjudul Emas yang belum lama di rilis dan karya teman penguasa berlengan satu yang sudah di drop.

Kisah seorang pria yang selalu di hina akibat dia hanya memiliki satu lengan. Dia di khianati istri yang sewaktu smp di tolongnya sampai mengorbankan lengannya. Mertua dan iparnya menganggap dia sampah karena dia sering di pecat karena kondisi nya.

Dia sempat berpikir mengakhiri hidupnya dan di tolong, dia mendapat lengan bionik karena kebetulan dan sempat mau di bunuh oleh selingkuhan istrinya, namun di saat kondisinya sudah kritis, lengan bionik nya malah menolongnya dan memberinya kekuatan untuk mengubah nasib. Bagaimanakah kisah perjalanan hidup baru nya ?

Genre : Fiksi, fantasi, drama, komedi, supranatural, psikologi, menantu terhina, urban.

100 % fiksi, murni karangan author. mohon like dan komen nya ya kalau berkenan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Setelah mobil datang tepat di depan rumah karena di minta oleh para preman masuk ke dalam, Mark membantu Amanda dan Suriwati menaikkan tas tas besar mereka, setelah itu, Mark duduk di depan, di sebelah pengemudi dan ketiganya di belakang. Selama berjalan keluar dari gang, hampir seluruh warga di lokaliasi, mulai dari para preman, para pelacur dan para ibu ibu pijat, mengantar kepergian Suriwati dan keluarganya.

Tidak sedikit dari mereka yang menitipkan pesan dan mengatakan jangan lupa main main ke lokalisasi. Mark yang melihatnya menyadari kalau lokalisasi tersebut nampak seperti sebuah keluarga yang besar walau terlihat sekali mereka tidak memiliki apa apa, tidak sedikit juga preman yang menyapa dirinya dan menitipkan Amanda juga Andika kepada diri nya, karena mereka ternyata sayang pada keduanya.

Mobil pun keluar, Andika naik ke atas kursi dan berbalik melihat kebelakang, masih banyak yang menghantarkan lambaian tangan mereka, Amanda melihat Andika sedikit terlihat sedih,

“Nanti kita kapan kapan kesini lagi,” ujar Amanda.

“Iya kak, Dika ngerti, bakal kangen deh sama om Jali, om Karto, om Supri dan lainnya hehe,” ujar Andika yang menyebutkan orang orang yang sering mengajaknya bermain sejak kecil.

Suriwati langsung merangkul Andika yang duduk di tengah dan Amanda mengelus punggungnya. Mark menoleh ke belakang sebentar melihatnya kemudian menoleh lagi ke depan, dia menoleh melihat pengemudi,

“Bapak tau perumahan Tirtajaya ?” tanya Mark.

“Tau pak, saya tinggal di belakang perumahan itu, tidak jauh kok dari sini,” jawab sang pengemudi.

“Oh syukur deh,” balas Mark.

Tiba tiba pundaknya di sentuh seseorang dari belakang, Mark menoleh melihat wajah Amanda sudah di depannya,

“Kita ke perumahan Tirtajaya ?” tanya Amanda.

“Iya benar, kenapa ?” tanya Mark.

“Sekolah Andika dekat sana, tidak persis di dalam tapi keluar sedikit dari sana, aku suka berkeliling di sana menjual kue,” jawab Amanda.

“Oh ya....kebetulan dong (beneran nih kebetulan, Aisha ?),” ujar Mark.

[Saya tidak mengerti maksud anda.]

“Grrrrr....rese ya, kamu ga mau kasih info,” ujar Mark di kepalanya.

[........]

Aisha langsung diam tidak menjawab lagi, Mark yang kesal akhirnya menoleh keluar jendela melihat jalan sambil menopang dagunya. Amanda kembali menjulurkan kepalanya ke arah Mark di depannya,

“Iya kebetulan, tapi....pada kenal aku ga ya ? kalau kenal malu juga kan,” tanya Amanda.

“Ah kenapa harus malu, ga masalah kok,” balas Mark.

“I..iya deh,” balas Amanda.

Ternyata apa yang di katakan pengemudi benar, perumahan itu tidak jauh dari tempat mereka bertolak, hanya dalam waktu sepuluh menit, mereka sudah sampai di perumahan Tirtajaya dan sempat melewati sekolah sd di tepi jalan raya depan komplek. Mark tertegun, dia tahu persis perumahan itu karena dia pernah berjualan alat elektronik penyedot debu di sana.

Namun alamat rumahnya di bagian perumahan untuk kalangan menengah, berbeda dengan lahannya ketika menjadi sales yaitu perumahan Tirtajaya 2 di belakangnya yang isinya rumah mewah dan terkesan jauh lebih elit. Mark pun ingat sesuatu,

“Harusnya pak Richard rumahnya di perumahan belakang ya karena aku dulu jadi sales door to door di sana,” ujar Mark sambil melihat deretan rumah yang bentuknya sama persis karena memiliki pengembang yang sama.

Setelah melewati, beberapa gang, taman di tengah komplek dan lapangan tenis, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah minimalis dengan luas, lebar delapan meter dan panjang tujuh belas meter, lokasi rumah nya sangat strategis karena tepat berada di taman bermain di belakang komplek dan perbatasan dengan komplek elit Tirtajaya 2. Setelah menurunkan barang barang dan membayar taksi, Suriwati, Amanda dan Andika berdiri mematung mendongak melihat rumah dua lantai yang nampak masih baru di depan mereka.

Selagi mereka tertegun, Mark mengambil satu set kuncinya dari dimensional storage dan menoleh melihat Amanda, Suriwati dan Andika.

“Yuk masuk,” ajak Mark.

“Oh...iya, maaf ibu bengong,” ujar Suriwati.

“Sama...maaf mas,” ujar Amanda.

“Mas ?” tanya Mark.

“Um...setelah ku pikir pikir aku panggil mas aja deh hehe,” ujar Amanda.

“Yah terserah kamu deh,” balas Mark.

“Um...aku panggil apa dong ?” tanya Andika.

“Kakak aja hehe,” jawab Mark.

“Iya deh kakak hehe,” balas Andika.

“Ayo masuk,” balas Mark.

Mereka pun masuk ke dalam pagar, selagi berjalan ke dalam, Mark melihat ada taman kecil di depan teras dan sebuah carport dengan garasi di depannya, dia belok ke kiri dan berdiri di teras pintu utama. “Cklek,” Mark memasukkan kuncinya dan membuka kuncinya, “kreeek,” dia membuka pintunya lebar lebar kemudian masuk ke dalam.

Mata Mark langsung membulat, ternyata bagian dalam rumah itu sudah berperabot lengkap, begitu masuk mereka langsung berada di ruang tamu yang sudah ada sebuah sofa panjang, dua buah sofa satu orang dan sebuah meja kaca di tengah. Di belakang sofa ada sebuah lemari pajangan indah lengkap dengan isinya sebagai pembatas untuk masuk ke dalam.

Mark melangkah ke dalam melihat ruang keluarga yang sudah ada sebuah sofa panjang, meja kaca, rak televisi lengkap dengan televisinya, sebuah stereo set dan lantai yang di lapisi karpet. Dia mendongak melihat lampu downlight terpasang di plafon langit langit sebanyak tiga buah. Dia menoleh ke belakang sofa, terlihat sebuah meja makan dengan empat kursi dan sebuah dapur di belakangnya. Dia menoleh ke kanan melihat sebuah pintu yang konek ke garasi.

Di sebelah kiri ada tangga untuk naik ke lantai dua, di sebelahnya ada sebuah pintu untuk kamar mandi. Di bagian kiri belakang ada sebuah kamar berukuran tiga kali empat yang sudah lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian, meja rias dan meja baca di sebelah tempat tidur. Di dalam juga ada sebuah pintu yang konek ke kamar mandi di sebelahnya. Setelah itu, Mark ke lantai dua, dia melihat dua buah pintu di kanan dan kiri kemudian sebuah pintu di tengah koridor.

Pintu di kanan dan kiri adalah kamar anak berukuran tiga kali tiga meter dengan kamar mandi dalam berukuran kecil, sedangkan di tengah adalah kamar utama yang berukuran delapan kali tiga meter, lengkap dengan ranjang king size, lemari pakaian besar, rak televisi, kamar mandi yang memiliki bathtub, meja rias, sebuah meja baca dan jendela yang lebar lengkap dengan tirainya. Mark membuka lemarinya, ternyata di dalam ada banyak pakaian untuk pria.

“Wow, semua keperluan ku sudah lengkap di rumah ini, mantap,” gumam Mark di kepalanya.

[Senang kalau tuan suka, tapi....]

“Tapi ?” tanya Mark.

[Anda dari tadi berjalan sendirian.]

“Huh ?”

Mark menoleh kebelakang lalu memeriksa sekitarnya, ternyata dia sendirian di lantai dua, Suriwati, Amanda dan Andika tidak mengikuti dirinya, langsung saja Mark turun dan kembali ke ruang tamu, ternyata ketiganya berdiri di depan pintu tanpa masuk ke dalam, langsung saja Mark menghampiri mereka.

“Loh kok ga masuk ?” tanya Mark.

“Um...kita ga enak main masuk aja,” jawab Amanda.

“Aduh, ayo masuk,”

Mark membantu membawakan barang kedalam sehingga ketiganya masuk ke ruang tamu, namun mereka berdiri lagi mematung di ruang tamu, Mark menghela nafas,

“Manda, ini kan rumah kamu juga, kenapa kayak tamu sih,” ujar Mark.

“Um....beneran ya mas ?” tanya Amanda.

“Iya bener, ampun deh, ayo bu, Dika, masuk,” ajak Mark.

Namun mereka nampak malu malu dan akhirnya mematung tanpa bergerak, Mark terus membujuk mereka sampai pada akhirnya mereka masuk ke ruang keluarga di tengah, Mark langsung meminta mereka duduk di sofa, Mark duduk di sofa yang khusus satu orang di sebelah mereka,

“Ma..makasih nak Mark, sudah mengajak kita ke rumah kamu,” ujar Suriwati.

“Bu, kita udah keluarga, tolong jangan sungkan sungkan seperti ini, aku yang jadi ga enak kalau begini,”

“Iya nak, maaf,” balas Suriwati.

“Um....Dika tinggal di sini ya kak ?” tanya Andika.

“Iya, kamar kamu di atas ya, tinggal pilih mau yang mana,” jawab Mark tersenyum.

“Iya deh, boleh naik ?” tanya Andika.

“Boleh, sana naik duluan,” jawab Mark.

“Ok kak, Dika naik ya,” ujar Andika sambil nyengir.

Andika berdiri dan langsung berlari menuju tangga, setelah dia naik dan tidak kelihatan lagi, Mark menoleh melihat Amanda yang nampak kesal dengan Andika.

“Napa kamu ?” tanya Mark.

“Maaf ya mas, Dika anaknya gitu,” jawab Amanda.

“Aduh, ya ga apa apa, ini rumah dia juga,” balas Mark.

“Iya sih...tapi...beneran kita boleh di sini ?” tanya Amanda.

Mark berdiri dan pindah duduk di sebelah Amanda, dia langsung merangkul Amanda kemudian mengecup bibirnya, Amanda sedikit kaget dan mendorong Mark.

“Dah yakin belom ?” tanya Mark.

“Ada emak mas, malu dong,” jawab Amanda.

“Abisnya kamu susah banget di bilangin,” balas Mark kesal.

“Ibu kayaknya kalau naik naik susah nih, ada kamar di bawah ga nak Mark ? di kamar pembantu juga ga apa apa,” ujar Suriwati.

“Aduh ibu ini  ngomong apa, sini bu, ikut aku,” ajak Mark sambil berdiri.

Mark menarik tangan Amanda dan mengajak Suriwati ke kamar yang berada di bawah, ketika masuk ke dalam, Suriwati malah terlihat canggung,

“Ibu boleh di sini ?” tanyanya canggung.

“Ini kamar ibu,” jawab Mark.

“Be..begitu ya,” balas Suriwati grogi.

“Iya ini kamar ibu, jadi barang barang ibu di taruh saja di sini,” ujar Mark.

Mark keluar kamar meninggalkan Suriwati dan Amanda di dalam, kemudian masuk membawakan tas Suriwati ke dalam kamar dan meletakkannya di kursi meja baca kecil yang berada di sebelah ranjang.

“Makasih nak Mark,” ujar Suriwati.

“Panggil nama saja bu, aku kan menantu ibu,” ujar Mark.

“Kamu panggil emak dong mas, kalau ga emak tidak mengerti,” ujar Amanda berbisik.

“Ok, emak,” balas Mark.

“I..iya Mark,” balas Suriwati grogi.

1
Syari Andrian
double2 up donh
TUAN AMIR
next
Syari Andrian
Next
Syari Andrian
Nyesal gak kamu vania? Hufh keqnya enggak😑😑😑
Syari Andrian
Keren banget idenya bikin cerita thor…
Syari Andrian: Sama2
Mobs Jinsei: makasih dan makasih support nya kak/Pray/
total 2 replies
Syari Andrian
Next seru
Syari Andrian
Astaga…😬😬😬
Syari Andrian
Akhhhh knapa jadi aku yang nge bayangin….
Syari Andrian
Waaah identitas baru.. berarti lajang dong awokawoak
Syari Andrian
Jangan sulit2 ancamannya ya kasian MC nya
Syari Andrian
Banka kamu akan menyesal di kemudian hari 😪😪
WHITE FIRE
lanjut author aku tunggu updatenya
Mobs Jinsei: Siap kak
total 1 replies
WHITE FIRE
lanjut author aku tunggu
allowble_ranger
lanjut jadi penasaran
Mobs Jinsei: Siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!