Camaraderie berarti rasa saling percaya dan persahabatan diantara orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersama.
Seperti halnya dengan dua anak manusia yang bertemu dan berteman sejak mereka kecil, namun karena tuntutan pekerjaan orang tua, mereka harus terpisah.
Mereka percaya bahwa dikemudian hari mereka akan bertemu dan bersama kembali, entah sebagai teman bermain seperti dulu atau sebagai teman hidup di masa depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Pawangnya
Ale menatap sekelilingnya. Perasaan sebelum tidur ruang perawatan nya bukan yang ini, kenapa sekarang berubah.
"sudah bangun cucu grandpa" Endra mengusap pelan pipi cucunya.
Tatapan Ale sangat sayu, kedua sudut bibirnya terangkat, meksipun tidak selebar biasanya.
"Granpa." ucap Ale lirih.
"Iya, granpa di sini. Kakak mau apa? mau minum?"
Ale menggelengkan kepalanya.
"Minum dong sayang, sedikit saja." Anala ikut merayu cucunya. Ia sambil mengangkat gelas dan mendekatkan ke cucunya.
Mau tidak mau, Ale meminum air yang Anala sodorkan. Baru sekali tegukan ia sudah mual.
"Sudah, granma." mohon Ale.
"Iya, sayang. Mas, bantu lagi cucunya berbaring."
Ale kembali berbaring dengan bantuan Endra.
"Mama dan Oma sedang beristirahat. Sementara opa ada sedikit urusan. Jadi sekarang kakak sama granpa dan granma dulu yah."
Ale mengangguk.
Endra tiba sejam yang lalu. Jam dinding masih menunjukkan angka 9 pagi. Mungkinkah Endra menaiki penerbangan pertama atau membayar pesawat lainnya yang bisa berangkat saat itu juga. Hanya Endra yang tahu jawabannya.
Jam 12 siang, Hirawan dan Gea tiba di ruang perawatan Ale. Ale meringis melihat kedatangan kakek dan neneknya yang jauh-jauh dari Mahalaga.
"Cucu nenek kenapa hmm?" tanya Gea.
"Biasa lah, rindu pawangnya." Arawinda yang menjawab.
"Ada-ada saja kamu, Winda" Gea tertawa kecil. Sudah bukan rahasia lagi jika Ale tiba-tiba sakit saat papanya sedang jauh.
"Kapan hari sempat cari papanya, bu. Eh, besoknya malah jatuh sakit, sampai DBD pula." cerita Ara.
"Namanya juga papa dan anak yah sayang. Mama kamu juga dulu gitu, apalagi kalau papi ada kerjaan di luar negeri." Anala membela cucunya.
Sejak tadi, Ale tidak berhenti senyum. Meskipun senyumnya masih tipis, tapi raut wajahnya tidak bisa berbohong jika ia merasa senang saat ini.
"Wah, buah tidak jauh dari pohonnya ini." ujar Gea.
"Kapan juga mi? Seingat Ara, cuma sekali."
"Iya, cuma sekali. Karena setelah itu, papi selalu bawa kamu dan mami ikut kemana-mana saja papi pergi." ujar Anala.
"Wah" Gea dan Arawinda tertawa melihat ekspresi Ara yang terlihat malu.
"Mami buka rahasia terus ih" rengek Ara.
"Apa lagi dik rahasianya nyonya Ara?" tanya Gea.
"Itu dulu yah, kak. Nanti lagi aku bongkar kalau anaknya macam-macam." Anala menaik turunkan alisnya menggoda anaknya.
"Mami ihh"
"Kakak Alesha, papanya pasti baik-baik saja sekarang. Kalau papanya lagi jauh, didoakan yah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Okay sayang?" Gea mengusap rambut cucunya.
"Iya, nek" Ale mengangguk.
Saat twins pulang sekolah, barulah mereka makan siang bersama.
"Sebenarnya sangat sedih lihat kakak Alesha sakit, tapi disisi lain kok yah ada senangnya. Sudah beberapa kali saya ajak Hirawan kesini, tapi ada saja alasannya. Hari ini gak saya ajak, malah kesini sendiri karena dengar cucunya sakit." ujar Adiyaksa.
"Kak!" tegur Endra.
"Kakak kan bilang sedih, Endra."
Hirawan tertawa kecil mendengar ucapan besannya sekaligus sahabatnya.
"Siap-siap saja kalau begitu. Siapkan tenaga untuk menemani kegilaan temanmu ini" ujar Hirawan.
"Tapi setelah kakak Ale sembuh yah. Kalau sekarang mah, di sini saja, cerita santai." sambung Hirawan cepat, takut mendengar teguran Endra.
"Dasar laki-laki" ucap Gea.
"Biarkan saja, Gea. Mumpung tanggal juga masih baru, jadi kita bisa menikmati uang pensiun yang kemarin belum sempat dinikmati" canda Arawinda.
"Ara gak ikut-ikutan yah." ucap Ara cepat.
Yang lain tertawa mendengar percakapan absurd itu.
"Kak, cotonya enak sekali. Mau gak?" tawar Aric.
Ale menggelengkan kepalanya.
"Habis makan ini, aku suapin kakak buah yah?" tawar Al.
"Iya" jawab Ale pelan. Ia memang hanya menjadi penonton disaat keluarganya yang lain sedang makan. Lidah dan tenggorokan nya belum bisa diajak kompromi untuk makan. Air saja masih susah untuk ia telan.
Jika ada yang bertanya hal apa yang paling Ale suka, maka Ale akan menjawab disaat keluarganya berkumpul seperti ini, meskipun masih kurang beberapa orang. Yang laki-laki sedang duduk memenuhi sofa, ada yang berbaring, juga ada ada yang sekedar bersandar. Kedua adiknya malah asyik bermain PlayStation. Sementara oma, nenek dan granma sedang berada di dalam kamar yang memang disediakan untuk pihak keluarga. Satu-satunya orang yang bersama Ale sekarang adalah Ara. Mamanya ikut berbaring di sebelahnya sambil mengelus rambutnya.
Di lain tempat, Altair baru saja menyelesaikan laporan untuk misinya kali ini. Laptop yang ia gunakan tadi bahkan belum benar-benar mati.
"Monitor, mawar merah di sini. Izin menyampaikan pengumuman jika ponsel belum bisa digunakan. Sedang diupayakan untuk kestabilan jaringan."
Pengumuman tadi membuat Altair kelimpungan. Sejak kemarin sore ia merasa gelisah. Misinya yang semalam bahkan sempat akan ditunda karena kekhawatiran kawan-kawan Altair yang melihat pimpinannya tidak tenang. Namun Altair nekat melakukannya, karena sudah tidak ada waktu lagi, di sisi lain, puluhan nyawa menjadi taruhannya.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Lettu Sahrul, salah satu anggota khusus yang bergabung dalam misi ini.
"Baik-baik saja, letnan. Keadaan letnan bagaimana?"
"Siap, izin menjawab. Sudah lebih baik, pak "
"Syukurlah." selain Altair, Lettu Sahrul juga semalam mendapatkan oleh-oleh berupa luka tusuk pada pahanya. Untung saja tidak dalam.
Misi yang Altair jalankan kini memang tidak sederhana, untuk itu hanya orang-orang pilihan yang dilibatkan.
✨✨✨
Malam harinya, Ara meminta agar papa dan mamanya pulang saja. Sekalian mengajak Hirawan dan Gea juga kedua anak kembarnya.
"Ya sudah, besok kami kesini lagi. Kak Alesha, nenek ikut pulang yah ke rumah oma."
"Iya, nek. Hati-hati semuanya." suara Ale masih kecil, ia belum memiliki tenaga yang cukup untuk bersuara seperti biasanya.
"Kak, besok main Playstation di sini lagi yah?" giliran kedua adik Ale yang pamit.
"Iya " Ale mengangguk.
"Endra, Anala?" tanya Arawinda.
"Di sini saja, mbak." jawab Endra dan Anala bersamaan.
"Ra, jangan lupa hubungi Altair secara berkala. Barangkali sudah nyambung " pesan Hirawan.
"Iya, ayah." patuh Ara.
Selepas kepergian keluarganya yang lain, Ara meminta agar papi dan maminya juga segera beristirahat. Mereka telah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan pagi tadi dan belum sempat beristirahat.
"Nanti, sayang" tolak Endra.
"Pi, plis deh. Tadi aku udah nurutin kemauan papi, sekarang papi lagi yang dengarin Ara"
Anala tersenyum melihat pertengkaran kecil di depannya.
"Granma kenapa senyum?" tanya Ale.
"Granma senang, karena masih diberikan kesempatan untuk melihat pertengkaran kecil mamamu dan granpa."
"Jadi rindu papa " beo Ale.
"Eh, granma gak maksud, sayang. Maafkan granma yah " ucap Anala cepat.
"Tidak, granma. Kakak tidak apa-apa." Ale tersenyum menenangkan. Ia hanya bisa berharap jika papanya baik-baik saja.
Semangat.. 😍😍
ditunggu karya berikutnya kak ❤🌹🌸💐🍁
Justru sekarang harus semangat, bangkit masih ada Air dan Alden yg butuh perhatian dan cinta untuk kehidupan masa depan keluarga.. 😍😍
selalu menyempatkan waktu untuk bisa hadir. sesibuk apapun, tak ada yang lebih berharga selain kebersamaan.. dalam suka dan duka saling support dan doa... 😍😍😍
Jangan lama- lama Ale ngambeknya. gak baik nanti kebablasan. 😇😇😄