Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Waspada Terhadap Hama
Hari yang telah direncanakan pun tiba. Kriss benar-benar berangkat ke Yogjakarta seorang diri.
Suara dering telepon yang nyaring mengganggu tidur lelap Zoe. Dengan malas setengah kesal, ia bergeliat dan terpaksa menyingkap sedikit selimut yang menutupi tubuhnya.
"Argh. siapa, sih, pagi-pagi begini telepon? Ganggu banget!" gerutunya. Matanya menyipit, menghalau cahaya matahari yang memaksa masuk ke dalam netra miliknya. Sementara satu tangannya meraba-raba meja kecil di samping ranjang.
"Ketemu," ucap Zoe parau, "Halo."
"Wuih, masih di tempat tidur rupanya."
"Mau apa?" sentak Zoe. Awas saja jika Kriss tidak menyampaikan hal penting, Zoe akan benar-benar mengamuk karena laki-laki bule itu merusak paginya yang menyenangkan ini.
"Semua urusan udah beres, Boss. Tapi gue masih butuh waktu buat kelarin semuanya di sini, Pak Hermawan lagi gak ada di tempat karena lagi liburan ke luar negeri. Jadi, meski bukti konkrit udah di tangan, kita tetap harus sidak langsung ke orang yang bersangkutan." Kriss menjelaskan.
"Terus, hasilnya?"
Terdengar helaan napas pelan Kriss di seberang sana setelah mendengar pertanyaan Zoe. "Beneran Pak Hermawan yang atur semuanya, dia manfaatin perasaan ponakannya yang emang suka beneran sama lo, Boss."
"Maksud lo ..., Vivian beneran suka sama gue?" tanya Zoe memastikan, "ah, udahlah. apa pun itu intinya Vivian ikut terlibat."
"Betul, Boss. Gue rasa udah seharusnya lo pecat hama itu sekarang juga!" Kriss bersungut, terdengar sangat kesal di pendengaran Zoe.
Zoe sempat mengerutkan kening sebentar, ia sebetulnya berencana memutasi sekretarisnya tersebut ke kantor cabang yang berada di kota lain. Namun, Kriss malah memintanya untuk memecat langsung. Haruskah ia melakukannya?
Siang hari, Zoe sudah siap dengan penampilannya yang selalu memukau, terutama di mata kaum wanita. Laki-laki itu berjalan memasuki ruang kerjanya dengan suasana hati yang lebih tenang. Permasalahannya di Yogja sudah ditangani dengan baik oleh Kriss, kini ia tinggal mengurus satu perempuan itu saja di kantornya.
Pada akhirnya, Zoe memutuskan untuk memutasi wanita itu ke anak cabang sesuai rencana sebelumnya. Kriss sudah setuju dan berakhir dengan amarah sang sekretaris yang meluap ketika pertama kali mendengarnya. Tetapi wanita itu malah merasa dirinya diberhentikan secara tidak hormat lantaran dianggap tidak mampu bekerja secara profesional. Tentu saja ia marah besar. Untung saja Zoe sudah menduga hal ini akan terjadi.
Sumpah serapah, cacian dan makian pun meluncur bebas dari mulut beracun milik Vivian. "Bajingan, kurang ajar! Pikirmu bisa lari dari tanggung jawab, ha? Setelah nikmatin tubuhku, sekarang kamu singkirin aku dengan cara begini. Aku gak terima. Sialan!"
Zoe masih diam, ia memberikan kesempatan pada Vivian untuk bernyanyi mengeluarkan pujian-pujian indah terhadapnya.
"Nikmatin?" tanya Zoe datar. Wajahnya tetap tenang dengan kedua jemari yang ia tautkan untuk menopang dagunya.
"Gak usah pura-pura lupa, deh! Brengsek!" Vivian terus saja mengumpat.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sesuatu yang tidak pernah kuingat sedikit pun sebelumnya?"
Vivian tertawa kering, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Apakah laki-laki itu sengaja mengelak agar ia kembali mengingatkan kejadian waktu itu?
"Bilang aja kalau kamu minta aku buat ngulang kegiatan kita malam itu. Gak perlu berbelit-belit!" sentak Vivian menatap tajam.
"Cukup, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ocehanmu. Silakan keluar dari ruangan ini, Nona Vivian!" usir Zoe. Matanya menatap dingin ke arah wanita yang berdiri di hadapannya tengah diliputi emosi.
"Aaaaaakkkkk!" Vivian menjerit, meluapkan emosi sambil mengacak-acak rambut panjangnya setelah menutup kasar pintu ruangan Zoe.
"Mutasi?" Napas Vivian memburu, "dia pikir aku bodoh? Pemecatan secara halus ini gak bakalan pernah aku lupain! Sialan!" Mulut Vivian tidak berhenti mengoceh, mengumpat dan merutuki sikap atasannya itu. Ia benar-benar tidak terima.
"Kupikir wanita itu akan membuat keributan besar di kantor," ucap Zoe pelan seraya mengaduk kopi hitam kesukaannya. Helaan napasnya terdengar cukup ringan, ia merasa beberapa urusan sudah selesai dan ia sudah tidak sabar untuk segera pulang menemui sang istri tercinta.
Akhir-akhir ini, menurut laporan yang diterimanya dari Dokter Andrew, kondisi Shena kian stabil. Terdapat beberapa respons dari si pemilik tubuh ketika ada seseorang yang mengajaknya berbicara, memberikan sentuhan fisik hingga memancing kemajuan yang ditunggu-tunggu semua orang.
Setelah menghabiskan kopinya sambil sesekali mengerjakan tugas, Zoe berencana pergi mengunjungi Kafe Flower yang berada di ujung jalan sana, ia ada janji temu dengan seorang ahli hukum dan menyerahkan sisa-sisa bukti yang masih berada di tangannya mengenai insiden antara dirinya dan juga Vivian waktu itu.
"Kenapa Pak Zoe melakukan ini? Bukankah Bapak mengatakan sudah ada Pak Kriss yang menghandle kasus ini?"
Kepala Zoe menggeleng pelan, ia mengetuk-ngetuk pelan pegangan sofa kafe di kedua sisinya.
"Ketamakan dan manusia itu tidak pernah terpisahkan, Pak Erlan. Hal-hal buruk bisa datang kapan saja, di mana saja, dan dari siapa saja. Saya sudah menjalani kehidupan ini dengan menelan pil pahit berkali-kali, hingga di masa lalu saya pun pernah membaurkan racun ke banyak hama. Saya hanya berjaga-jaga jika saja ada hama lain yang tak sempat diracuni dan malah merambah liar di masa kini." Zoe menjelaskan dengan teramat tenang dan mata yang menerawang.
Pak Erlan mengangguk-angguk, cukup mengerti dengan apa yang kliennya sampaikan.
"Keputusan Anda sudah tepat, Pak. Sebagai orang nomor satu di perusahaan, Anda memang harus selalu waspada dan cermat."
Zoe tersenyum misterius, tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang duduk di depan sana, menikmati sepotong kue ulang tahun seorang diri.
~~~~~~~~~~~
Note:
Memasuki awal tahun 2024. Hari yang baru, harapan baru, serta cerita hidup yang baru akan kita mulai. Melupakan sesuatu yang sudah berlalu memang tidaklah mudah, apalagi jika itu teramat berkesan. Tetapi, ada kalanya kita tak lagi bisa mengenang sesuatu yang tak semestinya, bak sampah beracun yang tak bisa didaur ulang.
Mari bersemangat menyongsong masa depan yang lebih indah, lebih bermakna, lebih baik dan jauh dari hal-hal negatif.
Semoga kita semua jadi manusia yang lebih baik, manusia yang hebat dengan tidak menjatuhkan manusia lainnya. Manusia yang lebih bisa menahan diri akan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menyakiti orang lain. Sukseslah kita di jalan yang Allah ridhoi, sejatinya tidak ada yang mengetahui issi hatimu melainkan dirimu dan Tuhan.
Hal baik akan kembali pada dirimu, begitupula hal buruk. Tak ada kejahatan yang lepas dari karma Tuhan, tak ada luka bebas tanpa balas. Mari menjauhkan diri dari manusia-manusia dzalim dan terus memperbaiki diri.
Selamat tahun baru, Teman-Teman. Happy new years!
Salam cinta, Anna.🥰
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih