NovelToon NovelToon
Suami Milyarder

Suami Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:88.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mei-Yin

Kehidupan sederhana yang dijalani, berubah hanya dalam sekejap mata saat mengetahui identitas suaminya.

Dalam waktu satu malam dia berubah menjadi istri milyarder.

Lylia Federick Richards tidak pernah tahu tentang identitas suaminya yang ternyata adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis yang selama ini dinyatakan hilang.

Memiliki suami milyarder tak selamanya menyenangkan. Banyak hal yang hanya bisa dipendam tanpa diungkapkan. Apalagi saat serangkaian kejadian mengerikan menerpa dan hampir membuat nyawa melayang.

Mampukah Lylia bertahan dan tetap membersamai Xavier dalam keadaan apa pun?

Mampukah Xavier melindungi Lylia dari orang-orang yang berniat mencelakainya?

Simak kisahnya Xavier dan Lylia hanya di sini ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei-Yin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Diracun

Mata yang hampir tiga hari terpejam, mulai bergerak secara perlahan. Mengerjap berulang kali sebelum akhirnya manik matanya terbuka secara perlahan. Menyesuaikan silau lampu yang begitu terang.

Matanya terbuka dan tampak asing dengan keberadaannya saat ini. Namun, benaknya meyakini jika dirinya berada di rumah sakit. Bau obat sangat menusuk di hidung.

Perlahan tubuh yang masih lemah itu mencoba untuk bangun. Dengan perlahan dan penuh perjuangan, akhirnya dia bisa duduk dengan tegak. Sedikit penasaran mengapa tak ada seorang pun yang menunggunya.

Xavier.

Wanita itu mengingat suaminya. Kepalanya menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, senyum yang tampak begitu indah tersuguh di depan mata.

Suaminya berdiri dengan mata berkaca-kaca, tetapi bibirnya tersenyum dengan lebar. Pria itu berjalan mendekat dan langsung membawanya ke dalam pelukan.

“Akhirnya ... kau bangun juga. Kau tahu, aku sangat khawatir,” ujar Xavier merasakan dadanya berdetak dengan sangat cepat.

“Aku sakit apa?” tanya Lylia bingung. Seingatnya dia bahkan tak mengeluhkan sakit apa pun.

“Apa yang kau rasakan sekarang?”

Lylia menggeleng dalam dekapan suaminya. Masih mencerna apa yang terjadi dan bingung dengan situasi yang dialami.

“Ini di mana?”

“Rumah kita,” sahut Xavier memundurkan tubuh, memberikan jarak untuk menelisik ekspresi sang istri.

Jelas saja keterkejutan itu dialami Lylia.

Rumah baru.

“Kita pindah ke rumah? Tidak tinggal di penthouse lagi?”

“Tidak. Kita akan tinggal di sini.”

Dokter mengambil sample darah Lylia untuk pemeriksaan. Setelah dipastikan kondisi tubuhnya benar-benar sehat dan tak mengalami masalah apa pun, dokter itu pun melepas cairan infus yang masih menancap di punggung tangannya.

Lylia dibawa ke ruang makan dan tampak terkejut mendapati wajah-wajah pelayan baru yang asing. Dia bertanya dan jawaban dari Xavier sama sekali tak membuatnya lega.

“Makan yang banyak. Tiga hari kau tidak sadarkan diri,” ujar Xavier sontak membuat Lylia tersedak.

Tiga hari.

Benarkah?

“Kau bercanda?”

Xavier menggeleng yakin. “Makanlah dengan benar. Setelah itu kita bicara,” katanya menunjukkan wajah serius.

Setelah menghabiskan makanannya, Xavier membawa Lylia ke sebuah ruangan yang terletak di lantai dua. Sebuah kamar mewah dengan balkon yang menghadap ke hamparan halaman yang sangat luas dan indah karena ditumbuhi berbagi macam bunga.

“Indah sekali,” ujar Lylia tampak berbinar.

“Kau suka?”

“Aku belum memastikannya.”

“Kau bisa lakukan itu nanti jika keadaanmu sudah membaik.”

“Kenapa kita pindah?”

“Mandilah. Setelah itu kita bicara. Semua barang-barang sudah dipindahkan di ruang ganti.”

Lylia menurut dan segera membersihkan diri setelah merasakan tubuhnya sedikit kurang nyaman.

Meskipun banyak pertanyaan yang bersarang di kepala, dia memilih menahan diri dan akan menuntut jawabannya nanti.

Setelah mandi dan berganti pakaian yang nyaman, Lylia duduk di sebelah Xavier. Pria itu menatapnya lekat dan sangat intens, membuatnya bulu kuduknya sedikit meremang.

“Apa yang kau ingat dari kejadian sebelum kau tak sadarkan diri?” tanya Xavier membuka percakapan.

Lylia diam. Mencoba mengingat sebelum akhirnya mengangguk.

“Lain kali jangan terima sesuatu dari orang yang bukan berasal dari orang-orang milikku. Siapa pun itu.” Xavier berkata penuh penekanan.

“Maksudnya? Aku menerima makanan kiriman darimu. Apa yang salah?”

“Itu bukan dariku, Lylia. Kau harusnya tahu! Jika itu dariku, aku akan memerintahkan orang-orangku mengirimnya langsung dan bukan melalui resepsionis!” Suara Xavier berubah dingin.

“Bagaimana aku bisa tahu jika kau baru mengatakannya sekarang. Kupikir itu memang benar darimu, jadi itu tidak sepenuhnya salahku,” bantah Lylia tak terima merasa disalahkan.

“Aku katakan dan aku ingatkan. Mulai sekarang jangan percaya pada siapa pun.”

Lylia tersenyum getir. “Termasuk dirimu juga, kan?”

“Lylia!”

“Jangan meneriaki aku, Vier!”

Emosi Lylia tidak stabil hingga dia balas berteriak pada suaminya. Hal yang bahkan selama dua tahun tak pernah dilakukan.

Terdengar suara tarikan napas panjang dari Xavier. Pria itu tampak mengepalkan kedua tangannya, menahan gejolak amarah yang memenuhi dada.

“Selalu ingat untuk tak menerima apa pun dari orang lain, kecuali itu benar-benar orangku. Kau paham, Lylia?” kata Xavier setelah diam beberapa waktu. Dia menahan diri dan menekan amarahnya agar tak sampai melontarkan kalimat yang semakin membuat keadaan memanas.

Setelahnya Xavier pergi dari kamar. Meninggalkan Lylia seorang diri yang sama sekali belum memahami situasinya.

Kepulan asap yang mengandung nikotin menguar di sekeliling dan tersapu angin. Seorang pria tampan memilih menyendiri di balkon ruang kerjanya sembari memikirkan banyak hal. Salah satunya keselamatan sang istri yang mulai terancam.

Tangannya mengambil gelas berisi cairan merah dan meneguknya hingga tandas. Rasa pahit dan hangat melewati kerongkongan, tetapi sama sekali tak membuatnya bereaksi.

Dua botol wine sudah tergeletak di bawah meja dalam keadaan kosong. Meski begitu Xavier sama sekali belum ingin berhenti.

Tarikan napas panjang dan hembusan napas kasar menandakan bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja.

Dia tidak tahu siapa yang merencanakan ingin mencelakai Lylia. Informasi yang digali buntu begitu wanita yang mengaku sebagai resepsionis itu memilih mengakhiri hidup.

Xavier telah meminta orang-orangnya untuk mengembalikan rekaman CCTV yang sengaja dihapus saat kejadian. Jelas itu adalah sebuah rencana yang telah disusun secara rapi. Namun, siapa pelakunya masih menjadi misteri. Siapa pun bisa saja terlibat dan bukan tidak mungkin itu adalah orang-orang yang memang ingin kematian Lylia.

Pintu ruang kerjanya diketuk dan sosok Jensen muncul bersama dengan Hayabusa. Dua pria itu tampak menghadapnya dengan wajah tegang.

“Kabar terbaru dari orang-orang kita mengatakan jika pria yang mengantar pesanan ditemukan tewas bunuh diri setelah dua hari menghilang.” Jensen menyerahkan beberapa lembar foto di lokasi kejadian.

“Polisi tidak mengusutnya?”

“Alibi pria itu untuk bunuh diri sangat kuat, Tuan. Apalagi dia yatim piatu dan sama sekali tak memiliki keluarga. Siapa yang akan peduli dengannya.”

“Sialan!” umpat Xavier penuh amarah. Dia sudah mengerahkan orang-orangnya untuk mencari pria itu, tetapi dia seolah hilang ditelan bumi dan muncul dengan kabar kematiannya. “Mereka ingin menghilangkan jejak.”

“Anda mencurigai seseorang, Tuan?” tanya Hayabusa hati-hati.

“Entahlah. Musuhku terlalu banyak jika harus mencarinya satu persatu. Tapi aku mencurigai satu orang. Kau harus mengawasinya!”

Hayabusa mengangguk dan mendekat. Sedikit terkejut saat sang tuan menyebut satu nama.

“Perketat penjagaan di rumah ini. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Jangan sampai kau kecolongan atau kepalamu sebagai gantinya!” ujar Xavier membuat pimpinan pengawal itu mengangguk mengerti.

Xavier kembali ke kamar saat waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Dia melihat sang istri terlelap di atas ranjang dengan tenang dan terlihat jejak air mata yang masih basah. Perlahan tangannya terulur mengusapnya dan menciumi mata dan seluruh wajah sang istri.

“Maafkan aku, Sayang. Aku hanya takut ... takut jika terjadi sesuatu yang buruk menimpamu.”

To Be Continue ....

1
Hari Dunddung
sangat bagus ceritanya sayangnya ngk ada lanjutannya.......
untuk author lanjut dong jangan bikin pembacamu penasaran 😁😁😁
buna
ya bayangin aja, anak dari pelakor dapet bagian lebih gede.. ga membenarkan sikap mereka sih, tp tetep aja.. hemmm aga gmn gitu.
buna
mungkin yang benar karena pria kaya belum tentu terhormat dan punya adab serta sopan santun
Rifa Endro
emang enak dikerjain
Rifa Endro
siapa lagi musuh Xavier ini
Rifa Endro
jangan mulai lagi
Rifa Endro
kau berubah secepat itu ?
Rifa Endro
jelas dia tahu, dia putri dari Ling-hua.
Rifa Endro
drama apa lagi
Rifa Endro
pasti itu rencana eudora
Rifa Endro
eudora, meski lilya berasal dari darah seorang jalang. ternyata mertuamu mberikan harga lebih di atas mu. you know that. tuan federick pasti lebih tahu melalui hati dan naluri
Rifa Endro
sadar kah ?
Rifa Endro
rahasia yg kau sembunyikan.
Rifa Endro
ibu yg nggak ada akhlak. jangan dicontoh ya sayang
Dwie Anna
kok gk di lanjut kak mey
Nirwana Harahap
kpn lnjut thour
Nirwana Harahap
selalu membuat candu
Nirwana Harahap
semngat thor, ceritA novelmu selalu membuat canduu
Dwie Anna
kak Mey jangan lama" dong...
lanjutan'y dong kak
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
Miranda ...🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!