Karena sebuah kesalahan satu malam, Ayaneru terjebak bersama seorang pria asing yang membuatnya hamil.
Namun Ayaneru yang sebenarnya sudah dijodohkan dengan seorang pria terhormat, memutuskan untuk pergi ke luar negeri karena merasa kotor dan tak pantas. Hingga dia ingin menggagalkan perjodohan itu dan malah berniat untuk merawat bayinya seorang diri.
Namun, 5 tahun kemudian Ayaneru kembali ke Tokyo dengan membawa kedua buah hatinya yang sangat jenius.
Apakah takdir akan mempertemukan mereka dengan sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman Sang Iblis
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah sampai di sebuah gedung yang berukuran 3 kali lebih besar dari F Group di Yokohama. Mereka mulai memasuki gedung itu bersama dan segera menuju ke sebuah ruangan di lantai 7.
Disana sudah ada beberapa tim pemotretan dan nyonya Lingling yang sudah menunggu sambil berbincang. Disaat mereka menyadari kehadiran dari Reo dan Ayaneru, salah satu dari mereka mulai menyambut Ayaneru dan segera menggiringnya menuju ruang make up dan ruang ganti dengan terburu, seolah-olah mereka tak memiliki banyak waktu lagi.
"Ayo kalian urus Reo juga!! Kita tak punya banyak waktu lagi!!" titah nyonya Lingling tiba-tiba.
Dua orang gadis kini mulai mendatangi Reo dan berusaha untuk menggiringnya ke suatu ruangan. Namun Reo berusaha untuk menahannya.
"Apa-apaan ini? Apa yang ingin kalian lakukan padaku?! Bibi Lingling! Ada apa ini?!" ucap Reo tak mengertu dan membuat kedua gadis itu mulai berhenti.
"Model pria sedang berhalangan untuk hadir! Jadi kali ini kamu sendiri yang harus menggantikannya!! Karena dari beberapa kandidat karyawan tak ada yang memasuki kriteriaku! Cepat kalian urus Reo!! Jika dia melawan katakan saja padaku!!" tandas nyonya Lingling penuh dengan penekanan.
"Baik, Nyonya!" sahut kedua gadis itu kembali menggiring Reo memasuki ruangan make up untuk merias Reo kali ini.
"Sialan!! Mengapa malah menjadi seperti ini?!" sungut Reo merasa sangat kesal namun tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah beberapa saat akhirnya Reo sudah kembali lagi dengan sebuah setelan jas desain terbaru yang merupakan maha karya dari nyonya Lingling. Meskipun Reo sudah terbiasa dengan pakaian-pakaian seperti itu, namun ketika dia mengenakan setelan jas berwarna biru navy itu dia terlihat semakin menawan dan mempesona.
"Bibi mengapa harus aku yang melakukan semua ini?! Ini tidak seperti dengan apa yang sudah bibi jelaskan padaku sebelumnya melalui panggilan!!" protes Reo merasa tak nyaman.
Reo buka tidak nyaman karena pakaian super rapi dan mewah itu, melainkan karena dia harus berfoto dan berpasangan dengan Ayaneru.
"Lakukan saja jika ingin semua berjalan dengan lancar! Lagipula apa susahnya sih, toh hanya berfoto beberapa kali saja kok." celutuk nyonya Lingling dengan entengnya.
Pandangan nyonya Lingling kini mulai beralih menatap ke suatu titik, sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya hingga membuat sebuah senyuman manis dan menjadikan wajah dingin dan tegasnya menjadi lebih bersahabat.
"Wah, cantik sekali model pilihanku!! Ini baru yang terbaik!!" celutuk nyonya lingling dengan senyum lebar menatap lurus ke depan.
Sementara Reo masih saja berdiri membelakangi sang model yang sedang dibicarakan oleh nyonya Lingling. Namun karena merasa sedikit penasaran, akhirnya Reo mulai berbalik dan menatapnya.
Hingga akhirnya Reo mulai menatap seorang wanita dewasa yang begitu cantik dan anggun dengan dengan balutan sebuah blazer berwarna pastel lembut yang dia padankan dengan rok span berwarna putih super pendek dan ketat.
Ayaneru yang merasa sedikit kurang nyaman akan pakaian formal yang menurutnya sedikit terbuka dan sexy itu, sedikit menurunkan rok span putih super pendek itu dengan senyumannya yang sedikit kaku.
"Tidak terlalu buruk!" celutuk Reo dengan entengnya.
PLUKK ...
Karena merasa sedikit kesal dan dianggap Reo tidak mengakui pilihannya, akhirnya nyonya Lingling mulai memukul kepala Reo dengan sebuah berkas yang kebetulan sedang dibawanya saat ini.
"Argghh ... apa yang sudah bibi lakukan? Mengapa malah memukul kepalaku?!" protes Reo tak terima.
Terlebih saar ini begitu banyak anak buahnya yang sedang melihat semua ini. Mereka semua terlihat sedang menahan tawa, karena melihat fenomena yang mereka anggap cukup langka.
Seorang presdir dari F Group yang rumornya adalah sosok pria yang begitu dingin, keras, tegas, bersinar di dalam dunia bisnis, dan selalu berpendirian kini malah dipukul oleh seorang wanita paruh baya.
Yah ... meskipun mereka adalah keponakan dan bibi, namun tetap saja hal itu begitu menurunkan kharisma seorang Reo. Bahkan saat ini Ayaneru juga terlihat sedang menahan tawa setelah menyaksikan semua ini.
"Siapa yang berani tertawa? Segera siapkan surat pengunduran diri kalian!!" ancam Reo merasa kesal dan berkacak pinggang menatap tajam mereka satu persatu seolah sedang mengabsen mereka.
Seketika mereka semua menghentikan tawa kecilnya dan mulai melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"Baik. Mari segera kita mulai, Tuan." ucap seorang fotografer dengan nada yang begitu rendah, karena kali ini modelnya adalah salah satu bos besarnya sendiri.
Reo dan Ayaneru mulai berdiri di dekat backgrounnd putih itu dengan begitu canggung. Padahal selama ini Ayaneru selalu saja bisa melakukan pekerjaannya dengan cukup baik dan sudah begitu bersahabat dengan kamera-kamera itu.
Namun kini tiba-tiba saja semuanya terasa begitu aneh untuknya. Bahkan berpasangan bersama Reo, membuatnya sangat tidak leluasa untuk bergerak dan bergaya di depan kamera.
"Uhm ... nona ... bergeserlah lebih dekat di dekat tuan Reo." perintah sang fotografer, karena sangat tidak mungkin jika dia memerintahkan Reo untuk memenuhi segala instruksi darinya, atau ancamannya adalah berhenti bekerja.
Ayameru mulai sedikit bergeser mendekati Reo yang masih berdiri dengan gagahnya sambil menyematkan kedua jemarinya pada saku celana berbahan super drill itu.
"Nah ... rileks saja dan tersenyumlah, Nona." ucap sang fotografer menginstruksi lagi.
Ayaneru mengikuti instruksi dan arahan dari fotografer itu, namun rupanya Reo sang presdir sementara memanglah seperti rumornya saat ini. Pria dewasa itu memasang wajah dingin dan tak ada senyuman ramah sedikitpun terlukis pada wajah tampan itu.
"Uhm ... begini tuan Reo. Tapi bisakah ... tuan tersenyum sedikit saja?" tanya sang fotografer yang sebenarnya begitu ragu-ragu dan ketar-ketir.
Namun di luar dari dugaannya. Pria dingin itu rupanya menuruti arahan dari sang fotografer dan berusaha untuk tersenyum. Namun senyuman yang terukir itu bukanlah senyuman yang begitu ramah dan menawan, namu lebih memberikan kesan yang begitu kelam, penuh ancaman dan beraura sangat gelap. Seperti sebuah senyuman seorang iblis yang tampan.
Dan senyuman dari Reo tersebut seketika sukses membuat semua orang yang melihatnya merinding dan merasa terancam, sehingga mereka dengan cepat mengalihkan pandangan masing-masing dan seolah-olah tidak pernah melihatnya.
"Reo!! Senyuman macam apa itu?! Otot-otot wajahmu sepertinya sudah menjadi begitu tegang sehingga senyumanmu terlihat sangat buruk!! Sebaiknya jangan tersenyum kalau tidak.bisa tersenyum!! Pasang saja wajah dinginmu seperti biasanya!!" ucap nyonya Lingling dengan penuh penekanan.
Meskipun merasa kesal, namun akhirnya Reo mengikuti saran dari sang bibi. Tidak terlalu buruk! Karena sebenarnya ekspresi dingin Reo, adalah salah satu kelebihannya selama ini yang selalu membuat para wanita menggilainya.
Pemotretan hari ini dilakukan dengan lancar namun cukup memakan waktu yang panjang. Hingga akhirnya Reo mulai mengantarkan Ayaneru untuk pulang, karena tak terasa jam kerja sudah berakhir begitu saja.
...🍁🍁🍁...