Demi membalaskan dendam sahabatnya, Axela rela merubah penampilannya menjadi wanita culun yang sangat jelek. Menggunakan kaca mata tebal dan tompel di pipinya. Rencana yang ia susun berjalan dengan lancar awalnya. Namum, ketika semua hampir berhasil tiba-tiba identitas aslinya ketahuan. Semua orang tahu kalau dia bukan Alsha yang asli. Melainkan Axela.
Apa selanjutnya yang akan dilakukan Axela? Akankah ia berhasil membalaskan sakit hati Alsha terhadap semua orang yang pernah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum semangat
Sambil berjalan, Axela masih memikirkan perkataan Deon tadi. Makam bertuliskan nama Alsha. Ya, memang benar itu adalah makam Alsha. Ketika pihak rumah sakit menghubungi Axela dan bertanya dimana Alsha akan dimakamkan. Axela meminta pihak rumah sakit untuk mengantarkan Alsha ke makam kedua orang tuanya. Namun, saat itu Axela sama sekali tidak kepikiran kalau akan ada yang berkunjung ke makam itu selain dirinya.
"Bukankah semua orang jahat kepada Alsha. Kemungkinannya sangat kecil jika sampai ada yang mengunjungi makam kedua orang tua Alsha?" gumamnya di dalam hati.
"Deon. kenapa dia datang ke pemakaman? Apa dia ingin bertemu denganku? Maksudku Alsha. Bukankah dia hanya memanfaatkan Alsha saja? Dia tidak sungguh-sungguh mencintai Alsha. Lalu, untuk apa dia bersikap seolah sedang memperjuangkan Alsha?
Sebenarnya apa tujuan utama Deon? Aku yakin dia tidak benar-benar tulus mencintai Alsha. Semua perkataan yang keluar dari mulutnya hanya rayuan semata."
"Non, apa yang anda pikirkan?" Bi Ina menepuk pundak Axela hingga membuat wanita itu kaget.
"Bi, apa Nona Youra sudah pulang?"
"Belum, Non."
"Bagaimana dengan Luisa?"
"Kabarnya Nona Luisa akan menemani Nyonya Nasa di rumah sakit sampai sembuh. Sepertinya dia tidak akan pulang dalam waktu dekat."
"Oh ya, aku baru ingat dengan sosok penembak misterius tadi. Youra belum pulang. Satu-satunya orang yang aku tuduh sejak kemarin memang Youra. Aku yakin, Due salah."
"Non ...."
"Bi, saya mau mandi. Tubuh saya lelah sekali."
Bi Ina tersenyum. "Mau bibi pijitin Non?"
Axela menggeleng pelan. "Bi Ina istirahat saja di kamar ya? Ini sudah malam."
"Baiklah, Non. Jika Non Alsha perlu bantuan. Panggil Bibi ya?"
"Ya, Bi."
Bi Ina mengeryitkan dahi melihat baju yang dikenakan Axela terlihat sangat kotor. Tadi dua pembunuh bayaran itu menyeret tubuh Axela. Jelas saja perbuatan mereka membuat pakaian Axela kotor.
"Non, anda tadi dari mana?"
Axela menahan langkah kakinya lagi. "Kenapa Bi?"
"Baju anda kotor sekali. Anda habis jatuh?"
Axela mengikuti arah yang di tunjuk Bi Ina. Wanita itu memikirkan beberapa alasan sebelum menjawab pertanyaan Bi Ina. "Kenapa repot sekali. Sekarang aku harus jawab apa?" gumamnya di dalam hati.
"Non ... Apa ada yang Non sembunyikan dari Bibi? Bibi merasa akhir-akhir ini Non Alsha berubah. Seperti sengaja menghindari Bibi. Apa sekarang Non Alsha sudah tidak percaya lagi sama Bibi? Apa salah Bibi Non? Biasanya sekecil apapun masalah yang Non Alsha hadapi pasti selalu cerita sama Bibi," ucap Bi Ina dengan wajah sedih. Hal itu membuat Axela tersentuh.
"Bi, gak ada yang saya tutupi. Hanya saja belum waktunya untuk saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Non, bagaimana caranya agar Bibi bisa melindungi Non Alsha jika Non Alsha sendiri terlihat seperti menghindar dari Bibi.
Axela diam lagi. "Sepertinya tidak jadi masalah kalau aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Bi Ina. Dia terlihat sangat tulus menyayangi Alsha. Bahkan satu-satunya orang yang peduli dengan Alsha di rumah ini hanya dia," gumam Axela di dalam hati.
"Bi, sebenarnya tadi ada orang yang ingin membunuh saya," ucap Axela dengan nada pelan.
Bi Ina kaget bukan main. "Membunuh Non Alsha?"
Axela cepat-cepat membungkam mulut Bi Ina agar tidak kedengaran orang lain. "Bi, jangan keras-keras. Kita cerita di dalam ya?"
Bi Ina mengangguk. Ia mengikuti Alsha masuk ke dalam kamar. Alsha memandang ke kanan ke kiri sebelum menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
***
Bi Ina terlihat sangat khawatir. Dia segera memegang kedua tangan Axela. "Non, siapa yang mau membunuh Anda? Apa yang mereka lakukan terhadap Non Alsha?"
"Bi, aku baik-baik saja. Tadi ada dua pria yang membuatku pingsan. Aku di bawa ke sebuah tempat seperti tebing gitu. Sepertinya mereka ingin melemparkan ke jurang itu."
Bi Ina menutup mulutnya dengan nata berkaca-kaca. "Non, siapa yang tega melakukan semua ini? Sudah cukup penderitaan yang selama ini Non hadapi. Kenapa masih ada saja yang menginginkan anda mati."
"Bi, yang penting sekarang aku selamat. Aku ada di depan Bibi dalam keadaan sehat."
"Lalu, bagaimana caranya anda kabur dari mereka non?"
Axela memandang ke arah jendela yang masih terbuka. Wanita itu lagi-lagi memikirkan jawaban yang tepat agar Bi Ina percaya dengan ceritanya.
"Sepertinya keberuntungan masih berpihak padaku, Bi. Ada yang datang menolongku dan juga mengantarkanku pulang," jawab Axela tanpa memandang.
"Non, Bibi yakin ini pasti perbuatan Non Youra!"
Axela mengeryitkan dahi. "Kenapa Bibi bisa berkata seperti itu?"
"Non Youra tidak ada pulang ke rumah. Sepertinya dia tahu anda keluar rumah dan membayar orang untuk membunuh Anda. Hanya orang yang berduit yang bisa membayar orang Non. Bibi yakin, orang yang menculik Non Alsha juga pasti orang berpengalaman."
"Tidak, Bi. Mereka justru terlihat seperti bukan seorang pembunuh," jawab Axela cepat. Ia mengatur napasnya lagi. "Bi Ina yakin kalau Youra yang melakukan semua ini?"
"Bukan hanya sekali. Tetapi sudah berulang kali Non Youra berniat untuk membunuh Non Alsha."
"Bi, mulai sekarang Bibi juga hati-hati ya. Aku takut nanti Bibi menjadi target Youra juga."
"Non, bibi sudah sering bilang. Bibi sudah tua. Bibi mati demi Non Alsha juga Bibi rela," jawab Bi Ina dengan senyuman.
"Bi, Alsha sayang Bibi." Axela segera memeluk Bi Ina. Kali ini bukan sekedar akting. Tetapi dia merasa tersentuh dengan jawaban Bi Ina. "Memeluk Bi Ina seperti ini rasanya seperti memeluk seorang ibu kandung," gumamnya di dalam hati.
Surprise
Kapan ?
Dimana?