Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sepeninggal Sameer, Humaira pun bersiap-siap untuk berangkat ke toko kue miliknya. Hari ini dia akan di sibukkan dengan beberapa pesanan kue dalam jumlah yang cukup banyak karena kue hasil buatannya akan di gunakan untuk sebuah acara pertunangan dari salah satu pelanggannya.
"Mai, kamu mau kemana? sudah rapi begitu"
"Mai mau ke toko Mbak, hari ini banyak pesanan"
"Toko? kamu punya toko?"
"Iya Mbak toko kue, Mbak Elena mau ikut?"
"Tidak mau, terima kasih. Hari ini Mbak mau belanja karena Mbak tidak punya banyak baju"
"Baiklah Mbak kalau begitu, Mai berangkat dulu ya Mbak"
"Iya Mai"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Humaira pun segera pergi menuju toko kuenya dengan diantar Mang Ujang yang telah menjadi supir pribadinya semenjak dia menikah.
Setibanya di toko, Humaira menyibukkan diri di dapur di bantu beberapa karyawannya. Kesibukkannya kali ini cukup membuatnya bisa mengalihkan rumitnya rumah tangga yang sedang dia jalani.
"Nanti semuanya masukkan ke box ya, nanti setelah jam makan siang sudah harus di kirimkan" kata Humaira memberi intruksi pada karyawannya.
"Iya Mbak Mai" jawab Rudi salah satu karyawannya yang bertugas mengantar pesanan ke pelanggan.
"Mbak Mai!" panggil Nadia salah satu karyawan toko Humaira.
"Iya Nad?" tanya Humaira mengalihkan perhatiannya pada Nadia.
"Itu Mbak, ada pria yang datang ingin bertemu Mbak Mai?"
"Siapa Nad?" tanya Humaira bingung, dia merasa hari ini tidak memiliki janji temu bersama orang lain.
"Entahlah Mbak, orangnya tidak bilang hanya menyampaikan ingin bertemu Mbak Mai"
"Ya sudah kalau begitu, kamu ambil alih pekerjaan ku ya"
"Iya Mbak"
Humaira melepaskan apron yang melekat di tubuhnya, berjalan menghampiri seorang pria yang tengah duduk sembari menikmati secangkir kopi hitam. Humaira pun menatap pria itu. yang terlihat hanya punggungnya karena pria itu duduk membelakangi Humaira.
"Assalamualaikum!" sapa Humaira. Pria itu yang tak lain adalah Akbar, Akbar mengalihkan pandangan pada sosok Humaira yang berdiri di belakangnya.
"Waalaikumsalam Mai" balas Akbar tersenyum
"Astagfirullah...Gus Akbar, Humaira kira siapa? ternyata Gus Akbar" Tutur Humaira mengambil duduk berhadapan dengan Akbar.
"Bagaimana kabar mu Mai? Sibukkah?"
"Alhamdulillah baik Gus, Tidak juga Gus hanya sedang membuat pesanan kue"
"Maaf ya Mai, baru bisa berkunjung sekarang dan juga menganggu kesibukan mu. Beberapa hari lalu Gus juga sibuk bantu Pak Kyai di pondok"
"Tidak apa-apa Gus, yang penting sekarang Gus sudah disini. Humaira pikir Gus lupa sama Humaira"
"Gus itu tidak akan pernah melupakan wanita cantik ini" ujar Akbar mengelus kepala Humaira penuh sayang.
Sepasang mata menatap nyalang penuh emosi, tangannya mencengeram kuat kemudinya sambil sesekali memukul kemudi itu untuk menyalurkan emosi yang meluap di dadanya.
"Dinda" suara berat dan tatapan dingin menusuk tampak dari bola mata Sameer.
"Zauya"
Humaira terkesiap melihat kedatangan Sameer yang tiba-tiba. Senyuman yang tadi menghiasi bibir Akbar pun surut, tergantikan dengan tatapan datar.
"Zauya, kenalkan ini Gus Akbar dia..."
"Apa Hubungan kamu sama dia?" tanya Sameer memotong kalimat Humaira, sebelum Humaira menyelesaikan ucapannya.
"Maksud Zauya bagaimana?" Humaira linglung mendengar pertanyaan Sameer.
"Sejak kapan kamu mengenal dia?"
Humaira menatap Sameer dan Akbar bergantian.
"Zauya kenal dengan Gus Akbar?" tanya Humaira lagi masih di liputi ke bingungan.
"Bukan hanya kenal saja, tapi ternyata dia diam-diam juga menusuk dari belakang" kata Sameer sinis.
"Menusuk? Apa maksud mu?" Akbar berdiri dari duduknya, menghadap Sameer. "Jangan menuduh tanpa bukti" kesal Akbar mengertakan giginya menahan emosi.
"Menuduh tanpa bukti? baru saja aku melihat bukti nyata didepan mata kepala ku sendiri"
"Lalu kenapa? Apa itu masalah buat mu?"
Suasana diantara keduanya semakin memanas, Sameer dan Akbar saling melempar tatapan tajam menghunus.
Sameer yang dibakar cemburu dengan kedekatan istrinya dan Akbar, sedangkan Akbar merasa begitu marah wanita yang sangat dia sayang di dua kan oleh suaminya sendiri.
"Zauya, Gus, mari kita duduk dulu. kita bisa menyelesaikan masalahnya baik-baik" kata Humaira mencoba meredam emosi dari keduanya. Humaira sendiri masih tidak paham yang menjadi persoalan ke dua pria tampan itu.
"Tidak perlu Mai, semua akan selesai kalau Sameer bisa memilih dengan benar" kata Akbar penuh dengan nada sindiran.
"Gus pulang, jaga diri mu" pesan Akbar mengusap kepala Humaira sayang.
"Jangan sentuh istriku!" Sameer menepis tangan Akbar kasar. Akbar menyunggingkan senyum mengejek melihat reaksi Sameer.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam" balas Humaira. Akbar berlalu meninggalkan toko Humaira, ia tidak ingin membuat keributan.
Selepas Akbar pergi, sikap Sameer masih tampak dingin. Emosi masih menguasai sebagian hatinya, entah mengapa dia tidak rela melihat pria lain mendekati Humaira. Ada rasa berbeda yang menyusup di hati Sameer.
"Zauya sudah makan siang?" tanya Humaira memberikan tatapan lembutnya.
"Zauya kesini ingin mengajak mu makan siang bersama Elena"
"Baiklah, Kita akan makan siang dimana?"
"Elena sudah pesan tempat di restoran Jepang"
"Zauya tunggu disini ya, Dinda ke dalam dulu mengambil tas" Sameer menganggukan kepalanya.
Humaira masuk kedalam ruangannya mengambil tas miliknya, sambil memberikan beberapa arahan untuk karyawannya karena memang hari ini tokonya cukup sibuk.
"Ayo Zauya!"
"Kamu sepertinya sibuk sekali" kata Sameer membukakan pintu mobil untuk Humaira.
"Banyak pesanan, tapi masih bisa di handle kok sama yang lain" senyum Humaira memasang sabuk pengaman.
"Boleh Zauya tanya sama Dinda?" tanya Sameer memandang Humaira sejenak.
"Zauya ingin bertanya apa?"
"Apa hubungan Dinda sama Akbar?"
"Oh..sama Gus Akbar?"
"Gus?" Sameer mengangkat sebelah alisnya.
"Iya Gus Akbar putra asuhnya Kyai tempat Humaira mondok dulu, Gus Akbar juga..."
Perbincangan itu kembali terpotong dengan bunyi ponsel yang berdering tanda panggilan masuk. Sameer segera mengangkat telfon itu saat dilayar ponselnya menunjukkan nama Elena.
"Assalamualaikum sayang"
"Sayang, aku sudah sampai kamu dimana?"tanya Elena dari seberang telfon.
"Sebentar lagi sampai tadi aku jemput Humaira dulu"
"Oh kamu jemput Humaira juga"
"Iya sayang"
"Ya sudah kalau begitu jangan lama-lama. aku juga sudah pesan makanan"
"Iya sayang"
Tut...Elena langsung memutus sambungan telfonnya begitu saja tanpa ada ucapan salam. Humaira yang duduk disebalah Sameer merasa tidak nyaman mendengarkan perbincangan keduanya yang terdengar penuh cinta.
Humaira mengalihkan perhatiannya ke luar jendela, menghalau rasa sesak yang bersarang di dadanya.
Di madu dan memiliki madu memang bukan hal yang mudah yang dijalani Humaira. Harus membutuhkan kesabaran yang luar biasa dan tentu rasa mengalah.
"Dinda kita sudah sampai" Sameer menepuk pelan pundak Humaira.
"Iya Zauya"
Sameer membukakan pintu mobil untuk Humaira. Mereka berjalan bergandengan menuju restoran jepang. Tempat yang sudah Elena pesan.
Elena melambaikan tangannya memberikan tanda keberadaannya. Sameer dan Humaira langsung berjalan menuju tempat Elena duduk, dengan makanan yang sudah tersaji diatas meja.
"Sayang, duduklah!" Elena menarik tangan Sameer seketika membuat Sameer duduk disebalah Elena sedangkan Humaira duduk didepan Sameer.
"Kamu bisa makan makanan Jepang kan Mai?"
"Bisa Mbak, aku makan apa saja"
"Syukurlah kalau begitu, karena Sameer juga suka sekali makanan Jepang dan ini juga tempat favorite kita" jelas Elena pandangan mata yang penuh binar bahagia. Humaira mengangguk, tersenyum dibalik cadarnya.
"Dinda makanlah" Sameer memberikan Sushi ke arah Humaira sedangkan dia menikmati shasimi.
"Kamu mau makan apa?" tanya Sameer
"Aku juga mau sushi sayang" Sameer mengambilkan menu yang sama dengan yang dimakan Humaira.
Ini pertama kalinya mereka makan siang bertiga. Humaira lebih tampak diam sesekali memperhatikan sikap Elena yang bermanja dengan Sameer. Keceriaan Elena dan sikap Elena yang energik menular ke Sameer, membuat Sameer terus tersenyum.
Sesekali tatapan sendu tampak terlihat dimata indah Humaira. Rasa sakit, sedih sekaligus rasa bersalah mendera hatinya. Dia sakit melihat kedekatan mereka yang terlihat saling memahami kesukaan masing-masing, sedangkan dirinya seperti orang asing yang hanya bisa melihat itu.
***