Arthur adalah seorang anak yang terlahir dengan Mana atau energi sihir yang cacat.
ia lahir di dunia sihir dimana dunia tersebut sihir sangat dibutuhkan. ia memiliki cita cita untuk menjadi Penyihir terhebat di kerajaan dan juga mencari tahu tentang ingatan-ingatan samar yang sering ia lihat dalam mimpinya.
Akankah ia mampu menjadi penyihir terhebat dan menguak semua pertanyaan mengenai ingatan tersebut?
Note:
Main character tidak dibuat langsung overpower. akan ada developement character atau pembangunan karakter agar lebih menarik oleh karena itu Alur akan berjalan sedikit lambat.
ini adalah karya pertama saya. bila ada kesalahan atau kurang seru tolong di maklumi yaa.
agar author semangat lanjutin jangan lupa like dan komen.
mohon dukungannya yaa terimakasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandu Diwanata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa di pinggir hutan cocytus
Ia pun segera memberikan kunci kamar padanya.
"Kamu hanya pesan satu kamar? hmm tumben sekali" Ucap Arthur sambil sedikit tersenyum. Ia mencoba menggoda kakaknya.
"E-eh? J-jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kamarnya hanya tersisa satu. Memangnya kenapa kalau kita tidur sekamar? Kita ini kan saudara" Ucap Elina.
Arthur pun tertawa melihat reaksi kakaknya itu. Hari ini ia benar-benar senang karena dapat terus menggodanya.
Elina yang kesal ditertawakan langsung pergi menuju kamar meninggalkan Arthur disana.
Arthur pun segera bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Elina sambil memanggil namanya. Ia berpikir Elina marah padanya.
Sesampainya di depan pintu kamar keduanya pun langsung masuk karena sudah tak sabar untuk segera beristirahat.
Saat masuk ke dalam, keduanya tampak sedikit kecewa.
Kamar tersebut terlalu kecil bagi mereka. Hanya ada satu kasur dan kursi serta meja di sampingnya. Tapi mereka sedikit bernafas lega karena didalamnya masih terdapat kamar mandi.
Elina pun segera berlari dan melompat ke atas kasur. Mencoba menguasai kasur itu dengan merentangkan kedua tangannya sambil telungkup. Biasanya saat tidur ia melepaskan seluruh pakaiannya. Tetapi karena kali ini ada adiknya ia tak bisa melakukannya.
Arthur sendiri pun tak menghiraukan Elina. Ia berjalan menuju ke arah jendela dan membuka gordennya. Ia masih kepikiran dengan percakapan yang barusan tak sengaja ia dengar.
"Pembicaraan yang benar-benar mengerikan" Gumam Arthur sambil melihat jendela. Ia pun berusaha melupakannya dan ikut berbaring di kasur bersama Elina.
Kasur itu benar benar kecil. Saking kecilnya bahu mereka bertemu jika tidur dengan posisi terlentang.
Tiba-tiba saja terdengar suara yang tak asing bagi Arthur. Suara itu berasal dari kamar sebelah.
Plok plok plok plok plok
"Suara ini?! Aku sering mendengarnya di rumah!!!" Ucapnya dalam hati. Ia pun langsung menoleh ke arah suara tersebut.
Dulu saat masih dirumah, setiap malam ia selalu mendengar suara ini dari kamar kedua orang tuanya. Karena penasaran ia pun menanyakan pada ayahnya tentang suara yang berasal dari kamar mereka. Karena waktu itu arthur masih berusia 6 tahun, David pun terpaksa mengarang sebuah cerita.
Ia mengatakan padanya bahwa setiap malam ada beast yang berusaha masuk ke dalam kamar mereka. Oleh karena itu ia harus berkelahi dengan Beast tersebut dan menimbulkan suara itu.
Sementara itu disisi lain Elina masih terjaga. Ia juga mendengar suara itu.
Berbeda dengan Arthur, Elina tahu persis suara apa itu karena dulu ia pernah memergoki kedua orang tuanya.
"Elina! Bangun! ada beast!" Ucap Arthur dengan wajah yang panik. Ia bangkit dari tempat tidurnya.
"Berisik!! Itu bukan suara Beast bodoh!!" Ucap Elina yang tidur menyamping membelakangi arthur.
Suara tersebut kali ini diiringi oleh suara seorang wanita yang sedang berdes@h.
Ahhh, ahhh, S-s*yang kamu terlalu kasar!,
Barulah kali ini Arthur mengetahui suara apa itu. Ia pun kembali berbaring dan membelakangi Elina.
Seketika kondisi menjadi canggung, keduanya hanya diam sambil mendengar suara tersebut yang semakin kencang.
"Gila! Permainannya sangat brutal" Gumam Arthur yang tak sadar bahwa adik kecilnya juga ikut terbangun.
Arthur sendiri menikmati suara itu dan ia perlahan ia terlelap tidur. Sedangkan Elina, ia masih saja tetap terjaga. Pikirannya sendiri mulai kacau. Ia mulai membayangkan hal-hal yang aneh terlebih lagi saat ini ada lelaki yang tidur bersamanya.
Ia tak sadar bahwa wajahnya telah memerah dan keringat dingin mulai mengucur di lehernya selain itu nafas juga mulai tak beraturan. Elina malah terangsang mendengar suara itu.
"Kumohon, berhentilah!" Ucap Elina dalam hati sambil meremas kasur.
Tak lama kemudian akhirnya suara itu hilang bersama dengan des*han kencang seorang pria dan wanita. Pikirannya pun dapat kembali tenang dan akhirnya ia bisa tertidur lelap.
Keesokan harinya
Suasana pagi di desa itu benar-benar sejuk karena terletak di lereng gunung. Kondisi di luar penuh dengan kabut. Jendela kamar mereka pun dihiasi oleh embun. Cahaya matahari masuk melalui jendela dan menyinari sebagian wajah Elina yang cantik sehingga ia mulai terbangun. Namun kondisi cuaca yang dingin membuatnya tetap ingin terus berbaring.
Ia pun membatalkan niatnya untuk segera bangkit dan melanjutkan berbaring dengan memeluk sebuah guling.
Guling? Tunggu, ini bukanlah kamar asramanya maupun rumahnya. Tak ada guling disitu. Hanya 2 buah bantal. Lalu siapa yang ia peluk?. Tentu saja pria yang sedang tidur dengannya.
Tak sadar ia sedang memeluk Arthur yang tidur membelakanginya. Ia pun mulai bingung mengapa guling bisa sekeras ini?. Ia pun mencoba memastikan dengan meremas guling itu. ternyata tetap keras. Ia berpikir mungkin bagian guling ini memang keras.
Ia pun mulai meraba ke bawah dan mulai meremasnya kembali. Kali ini ia mendapatkan bagian yang lembut dari guling itu. Tunggu?! bagian itu seperti tongkat pikirnya. Ia pun coba memerasnya kembali. Tapi kali ini bagian itu membesar dan mengeras.
"Apa ini?" Gumamnya.
Elina pun terus meremas bagian itu hingga mengeluarkan sesuatu yang aneh. Bagian itu pun menjadi basah dan berdenyut. Ia pun mulai menyadari ada yang aneh dengan guling ini.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Arthur. Ia menyadari kelakuan kakaknya sejak awal.
Elina pun langsung membuka kedua matanya.
"E-ehh? Kamu bukan guling?!!!!!" ia pun berteriak kencang dan menendang punggung Arthur hingga ia terjatuh ke bawah.
Elina bangkit dari tempat tidurnya dan langsung berlari ke dalam kamar mandi. Ia segera menutup pintunya.
Dengan nafas yang terengah-engah ia menatap telapak tangannya yang basah sambil menyender di pintu kamar mandi. Ia pun mencium aroma telapak tangannya itu.
"Aaaaaaaaa"
Arthur hanya tertawa mendengar teriakan dari kamar mandi itu. Arthur sangat menikmati pijatannya. Ia tak menyangka bahwa Elina Memiliki bakat terpendam.
.
.
.
.
.
finally
semangat terus thor 💪
semangat terus Thor 💪
thank's. up nya cerita ini makin menarik
👍👍👍👍👍
tunggu kelanjutan kisah ini .......!!!
buat author semangat terus 💪
maaf. ya Thor. 🙏🙏🙏 komentar aku julid ....
semangat Thor 💪
Arthur adalah seorang dewa kematian karena itu aku mengingatkan pada author tentang kekuatan Arthur.
seorang dewa kematian haruslah kuat dan tak tertandingi kekuatannya tapi disini kekuatan Arthur masih lemah .
next Arthur harus kuat
jangan bikin pembaca jadi malas baca alias bosan karna MC nya lemah.
apa lagi MC disini adalah dewa kematian yaitu dewa yg paling ditakutkan bahkan oleh para dewa .
oke Thor semangat terus ya...💪😘😘💖💖👍👍