Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Lusiana
Azkia sedang tertidur di sofa ruang kerja Alexa Boutique. Sepertinya dia terlihat lelah setelah pulang kuliah tadi.
Tok tok tok
Azkia tersentak saat terdengar pintu ruangannya diketuk dari luar. Dia segera bangkit dari sofa lalu berjalan dan menghampiri pintu karena dia memang menguncinya dari dalam.
" Permisi, Mbak Kia. Ada tamu yang mencari Mbak Kia di bawah." Wanda, asistennya memberitahukan.
" Tamu siapa, Mbak Wanda?" Azkia mengerutkan keningnya.
" Bilangnya sih Ibu Lusiana, Mbak."
" Ibu Lusiana? Ibu Lusiana itu siapa ya, Mbak Wanda?" tanya Azkia yang masih tidak menyadari jika Lusiana itu adalah Mama dari Raffasya.
" Saya nggak tahu, Mbak. Kayaknya baru ke sini, deh." sahut Wanda.
" Sebentar aku lihat dulu." Azkia lalu melihat ke layar monitor yang menghubung ke CCTV di lantai bawah dekat sofa tunggu, dan bola matanya langsung membulat saat mendapati wanita yang ternyata dia ketahui adalah Mama dari orang yang selama ini selalu berurusan dengannya.
" Ada apa Tante itu kemari ya, Mbak Wanda?" Azkia mengusap dagunya sementara satu tangannya berkacak pinggang.
" Mbak kenal siapa Ibu itu?" tanya Wanda karena melihat sepertinya Azkia mengenal tamu mereka.
" Iya, Mbak. Tante itu Kakaknya Om Radit, suaminya Tanteku," ucap Azkia. " Ya sudah, tolong suruh masuk saja, Mbak Winda."
" Baik, Mbak." Winda lalu keluar dari ruangan Azkia.
Sementara Azkia segera merapihkan penampilannya terlebih dahulu.
Tak berapa lama kemudian Wanda sudah kembali ke ruangan Azkia dengan Lusiana di sampingnya.
" Permisi, Mbak Kia. Ini Ibu Lusiana yang mau bertemu dengan Mbak Kia."
" Oh iya, Mbak Wanda. Makasih." Azkia mengucapkan terima kasih kepada Wanda dan meminta Wanda meninggalkan ruangannya dengan memberi kode dengan menganggukkan kepalanya.
" Halo, Tante. Apa kabar?" Azkia menghampiri Lusiana dan memberikan salam dengan mencium punggung tangan Lusiana.
" Tante baik, Alhamdulillah. Kamu sendiri bagaimana?" Lusiana menanyakan kabar Azkia.
" Kia baik juga, Tante. Silahkan duduk, Tan." Azkia mempersilahkan Lusiana duduk di sofa ruangannya. " Ada apa ya Tante datang kemari?" tanya Azkia setelah mereka berdua sama-sama duduk. Karena Azkia merasa aneh dengan kunjungan dari Mama Raffasya itu.
" Nggak ada apa-apa kok, Azkia. Kebetulan Tante lewat sini dan ingat kalau butik ini punya Natasha. Radit bilang katanya butik ini sekarang yang urus kamu ya?" Lusiana mengatakan alasannya menemui Azkia adalah karena kebetulan lewat padahal dia memang sengaja ingin bertemu dengan Azkia.
" Oh iya benar, Tante. Sekarang ini Kia yang urus butik ini. Kasihan sama Mama, kalau bukan Kia yang urus siapa lagi? Aulia sama Aliza 'kan masih pada sekolah, Tan. Mungkin nanti kalau mereka sudah sama-sama dewasa bisa ikut bantu urus butik juga," sahut Azkia memberikan alasannya.
" Oh gitu, Tante suka dengan anak muda seperti kamu yang sudah bisa menghandle bisnis sendiri." Lusiana memuji Azkia tanpa ragu.
" Makasih, Tante. Kak Raffa juga punya usaha sendiri kan, Tan?" Azkia teringat Raffasya yang juga mengelola cafe.
" Hmmm, iya sih. Tante sendiri inginnya dia itu bekerja di kantoran atau memimpin perusahaan. Tapi anak itu selalu semaunya sendiri, susah diatur." Ada nada kesal dari ucapan Lusiana yang tertangkap di telinga Azkia.
" Mungkin Kak Raffa merasa nggak nyaman kalau kerja kantoran, Tan. Mengelola cafe bagus juga 'kan, Tan? Apalagi kalau cafenya selalu ramai pengunjungnya. Punya usaha sendiri dan tidak selalu mengandalkan orang tua, Kia rasa itu suatu hal yang positif." Azkia nampak berbeda pendapat dengan Lusiana soal sikap yang diambil oleh Raffasya.
Lusiana menatap Azkia dengan tersenyum. Padahal dia mendapat informasi dari Raditya jika putranya sering berselisih paham dengan Azkia, namun nampaknya Azkia tidak menyudutkan putranya itu.
" Tante senang lihat kamu, Azkia. Walaupun Tante dengar kalau Raffa sering mengganggu kamu, tapi kamu sama sekali tidak merasa dendam terhadap Raffa," ucap Lusiana.
" Ah, hmmm ... itu ya, Tan? Itu sih biasa, Tan. Kak Raffa itu kesal sama Kia karena Kia selalu menghalangi Kak Raffa dekat dengan Rayya, jadi mungkin Kak Raffa dendam dengan Kia, Tan." Sejauh ini Azkia merasa Raffasya merasa dendam karena dia selalu menjadi penghalang Raffasya yang selalu berusaha mendekati Rayya.
" Rayya? Rayya itu siapa?" tanya Lusiana.
" Rayya itu sepupu Kia, Tan. Anaknya Auntie Rara. Kak Raffa dari dulu suka sama Rayya tapi Uncle Gavin nggak suka Kak Raffa soalnya dia itu selalu bikin masalah di sekolah. Jadi Kia halang-halangi Kak Raffa yang ingin mendekati Rayya. Mungkin itu kali ya yang buat Kak Raffa benci sama Kia."
" Lalu Rayya itu di mana sekarang? Tante nggak tahu kalau Raffa itu suka sama Rayya."
" Rayya melanjutkan kuliah di Italia, Tante."
" Oh, gitu ..." Lusiana menganggukkan kepalanya. " Kia sendiri sudah punya pacar?" Walaupun Lusiana sudah mendengar dari Raditya Namun dia merasa penasaran juga dengan sosok kekasih dari Azkia.
" Ada, Tan." Azkia tersipu malu menjawab.
" Anak mana? Kerja di mana?" selidik Lusiana.
" Orang Jakarta juga kok, Tan. Temannya Kak Raffa juga waktu SD. Dia sekarang kerja di perusahaan otomotif." Azkia menjelaskan tentang Gibran.
" Oh, Raffa kenal dengan pacar kamu, ya?"
" Iya, Tan." Azkia menyahuti.
Tok tok tok
" Permisi ..." Wanda kembali muncul di ruangan Azkia dengan membawa minuman dan juga beberapa makanan ringan.
" Makasih, Mbak Wanda." ucap Azkia tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya. " Silahkan diminum, Tante."
" Terima kasih, Azkia." Lusiana kemudian mengambil cankir berisi kopi yang disuguhkan Wanda lalu menyesapnya. Lusiana sangat menyukai sikap Azkia yang selalu mengucapkan terima kasih kepada karyawannya.
Sementara itu di La Grande Cafe, Raffasya sedang berbincang dengan salah seorang temannya.
" Ada apa nih lu temui gue, Man?" tanya Raffasya melakukan tos dengan kepalan tangannya dengan Sulaiman.
" Gue mau mengajak lu bisnis, Raf." sahut Sulaiman.
" Bisnis apaan?" tanya Raffasya.
" Gue punya lahan. kalau lu minat gue mau ajak lu join untuk bikin car wash terus di atasnya pakai mezzanine buat dibikin caffe, gimana?" Sulaiman menyampaikan idenya.
" Cukup menarik, tapi sekarang ini gue belum punya dana segar, Man. Gue baru mau selesai renov stasiun radio gue. Gue renov jadi dua lantai sama dibikin cafe juga di sana. Jadi kalau dalam waktu dekat ini sih, kayaknya gue nggak bisa deh, Man." Raffasya menyayangkan karena tidak bisa ikut kerja sama dengan Sulaiman.
" Wah, gue telat dong, Raf?"
" Iya, Man. Ini saja gue masih kurang dana mesti nunggu deposito gue cair lusa."
" Lu nggak bisa pinjam sama bokap atau nyokap lu, Raf?"
" Nggak, Man! Gue nggak ingin melibatkan mereka dengan urusan bisnis gue," tegas Raffasya yang menolak anjuran Sulaiman.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba suara ponsel Raffasya berbunyi, dia lalu mengambil ponselnya itu dan mendapati pesan masuk dari Mamanya.
" Raffa, tolong jemput Mama. Mama lagi di butik tiba-tiba kepala Mama pusing. Nanti Mama share lokasinya."
" Bukannya Mama pakai Pak Diding?" Raffasya langsung merespon pesan dari Mamanya itu.
" Mama pergi sendiri kok, Raffa."
" Ya sudah nanti Raffa suruh Pak Diding jemput Mama." Raffa nampaknya keberatan disuruh menjemput Mamanya.
" Jangan! Jangan Pak Diding! Mama minta kamu yang jemput Mama. Apa susahnya kamu menjemput Mama kamu sendiri?"
" Ya sudah, nanti Raffa jemput."
***
" Tante minta maaf sama kamu kalau sikap Raffa selama ini buruk terhadap kamu, Azkia." ucap Lusiana setelah mengirimkan pesan kepada Raffasya.
" Kia sudah biasa menghadapi Kak Raffa kok, Tan." sahut Azkia.
" Sayang kamu sudah punya pacar, Azkia. Kalau saja kamu belum punya pacar, Tante ingin menjodohkan kamu dengan Raffa."
" Apa, Tan?" Azkia tersentak kaget mendengar ucapan Mama Raffasya yang mengatakan ingin menjodohkannya dengan Raffasya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️