Ketika jatuh cinta, tidak ada yang bisa memberi alasan pasti. Hanya merasakan dan tidak bisa menghentikan.
Cinta Henry pada Cynthia, gadis biasa yang melamar menjadi sekretarisnya.
Benarkah itu cinta pada pandangan pertama.
Dua orang yang berbeda latar belakang. Henry Elfred seorang CEO perusahaan British Oil & Gas, keturunan Inggris dan Jawa, berasal dari keluarga kaya raya yang penuh intrik kotor dan drama, sedangkan Cynthia hanya gadis biasa dan sederhana.
Cinta mereka terhalangi karena Henry hanya bisa menikahi seorang puteri pengusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan perusahaannya di Indonesia. Begitu banyak rintangan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
Bisakah Henry menyakinkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Out Of The Comfort Zone
Tidak akan benar-benar merasa takut, jika sudah benar-benar berada di luar zona nyaman. Padahal, ketika berada di situasi yang benar-benar nyaman, merasa bisa melakukan segalanya, justru saat itulah seharusnya merasa takut. [Cynthia, pemain luar]
Ketika pertama kali bekerja, Cynthia dibimbing Henry hingga seperti sekarang. Ketika sekarang berada di tempat lain, rasanya apa yang sudah dipelajari menjadi sia-sia. Pak Bram selalu saja menyuruhnya untuk mengerjakan sesuatu, namun selalu saja salah. Sedangkan Lulu, tidak mengerjakan apa-apa. Seakan-akan Cynthia ini sekretaris pimpinan, sedangkan Lulu sekretaris pribadi.
Namun, aku tidak akan menyerah begitu saja.
***
"Mengerjakan semua pekerjaan sedangkan Lulu dan Pak Bram berada diruangannya, asyik ketawa-ketiwi, sungguh membuatnya kesal." batin Cynthia
Kriiing! kriiiing!
“Ya Pak, ada yang bisa saya bantu,” ucap Cynthia. menjawab telepon dari Pak Bram.
“Jadwal rapat jam berapa, Cynthia?”
“Setengah jam lagi, Pak.” balas Cynthia.
“Sudah siap semua yang dibutuhkan?”
“Sebentar lagi … Pak.”
“Sebentar lagi? Dari tadi kamu ngapain aja? Hah. Cepat selesaikan!” bentaknya memarahiku. Aku hanya segera menyelesaikan apa yang diinginkannya.
“Oiya, Pak Bram sudah baca laporan yang saya tinggalkan di meja, itu situasi darurat yang terjadi di Babo, Papua. Ada insiden kebocoran pada pipa … dari tim ahli menjelaskan, Bapak dimin …,” ucapannya terpotong. Pak Bram membentak Cynthia yang tidak becus bekerja.
“Bodoh kamu! Ada situasi darurat seperti ini tidak memberitahu saya!” Bentaknya pada Cynthia ditelepon. Cynthia menahan geram, karena laporan itu sudah ada di sana sejak kemarin dan diberi notes merah sebagai tanda daurat.
Hubungan telepon itu ditutup dengan kasar, Cynthia tidak sempat membela diri.
***
Mendadak Pak Bram harus mempelajari data terbaru untuk pertanggungjawaban di depan direksi. Dirinya terlihat ketar ketir, begitu juga dengan Lulu. Sedangkan Cynthia berjalan di belakang dengan tumpukan berkas seperti kacung. Ketika rapat besar itu, Pak Bram memberikan jawaban yang sudah Cynthia siapkan di sebuah post notes.
Suasana sangat tegang dan mencekam, semua pasang mata menyorot kearah Pak Bram yang menangani kasus ini sejak januari. Baru kali ini, Cynthia menghadiri rapat dengan banyak orang yang terasa asing baginya. Pak Henry hanya melakukan rapat terbatas dengan beberapa orang saja sebelum mendelegasikan tugas kepada bawahannya.
Aku berharap Pak Bram bisa mengatasi masalah ini.
Sebenarnya kebocoran pipa-pipa tersebut sudah ditangani sejak awal tahun, namun segmen pipa yang rusak sejauh 200 meter, ada bagian yang terkena abrasi air laut. Kemungkinan terhantam ombak bagian pipa yang terbuka terpapar sinar matahari langsung.
Pencegahan sudah dilakukan dengan cara melapisi pipa dengan baja karbon. Sedangkan untuk pencemaran lingkungan, pemerintah daerah menurunkan 80 unit kapal dan 6000 personel untuk membantu agar lebih fokus pada kasus kebocorannya.
Pak Bram menjelaskan sesuai dengan data yang diberikan Cynthia.
Semoga Pak Darma puas.
“Kenapa masih saja bocor jika sudah ditangani awal tahun!” sentak Pak Darma. Seharusnya kerusakan itu tidak sampai 200 meter, jika sudah dicegah sebelumnya. Pak Bram tidak berkutik, kebingungan dengan data yang tidak dipelajari sebelumnya.
Cynthia menuliskan sebuah postnote yang diberikan pada Pak Bram secara berantai karena jarak mereka berjauhan. Tanpa diketahui banyak orang Cynthia memberikan pesan itu di bawah meja, hingga diterima Pak Bram.
Seharusnya rekomendasi dari British Oil & Gas kepada perusahaan milik negara terhadap pipa-pipa sepanjang 44 kilometer itu terkubur di bawah tanah, namun kenyataannya mereka menolak untuk mengurangi biaya.
Pak Bram seperti sedang berdialog dalam sandiwara, memerankan seseorang yang seakan-akan tahu apa yang dibicarakannya.
“Jadi, kamu mengatakan itu karena ada korupsi di pemerintahan? Berarti di perusahaan ini juga harus ada yang bertanggung jawab.” Ujar Pak Darma. Pak Bram mengangguk-anggukan kepala. Pak Darma memerintahkan rapat terbatas dan merekomendasikan penyelidikan internal secara menyeluruh.
Rapat selesai, seluruh direksi dan staf eksekutif membicarakan lebih lanjut dalam rapat terbatas. Melewati makan siang, Cynthia belum makan, perutnya sudah terasa sakit. Menunggu Pak Bram dan Lulu yang masih berada di dalam.
Apa yang dikemukakan belakangan oleh Pak Bram tidak disangka menarik beberapa fakta yang sampai saat ini tidak ada yang tahu, jika praktek-praktek suap dan korupsi itu masih ada.
Kemudian, pintu ruang meeting itu terbuka semuanya membubarkan diri seperti air yang keluar dari bendungan. Cynthia segera berdiri mengikuti Pak Bram dan Lulu dibelakangnya. Tidak lama, Pak Darma memanggil namanya.
“Cynthia, kerja yang bagus,” ucap Pak Darma tersenyum sembari menepuk bahunya.
Apa, kenapa?
Cynthia hanya membalasnya dengan senyuman, merasa dirinya tidak melakukan sesuatu yang besar. Pak Bram dan Lulu merasa keki, karena tidak dipuji.
Ketika kembali ke kantor cabang, Pak Bram membanting berkas-berkas yang berada di tanganku dan melempar yang ada di mejanya. Semuanya terjatuh ke lantai hingga berantakan. Cynthia terkejut, Lulu berteriak histeris.
“Dasar bermuka dua! Munafik! Kamu mau menjatuhkanku di depan Pak Darma ya?” bentak Pak Bram murka. Cynthia gelagapan, kebingungan kenapa dirinya menjadi pelampiasan kemarahan.
“Saya tidak ada maksud ….”
“Diaaam! Omong kosong! Mulai hari ini kamu akan mengerjakan seluruh pekerjaan Lulu, jika tidak … kamu akan kupecat.” Sentak Pak Bram mengancam. Padahal sejak disini aku sudah mengerjakan semua tugas-tugasnya, termasuk bagiannya.
***
Sudah mulai sore, pekerjaan Cynthia belum juga selesai. Sedangkan Pak Bram dan Lulu selalu berada diruangan. Hingga, berkas penting yang harus ditandatangani secepatnya.
Tok,tok,tok.
“Pak Bram, berkas ini ….” Cynthia sangat terkejut melihat Pak Bram dan Lulu sedang bermesraan di sana. Lulu berada di atas meja, tubuhnya dicumbu olehnya. Oh Tuhan, seharusnya aku tidak melihatnya. Mereka bergegas merapihkan pakaian yang tadi terbuka.
“Taruh saja di meja!” bentak Pak Bram. Cynthia langsung keluar setelah meletakkannya.
Cynthia tidak tahan lagi dengan perbuatan mereka yang menjijikkan.
Kenapa tidak cari kamar saja.
Perutnya mulai terasa sangat nyeri, Cynthia meninggalkan ruangan untuk pergi ke kantin dan memakan sesuatu. Sembari memegangi perutnya yang perih, Cynthia mengambil makanan yang tersisa hanya sup ayam dan nasi.
Aku rasa ini cukup untuk mengisi perut.
Tangannya mulai gemetar meskipun hanya memegang sendok plastik, sesendok nasi dan kuah sup hingga mulutnya merasakan nikmat hingga perutnya mengeluarkan bunyi. Rasa yang memenuhi langit-langit mulutnya, sejak pagi kekeringan. Bahkan giginya merasa ketagihan untuk mengunyah sesuatu.
Airmatanya menetes di mangkuk sup itu, melihat sekeling yang sudah sepi tanpa karyawan berkunjung. Mengapa aku sangat merindukannya. Sosok pemimpin yang tidak pernah sewenang-wenang kepada bawahannya. Henry memang terkesan angkuh dan acuh, tetapi tidak pernah sekalipun membentak apalagi mendorong seseorang untuk membuatnya jatuh.
Jika Henry memotivasi seseorang untuk mencapai target, itu karena dirinya yakin dan melihat potensi orang itu. Jika mengingat perlakukannya yang keras dan tegas di awal Cynthia bekerja, tidak akan percaya ketika melihat dirinya yang sekarang. Semua berkat tangan dingin Henry. Makanya semua orang merasa segan dan menghormatinya.
Bukan karena dirinya CEO, melainkan karena Henry orang yang hebat.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya)
boom balik karya ku
the thunder's love
🥰🥰
ditunggu lagi Kaka salam dari basecamp