Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
Hamparan pasir yang menutupi permukaan tanah di bawah kaki mereka membuat pergerakan menjadi sangat sulit bagi ninja biasa. Setiap kali kaki melangkah, pasir tersebut akan mencoba mengisap dan menahan pergelangan kaki, mengurangi mobilitas secara drastis. Namun, bagi Lee, perubahan medan bertarung ini justru memicu analisis sistematis di dalam kepalanya.
[Mendeteksi perubahan medan bertarung: Kepadatan permukaan tanah berkurang 60%. Koefisien gesekan menurun.]
[Saran Sistem: Tingkatkan daya dorong output otot kaki sebesar 25% untuk menjaga stabilitas kecepatan maksimum.]
Lee mengembuskan napas panjang, membiarkan udara malam yang mulai merayap masuk ke dalam hutan memenuhi rongga dadanya. Dia menatap ke arah Gaara yang kini berdiri di tengah-tengah pusaran pasirnya sendiri, tampak seperti dewa gurun kecil yang siap menuntut tumbal nyawa.
"Temari, Kankuro, mundurlah lebih jauh!" Gaara memerintah dengan suara yang terdengar sangat dingin dan datar, hilangnya nada kegilaan tadi justru menandakan bahwa dia kini berada dalam mode membunuh yang sangat fokus. "Jika kalian berada di dalam area ini... pasirku tidak akan membedakan mana kawan dan mana lawan."
Kankuro tidak perlu diperingatkan dua kali. Dia langsung melompat mundur ke atas salah satu dahan pohon mati yang berjarak tiga puluh meter dari area pertempuran, diikuti oleh Temari yang terus memegang kipasnya dengan posisi siap siaga. "Gila... dia benar-benar akan menggunakan teknik berskala besar di tempat seperti ini. Anak Konoha itu sudah tamat."
Di sisi lain, Neji juga memberikan isyarat pada Tenten untuk mundur. "Tenten, naik ke atas pohon. Jangan biarkan dirimu terjebak di dalam hamparan pasir itu."
"Tapi Neji, bagaimana dengan Lee?!" Tenten bertanya dengan nada penuh kekhawatiran yang sangat jelas terlihat di wajahnya.
"Lee memilih untuk bertarung sendirian, dan sebagai rekan setim, kita harus menghormati keputusannya," jawab Neji dingin, meskipun matanya sendiri terus memantau setiap pergerakan sekecil apa pun melalui Byakugan. "Lagipula... aku ingin melihat sampai di mana batas dari kesombongannya itu."
Gaara menghentakkan kaki kanannya ke atas pasir. "Gokusa Kaiso! (Penjara Pasir Mengalir)"
Tanah di bawah kaki Lee mendadak berubah menjadi pusaran air pasir yang sangat cepat, mencoba menarik tubuh hijaunya ke dalam kedalaman tanah sedalam delapan meter untuk dikubur hidup-hidup. Pusaran itu memiliki daya isap yang sangat kuat, setara dengan pusaran air di laut lepas.
Lee merasakan kakinya mulai tenggelam hingga batas mata kaki. Beban dua ratus kilogram di masing-masing kakinya membuat daya isap pasir tersebut bekerja dua kali lebih efektif. Namun, alih-alih panik, Lee justru tersenyum lebar.
"Tampaknya... menahan diri dengan menggunakan beban ini di depan lawan sepertimu adalah sebuah tindakan yang kurang sopan, Gaara," Lee berkata dengan suara yang cukup lantang hingga terdengar ke seluruh penjuru area terbuka.
Dia menekuk tubuhnya, lalu dengan gerakan yang sangat santai, dia melepaskan ikatan kain perban yang menutupi bagian pergelangan kaki kanannya, memperlihatkan sepasang pelindung kaki logam berwarna jingga tua yang melingkari otot betisnya.
Klek... klek...
Lee melepas kedua pelindung logam tersebut dari kakinya, lalu mengangkatnya dengan satu tangan di udara.
"Hei... apa yang sedang dilakukan si alis tebal itu?" Kankuro mengernyitkan dahi dari atas pohon, menonton aksi Lee dengan rasa heran yang sangat besar. "Dia melepas pelindung kakinya di tengah pertempuran hidup dan mati? Apa dia mengira itu akan mengurangi beban berat tubuhnya secara signifikan?"
"Itu hanya pemberat biasa," Temari mendengus pelan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terus berpacu cepat. "Paling banyak beratnya hanya beberapa kilogram. Itu tidak akan mengubah apa pun di depan teknik skala besar milik Gaara."
"Guru Guy pernah berkata padaku," Lee melanjutkan bicaranya, menatap pelindung logam di tangannya dengan pandangan penuh rasa hormat pada memori Rock Lee yang asli, "bahwa aku hanya boleh melepaskan beban ini jika situasi mengancam nyawaku... atau jika aku menghadapi seseorang yang kekuatannya menuntutku untuk memberikan penghormatan tertinggi."
Lee melepaskan genggaman tangannya, membiarkan kedua pelindung logam itu jatuh bebas ke arah permukaan tanah di bawahnya.
BLAAAAAMMMMM!!!!!!!!
Sebuah ledakan getaran tanah yang luar biasa dahsyat terjadi saat kedua pelindung logam itu menyentuh permukaan pasir. Hamparan pasir yang tadinya mengalir lancar langsung terlempar ke udara setinggi lima meter akibat gelombang kejut yang tercipta. Tanah di bawah lapisan pasir itu ambles sedalam satu meter, menciptakan dua kawah kecil yang memancarkan retakan-retakan tanah di sekitarnya. Debu dan butiran pasir beterbangan ke segala arah, mengaburkan pandangan semua orang selama beberapa detik.
Kankuro hampir saja terjatuh dari dahan pohon tempatnya berdiri akibat getaran tanah yang merambat hingga ke atas pohon raksasa tersebut. Matanya melotot sempurna hingga riasan wajahnya tampak bergetar. "A-apa-apaan itu?! Benda apa yang sebenarnya dia pakai di kakinya?!"
"Itu... itu bukan pemberat biasa!" Temari berteriak dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang sangat besar. "Berat benda itu... setidaknya beberapa ratus kilogram! Dan dia... dia bergerak dengan kecepatan seperti itu siang tadi sambil membawa beban seberat itu di kakinya?!"
Neji Hyuga berdiri mematung di dahan pohonnya sendiri. Byakugan miliknya merekam dengan sangat jelas bagaimana massa otot di kaki Lee mendadak mengendur, sebelum akhirnya mengencang kembali dengan kepadatan yang jauh lebih mengerikan setelah terbebas dari beban masif tersebut. Aliran chakra di sekitar kaki Lee kini bergejolak hebat tanpa perlu mengaktifkan Hachimon Tonko.
Selama ini... dia selalu bertarung denganku dalam kondisi menahan beban seberat itu? batin Neji, sebuah rasa pahit yang luar biasa mulai merayap di tenggorokannya. Harga dirinya sebagai seorang jenius klan besar terasa seperti diinjak-injak oleh kenyataan di depannya. Jadi itu alasan kenapa aku tidak pernah benar-benar bisa menyentuhnya dalam sesi latihan terakhir kami...
Di tengah pusaran debu yang mulai menipis, sosok Lee berdiri tegak. Tanpa beban logam tersebut, tubuhnya terasa seringan kapas, namun setiap serat ototnya kini dipenuhi oleh potensi energi kinetik yang sangat masif.
"Sekarang, Gaara," Lee berkata, suaranya terdengar sangat rendah namun beresonansi kuat di udara malam yang sunyi. Dia mengambil posisi kuda-kuda bertarung yang baru—posisi yang jauh lebih rendah dan aerodinamis. "Mari kita mulai pertunjukan yang sesungguhnya."
Syuuwt!
Tepat setelah kata terakhirnya diucapkan, tubuh Lee benar-benar menghilang secara total dari pandangan semua orang. Tidak ada bayangan sisa, tidak ada garis blur; yang tersisa hanyalah sebuah dentuman sonik kecil (sonic boom) yang memecah keheningan Hutan Kematian, meninggalkan kepulan debu berbentuk lingkaran di tempat semula dia berdiri. Pertahanan mutlak Gaara akan segera menghadapi ujian terbesarnya malam ini.