IG: ana_miauw
Bisa menikah dengan Yudha adalah bukan dari rencana Vita saat itu. Karena Yudha sudah memiliki hati yang lain sebelumnya. Dan atas nama pernikahan yang suci, dia mencoba untuk menerima takdirnya menjadi nomor dua meski dia adalah istri pertama.
Tetapi apa yang Vita rasakan semenjak pernikahan hingga saat ini?
Vita tidak sepakat dengan ketidakadilan yag dibebankan kepadanya karena tak pernah merasa dicintai sedikitpun oleh Yudha. Bahkan Yudha mengatakannya secara terus terang bahwa Vita hanyalah sebuah pelampiasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Positif Dua Bulan
“Apa rumah Alif sudah selesai dibangun, Bah?” tanya Yudha kepada Abahnya. Dia meminta waktu untuk berbicara mengenai permintaan istri pertamanya itu.
“Kebetulan sudah selesai, tinggal isi-isinya saja yang belum. Kenapa?”
“Mau pinjam dulu untuk selama beberapa waktu.”
“Untuk siapa?”
“Vita minta tinggal sendiri, Bah. Kalau tidak kuturuti ... dia minta dipulangkan ke desanya.”
Abah menaikkan alisnya. “Harus seperti itu?”
“Iya,” jawab Yudha. “Hanya untuk sementara, Bah, menunggu rumah Rahma selesai di renovasi. Yudha pilih pinjam rumah Alif, karena masih satu kompleks dengan rumah kita. Jadi Yudha bisa mengawasinya secara dekat.”
“Menunggu sebentar memangnya tidak mau?” tanya Abah.
Yudha menggeleng. “Dia terlalu keras kepala, Bah. Jangankan aku suaminya, sama orang tua seperti Umi saja dia tidak mau mendengarkannya. Tetap ngotot untuk tinggal sendiri.”
“Kenapa dari awal tidak Rahma saja yang ditempatkan di rumah Alif, Nak?”
“Mereka berbeda, Bah. Justru Vita yang jauh lebih mandiri dan ya ... cukup berani walaupun usianya di bawah Rahma.”
“Faktor lain?” tanya Abah, “Cemburu?”
Yudha mengangguk dan membuat Abahnya seketika tertawa hingga gigi-giginya terlihat.
“Dulu Umi seperti itu juga?” tanya Yudha penasaran dengan cerita Abahnya dan istrinya yang lain.
“Oh, ya jelas. Abah mempunyai kerumitan yang sama sepertimu. Butuh waktu yang lama membuat mereka menjadi akur dan terbiasa. Semua perempuan itu sama. Setinggi apa pun ilmu agamanya, tetaplah rasa cemburu itu menghiasi mereka. Sederhana apa pun pikirannya, tabiatnya senang dipuji.”
“Apa saran untukku, Bah?”
“Pahamilah mereka dengan akal dan ilmu agama yang cukup supaya kamu bisa memahami bengkoknya,” jawab Abah lagi dengan tersenyum. “Ya sudah, soal masalah ini, kamu bicarakan saja sama Alif. Dia pasti mau membantumu asalkan kamu mau memenuhi persyaratannya.”
Yudha berdecak. Tahu apa yang menjadi konsekuensinya ketika dia meminta tolong pada adiknya itu. Pasti selalu ada semacam timbal balik.
“Sebenarnya aku tidak mau menolongmu, Bang. Tapi demi Kakak ipar satu aku mau menolongmu,” kata Alif di kemudian hari pada saat Yudha mengatakan hal demikian.
“Mana kuncinya,” pinta Yudha dengan telapak tangan terbuka.
“Ada syaratnya tapi, kau harus ikut membantuku memenuhi barang-barang yang ada di dalamnya.”
“Ya,” jawab Yudha menyetujui.
Setelah Yudha pergi, Alif langsung menggerutu. “Belum juga ku-inreyyen. Rumah baruku sudah ternoda oleh mereka.”
“Membantu saudara itu dapat pahala,” sahut suara Umi yang muncul bersamaan dengan orangnya. “Lagi pula kamu juga untuk apa rumah itu kalu calon saja belum punya.”
“Lagi otewe.”
“Apa otewe-otewe?”
***
Meskipun sementara, namun Vita tetap senang karena akhirnya permintaannya dikabulkan. Karena menurutnya, ini bisa meringankan sedikit beban hatinya yang mudah retak saat melihat kemesraan mereka berdua, meskipun sekarang sudah tidak mereka tunjukkan lagi secara terang-terangan.
Ada ketidakrelaan Umi Ros saat melihat menantu pertamanya memindahkan barang-barangnya. Tetapi beliau tidak bisa menahan atau melarangnya untuk pergi. Niscaya hanya dia yang tahu apa yang terbaik untuk dirinya agar bisa mendapat keadilan masing-masing.
“Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan datang ke sini,” kata Umi Ros sebelum Vita keluar rumah.
“Iya, Mi. Tidak perlu khawatir, kita kan masih satu kompleks.”
“Tapi tetap saja,” ujar Umi kemudian. Beliau mendesahkan napasnya lantas kembali berkata, “Umi jadi merasa ada yang hilang kalau kamu pindah begini.”
Kendatipun Vita melihat roman sedih dari mertuanya dan semua orang yang ada di rumah ini, tetapi ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa demi mereka lantaran menurutnya—menyelamatkan diri sendiri saja sudah terasa sangat payah.
Tak lama berselang, terlihat Rahma menghampirinya dan memanggil, “Vita ....”
Vita menatap ke sumber suara. Perempuan yang memanggilnya tersebut mendekat dan tiba-tiba memeluknya. Dalam peluknya, perempuan itu mengeluarkan isak tangis.
Mengerti ini adalah ranah privasi, Umi segera mundur dari hadapan mereka, memberikan keduanya kesempatan untuk saling berbicara.
“Tidak seharusnya kamu melakukan ini,” kata Rahma setelah merenggangkan pelukan. “Yang pergi itu seharusnya aku,” lanjutnya lagi.
Vita tersenyum. Seluka apa pun hatinya oleh karena wanita ini, dia tetap berusaha bersikap baik. Dan entah karena sebab apa, dirinya memang bukan orang yang tega untuk mengucapkan kata menyakitkan terhadap sesama perempuan yang sejatinya sama-sama mempunyai hati yang sangat sensitif. Demikian karena ia berkaca pada dirinya sendiri.
“Ini sudah menjadi keputusanku,” kata Vita singkat. “Aku tidak apa-apa. Aku justru senang.”
Dalam benaknya, dia ingin sekali bisa lebih dekat dengan Rahma lebih dari ini. Berteman dengannya juga mungkin cukup menyenangkan. Namun ada yang tidak bisa mereka terima dengan sepenuh hati pada saat di hadapkan dengan kenyataan—bahwa mereka adalah istri dari satu orang yang sama.
Usai berkata demikian, Vita langsung menuju ke rumah Alif. Di sana, sudah ada Yudha dan juga Alif sedang bekerja sama membereskan tempat. Dan mengisi barang-barang. Selama seharian itu, ketiganya bekerja sama membereskan rumah itu sampai benar-benar layak untuk ditempati.
Tidak ada lagi marah atau pun kesal. Vita merasa lebih baik dan tenang tinggal di rumah barunya karena dia tak pernah merasa cemburu lagi melihat kemesraan suaminya dengan istrinya yang lain. Dia pun menyadari bahwa tidak semua malam ia membutuhkan Yudha untuk mendatanginya, walau kadang ia merasa kesepian.
“Sesekali aku boleh keluar ‘kan Mas?” kata Vita meminta izin.
“Keluar ke mana?”
“Ya keluar, misalnya ke pasar atau ke manalah. Aku kan bosan kalau di rumah terus.”
“Keluarlah. Tapi jangan diam-diam, kamu harus beritahu aku dulu.”
“Kantormu, jauh atau tidak?”
“Setengah jam dari sini,” jawab Yudha. “Kenapa, mau main ke sana?”
Vita mengangguk. Pada suatu waktu dia dibawa ke kantor oleh Yudha untuk diperkenalkan kepada staf-stafnya yang lain. Dia juga sempat mempelajari tugas-tugas suaminya di sana; menerima laporan, menjadwalkan keberangkatan para traveller, mencocokkan data para traveller, menghubungi pihak-pihak terkait untuk diajak bekerja sama dan masih banyak lagi.
Vita juga merasa bangga pada saat mendengar suaminya ternyata mempunyai kemampuan berbicara dengan banyak bahasa ketika dia berkomunikasi dengan orang asing di sambungan telepon seperti: bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Turkey dan juga bahasa lain negara-negara timur tengah yang dikenal terdapat banyak destinasi khazanah Islam di sana.
“Minimal harus bisa bahasa International atau Arab. Kalau tidak, kami akan kesusahan untuk berkomunikasi dengan mereka. Sedangkan, kami harus menyesuaikan diri.”
“Aku malu mengaku sebagai istrimu,” kata Vita kemudian.
“Kenapa harus malu?”
“Tidak usah kuceritakan juga pasti tahu.”
“Semua itu bisa didapatkan hanya dari belajar. Mau belajar?”
Vita menggeleng. “Aku malas menghafalkannya.”
“Tidak mau sekolah lagi?”
“Malas.”
“Kamu itu malas terus dari tadi,” dumel Yudha karena sedari tadi Vita terus-menerus bermalas-malasan di dekatnya. “Nanti malam persiapkan semua datamu, besok kita mau ke kantor sipil bukan?”
“Aku malas,” jawab Vita dengan nada manja.
“Malas lagi, malas lagi.” Yudha geleng-geleng kepala melihat kelakuan baru istrinya yang seolah tak mau lepas darinya barang sebentar pun. Bahkan saat dikantor seperti ini.
“Ajak aku ke luar negeri denganmu, Mas.”
“Ya, tapi harus buat kelengkapan data dulu seperti paspor dan surat nikahnya.”
“Mesra-mesraan terus. Ingat ini ada di mana, hei!” seru Alif ketika masuk menyelonong di hadapannya dengan membanting setumpuk berkas di depan Abangnya.
Vita sontak menjauhkan tubuhnya pada saat melihat Alif hadir di hadapan mereka.
“Lif, kalau masuk ke dalam ruangan orang itu minimal harus ketuk pintu dulu,” kata yudha memberinya pengertian.
Alif kembali keluar untuk mengulang dan memperbaiki kesalahannya.
Tok tok tok!
“Nah, sudah ‘kan?” katanya tersenyum merentangkan tangan dengan sangat percaya diri, seolah-olah dia pikir semua masalah bisa diulang untuk diperbaiki.
Vita tak kuasa untuk tak tergelak sampai perutnya terasa terguncang. Sedangkan Yudha hanya menatapnya dengan datar. Menyadari kelakuan adiknya yang mempunyai tingkat kemiringan agak tinggi.
“Ada apa?” tanya Yudha kemudian.
“Aku melimpahkan tugas ini padamu, Bang. Gantian,” katanya menunjukkan surat keberangkatan ke Turkey.
“Urusanku belum selesai.”
“Jangan mentang-mentang kamu punya istri lantas membuatmu tidak bisa ke mana pun, Bang. Kasihanilah aku. Jangan maunya menang sendiri. Tidak adil!”
“Staf yang lain apakah tidak ada?”
“Kalau ada untuk apa aku ke sini. Tidak ada yang menyanggupinya kalau bulan ini. Mereka pun punya banyak urusan. Bukan kamu saja.”
Dengan berat hati, akhirnya Yudha menyetujui untuk bertandang ke negeri bulan sabit (Yildizlilar) dua hari ke depan, meski harus menunda semua rencananya untuk mengajak istrinya mencatat berkas pernikahannya ke kantor sipil.
“Tidak apa-apa kan kalau ditunda dulu sebentar?” tanya Yudha kepada Vita. Pun sama dengan yang disampaikan kepada Rahma pada saat malamnya, dan dengan senang hati wanita itu pun menyetujui.
“Perginya lama ya?” tanya Vita.
“Hanya satu minggu.”
Vita mengangguk.
Tidak ada alasan untuk Vita melarang Yudha pergi pikirnya. Lagi pula, suaminya hanya pergi kurang lebih dalam waktu satu minggu. Lantas apa yang membuatnya menjadi berat?
“Kalau kamu sudah ada paspor, mungkin kamu istri pertama yang kuajak. Tetapi berhubung belum, kita akan mengurusnya dulu nanti. Tapi tetap kamu yang akan kuajak lebih dulu. Baru nanti bergantian,” kata Yudha lagi.
“Iya.”
Dua hari kemudian, akhirnya Yudha pun pergi bersama satu rombongan yang berjumlah lebih dari empat puluh orang. Terdiri dari para pejabat, pengusaha dan beberapa anggota dewan.
Satu minggu pria itu berada di negara bulan sabit bersama para traveller-nya. Tanpa dia ketahui ada salah satu istrinya yang sedang mengharap-harap kepulangannya untuk menyampaikan kabar bahagia. Ya, hari ini Vita baru saja mengecek urinnya di stik khusus. Perempuan itu sudah mengandung usia dua bulan. Bila dihitung dari terakhir kali masa bulanannya.
***
Bakalan makin seru, yuk kencengin like, komen dan hadiahnya.
bhkn km tak punya hati.... dlu sll membandingkn vita dgn rahma...
km sll memuji rahma... bhkn km bilang hnya rahma yg bisa mmberimu kdamaian.... dan km mngtakn hnya rahma istri terbaikmu....
mkanya yud.... jgn trtipu dgn anggunnya cover luaran.... tpi nyatanya busuk dalamnya...