NovelToon NovelToon
Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:53.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lisa

Karena ingin dapat uang yang banyak tanpa ribet dengan keharusan punya keterampilan khusus, Asha akhirnya mau jadi tukang cuci pada sebuah keluarga kaya. Padahal dia punya ijazah SMA yang memungkinkan dia punya pekerjaan yang lebih baik dari sekedar tukang cuci.

Banyak kejadian yang terjadi selama dia menyembunyikan pekerjaan dari orangtuanya yang ada di kampung. Juga harus tetap cool saat ada teror menggemaskan dan nakal dari Arga, tuan muda di rumah majikan yang sedang patah hati karena tunangannya berselingkuh. Apalagi teror ciuman sesaat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17 Dia bekerja untukku

Mata perempuan itu akhirnya bisa menyadari kedatangan tuannya. Wajahnya terkejut dengan kemunculan Arga dengan mata yang terus menatapnya. Tangannya masih memegang bola basket.

"Sha, lempar!" teriak Andre. Asha diam tidak merespon. "Sha!"

"Diam," desis Asha kesal tanpa menoleh ke  Andre yang tidak paham situasi. Kepalanya menengok ke Cakra yang melintas hendak merebut bola. Lalu melempar bola ke dia.

"Sha! Kok malah di lempar ke Cakra sih?! Kamu kan satu timnya sama aku!" Andre menunjuk dirinya dengan sebal. Cakra juga bingung kenapa bola malah di lempar ke dia. Setelah melempar bola, Asha segera berjalan menuju pinggir lapangan dengan menunduk. Arga juga mendekat ke arah yang sama dengan di ikuti sama Paris. Dari sini Paris baru sadar ada Asha di situ.

"Kakak!!" teriak Paris senang lihat Asha lagi. Dia langsung memeluk pelayannya itu. Cakra menoleh. Tangannya terangkat menyapa Arga.

"Kakak di tinggal sama kak Arga ya?" Paris melirik kakaknya tajam. Asha hanya nyengir. Arga melihat ke arah perempuan yang lengannya digelayuti sama Paris.

"Hoi! Aku berhenti dulu." Cakra mendekati Arga setelah melempar bola.

"Kemana aja, Ga? Dia kasihan kayak anak kehilangan induknya. Jadinya ngikutin kita terus. Padahal kan dia bisa pulang sendiri ... Ternyata kalian datang bertiga toh," Cakra tersenyum melihat kedatangan adik perempuan Arga.

"Siapa kak?" tanya Paris.

"Cakra, putera paman Danang," terang Arga. Otak Paris masih berpikir.

"Oh ... paman yang kepala sekolah itu? Dia laki yang selalu mengajak kakak bolos itu..." Paris ingat karena sering dengar cerita. Cakra nyengir. Meski lain sekolah, Cakra memang sering bertandang ke sekolah Arga. Padahal mereka enggak satu angkatan. Arga itu satu tingkat di atas Cakra. Karena orang tua mereka teman masa kecil jadi mereka juga dekat.

"Halo, kak." sapa Paris akhirnya. Cakra menyambut sapaan Paris dengan senyum.

Oh ... dekat karena orang tua mereka teman masa kecil, Asha mengambil kesimpulan sendiri. Arga melirik perempuan itu. Dia sedang melihat Cakra dan kemudian bergumam sendiri.

"Kok kenal sama kak Asha?" tanya Paris yang langsung membuat indra penglihatan Asha melihat cepat ke arah Cakra.

"Justru aku yang heran. Kenapa kalian bisa bareng sama dia," tunjuk Cakra ke Asha. Asha memejamkan mata sejenak sambil memegangi kepalanya karena gelisah.

"Kok bisa kak?" Paris masih bingung.

"Aku sama Asha kan teman SMA dulu. Lalu kalian?" Cakra menjelaskan.

"Lho Kak Asha ini sekolah toh? Kok kerja di rumah?" tanya Paris aneh sambil lihat ke Asha. Arga diam saja sambil melirik ke Asha. Sementara perempuan ini berusaha melihat ke arah lain untuk menghilangkan kegelisahannya.

"Kerja di rumah? Kerja apaan sih, Sha?" Cakra jadi penasaran. Asha menghela napas berat.

"Kak Asha itu kerjanya di rumahnya kita ..." jelas Paris senang. Maksudnya dia senang dapat pelayan yang bisa dijadikan teman. Lalu meluk lengan Asha erat. Asha menunduk sambil garuk-garuk leher depan. Mendadak tubuh Asha jadi kayak terserang penyakit gatal-gatal. Dahi, leher dan hidung digaruk semua.

Cakra masih belum paham. Lalu melihat Arga yang sedari tadi masih diam.

"Maksudnya apaan, Ga?" Arga tidak menjawab.

"Aku jadi pelayan di rumah keluarga mereka," ungkap Asha akhirnya. Arga menoleh ke Asha. Perempuan muda itu menjawab sendiri pertanyaan yang ingin dihindarinya. Dia menjawabnya dengan tatapan mata yakin bahwa semua bakal tidak apa-apa. Lebih tepatnya pasrah. Terserah.

"Kamu?" Cakra menunjuk ke Asha.

"Iya."

"Dia menjadi asisten pelayan ku," imbuh Arga. Asha menoleh dengan mata terkejut. Apaan itu?

"Beneran? Jadi kamu di rumah mereka melayani orang ini?" Cakra menunjuk ke arah Arga sambil ketawa. Asha heran. Kenapa Cakra malah ketawa.

"Dua orang yang sama-sama keras gimana kerjasama ya ... Namun sepertinya kamu sudah bisa menjinakkan Asha deh." Cakra bergumam sambil terus-terusan tersenyum geli.

Jinak? Memangnya aku hewan? Mulut Cakra ingin di lakban deh! Asha melirik tajam ke arah temannya ini.

"Sekalian aja di jadikan bodyguardnya kamu, Ga! Dia kan ..." Asha mendelik.

"Tutup mulutmu ..." sergah Asha tertahan. Cakra tertawa terbahak-bahak. Merasa sangat senang bisa meledek perempuan ini. Paris tersenyum paham maksud Cakra.

"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Arga.

"Hei, aku pulang dulu!" teriak Asha ke Deni dan Andre. Mereka hanya melihat dan mengangguk.

"Jangan lupa traktir kita ya, Sha! Aku tahu gaji kamu banyak," teriak Cakra saat Asha sudah berjalan menjauhi mereka.

Tahu aja itu anak aku dapat gaji banyak, tapi harus beneran traktir dia nih kalau gak mau mulut itu anak ember ke Arga soal aku.

Di dalam mobil,

"Jadi kak Asha ini sudah lulus SMA?" Di dalam mobil Paris masih saja membahas itu. Dia tidak menyangka, seorang yang masih bisa melamar pekerjaan di suatu perusahaan kecil misalnya, memilih menjadi pelayan di rumahnya. Apalagi memilih sebagai tukang cuci. Pekerjaan yang seringnya di anggap remeh.

"Kenapa kakak kerja di rumahku?"

"Hmmm ... Karena gajinya banyak, tidak perlu keahlian khusus dan tak perlu menulis surat lamaran kerja" jawab Asha lugas. Paris cekikikan. Dia ingat pertama kali bertemu dengan Asha. Hanya karena alasan simpel dia mau membantu Paris yang sedang di kepung dua orang.

"Cara berpikir kakak kadang terlalu simpel, tapi seru juga ..." Paris senang. Di kursi pengemudi, Arga melihat dari kaca spion atas melihat raut wajah Asha yang tidak lagi tegang. Mungkin dia merasa lega setelah melihat respon Cakra saat tahu bahwa dia bekerja sebagai pelayan. Arga sebenarnya tahu bagaimana Cakra itu karena sudah kenal dengan itu anak dari dulu. Saat Asha mengkhawatirkannya, Arga ingin bilang secara langsung kalau Cakra itu orangnya tidak begitu. Namun dia tahan, biar dia tahu sendiri.

"Sebentar, berarti kakak yang tadi lagi main basket sama kak Cakra itu ya ..." Paris kok baru sadar sih. Asha senyum. "Hooo ... Bisa aku ajak keluar main basket nih." Paris sudah punya banyak ide di dalam otaknya.

"Memangnya kamu bisa?" tanya Arga ikut nimbrung. Paris menggeleng. "Lalu?" tanya Arga heran.

"Biar kak Asha yang main, aku yang nonton. Aku jadi bisa dapat kenalan cowok baru kalau mengajak kak Asha." Maksudnya Asha jadi umpan nih. Paris tengil dan gila juga. Itu sih kelihatan dari dia yang sempat gelut waktu itu. Namun sepertinya Arga dan keluarganya enggak paham.

"Dia kerja Paris ... Jangan ngajak seenaknya." tegur Arga. Paris tidak menggubris perkataan kakaknya. Asha meringis dalam hati. Bakal banyak pekerjaan lagi nih kalau harus menemani nona muda ini.

Akhirnya mereka sampai di rumah. Paris segera berlari keluar dari mobil karena kudu ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sejak tadi sudah dia tahan mati-matian. Asha keluar belakangan dari mobil. Orang tua mereka sepertinya belum datang.

"Hei," panggil Arga saat Asha sudah mau belok ke belakang. Pas Arga masih di depan tangga menuju lantai dua. Asha berhenti dan memutar tubuhnya.

"Ya, Tuan." Arga membiarkan pelayan itu memanggilnya Tuan. Karena dia sedang tidak ingin mengganggu Asha.

"Maaf yang tadi." Pasti Arga sedang membahas soal dia yang menelantarkan pelayannya tanpa penjelasan yang jelas dia mau kemana dan kapan pulangnya.

"Tidak apa-apa, tuan ..." Asha membungkuk. Lalu Arga berjalan menuju meja telepon rumah. Menarik selembar kertas dan menuliskan sesuatu.

"Ini nomor ponselku. Kamu bisa menggunakannya jika hal seperti tadi terjadi lagi. Kirim nomor ponselmu melalui nomor itu. Namun jika kamu tidak membutuhkannya, kamu boleh membuangnya." Arga menyerahkan selembar kertas berisi nomor ponselnya.

"Baik, Tuan."

"Itu kalau kamu berani melakukannya," tukas Arga membuat Asha mendongak kesal.

GRRR!! Sama saja. Artinya aku harus menyimpan nomornya dan memberikan nomor ponselku ke dia. Maksa ini namanya.

1
Kusyanti Handayani
bner visualnya bener bener bikin baper meleyotttt
ainie lee
q kngen sma asha .bca lagi 😍
Diandra Kim
😍park seo joon oppa..syukaaaa
Gustein Arifin👑
cediiiiiihhhhh 😩😩😭😭😭
Dewi Purbowati
sudah ke 3 kalixa q baca Thor
Fadillah Ahmad
Nah, sekarang, ini sudah tidak relevan lagi kak, Sekarang berdasarkan berat badan.

Kalau minum air putih 8 gelas sehari, itu sama saja kekurangan Cairan. Kalau misalnya nih, kita haus, terus jatah minum air putih sudah 8 gelelas, terus gimana? sementara kita haus nih 😁

Jadi lebih baik Minum Air putih sesuai kebutuhan tubuh saja kak, jika haus minum. Udah gitu Saja sih 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ah, Seharusnya ksmu banting saja semua yang ada di dalam Ruangan itu Arga. Untuk meluapkan emosi. Biar istrimu itu tidak melewati batas. Apapun itu, itu nggk bisa di terima. Kalsu aku mah, sudah mengamuk itu. Aku nggk terima, istriku sama pria lain! enak aja dia! 🤬
Fadillah Ahmad
Iyalah, memang mau di harapkan apalagi? Menikah? Ya Nggk mungkin lah, di usia 17, 18 itu mengharapkan seperti itu. Nah Kalau Sudah 21 Tahun Keatas Baru, tidak masalah, mengharapkan Sebuah Pernikahan. Sah-sah saja itu mah, Asha. 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ini benar ini, Kadang, orang masih menyebut "Susu Kenat Manis" Sebagai Susu. Sesungguhnya, "Susu Kenatal Manis" itu di boleh di sebut "Susu" Karena lebih banyak gulanya, di bandingkan yang lainnya. Jadi tidak tepat, jika, "Susu Kental Manis" di sebut "Susu" itu tidak boleh.

Sekarang, hanya boleh di Sebut "Kental Manis" saja. Tantapa embel-embel kata "Susu" di dalamnya. ini benar nih. 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Nah Ini, "Perjalanan Bisnis" Asha sebagai Istri Arga, juga harus siap kapan saja, mendampingi Suaminya dalam perjalanan Bisnis. Baik itu Keluar Kota, ataupun Keluar Negri. Karna Asha adalah Istri CEO, jadi harus menemani Arga, melakukan Perjalanan Bisnis. 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Betul, padahal suaminya CEO dari Perusahaan Besar, tapi istrinya malah Suka yang murah. 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Cerita Sederhana ini, yang bikin Kangen. 😁😁😁 Ke pasar tradisional, juga masuk dalam cerita 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Aduh Arga... Masa Sih, Seorang CEO Dari Hendarto Group, nggk bisa mencuci perabotan memasak? itu pekerjaan yang tidak sulit, jika di lalukan dari hati. 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Kak, Adain dong Cerita Anaknya Arga ❤️ Asha kak 🙏🙏🙏 Aku kangen mereka kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Kau Harus berterima Kasih dengan Asha, Evam. Katena Asha... Mantan Pelayan Arga itulah, Arga bisa melupakan istrimu. Dan Akhirnya Arga mencintai Istrinya Asha. Ya ampun, kenapa ya... Rasanya berat sekali, ingin mengakhiri Novel ini? Bagi aku, Ceritanya sangat mendalam. Sangat mengena di hati. Aku merasa berada di dalam cerita ini. Seperti di tarik masuk. dan akhirnya, tenggelam dalam kisah ini. Semoga, novel ini Bisa di buatkan WebSeriesnya 🙏🙏🙏😁 Aamiin. Aku ingin melihat Arga ❤️ Asha, dalam betuk Visual. Semoga Pihak NovelToon, memilih cerita ini, untuk di jadikan WebSeries 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Cie, sekarang, Asha sudah Menjadi Nyonya Arga Hendarto tuh, dan Sudah hamil pula... Hah, yah meskipun penuh lika-liku. Mengingat Kanu adalah Pelayan dulunya. Meskipun mendapatkan Cemo'ohan daei tentangga, di karenakan kamu yang dulu hanya seorang pelayan. Dan Berubah Setatus Menjadi Nyonya Arga Hendarto. Mungkin mereka kepo kali ya? dengan dongeng Cinderella. Seorang Pelayan, bisa menjadi istri majikannya. 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Kak, Apakah Cerita Anaknya Asha dan Arga tidak ada kah kak? Rasanya, aku nggk rela menamatkan cerita ini dengan cepat 😭😭😭 Terlalu berkesan.
Maria Magdalena: ada judulnya CEO MAGANG
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Ceritanya Sederhana, tapi Berkesan. Menancap di hati Pembaca. Konfliknya juga tidak berat. bukan soal poligami juga. Coxok untuk rileks dari kerasnya hidup. 😁
Fadillah Ahmad
Itulah, Sudah dari Zaman nenek moyang, perkataan itu ada, Wanita itu harus bisa memasak, meskipun Wanita itu bekerja. Tetap harus bisa memasak, untuk anak dan susmi sendiri. Ini pelajaran ni. 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Bapak ini gimana sih? emang kalu ingin pamit sama istri sendiri haru pengantin Baru aja? emang kslsu pengantin lama, nggk boleh apa, pamit sama iatri sendiri? Aneh nih Bapak. 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!