RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Suasana hening masih menyelimuti jalanan yang sepi itu. Raven berdiri diam menatap ke arah kegelapan tempat kedua sosok itu menghilang, sementara Arga, Alden, dan Andra saling berpandangan dengan wajah takjub sekaligus bingung. Andra menepuk pelan bahu Alden sambil bergumam tak percaya.
“Kau dengar tidak, suara barusan? itu suara wanita jir!"
"Iya dari postur tubuhnya juga sudah jelas jika salah satu dari mereka wanita!” sahut Alden yakin.
“Sepertinya wanita itu juga mengenal kita, buktinya dia tahu nama Si Bos!" timpal Andra.
Alden mengangguk mantap sambil menatap ke arah jalan kosong itu. “Yang lebih menarik lagi cara mereka bertarung… sungguh luar biasa. Gerakannya cepat, tepat, dan terlatih sempurna, bukan hal biasa yang dimiliki sembarangan orang. Aku jadi semakin penasaran siapa mereka sebenarnya ya?”
Raven masih menatap jauh ke depan, matanya berkilau tajam dengan rasa penasaran yang makin memuncak. “Entahlah… tapi satu hal yang pasti, kita berhutang nyawa sama mereka!" Ia tersenyum miring penuh keyakinan.
"Kau benar! Semoga saja kita bisa bertemu lagi sama sosok misterius itu dan mengucapkan terima kasih!" harap Arga.
"Iya! Tapi sebelumnya kita harus bikin perhitungan sama Gang Kobra!"
"Pasti! Kita akan tunjukkan pada mereka siapa Gang Phoenix!" sahut Raven tegas.
"Tapi Ini udah tengah malam baiknya kita bicarakan masalah ini besok di markas sama anak-anak!" lanjutnya sambil melangkah ke arah motornya. Di susul Andra, Arga dan Alden,
lalu keempat remaja itu melaju perlahan meninggalkan tempat itu, membawa rasa heran dan pertanyaan besar yang belum terjawab.
*
*
Tak jauh dari sana, Sara dan Leon melambatkan laju kendaraan hingga akhirnya berhenti di tepi jalan yang sepi dan teduh. Mereka melepas helm, penutup wajah, serta topi yang menyamarkan penampilan mereka. Angin malam berhembus lembut menerpa wajah mereka, membawa kesejukan di tengah keheningan kota.
Leon menatap Sara dengan pandangan kagum. “Kau benar‑benar tak pernah berubah sedikit pun, Nona. Gerakanmu masih tetap secepat kilat, tegas, dan tak pernah meleset sedikit. Seolah kau tak pernah berhenti mengasah kemampuan itu setiap saat.”
Sara tersenyum tipis sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin malam. “Dunia ini tak pernah berhenti berputar, Kak Leon. Di mana pun kita berpijak, bahaya bisa datang kapan saja tanpa memberi peringatan lebih dulu. Kita harus selalu siap siaga, tak boleh lengah sedetik pun.”
Ia menatap lurus ke jalanan yang kosong di hadapannya. “Tampaknya di sini pun persis sama seperti di Italia penuh persaingan keras dan permusuhan yang bersembunyi di balik bayang‑bayang gelap.”
“Benar sekali,” sahut Leon setuju sambil mengangguk mantap. “Banyak hal yang masih tertutup rapat dan belum kita ketahui sepenuhnya. Kejadian hari ini hanyalah sekilas gambaran kecil dari apa yang mungkin masih menanti kita di masa depan. Yang terpenting kita tetap berhati‑hati dan berjalan dengan langkah yang mantap serta waspada.”
“Tentu saja,” jawab Sara tenang namun tegas. “Udaranya semakin dingin lebih baik kita langsung kembali ke apartemen deh! Esok hari kita harus menjalankan peran kita sebagai siswi dan guru yang baik di sekolah, menjalani hari‑hari kita seperti biasa, sambil terus mengamati segala hal yang terjadi di sekitar kita.”
Keduanya kembali menyalakan mesin kendaraannya, lalu melaju perlahan menjauh, lenyap perlahan tertelan kegelapan malam yang sunyi.
*
*
Sementara itu, di kediaman keluarga Krishnawardhana yang luas dan megah, Suasana terasa sunyi dan senyap menyisakan cahaya redup dari lampu taman. Seperti biasa Raven melangkah hati-hati membuka pintu belakang taman supaya tidak membangunkan penghuni mansion, terutama kedua orangtuanya.
Begitu pintu terbuka dan Raven baru saja melangkah masuk beberapa langkah menuju arah kamarnya, ia langsung mendapati orang yang sangat ingin ia hindari.
"Sial! Ketahuan deh!" serunya dalam hati.
Maria sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada menunggu tepat di ruang tengah dengan wajah tampak garang namun tersirat penuh kekhawatiran mendalam di matanya. Ia langsung berjalan mendekati putra kesayangannya itu dengan langkah cepat.
“Raven! Sampai kapan kau akan terus begini hah!” serunya dengan nada meninggi namun penuh perhatian. “Pulang selalu tengah malam, penampilan berantakan, pasti habis balapan dan tawuran ya kan? Apakah kau benar‑benar ingin jantung Mommy berhenti berdetak lebih dulu sebelum sempat melihatmu menikah dan menimang cucu darimu?!”
Raven hanya bisa mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas, ia sudah hafal betul alur pembicaraan Mommy-nya, awalnya selalu berisi kekhawatiran dan kata-kata bijaknya lalu ujung‑ujungnya tak lepas dari pembahasan tentang perjodohan yang selalu ia hindari. Ia berjalan santai melewati sang Mommy sambil menjawab santai.
“Aduh Mommy, sayang… aku ini masih sangat muda, masih punya banyak waktu panjang ke depan. Kenapa Mommy begitu terburu‑buru dan bersungguh‑sungguh ingin menjodohkan aku? Kalau Mommy begitu ingin mengendong anak kecil, lebih baik Mommy minta sama Daddy untuk membuatkan adik baru saja!”
Wajah Maria seketika berubah merah padam menahan kesal sekaligus tak percaya mendengar jawaban santai itu, lalu ia menggeleng lebar sambil menunjuk putranya.
“Andai saja masih bisa dilakukan, pasti sudah lama Mommy lakukan! Tapi kau tahu kan Mommy sudah tak memungkinkan lagi untuk punya anak lain lagi setelah melahirkan kau dulu!” Ia mendekat lagi dengan tatapan yang kini tampak lebih tegas dan tak mau dibantah sedikit pun.
“Kau dengarkan baik‑baik ucapan Mommy ini! Kalau kau masih tak mau mengubah sikapmu yang keras kepala itu… Mommy benar‑benar akan segera menikahkanmu dengan gadis pilihan Mommy sendiri. Dan kali ini Mommy tak perlu persetujuanmu, keputusan Mommy sudah bulat!”
Bersambung…