"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.34. Ayah marah
Kara tidak menceritakan apa yang baru saja dia alami pada ayah nya, meski dia lega melihat ayah nya pulang, tapi tidak tahu kenapa Kara juga melihat bahwa ayah nya memang sudah berubah. Saat ini Kara sedang menikmati kue yang di bawa oleh ayah nya, di depan rumah juga Kara melihat ada mobil lain yang terparkir.
Dan ayah nya seperti di penuhi banyak pikiran sampai saat sedang menikmati kue pun ayah nya tidak lagi mengajak Kara bercanda.
"Yah.. ayah sakit?" Tanya Kara, karena melihat ayah nya sampai tidak berkedip sambil memakan kue.
Mendengar pertanyaan Kara, ayahnya kemudian tersadar dan terkekeh kecil sambil mengusap kepala Kara seolah menenangkan Kara.
"Nggak kok, ayah cuma lagi mikirin kerjaan ayah saja." Jawab ayah nya, Kara mengangguk - angguk.
Kara sangat ingin bertanya kenapa ayah nya berbohong tentang mobil sedan hitam mereka yang katanya pecah ban di di bawa montir padahal nyatanya ada di garasi bawah tanah, tapi Kara tidak berani juga. Kara berpikir dia akan mencari momen yang pas untuk menanyakan tentang hal itu pada ayah nya nanti.
"Ayah istirahat dulu ya, kamu jangan kemalaman tidur nya." Pamit ayah nya dan Kara mengangguk.
"Tinggal aja piring nya, yah. Nanti aku yang cuci.." Ucap Kara, ayah nya bangun dan kemudian tersenyum sambil sekali lagi mengusap kepala Kara.
Kara menyaksikan ayah nya pergi menjauh dan bahkan menyaksikan ayah nya yang berjalan menaiki tangga menuju ke lantai 2 dimana kamar nya berada. Kara melihat ayah nya seperti terus memegangi punggung nya seperti orang yang sedang mengalami sakit punggung.
Kara yang memang saat ini di penuhi oleh pertanyaan - pertanyaan yang bersarang di kepala nya pun hanya bisa menghela nafas dan kemudian dia bangun dan membawa piring nya ke dapur untuk kemudian di cuci. Awal nya dia tidak merasakan apapun di sana, tapi saat Kara sedang membilas piring nya.. tiba - tiba Kara merasakan leher nya dingin.
"Hhhh.."
Kara sampai bergidik karena dia dengan jelas mendengar ada yang sedang bernafas di belakang nya. Kara sedikit menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat siapa yang ada di belakang nya.. tapi dia tidak melihat ada siapapun di sana, akhir nya dia buru - buru menyelesaikan pekerjaan nya dan langsung berbalik kabur ke atas.
Ke Esokan Harinya
Kara bangun, dia kaget karena kali ini dia terbangun di pagi hari tanpa dia mendengar ada suara teriakan perempuan di atas jam 12 lagi. Kara duduk di ranjang dan melihat ternyata itu sudah jam 6 pagi, dia bergegas bangun dan masuk ke kamar mandi untuk mengejar waktu sholat.
Dan setelah Kara selesai, saat itu juga dia mendengar ada suara ayah nya yang berada di luar sedang berbicara dengan seseorang.. entah siapa. Kara bangun dan mengintip dari jendela, dan ternyata itu adalah petugas yang menggunakan seragam polisi.
"Maaf, saya tidak mengijinkan nya." Kara hanya mendengar itu, ucapan yang paling jelas dari percakapan antara ayahnya dan petugas.
Kara tidak mengintip lagi, dia melepas mukena nya dan kemudian dia bergegas turun ke bawah dengan menggunakan kaos oblong hitam dan celana panjang abu - abu. Kara menuruni tangga dengan sedikit berlari tapi saat Kara sampai di depan rumah.. petugas - petugas tadi sudah pergi.
"Polisi nya kemana, yah?" Tanya Kara, ayah nya Kara melihat Kara dan Kara terkejut melihat wajah ayah nya yang tampak nya sangat marah.
"Kamu ijinkan mereka menggeledah rumah kakek, dek!?" Tanya ayah nya, Kara yang tadi tertegun itu kemudian mengangguk.
"Iya, yah.. karena.."
"Kamu nggak bilang sama ayah dulu!? Rumah kakek ini bukan tempat sembarangan orang bisa datang!" Potong ayah nya, Kara terkejut dan tidak tahu kenapa ayah nya bisa begitu marah.
"Ayah, Caca meninggal nggak wajar di sini, otomatis mereka mencari penyebab kematian Caca di rumah ini!" Ucap Kara, dia mencoba menjelaskan pada ayah nya.
"Untuk kematian Caca oke ayah ijinkan karena sudah terlanjur terjadi, tapi kenapa kamu juga ijinkan mereka mau membongkar semua kebun kakek!?" Tanya ayah nya.. mendengar itu, Kara sendiri tertegun.
"Bongkar semua kebun kakek? Aku nggak bilang kok.." Jawab Kara dengan kebingungan, karena memang Kara bahkan tidak memberikan ijin apapun pada petugas.
"HUFT!!" Ayah nya menghela nafas nya dengan sangat kesal lalu masuk kedalam meninggalkan Kara di halaman rumah.
Melihat ayah nya yang begitu marah, Kara pun heran. Memang sangat di sayang kan jika sampai kebun buah kakek nya itu di bongkar, tapi dia sama sekali tidak memberi ijin dan tidak tahu menahi tentang itu.
Tak lama Putri datang, Putri kebingungan juga melihat Kara yang berdiri di depan rumah.
"Kok teteh di luar?" Tanya Putri, Kara menggelang saja sambil senyum kecil.
"Nggak apa - apa, lagi jemuran." Jawab Kara, Putri pun manggut - manggut.
"Putri masuk dulu ya, teh.." Pamit Putri, Kara pun mengangguk.
Tapi saat Putri sudah melewati nya, tiba - tiba Kara menahan tangan Putri, sampai Putri terkejut.
"Eh, kenapa teh?" Tanya Putri, Kara menarik Putri ke pinggir dan tiba - tiba Kara menanyakan kunci lemari.
"Kamu ada bawa kunci lemari yang ada di ruangan itu nggak?" Tanya Kara, mendengar itu Putri menggeleng.
"Nggak teh, kunci lemari itu nggak ada sama ayah Putri juga." Jawab Putri, Kara pun diam berpikir..
"Ya udah deh.. hehe." Ucap Kara, lalu dia pergi dari sana meninggalkan Putri yang menatap kepergian Kara.
'Kalo kunci nya nggak ada sama mang Jupri atau Putri.. mungkin kunci nya ada sama ayah. Tapi kalo nanya sama ayah, ayah marah nggak ya..' Batin Kara, dia kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mengambil sarapan nya.
Kara menuang sereal yang terbuat dari kacang - kacangan yang kemudian dia campur dengan potongan buah pisang, lalu dia campurkan dengan yogurt rasa mangga, itu kesukaan nya. Kara kemudian berjalan menuju ke arah meja makan dan di situ Kara melihat ayah nya turun dari tangga.
"Ayah mau yogurt?" Tanya Kara, tapi ayah nya hanya melirik dan kemudian keluar dari rumah.
Kara tertegun melihat itu, itu adalah kali pertama ayah nya tidak menjawab pertanyaan nya dan mengabaikan nya. Kara sedih tentu, akhir nya dia hanya bisa duduk di meja makan dan memakan sarapan nya. Tapi, Kara tidak mendengar suara mesin mobil.. Kara pun kembali bangun dan keluar dari rumah untuk melihat kemana ayah nya.
"Put, tadi ayah kemana?" Tanya Kara pada Putri yang kebelutan di ruang tamu.
"Bapak ke sebelah, teh." Jawab Putri, mendengar itu Kara mengangguk dan kemudian dia pun lari keluar untuk mengejar ayah nya.
Kara tidak terang - terangan masuk mengikuti ayah nya, tapi dia mengintip dari jendela yang paling pojok, Kara melihat ayah nya berdiri di depan patung bapak - bapak yang membawa buku setelah itu ayah nya berbalik. Kara langsung sembunyi dan kembali lari masuk kedalam rumah.
'Ayah tadi ngapain..' Batin Kara.
BERSAMBUNG!
jadi semacam kuburan berkedok kebun buahh
knp di tolong , justru di tangkap