“I love you.”
Bagi seorang Ceo sekelas Justin Achazia Adley, pekerjaan adalah bagian dari hidupnya. Dan uang adalah segalanya.
Tapi untuk seorang karyawan biasa seperti Serena Ayu Kinanti, hidupnya adalah bagian dari pekerjaan. Dan jika bukan karena uang yang ia pinjam berjumlah banyak pada perusahaan, bekerja adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan setiap harinya.
Bagaimana jika keduanya dipertemukan? dan ternyata Justin adalah anak pemilik perusahaan di mana Serena bekerja. Akankah uang menjadi masalah bagi keduanya?
"Sabar-sabar yah ngadepin Pak Justin, dia emang gitu orangnya. Kalo dia marah kamu diem aja, tapi siapin air banyak-banyak, mulutnya pedes level mampus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA 2
Minggu ini ayah Nena sudah diperbolehkan pulang, mungkin lebih tepatnya pria paruh baya itu yang merengek minta pulang. Rumah sakit memang tidak pernah nyaman meskipun di dalamnya terasa aman.
"Hati-hati, Yah." Ardi membaringkan tubuh sang ayah di atas tempat tidurnya. "Ayah istirahat, jangan banyak pikiran." Lanjutnya menasehati, sang ayah mengangguk.
"Nena," panggil Rahadi, gadis yang tengah merapikan baju ayahnya itu menoleh.
"Iya, Ayah." Nena mendekat, entah mengapa setiap detik bersama ayahnya menjadi terasa berharga, mengingat penyakitnya yang sering kambuh itu.
"Sampaikan rasa terimakasih ayah pada Nak Justin. Dia nggak tahu kan kalau ayah udah pulang?"
"Ya iyalah dia nggak tahu, Ayah belum seharusnya pulang." Sesal sang anak, tangannya mulai memijit pelan kaki ayahnya.
"Ayah nggak mau hutang kamu semakin banyak pada perusahaannya. Ayah udah merasa baikan."
"Ayah jangan mikirin itu, Nena belum ngomongin soal itu sama Pak Justin. Dan lagi, nggak masalah kalo itu buat Ayah."
Sang ayah membelai kepala putrinya sayang.
"Kamu memang anak Ayah."
Alis Nena bertaut. "Memang sebelumnya aku anak siapa?" tanyanya kemudian.
"Ya anak Ayah," tandasnya, senyum Nena merekah. Ayahnya sudah bisa bercanda.
***
Justin membuka pintu besar rumah kediaman Mr Juan. Tidak ada teriakan ’aku pulang’ atau semacamnya, baginya itu tidak pernah terasa penting bagi siapapun di dalam sana.
"Justin! Ayo makan," ajak sang ayah, tidak pernah dia seramah itu kecuali .... Ada calon keluarga kecilnya tentu saja, Carla dan seorang gadis belasan tahun yang beberapa minggu ini selalu mengacaukan hari-harinya.
"Justin sudah makan, Pa," tolaknya.
Pria yang kadar ketampanannya tidak pernah berkurang meskipun hatinya begitu kusut, kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar dan memasukinya.
Tok-tok-tok
Suara ketukan pintu membuat Justin menoleh, dan tidak lama, benda persegi itu terbuka. Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik kamar, Karin calon anak tiri papanya itu sudah nyelonong masuk dan tanpa sungkan duduk di ranjang kingsize milik Justin.
Pria itu mendengus keras, dengan muka masam yang sialnya, seorang Karina Larasati sudah begitu kebal akan tatapan intimidasi dari calon abang tirinya itu.
Justin dengan santai membuka kausnya, dan takjubnya anak kelas tiga sekolah menengah pertama itu sama sekali tidak merasa risi dengan pemandangan di hadapannya. Benar-benar anak ini duplikat ibunya. Pikir Justin.
Karin mendekat. Pandangannya berbinar membuat pemuda itu sedikit waspada, Justin hanya berniat mengganti baju tanpa bermaksud menggoda abg tanggung itu, karena mengusirnya pun percuma.
"Wiih, Bang. Gue baru kali ini liat roti sobek secara langsung, ini asli kan?" ucapnya dan dengan sengaja mencolek otot bisep lengan Justin.
"Jangan sentuh saya!" Pekik justin mundur satu langkah, tatapannya geram pada gadis centil yang urat malunya masih dalam masa pertumbuhan.
"Buset dah, nggak usah sok galak sama gue." Karin mencebikkan bibirnya, Justin melengos melanjutkan kegiatannya mengambil kaus lengan panjang dan mengenakannya.
"Bagi duit, Bang. Mau jalan nih." Karin tanpa sungkan menengadahkan telapak tangannya. Justin melirik sebentar dan menghembuskan napasnya kasar.
"Kamu tidak malu minta uang sama saya?" Sindir Justin dan Karin berdecak gemas, menurunkan tangannya dengan kasar.
"Gue kan calon adek tiri lo, Bang. Lo tuh harus baik-baikin gue, biar gue mau berbaik hati ngasih izin nyokap gue buat nikah sama bokap lo." Lontarnya dengan semangat empat lima dan bibir monyong-monyong.
Justin terperangah, jiwa pencaci makinya terusik, namun meladeni gadis binal di hadapannya itu hanya akan membuat kerutan di sudut matanya itu semakin bertambah.
Dan setelah gadis itu kembali menyodorkan telapak tangannya, dengan terpaksa Justin meraih dompet dan membuka isinya. Tidak banyak karena pria itu tidak terlalu suka membawa uang tunai kemana-mana. Namun yang membuatnya dongkol setengah mati. Karin dengan kurang ajarnya merebut dompet dari tangan Justin dan merampok isinya.
"Makasih ya, Bang," ucap gadis itu dengan riang gembira. Bibirnya iya posisikan seperti mencium yang di sambut gedikan geli dari Justin.
"Daah calon abang tiri gue yang ganteng," ucapnya seraya meninggalkan kamar Justin. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya takjub, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Awalnya memberikan yang dia mau itu bertujuan agar gadis itu cepat pergi, tapi semakin lama pria yang telah dinobatkan menjadi calon abang tirinya itu merasa sedikit senang jika melihat gadis ajaib itu tersenyum bahagia. Sisi kesepiannya sedikit terhibur.
***