Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Menuju Kota K
Hari hari Adam kini terasa lebih lambat dari biasa nya, setelah obrolan nya dengan Devano kala itu, Adam menjadi tak sabar ingin cepat pergi ke kota K.
Dia sungguh ingin membuktikan dugaan nya, Adam sangat yakin jika adik angkat Devano adalah Ayah nya. Mungkin itu lah yang di sebut dengan ikatan batin antara anak dan Ayah pikir Adam, baru melihat wajah nya saja dia sudah yakin jika orang itu adalah Ayah nya.
Adam juga sangat ingin tahu kenapa ibu nya berkata jika Ayah nya sudah meninggal, apa dia benar benar anak yang terlahir dari sebuah kesalahan? Apa kah Adam adalah anak yang tak di ingin kan?
Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Adam, dan Adam pun sangat berharap jika ibu nya akan memberi kan izin pada nya untuk berlibur di kota K, agar semua kebenaran bisa segera terungkap.
"Sebenarnya apa yang ibu sembunyikan dari aku? Kenapa setiap kali aku menanyakan tentang ayah, ibu selalu berkata kalau Ayah sudah meninggal? Tapi, kenapa Ibu tidak pernah mau menunjukkan makamnya?"
Malam ini Adam terlihat mondar mandir tak jelas di dalam kamar nya, dia sangat ingin mengutarakan keinginan nya ke kota K.
Karena sampai saat ini Devano belum juga sempat berbicara dengan Laila, karena Devano begitu sibuk dengan project Baru nya.
Adam yang merasa tak sabar pun akhirnya memutus kan untuk pergi ke kamar ibu nya, dia sungguh sudah tak sabar ingin segera meminta izin pada ibu nya.
Sampai di depan kamar Laila, Adam pun langsung mengetuk pintu . Tak lama terdengar lah suara Laila membuka pintu, Adam pun langsung menghambur ke pelukan ibu nya.
"Ada apa Sayang?"
Laila bertanya dengan nada heran, pasal nya anak nya tak pernah bertingkah manja. Justru selama ini dia selalu terlihat mandiri dan dewasa, tetapi hari ini Adam terlihat begitu manja sekali.
"Bu, Adam mau bobo sama Ibu."
Adam terlihat memelas ,dan tentu nya Laila pun merasa tak tega. Akhirnya Laila pun mengajak Adam masuk, Adam langsung melompat ke atas kasur Laila.
"Adam," panggil Laila.
Malam ini Laila merasa jika putranya itu benar-benar bertingkah seperti anak seusianya, normal dan tak terlihat dewasa. Mungkin ini salah satu sisi Adam, karena walau bagaimanapun juga dia memang masih kecil.
"Sorry Bu," ucap Adam seraya meloncat loncat di atas kasur.
Laila hanya bisa menggeleng kan kepala nya melihat tingkah menggemaskan putra nya, Adam memang jenius. Dia bahkan sudah bisa menghasilkan kan uang yang banyak dengan kejeniusan nya, tapi Adam tetap anak kecil yang butuh kasih sayang.
Laila pun mengajak Adam untuk tidur, Adam pun langsung memeluk Laila dengan erat. Dia terlihat begitu menyayangi ibunya, dia terlihat takut sekali untuk kehilangan ibunya tersebut.
"Ada apa Sayang? Apa ada yang ingin kamu sampaikan pada ibu mu ini?"
Sebagai Laila bertanya seperti itu kepada Adam, karena biasanya anak kecil yang merajuk seperti itu, adalah anak yang menginginkan sesuatu hal dari ibunya.
"Mmmm, Bu. Boleh kah aku pergi liburan ke kota K?"
Adam pun langsung menyebutkan keinginan nya, dia sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dari Ibu nya. Dia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi dari ibunya tersebut.
"Kenapa harus ke kota K Sayang?"
Laila pun bertanya dengan nada khawatir bercampur kaget, dia pun bertanya tanya dalam hati nya. Kenapa Putra nya tiba tiba ingin pergi ke kota K? Apakah ada sesuatu hal yang dia ketahui?
"Adam ingin melihat kota kelahiran ibu seperti apa, boleh ya Bu? Kita ke sana nya tak hanya berdua, tapi dengan Om Devan juga."
"Tapi Sayang, rasa nya ibu begitu enggan untuk pergi ke sana. Di sana ibu sudah tak memiliki sanak sodara, di sana juga mau ke mana?"
Laila mencoba untuk menjelaskan kepada Adam kalau mereka pergi ke sana pun dirasa percuma, karena dia sudah tidak punya saudara lagi di sana.
"Memang nya Nenek di sana ngga punya rumah,Bu?"
"Ada Sayang, tetangga sebelah yang mengurus rumah Nenek kamu. Lagian rumah nya juga kecil, apa kamu mau?"
Sebenarnya tidak masalah kalau misalkan Laila di sana tidak ada rumah, karena Adam berpikir kalau mereka bisa menyewa kamar di hotel atau penginapan.
Baginya yang terpenting bisa pergi ke pulau K, selain ingin mengetahui kota kelahiran ibunya, dia juga ingin mengetahui apakah adik angkat dari Devano itu adalah Ayah kandungnya atau bukan.
Semakin besar Adam semakin merasa penasaran saja, sebenarnya siapa Ayah kandungnya? Siapa pria yang sudah menghamili Laila?
"Mau Bu, Adam mau. Adam tak pernah di ajak liburan ke luar pulau sama ibu, boleh ya Bu?"
Laila pun terlihat menarik napas panjang, sepertinya saat ini dia harus pasrah. Tak mungkin juga kalau dia terus bersembunyi, karena kenyataan itu harus dihadapi.
"Baiklah Sayang, seperti yang kamu inginkan. Kita akan pergi berlibur ke kota kelahiran ibu, sudah puas dengan jawaban ibu?"
"Sangat puas, terima kasih. Adam sayang ibu," ucap Adam seraya memeluk ibu nya.
Kini Laila harus memikir kan cara agar Adam tak bertemu dengan Ayah nya, karena Laila takut jika ke dua orang tua kekasih nya itu akan berbuat hal yang tak di ingin kan pada Adam.
Laila masih sangat ingat dengan apa yang diucapkan oleh kedua orang tua kekasihnya itu, Ia tidak pantas masuk ke dalam keluarga pria itu. Dia bahkan tidak pantas mengandung anak dari putra mereka.
Laila bukan takut kalau Adam akan diambil oleh keluarga kekasihnya tersebut, justru dia takut kalau Adam nantinya akan disakiti oleh keluarga dari kekasihnya itu.
Laila pun mengecup kening Adam, dia juga mengelus lembut punggung Adam. Tak perlu waktu lama, anak jenius itu pun sudah terlelap dalam tidur nya.
Laila tersenyum melihat wajah teduh putra nya, di usap nya ke dua pipi Adam. Dia begitu bangga mempunyai anak seperti Adam, Adam mampu membalikan nasib Laila menjadi lebih sempurna.
"Sayang, ibu tak bisa melarang keinginan kamu untuk pergi ke pulau kelahiran ibu. Tapi, kalau boleh Ibu tidak ingin kamu mengetahui masa lalu ibu. Itu terlalu menyakitkan," ujar Laila.
Laila pun mengerat kan pelukan nya, tak lama dia pun terlelap dalam tidur nya. Dia merasa lelah dan juga membutuhkan istirahat.
*
Kini hari yang di tunggu pun telah tiba, pagi pagi sekali Devano sudah datang untuk menjemput Laila dan Adam. Adam nampak begitu antusias, sedangkan Laila terlihat begitu cemas.
Pukul tujuh pagi mereka sudah tiba di bandara, karena sepuluh menit lagi penerbangan akan segera di lakukan.
Devano tak henti henti nya memperhatikan wajah Laila dan Adam, karena Devano tak melihat raut bahagia di wajah Laila, Devano pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Laila, kenapa kamu terlihat sangat tegang?"
Laila berusaha untuk tersenyum dengan hangat, dia tidak mungkin mengungkapkan kegelisahannya kepada pria itu. Devano memanglah sangat baik, tetapi bukan berarti dia bisa menceritakan kehidupan pribadinya kepada pria itu.
"Ah, tidak apa apa Kak. Aku, eee maksud ku, ini kali pertama nya aku naik pesawat."
Laila sengaja berbohong untuk menutupi kegelisahannya, Devano terlihat percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Pantas saja dari tadi kamu kelihatan sangat gelisah, tenang lah ada aku di samping kamu." Devano berkata sambil menggenggam tangan Laila, Laila pun mengangguk.
Tak lama pesawat yang mereka tumpangi pun mulai mengudara, Adam terlihat senang. Bahkan anak itu terus saja memandang ke arah luar jendela.
Adam begitu antusias saat melihat gumpalan awan awan besar, Adam juga nampak takjub saat melihat keadaan di bawah sana.
Sepanjang perjalanan, Adam tak hentinya berceloteh. Devano pun dengan sabar mendengar kan ocehan anak itu. Sedangkan Laila terus saja memejamkan mata nya, bukan nya tidur, tapi dia sedang berusaha keras untuk berpikir.
"Apakah pergi ke pulau kelahiranku adalah hal yang baik? Apakah yang aku lakukan adalah keputusan yang benar?"
Segala ketakutan muncul begitu saja saat mengingat wajah sang kekasih, apa lagi saat mengingat wajah ke dua orang tua kekasih nya membuat Laila panik.
Dia sangat panik, bagaimana jika tiba tiba saja ke dua orang tua yang dulu pernah mengusir nya berusaha untuk mengambil Adam dari nya? Bagaimana jika mereka berbuat jahat terhadap Adam?
Laila sungguh tidak sanggup lagi untuk berpikir jernih saat ini, dia hanya bisa berharap semoga yang kuasa selalu melindungi diri nya dan juga Adam, semoga yang kuasa menjauhkan Laila dan Adam dari segala bentuk marabahaya.
"Ya Tuhan, tolong lindungi aku dan juga putraku. Jangan jadikan kepulanganku ini menjadi kesedihan, tolong jadikan kepulanganku ini menjadi kebahagiaan."
Hampir dua jam perjalanan yang mereka lewati, kini pesawat yang mereka tumpangi sudah tiba di bandara internasional di kota K.
Mereka bertiga pun langsung turun dari pesawat, Jantung Laila langsung berdegup dengan kencang. Pikiran nya sudah tak menentu, rasa nya dia ingin segera kembali lagi ke ibu kota.
Laila bahkan tanpa sadar berjalan sambil berpegangan erat pada tangan Devano, sedangkan Devano nampak senang akan hal itu.
Sedangkan si tampan Adam, kini berjalan dengan sesekali melompat senang. Akhir nya sebentar lagi dia akan tahu tentang asal usul nya, dan semoga saja sodara angkat Devano memang benar Ayah kandung nya, itu lah do'a Adam hari ini.
"Semoga semuanya bisa terungkap, Adam tak sabar," ujar anak tampan itu dengan lirih.
Walaupun di dalam otaknya banyak pikiran yang berseliweran, tetapi anak kecil itu tetap tersenyum dan bertingkah seperti anak-anak pada umumnya.
Tak sama sekali anak itu membuat ibunya curiga, Adam benar-benar pandai menyimpan keinginan terbesarnya untuk menyelidiki siapa ayahnya. Anak itu benar-benar anak yang jenius.