Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
Pagi di Puncak terasa begitu tenang.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus. Udara dingin membuat hampir semua peserta gathering memilih menikmati secangkir kopi atau teh hangat di teras cottage sebelum memulai aktivitas hari kedua.
Nadira keluar membawa sweater rajut berwarna putih. Rambutnya diikat sederhana, sementara kedua tangannya menggenggam secangkir teh hangat.
Ia menghirup udara dalam-dalam.
"Akhirnya..."
"...nggak ada suara klakson."
Suara tawa kecil terdengar dari samping.
"Kamu ternyata romantis juga."
Nadira menoleh.
Arga baru saja keluar dari cottage sebelah sambil membawa dua bungkus roti.
"Kamu ngagetin."
"Maaf."
Arga berdiri di samping pagar kayu, menikmati pemandangan yang sama.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Keheningan itu terasa nyaman.
Tidak lagi canggung seperti dulu.
---
"Dir."
"Hm?"
"Aku kepikiran semalam."
"Soal apa?"
"Soal jawaban kamu."
Nadira menoleh.
"Aku kan belum jawab apa-apa."
"Nah, itu."
Arga tersenyum kecil.
"Justru karena belum."
Nadira mengernyit.
"Kamu kecewa?"
Arga menggeleng.
"Malah lega."
"Lega?"
"Iya."
"Aku lebih suka kamu butuh waktu daripada menjawab karena terburu-buru."
Kalimat itu membuat Nadira tersenyum tipis.
"Aku memang orangnya lama kalau mengambil keputusan."
"Aku tahu."
"Kamu tahu?"
Arga mengangguk.
"Waktu milih vendor buat proyek kantor aja kamu bandingin sampai lima spreadsheet."
Nadira langsung tertawa.
"Kamu masih ingat?"
"Aku ingat."
"Kamu waktu itu bikin semua orang pusing."
"Itu namanya teliti."
"Itu namanya perfeksionis."
Mereka kembali tertawa bersama.
---
Sarapan pagi diadakan di restoran resort.
Semua peserta duduk bercampur.
Rina sengaja duduk di antara Nadira dan Arga.
"Kalian jangan senang dulu."
Arga mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Kalau aku duduk di tengah..."
"...berarti kalian nggak bisa curi-curi ngobrol."
Nadira terkekeh.
"Memangnya kita sering curi-curi ngobrol?"
Rina mengangguk mantap.
"Sering."
"Terutama pakai tatapan."
Nadira hampir tersedak jus jeruk.
"Rin!"
Pak Dimas yang duduk di seberang hanya tertawa kecil.
"Kasihan mereka."
"Biarkan saja mengalir."
---
Setelah sarapan, panitia mengadakan kegiatan terakhir.
**Outbound Berpasangan.**
Seluruh peserta diminta mengambil undian.
Rina langsung menengadah ke langit.
"Ya Tuhan..."
"Semoga aku jangan sama Pak Dimas."
Pak Dimas langsung tertawa.
"Memangnya kenapa?"
"Nanti saya nggak bisa curang."
Seluruh peserta tertawa.
Satu per satu nama dipanggil.
"Nadira..."
Ia maju mengambil gulungan kertas.
Membukanya perlahan.
Lalu membeku.
"Kenapa?"
tanya Tiara.
Nadira hanya menunjukkan isi kertas itu.
**Nomor 7.**
Panitia tersenyum.
"Nomor tujuh pasangannya..."
"...Arga."
Seluruh peserta langsung bersorak.
"Wuuuu!"
Rina bahkan sampai bertepuk tangan.
"Ini panitia siapa sih?"
Panitia tertawa.
"Murni undian."
Farhan yang mendapat pasangan dengan Tiara hanya mengangguk sambil tersenyum.
Ia benar-benar sudah bisa menerima keadaan.
---
Permainan pertama adalah berjalan di atas balok kayu sambil kedua peserta mengikat salah satu kaki mereka menjadi satu.
"Siap?"
tanya panitia.
Arga menoleh kepada Nadira.
"Pelan aja."
Nadira mengangguk.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga!"
Mereka mulai berjalan.
Langkah pertama langsung berantakan.
"Aduh."
"Nggak kompak."
Arga tertawa.
"Kamu terlalu cepat."
"Kamu terlalu lambat."
"Nah, mulai debat."
Rina langsung berteriak dari pinggir lapangan.
Seluruh peserta tertawa.
Arga mengangkat tangan.
"Tenang."
"Kita ulang."
Ia menatap Nadira.
"Lihat aku."
"Hm?"
"Ikuti langkahku."
Nadira mengangguk.
"Ya."
Kali ini mereka berjalan lebih pelan.
"Kiri."
"Kanan."
"Kiri."
"Kanan."
Sedikit demi sedikit, langkah mereka mulai selaras.
Tanpa sadar, tangan Nadira menggenggam lengan Arga agar tidak kehilangan keseimbangan.
Mereka berhasil mencapai garis akhir.
Tepuk tangan langsung terdengar.
Panitia tersenyum.
"Pasangan tercepat."
Rina langsung berseru.
"Tuh kan!"
"Dibilang juga cocok."
---
Menjelang siang, seluruh kegiatan selesai.
Peserta diberi waktu bebas sebelum kembali ke Jakarta.
Nadira memilih duduk di gazebo yang menghadap lembah.
Tak lama kemudian, Farhan datang membawa dua gelas es kopi.
"Boleh duduk?"
"Boleh."
Farhan menyerahkan satu gelas.
"Terima kasih."
Mereka menikmati suasana beberapa saat.
Lalu Farhan membuka percakapan.
"Dir."
"Hm?"
"Aku mau minta maaf."
"Minta maaf kenapa?"
"Karena sempat berharap terlalu jauh."
Nadira menggeleng.
"Kamu nggak salah."
Farhan tersenyum.
"Tapi sekarang aku sudah nggak berharap."
Nadira menatapnya.
"Kenapa?"
Farhan melihat ke arah lapangan, tempat Arga sedang membantu panitia membereskan perlengkapan.
"Karena setiap kali kamu melihat Arga..."
"...matamu berbeda."
Nadira terdiam.
"Kamu mungkin belum sadar."
"Tapi aku sadar."
Ia tertawa kecil.
"Dan aku nggak mau jadi orang yang memaksa masuk ke hati yang sudah mulai dihuni orang lain."
Mata Nadira perlahan berkaca-kaca.
"Aku benar-benar minta maaf."
Farhan menggeleng.
"Jangan."
"Justru aku senang pernah kenal sama kamu."
Ia berdiri sambil mengulurkan tangan.
"Mulai hari ini..."
"...kita teman?"
Nadira tersenyum hangat lalu menyambut uluran tangan itu.
"Teman."
Dari kejauhan, Arga melihat mereka berjabat tangan.
Sesaat ia merasa cemas.
Namun Farhan justru mengangkat jempol ke arahnya sambil tersenyum.
Arga menghela napas lega.
Ia mengerti arti isyarat itu.
---
Perjalanan pulang menuju Jakarta berlangsung lebih tenang.
Kali ini Nadira kembali duduk di samping Arga.
Namun berbeda dengan perjalanan berangkat.
Tak ada lagi rasa canggung.
Mereka mengobrol tentang banyak hal.
Tentang masa kecil.
Tentang keluarga.
Tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai.
Di tengah perjalanan, Nadira tiba-tiba bertanya pelan.
"Gar."
"Hm?"
"Kalau ternyata nanti jawabanku bukan seperti yang kamu harapkan..."
Arga menoleh.
Lalu tersenyum lembut.
"Aku akan sedih."
Nadira menunduk.
"Tapi..."
Arga melanjutkan.
"...aku tetap bersyukur."
"Kenapa?"
"Karena setidaknya aku pernah berani memperjuangkan orang yang benar-benar aku inginkan."
Ia berhenti sejenak.
"Lagipula..."
"...cinta yang tulus bukan soal memaksa untuk memiliki."
"Tapi soal memberi kesempatan kepada orang yang kita sayang untuk memilih dengan bebas."
Nadira menatap Arga cukup lama.
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun justru itulah yang membuat hatinya semakin yakin.
Pria di sampingnya tidak sedang mengejar kemenangan.
Ia sedang menjaga perasaan seseorang yang ia cintai.
Dan untuk pertama kalinya...
Nadira tidak lagi bertanya apakah Arga adalah orang yang tepat.
Yang ia tanyakan kini hanyalah...
**Kapan ia siap mengucapkan jawabannya.**
**Bersambung ke Episode 27...**