Naura itu capek hidup miskin! Mana dia suka di bully lagi! makannya mending cari Papa gula aja yang bisa bikin hidupnya lebih baik!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik baru
Sial sekali karena malam ini hujan. Yang mana membuat Naura dan Chika harus menginap di kostan lama mereka. Tapi tidak apalah, sekalian mereka bernostalgia dengan masa lalu mereka yang dipenuhi dengan kemiskinan.
Keduanya sama sama berbaring, dengan kaki yang terangkat ke tembok dan mata terpaku pada langit langit. Wajah mereka berdua tertutupi oleh masker. Katanya, meskipun tidur di tempat yang miskin, keduanya harus tetap cantik.
"Gue gak nyangka bakalan ambil jalan kayak gini," Ucap Chika tiba tiba. "Tapi kalau gak gini, gue gak akan kuliah juga. Orangtua gue juga gak akan terbantu."
"Gue juga sama kok. Butuh biaya buat orangtua." Naura tersenyum sendiri. "Sialnya gue suka sama Om Nathan, bikin gue bakalan sakit hati kalau nanti dia ninggalin gue."
"Itu dia, gue juga takut kalau Om Mike mutus kontrak yang berakhir gue terlantar sementara gue masih cinta sama dia."
Naura hanya bisa tersenyum. Tidak tau bagaimana nasib mereka ke depannya nanti. Namun untuk saat ini, keduanya hanya ingin menikmatinya saja. "Daripada bingung, mending shopping online yuk."
Chika langsung terlihat semangat lagi. "Ih bener. Gue belum habisin jatah dari si Om."
Keduanya mengubah posisi menjadi tengkurap dan tertawa bersama sama sampai ribut karena khawatir maskernya akan retak.
Menghabiskan malam di sana. Keduanya memilih mengalihkan pikiran dengan shopping daripada memikirkan sugar daddy mereka yang sibuk dengan dunia mereka sampai tidak bisa dihubungi. "Om lu belum bales?" Tanya Chika.
"Belum. Lagi pada ngomong kali. Udah sih biarin aja," Ucap Naura memilih menyimpan ponselnya. Meskipun dia rindu juga khawatir, tapi Naura mencoba paham kalau sang sugar daddy memilki kepentingan sendiri. Apalagi keluarganya yang datang.
Mereka berdua, akhirnya tidur akibat jari yang kelelahan karena shopping online. Pagi harinya, Naura bangun lebih dulu. Dia mendudukan dirinya dengan bersandar ke tembok mengingat kasur mereka tanpa ada papannya. Naura mengecek ponsel dan berdecak, "kemana sih si Om? Gak ada banget waktu ya buat bales pesan gitu?" Kesal lama lama. Matanya. Fokus pada Chika yang terlelap. Beberapa detik kemudian, alarm ponsel Chika berbunyi. Yang mana hal itu tidak membangunkan Chika sama sekali. "Woy bangun! Tuh alarm bunyi! Lu mau ke kampus atau gimana sih? Pagi amat perasaan."
"Hhhh? Matiin," Ucap Chika dengan mata yang enggak terbuka. Dia malah membalikan tubuhnta membelakangi Naura yang kini mengambil ponsel Chika dan mematikan alarm. Naura sudah tau kode ponsel sang sahabat, jadi mudah baginya mematikan alarm
Saat menekan tombol kembali, Naura malah diarahkan ke room chat antara Chika dan Michael. Dimana terlihat jelas kalau Chika yang memohon mohon, mengutarakan cinta dan yang lainnya.
Membuat penasaran, Naura mencari jawaban dari Michael. "Kasian banget udah ngetik panjang panjang di bales iya doang. Makluk kayak gini nih yang harus musnah dari bumi," Ucap Naura dengan kesal. Setiap perhatian yang dilakukan sahabat nya, diabaikan oleh Michael.
Sepertinya Naura harus mencari cara lain untuk mendapatkan Nathan. Dia tidak bisa dengan cara memperhatikan seperti Chika, bisa bisa dirinya akan ditolak mentah-mentah. "Chika bangun!" Teriak Naura mengguncang tubuh sahabatnya. "Bangun!"
"Berhenti." Chika merasakan mual karena guncangan yang dilakukan Naura. "Apasih, Nau?" Membuka mata dan mengatap sahabatnya itu dengan penuh kekesalan.
"Anterin gue belanja. Gue mau bikiniii, baju seksi dan juga beberapa hal lainnya. Gue bakalan bikin si Om suka sendiri sma gue tanpa harus bertindak apa apa," Ucapnya mengepalkan tangan dan mengangkatnya.
Chika yang melihat itu hanya mengerutkan kening sebelum kembali tidur.
"Bangun ih! Gue mau jalah ayok! Bantuin pilihin!"
"Ya ampun iya!" Chika menatap sang sahabat sebelum pergi ke kamar mandi untuk menyadarkan diri.
Naura tersenyum sendiri di sana. "Dekatin Om sama cara lain. Yakin gue bakalan berhasil."