menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Di tempat lain Mahendra tengah berada di vila pribadinya dan berada di ruang bawah tanah vila tersebut.
Flashback On***
"Tuan, tugas yang anda berikan telah selesai saya tuntaskan, sekarang saya akan membawa dia ke vila puncak." ucap Defano asisten Pribadi Mahendra di seberang telepon.
"Bagus, Segera bawa bajingan itu ke vila puncak, kita akan bertemu di sana." Ucap Mahendra sambil tersenyum sinis dan menutup sambungan telepon.
Lalu ia meninggalkan kamar apartemennya yang sudah berantakan karena ulah Mahendra sendiri, Ia ingin mengerjai Rya yang akan kelelahan saat membersihkan kamarnya nanti.
Flashback off***
"Ampun Tuan saya, saya mohon ampun pada tuan." ucap seseorang yang tersungkur di depan Mahendra yang berjarak kurang lebih 3 meter dari Kursi yang Mahendra duduki
"Apakah sebelumnya kau berpikir akan tibanya hari ini? apa kau pikir kau sedang bermain dengan seorang anak kecil?." Mahendra yang memperlihatkan wajah angkuhnya
Pria yang tersungkur dan terlihat banyak lebam di wajahnya, belum lagi luka yang tertutupi oleh bajunya yang tak terlihat akibat dari hantaman anak buah Mahendra masih terus meminta ampun dan belas kasihan dari Mahendra
Namun Mahendra adalah seorang yang berhati dingin, ia tak segan segan untuk memberi perhitungan kepada orang orang yang menghianatinya
Pria yang tersungkur itu adalah seorang suruhan Indra Wijaya musuh bubuyutan dari Mahendra, Yang membocorkan semua info bisnis gelap Mahendra kepada Indra, dan berpura-pura mesuk ke dalam jejeran anak Buah Mahendra agar bisa memberi info pada Indra tentang apa apa saja yang tengah di kerjakan oleh Mahendra.
Mahendra lalu berjalan mendekati pria yang tersungkur tak berdaya itu.
"Kau pasti menggunakan mulut ini untuk membocorkan semuanya pada Indra wijaya." ucap Mahendra sambil memegang rahang Pria itu.
"Ampun Tuan." kata Pria itu yang berbicara tak jels akibat tangan Mahendra yang tenga berada di rahangnya.
"Defano, kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?." tanya Mahendra.
"Ia Tuan, saya sudah menyediakannya." jawb Defano.
"Kerjakan di depan ku sekarang." perintah Mahendra
Mahendra ingin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri hukuman yang di berikan kepada pria yang telah membocorkan bisnisnya pada Indra sang lawan yang selama ini di benci Mahendra, lawan yang mempunyai kekuatan yang sama dengannya, dan lawan yang sering menghantui setiap pergerakan Mahendra yang selalu terbaca oleh Indra Wijaya
Dan pada akhirnya Mahendra mengetahui dari mana sumber informasi yang di dapatkan oleh Indra tentang bisnis bisnis gelap Mahendra.
Yaitu dari orang di hadapannya itu, yang tengah di siksa dengan cara memasukan besi panas ke dalam mulutnya sehingga rusak lah indera perasanya yang telah perlahan menghilangkan suaranya akibat besi panas yang kini menggorogoti sumber keluarnya suara.
cacat, itulah akhir nasib dari pria yang menjadi tersangka dan tengah di beri hukaman, bukan dari hukum negara, melainkan hukuman dari orang yang telah di rugikan akibat ulahnya yang membocorkan informasi tentang Mahendra.
Mahedra tidak merasa iba sedikit pun, Itulah yang akan di dapatkan orang yang berani bermain main dengannya, Ia tak bisa langsung melawan seorang Indra Wijaya karena kesamaan kekuatan mereka dan apa yang di kerjakan mereka yaitu tentang dunia gelap tak akan mungkin memberi dampak yang baik bagi mereka berdua bila di ketahui oleh publik.
maka dari itu mereka saling berlawanan dengan diam, dan akan memusnahkan siapa siapa saja orang yang berani masuk ke dalam persaingan mereka.
"Kau bisa urus sisanya, aku masih banyak urusan." ucap Mahendra kepada Defano.
"Baik Tuan." ucap Defano sambil membungkuk memberi hormat pada atasannya Mahendra.
Mahendra lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dan menuju ke mobilnya yang telah terparkir rapi di halaman vila, di ikuti dengan pengawalnya yang setia membawa Tuan mereka sampai ke dalam mobil dan memastika kepergian Tuannya dengan nyaman
Mahendra lalu melaju membelah jalanan yang senggang karena keadaan jalanan yang tidak terdapat kemacetan, Ia memutuskan untuk pergi ke kantor dan ia masih malas untuk pulang ke apartemen, karena Mahendra sangat yakin jika Ia pulang sekarang pasti Ia akan mendapatkan keluhan Rya membersihkan kamarnya yang sangat berantakan akibat ulah Mahendra sendiri.
Ia tidak mau membuat telinganya berdengung akibat suara cempreng yang akan di keluarkan Rya saat marah dan kesal, dan ia memilih untuk menikmati melihat lelah di wajah Rya pada malam hari saja.
Entah mengapa membayangkan wajar Rya yang lelah membuat Ia tertawa sendiri.
"Ia pasti sangat kelelahan sekarang." monolognya sambil tersenyum.
***
Sementara di tempat lain Rya tengah asyik tidur tiduran di sofa sambil memainkan remot TV dan mencari siaran yang ia sukai.
"Apa yang di lakukan wanita bodoh itu yaa." ucapnya penasaran sendiri pada apa yang kini di lakuka Jessi.
Ia pun berlalu untuk mengintip kegiatan Jessi yang kini tengah membersihkan kamar Mahendra
Ia lalu membuka sedikit pintu dengan sangat pelan karena tak ingin Jessi mengetahui tentang keberadaanya.
"Apa?? bencana apa itu??" ucap Rya menutup mulutnya yang menganga akibat terkejut melihat pemandangan kapal pecah yang di buat oleh Mahendra
"Mahendra memang berencana mengerjaiku,
untung saja wanita bodoh itu datang tepat waktu." tambahnya lagi sambil tersenyum lega, Ia pun memutuskan menutup kembali pintu kamar Mahendra dan melanjutkan kegiatannya menonton TV.
sementara Jessi yang tengah membersihkan kamar Mahendra kini sangat kelelahan, Ia tidak terbiasa dengan pekerjaan yang tengah ia lakoni sekarang yaitu bersih bersih
"Kalau bukan karena ingin mendapatkan kembali hati Mahendra, aku tidak mungkin melakukan hal bodoh ini." ucapnya sambil terus menggerutu.
"Sungguh sial, aku sudah sangat lelah, berapa lama lagi aku harus membersihkan kamar ini sampai terlihat rapih." tambahnya lagi dengan sangat kesal
"Ayo jessi, demi Mahendra dan kekuasaannya, kau harus sedikit berkorban." ucap jessi memberikan semangat pada dirinya sendiri.
***
Waktu tengah menunjukan sore. dan pada akhirnya kegiatan bersih-bersih jessi telah selesai, lelah dan letih sangat jessi rasakan, belum lagi Rya sempat meminta bantuan Jessi untuk mengepel seluruh lantai apartemen, walaupun Rya juga ikut membantu mengepel, namun karena rasa sangat lelah dari kamar Mahendra membuat kegiatan mengepel Jessi sangat berat, belum lagi Jessi tidak terbiasa dengan hal hal yang mengforsir lebih pada tenaganya sehingga membuat jessi sangat kelelahan
namun lelahnya akan segera terbayarkan dengan kedatangan Mahendra yang sebentar lagi akan pulang ke apartemen, dan jessi sudah siap untuk menyambut sang pujaan hati.
"Tante, Rya pesan makanan dulu yahh, biar nanti kita bisa makan sama sama pas Om mahendra pulang." ucap Rya pada Jessi
"tidak usah sayang, biar Tante saja yang pesan, Rya mau makan apa malam ini."
"Rya mau makan seafood, pesan seefood yah tante." ucap Rya dengan wajah sumringah
"Baiklah, tapi seafoodnya buat kamu saja, soalnya om Mahendra alergi seafood." jelas Jessi.
" Terserah tante saja." jawab Rya
"ohh jadi si tukang perintah alergi seafood." batin Rya.
Jessi pun memesa makanan untuk mereka makan saat makan malam nanti.
Tak lama kemudian kurir pengantar makanan pun tiba.
Lalu Jessi pun menata makanan dengan rapih di meja makan
Lalu pintu Apartemen kembali terbuka dan menampilkan Mahendra yang baru saja pulang.
"Sayang kamu pulang." ucap Jessi senang menghampiri Mahendra
"Jassi, apa yang kau lakukan di sini.?"
****
**SEKIAN UNTUK BAB INI...
JANGAN LUPA LIKENYA😊😊😊**