Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Bawah Tanah
Suara langkah kaki berat bergema di lorong beton bawah tanah, bersaing dengan dengungan mesin ventilasi tua yang hampir mati. Dinda, Bara, dan Mbak Siti bergerak cepat melalui terowongan layanan lama di bawah kawasan Kota Tua, Jakarta. Mereka baru saja lolos dari penyergapan Tim Penjaga Modern di Gedung Arsip Nasional, namun mereka tahu pelarian ini hanya bersifat sementara.
Di saku jaket Dinda, Mata Barong Hitam terasa semakin panas, seolah-olah benda itu marah karena dipindahkan dari tempat asalnya. Bisikan-bisikan di kepala Dinda kini bukan lagi suara samar, melainkan teriakan yang jelas dalam bahasa Kawi kuno.
"Kembalikan... atau hancurkan..."
"Kita tidak bisa terus lari," desis Bara, matanya terpaku pada layar clipboard-nya yang berkedip merah. "Sinyal energi dari Fragmen pertama sudah terdeteksi oleh satelit mereka. Mereka tahu kita membawa Mata Barong. ETA interceptor berikutnya: 8 menit."
Mbak Siti melayang di depan, menerangi jalan dengan cahaya keemasan redup dari tangannya. Wajahnya tampak lebih transparan daripada biasa, menandakan ia telah menggunakan banyak energi untuk membuka brankas dan menutup jejak mereka.
"Kita harus menuju Titik Konvergensi," kata Siti tegas. "Ada tempat di Jakarta di mana garis ley line nusantara bertemu dengan sisa-sisa energi kolonial. Di sana, kita bisa menyembunyikan sinyal fragmen untuk sementara waktu."
"Titik Konvergensi?" tanya Dinda sambil mengatur napasnya yang memburu. Kakinya sakit akibat adrenalin yang mulai surut. "Di mana itu?"
"Di bawah Masjid Istiqlal," jawab Siti datar. "Tepat di bekas benteng Belanda yang dihancurkan. Energi spiritual dari masjid terbesar di Asia Tenggara bertabrakan dengan kutukan tanah bekas pertumpahan darah VOC. Itu adalah blind spot terbaik bagi detektor energi modern mereka."
Bara mengangguk cepat. "Logis. Gangguan elektromagnetik dari struktur baja raksasa masjid akan mengacaukan sensor mereka. Tapi kita harus masuk melalui saluran pembuangan lama di seberang jalan. Itu satu-satunya jalur yang tidak dipantau CCTV."
Mereka berbelok ke sebuah pintu besi berkarat yang tersembunyi di balik tumpukan sampah konstruksi. Bara menggunakan alat pemotong laser mini dari tasnya—barang selundupan teknologi tinggi—untuk membuka kunci elektronik yang masih aktif. Dengan suara klik pelan, pintu terbuka, mengungkapkan tangga besi yang curam menuju kegelapan total.
"Aku benci tempat begini," gumam Dinda, menyalakan senter ponselnya. Cahayanya menembus kegelapan, menyoroti dinding-dinding berlumut dan pipa-pipa air yang bocor. Bau busuk kotoran dan logam berkarat menyengat hidung.
"Tahan nafasmu," peringat Bara. "Udara di sini stagnan sejak tahun 90-an. Ada kemungkinan gas metana terkumpul."
Mereka turun dengan hati-hati. Setiap langkah Dinda terasa berat, bukan hanya karena fisik, tapi karena beban mental. Mata Barong di sakunya terus berdenyut, mengirimkan gelombang emosi asing ke pikirannya: kemarahan, kesedihan, dan rasa dikhianati yang mendalam. Dinda mulai melihat kilasan gambar di matanya: seorang pria berbaju putih bernoda darah, berdiri di atas tumpukan mayat, memegang pedang yang bersinar hitam.
"Dinda!" seru Bara, mengguncang bahunya. "Kamu melamun! Fokus!"
Dinda tersentak kembali ke realitas. Matanya berkaca-kaca. "Aku... aku melihat sesuatu. Seorang prajurit. Dia sedang menangis sambil membunuh."
Siti berhenti melayang sejenak, wajahnya serius. "Itu adalah memori residu dari Fragmen. Mata Barong merekam momen-momen trauma terbesar dalam sejarah pemiliknya. Jangan biarkan dirimu tenggelam di dalamnya, Dinda. Kamu adalah anchor, bukan penyimpan. Jika kamu kehilangan kendali, energimu akan habis, dan Fragmen akan mengambil alih tubuhmu."
Dinda mengangguk lemah, mencoba mengusir bayangan itu dari pikirannya. Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan perhatian pada suara langkah kaki mereka sendiri.
Setelah sepuluh menit menyusuri terowongan sempit, mereka akhirnya mencapai ujung saluran. Di hadapan mereka terdapat kisi-kisi besi besar yang mengarah ke ruang bawah tanah luas. Dari celah-celah kisi, terdengar suara azan maghrib yang bergema jauh dari atas tanah, bercampur dengan gemuruh lalu lintas Jakarta.
"Ini dia," bisik Siti. "Ruang fondasi lama. Masuklah dengan hati-hati. Tanah di sini... sensitif."
Bara membuka kisi-kisi tersebut dengan mudah. Mereka merangkak masuk ke dalam ruangan yang luas dan gelap. Lantainya terbuat dari batu bata tua yang retak-retak. Di tengah ruangan, terdapat sebuah sumur kering yang ditutupi oleh lempengan batu granit besar.
Siti melayang menuju sumur tersebut. "Letakkan Fragmen di atas batu granit itu. Aku akan membuat segel penutup sementara menggunakan energi ley line di sekitar kita."
Dinda mengeluarkan Mata Barong Hitam dari pouch-nya. Saat ia meletakkannya di atas batu granit, tiba-tiba seluruh ruangan bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit. Suara bisikan di kepala Dinda berubah menjadi jeritan keras.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Dinda mundur terhuyung, memegang kepalanya yang terasa seperti akan pecah. Bara segera menangkapnya. "Dinda! Apa yang terjadi?"
"Fragmennya... dia menolak disegel!" teriak Dinda kesakitan. "Dia ingin keluar! Dia ingin mencari sesuatu!"
Siti terlihat panik. Cahaya keemasannya berkedip-kedip tidak stabil. "Ini tidak seharusnya terjadi! Segel penutup biasanya efektif untuk menenangkan energi purba. Kecuali..."
Siti menatap Dinda dengan horor. "Kecuali Fragmen ini sudah memiliki kesadaran yang terlalu kuat. Atau... ada Fragmen lain yang memanggilnya dari jarak dekat."
Tiba-tiba, dari kegelapan sudut ruangan, terdengar suara tawa rendah. Tawa yang dingin, kalkulatif, dan sangat manusiawi.
"Bagus sekali deduksimu, Nyai Sugara," ucap suara itu.
Dari balik pilar beton, sesosok pria muncul mengenakan jas hitam mahal dan kacamata bertingkat. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu ukiran naga yang ujungnya bercahaya merah darah.
Dinda, Bara, dan Siti membeku. Pria itu tersenyum tipis, menatap Mata Barong Hitam yang masih berdenyut liar di atas batu granit.
"Aku sudah lama menunggu pertemuan ini," kata pria itu, suaranya bergema di ruangan bawah tanah yang sunyi. "Namaku Tuan Arus. Dan aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku."
Bara mengangkat clipboard-nya, siap menyerang, tapi Tuan Arus hanya mengangkat satu jari. Gelombang energi merah meledak dari tongkatnya, menghempaskan Bara dan Dinda ke dinding belakang. Hanya Siti yang bertahan, meski cahayanya meredup drastis.
"Kalian pikir kalian bisa menyembunyikan potongan-potongan Naga Mahakam dariku?" ejek Tuan Arus, melangkah mendekati sumur. "Sungai tahu tuannya. Dan malam ini, arus akan berbalik."
Dinda berusaha bangkit, tapi tubuhnya terasa lumpuh. Ia menatap Tuan Arus dengan kebencian. Di dalam sakunya yang kosong, ia masih merasakan gema panas dari Mata Barong. Perang sesungguhnya memang baru saja dimulai, dan musuh mereka ternyata bukan sekadar birokrat penjaga museum, melainkan seseorang yang memahami kekuatan gelap itu jauh lebih baik daripada mereka.
Dan yang paling mengerikan? Tuan Arus tidak sendirian. Dari kegelapan di belakangnya, muncul tiga sosok bayangan lainnya, masing-masing memegang artefak yang bersinar dengan warna berbeda: hijau, biru, dan ungu.
Empat Fragmen. Sudah dikumpulkan.
Hanya tersisa dua. Dan Dinda menyadari dengan ngeri: mereka adalah target berikutnya.