Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak punya hati!
Di bawah siraman cahaya yang begitu benderang, Salsa berdiri tegak bagaikan seorang putri dari negeri dongeng yang baru saja memenangkan takhtanya.
Wajahnya yang luar biasa cantik dipoles dengan riasan sempurna tanpa cela, perona pipi berwarna merah muda lembut berpadu serasi dengan binar penuh kemenangan di matanya.
Setiap kali matanya menyapu barisan tamu undangan yang hadir, para pengusaha papan atas, pejabat, hingga kalangan sosialita, senyumnya mengembang lebar, memancarkan aura kepuasan yang begitu pekat.
Salsa tahu semua orang sedang menatapnya dengan berbagai macam emosi. Ada kekaguman yang tertahan, kecemburuan yang membakar, bahkan desas-desus miring tentang bagaimana ia menggunakan kekuasaan finansial keluarganya untuk mendapatkan pernikahan ini.
Namun, bagi Salsa yang sombong dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, semua tatapan itu adalah pembuktian atas kekuasaannya. Dia tidak peduli dengan bisik-bisik miring itu.
Yang terpenting baginya adalah kenyataan bahwa malam ini, dia telah menang. Dia telah memiliki Arkan sepenuhnya, pria yang selama bertahun-tahun ini menjadi pusat semestanya.
Namun, tepat di sisi kirinya, berdiri sebuah kontras yang teramat nyata dan menyakitkan.
Arkan berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitamnya yang elegan, namun tubuh tegap itu terasa seumpama patung es yang sengaja diletakkan di tengah kehangatan pesta.
Auranya begitu dingin, menguar pekat hingga mampu membekukan siapa saja yang mencoba mendekat. Wajahnya yang tampan tampak datar tanpa ekspresi, seolah-olah ia sedang menghadiri sebuah upacara pemakaman alih-alih pernikahannya sendiri.
Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di pipinya menegang kaku. Setiap kali ada kolega bisnis atau investor yang mendekat untuk menjabat tangan mereka dan memberikan ucapan selamat, Arkan hanya memberikan anggukan formal dan senyum tipis yang sangat terpaksa, senyum palsu yang langsung hilang seperseratus detik setelah sang tamu membalikkan badan.
Salsa, dengan segala kemanjaan dan egonya yang setinggi langit, perlahan mulai merasa tidak tahan dengan keheningan suaminya yang terus berlanjut.
Di tengah riuh rendah suara obrolan tamu dan denting gelas kaca, keheningan di antara mereka berdua justru terasa membekam. Saat jeda pergantian musik instrumen dan perhatian para tamu sedikit teralih ke panggung dansa, Salsa merapatkan tubuhnya pada Arkan.
Lengan mereka bersentuhan, dan Salsa bisa merasakan betapa dingin dan kakunya tubuh pria itu.
"Arkan" Bisik Salsa, suaranya terdengar lembut namun sarat akan penekanan di antara gemuruh suara aula. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap rahang tegas suaminya dari samping dengan tatapan menuntut.
"Aku mohon, hanya untuk hari ini saja. Tersenyum sedikit, lihatlah ke arah kamera, atau setidaknya berpura-puralah kau bahagia berada di sisiku. Ini hari pernikahan kita, hari sekali seumur hidup kita yang seharusnya paling membahagiakan"
Arkan tidak langsung menjawab. Ia bahkan tidak repot-repot menolehkan kepalanya untuk menatap wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu.
Matanya tetap lurus memandang kosong ke arah kerumunan manusia yang sedang tertawa di hadapan mereka.
Satu detik, dua detik. Keheningan itu terasa begitu mencekik bagi Salsa, membuat dadanya mulai berdenyut nyeri sebelum akhirnya bibir tipis Arkan bergerak.
Pria itu mengeluarkan suara yang begitu pelan, namun sanggup menyayat hati Salsa hingga ke bagian terdalam.
"Tersenyum untukmu?" Tanya Arkan dingin, nada suaranya nyaris menyerupai bisikan angin malam yang beku.
"Itu hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud di dunia nyata, Salsa. Jangan pernah menuntut sesuatu yang tidak tertulis di dalam kontrak pernikahan kita"
Kata-kata itu bagaikan tamparan tak kasat mata yang mendarat tepat di wajah cantik Salsa. Senyum kemenangan di bibirnya sempat goyah selama beberapa detik, dan kilat terluka sempat melintasi matanya.
Namun, dengan cepat ia menarik kembali topeng keangkuhannya. Salsa kembali menegakkan kepalanya dengan anggun, memandang para tamu dengan senyum manis yang dipaksakan sekuat tenaga.
Ia menolak memperlihatkan kerapuhannya di depan umum, meskipun di dalam dadanya, ada badai amarah dan rasa sakit yang perlahan-lahan mulai bergolak hebat.
Pikiran Arkan memang sama sekali tidak pernah berada di aula mewah yang bertabur bunga melati ini. Sejak kakinya melangkah mendekati altar tadi siang, benaknya telah terbang jauh, meninggalkan kebisingan pesta pernikahan yang terasa sangat memuakkan ini.
Pikiran Arkan melayang pada sebuah rumah kontrakan kecil yang sunyi di sudut kota yang jauh dari kemewahan. Di sana, di dalam kamar yang dingin, seorang wanita berambut panjang dengan mata teduh yang selalu menenangkannya pasti sedang menangis sendirian dalam keputusasaan.
Nabila....
Arkan bisa membayangkan betapa hancurnya hati Nabila malam ini. Wanita yang teramat dicintainya dengan tulus itu harus menanggung penderitaan dan rasa malu akibat keputusan sepihak yang terpaksa Arkan ambil.
Arkan terpaksa mengkhianati janji-janji suci mereka untuk hidup bersama, hanya karena keserakahan dan kelicikan keluarga Salsa yang sengaja memanfaatkan keterpurukan bisnis ayahnya.
Mereka menawarkan suntikan dana segar dengan syarat Arkan harus menikahi putri tunggal mereka yang egois ini. Bayangan Nabila yang menangis dalam diam, memeluk lututnya di sudut kamar yang sepi, terus berputar di kepala Arkan bak kaset rusak yang menyiksa batinnya.
Rasa bersalah yang teramat sangat berkolaborasi dengan kebencian yang mendalam terhadap wanita di sampingnya saat ini. Salsa, sang dalang egois yang telah merenggut kebahagiaannya.
Pesta pernikahan yang terasa bagai siksaan tanpa akhir itu akhirnya usai juga. Jarum jam di dinding suite kepresidenan hotel mewah itu telah menunjukkan pukul dua dini hari ketika pintu kayu jati yang besar itu akhirnya tertutup rapat, mengunci dunia luar yang bising dan menyisakan kesunyian yang mencekam di antara sepasang pengantin baru itu.
Bagi sebagian besar pasangan, malam pertama seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan, sebuah transisi indah yang penuh dengan kehangatan, bisikan cinta, dan penyatuan janji suci di balik pintu tertutup.
Salsa pun, jauh di dalam lubuk hatinya yang tertutup oleh ego kesombongan dan sifat manjanya, sangat mengharapkan hal yang sama. Dia ingin diakui sebagai seorang wanita.
Dia ingin disentuh dengan penuh kasih sayang oleh pria yang selama bertahun-tahun ini telah memenuhi seluruh isi kepalanya. Dia berharap, setelah semua formalitas pesta selesai, Arkan akan melihatnya sebagai istrinya yang sah.
Salsa melangkah menuju kamar mandi yang luas dengan langkah yang terasa sangat lelah. Gaun pengantinnya yang sangat berat, besar, dan bertabur ribuan kristal itu kini terasa seperti baju besi tebal yang menyiksa fisiknya.
Dengan bantuan pelayan hotel sebelum mereka pergi tadi, ia akhirnya berhasil melepaskan gaun itu dari tubuhnya. Rasanya seolah-olah beban seberat puluhan kilogram baru saja terangkat dari pundaknya, meninggalkan kulit bahu dan dadanya yang sedikit memerah akibat gesekan kain brokat yang terlalu ketat.
Setelah membersihkan riasannya yang tebal di depan wastafel marmer, Salsa memilih sebuah gaun tidur terbaik yang telah ia siapkan jauh-jauh hari.
Gaun malam itu terbuat dari bahan sutra murni berwarna krem lembut. Bahannya sangat tipis, jatuh dengan sangat indah membalut lekuk tubuhnya yang ramping dan seksi, mengekspos leher jenjang serta bahunya yang putih mulus tanpa cela.
Salsa menatap dirinya di cermin besar. Rambut hitamnya yang panjang kini dibiarkan terurai bebas, jatuh bergelombang dengan indah di punggungnya yang terbuka.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengulas senyum tipis di depan cermin untuk menyemangati dirinya sendiri, lalu dengan langkah anggun dan hati yang berdebar kencang, ia melangkah keluar menemui suaminya di area tempat tidur utama.
Arkan sedang berdiri membelakanginya di dekat jendela kaca besar yang langsung menghadap ke pemandangan lampu-lampu kota Jakarta di malam hari. Pria itu sudah melepas jas tuksedonya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan kasual namun tetap memancarkan pesona maskulin yang luar biasa.
Mendengar langkah kaki lembut Salsa yang mendekat di atas karpet tebal, Arkan membalikkan badannya secara perlahan.
Salsa berjalan mendekat, mencoba mengikis jarak fisik di antara mereka. Matanya menatap Arkan dengan binar penuh harap yang tidak lagi ia sembunyikan.
Ia berharap keindahan tubuhnya dan kelembutan sutra yang membalut kulitnya malam ini setidaknya bisa meruntuhkan sedikit saja dinding es yang membekukan hati suaminya, memicu ketertarikan fisik yang biasa dirasakan oleh pria normal.
Namun, alih-alih tatapan kagum, gairah, atau bahkan sekadar kehangatan yang ia dapatkan, mata Arkan justru meredup dingin.
Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah seringai sinis yang dipenuhi dengan rasa muak yang teramat sangat nyata. Ia menatap Salsa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang sangat menyakitkan.
"Kau mengganti gaun megahmu dengan pakaian seperti ini?" Tanya Arkan, suaranya terdengar sangat sarkas dan tajam.
Ia melangkah satu kali ke depan, membuat Salsa menghentikan langkahnya secara refleks karena intimidasi yang ia rasakan.
"Salsa, kau tampak begitu putus asa demi mendapatkan perhatianku. Dengan gaun sutra tipis yang memamerkan tubuhmu ini, kau sama sekali tidak terlihat seperti seorang istri dari keluarga terpandang"
Arkan menjeda kalimatnya sejenak. Ia melangkah lebih dekat lagi, menatap tajam langsung ke dalam manik mata Salsa yang mulai bergetar karena rasa terkejut.
"Kau justru terlihat seperti wanita murahan yang biasa menjual diri di pinggir jalan demi mendapatkan perhatian dan belaian pria. Sangat memuakkan untuk dilihat"
Kata-kata itu meluncur dari bibir Arkan bagaikan belati tajam yang menembus tepat di tengah dada Salsa. Seluruh tubuh Salsa menegang seketika. Rongga dadanya terasa begitu sesak, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam kamar mewah itu mendadak menguap habis dalam sekejap. Kata murahan dan menjual diri berdengung keras di telinganya, meremukkan harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat yang selalu dipuja dan diagung-agungkan oleh semua orang sejak ia kecil.
Rasa sakit dari penghinaan itu begitu hebat hingga fisiknya nyaris goyah, namun Salsa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Ia merasakan matanya mulai memanas, dan setitik air mata yang panas mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya.
Namun, Salsa segera menahan napasnya, menelan bulat-bulat rasa perih yang luar biasa itu kembali ke dalam dadanya yang bergemuruh.
Tidak. Dia tidak akan menangis. Bagi Salsa, menangis di hadapan Arkan adalah hal yang haram hukumnya.
Menangis berarti menunjukkan kelemahan dan kekalahan, dan ia menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria yang sangat ia cintai sekaligus ia benci karena penolakan kasarnya ini. Dia adalah Salsa, wanita angkuh yang tidak akan pernah membiarkan air matanya jatuh sebagai tanda bahwa suaminya telah berhasil menghancurkan mentalnya.
Salsa membasahi bibirnya yang mendadak terasa sangat kering, lalu dengan keberanian yang tersisa, ia membalas tatapan tajam Arkan dengan sorot mata yang tak kalah dingin dan menantang.
"Aku adalah istrimu yang sah secara hukum dan agama, Arkan! Apapun yang ku kenakan di dalam kamar ini, di depan suamiku sendiri, itu adalah hakku sepenuhnya. Dan kau tidak memiliki hak sedikit pun untuk menghinaku serendah itu!"
Arkan hanya mendengus meremehkan, sama sekali tidak tersentuh oleh pembelaan diri Salsa. Tanpa membalas perkataan istrinya, ia berbalik arah dengan acuh menuju meja rias, mengambil kunci mobil dan dompet kulitnya yang tergeletak di sana.
Pria itu kemudian menyambar jaket hitamnya yang tersampir di sandaran kursi kulit.
Melihat tindakan suaminya yang bersiap untuk pergi, kepanikan yang luar biasa mulai merayapi hati Salsa, meruntuhkan sebagian
keangkuhannya.
"Mau ke mana kamu, Arkan?"
"Keluar" Jawab Arkan singkat tanpa sudi menolehkan kepalanya.
"Berada di satu ruangan yang sama bersamamu membuatku muak setengah mati. Aku lebih baik tidur di dalam mobil di jalanan atau pergi ke tempat lain yang jauh, daripada harus bernapas di udara yang sama dengan wanita licik seperti dirimu!"
Arkan melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar kamar suite kepresidenan itu. Namun, sebelum jemari pria itu sempat menyentuh gagang pintu kuningan yang dingin, suara Salsa yang melengking tajam dan penuh ancaman menghentikan gerakannya seketika.
Keangkuhan, sifat manja, dan keserakahan Salsa kembali mengambil alih kendali penuh atas dirinya karena rasa takut akan ditinggalkan di malam pertama mereka.
"Melangkahlah satu kali saja keluar dari pintu itu, Arkan" Ancam Salsa dengan nada suara yang bergetar menahan tangis namun sarat akan racun yang mematikan.
"Dan aku bersumpah, besok pagi-pagi sekali, aku akan memastikan Papa menarik seluruh investasi, saham, dan suntikan dana dari perusahaan ayahmu tanpa sisa. Aku akan memastikan bisnis keluargamu hancur berkeping-keping dalam sekejap hingga tidak ada satu pun bank di negara ini yang mau memberikan pinjaman pada kalian!"
Langkah kaki Arkan terhenti seketika di depan pintu. Tubuhnya menegang kaku, tangannya yang menggantung di udara perlahan mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Perlahan-lahan, ia membalikkan badannya untuk menghadap Salsa kembali.
Di bawah temaram lampu kamar tidur yang redup, wajah tampan Arkan tampak begitu mengerikan. Matanya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak di dalam kepalanya.
Urat-urat di lehernya menonjol sangat jelas, mencerminkan betapa besarnya usaha fisik yang ia lakukan agar tidak melayangkan kekerasan pada wanita di hadapannya saat ini.
Salsa tetap berdiri tegak di tengah ruangan dengan gaun sutra kremnya, menatap suaminya dengan dagu yang terangkat tinggi, memamerkan kekuasaan mutlak yang ia miliki lewat kekayaan keluarganya. Ia tahu ancaman ini sangat kotor dan rendah, namun ia sudah tidak peduli lagi.
Dia manja, dia egois, dan dia hanya ingin Arkan tetap berada di sini, bersamanya malam ini, apa pun cara menjijikkan yang harus ia tempuh.
Arkan berjalan mendekat ke arah Salsa dengan langkah yang terasa sangat lambat, berat, dan mengancam bagaikan predator yang siap menerkam mangsanya.
Jarak di antara mereka kini terkikis habis, hingga Salsa bisa merasakan hembusan napas Arkan yang terasa sangat panas di kulit wajahnya akibat amarah yang membakar dada pria itu.
"Kau mengancamku lagi dengan uang sialanmu itu Salsa?" Desis Arkan, suaranya bergetar hebat karena menahan murka yang teramat sangat.
Tatapan matanya dipenuhi dengan kebencian yang begitu mendalam, kebencian yang kini telah mencapai puncaknya hingga tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk rasa kasihan atau toleransi di masa depan.
Salsa tidak mundur selangkah pun. Ia tetap membalas tatapan mengerikan itu dengan berani, meskipun jauh di dalam dadanya, hatinya menjerit terluka luar biasa melihat seberapa besar kebencian yang terpancar dari mata pria yang dipujanya setengah mati itu.
Arkan menatap wajah cantik di hadapannya dengan rasa jijik yang tidak lagi disembunyikan. Baginya, kecantikan fisik Salsa yang luar biasa itu tidak lebih dari sekadar topeng yang menyembunyikan jiwa yang busuk, egois, dan haus akan pengakuan.
Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, melayangkan kalimat penutup yang begitu tajam dan dingin, meruntuhkan seluruh sisa pertahanan di dalam dada Salsa untuk selamanya.
"Kau memang bukan manusia Salsa! Sama sekali ak punya hati!"
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..