Nindi seorang gadis belia yang masih duduk kelas akhir bangku menengah atas. terpaksa harus menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husnel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kagum
Suasana pantai membuat mereka melupakan masalah yang sedang membebani pikiran.
Ardian merangkul bahu istrinya dan membawa duduk di tepi pantai.
" Sayang, menurut mu gimana usul papi, kalau memang tidak sanggup kita tolak". kata Ardian memberikan saran.
" Kak, masalah nya bukan itu kak, aku kan tidak pernah bisnis besar seperti itu, kami hanya pedagang kecil, aku takut nanti kenapa kenapa gitu". pernyataan Nindi meragukan.
"Oh, kalau masalah nya cuman itu, nanti kakak bantu, kakak tidak mungkin lepas tangan sayang, masak kakak membiarkan istri kecil kakak ini susah". kata Ardian sambil mencubit hidung istrinya.
" sakit kak, rengek Nindi membalas mencubit pinggang suami nya.
Ardian pun membalas menggelitik istrinya, yah terjadilah kejar kejaran lagi.
Setelah sore mereka pun mengantar Rosi pulang ke rumah tantenya. Dan Ardian langsung mengantar Soni ke bandara. untuk kembali pulang.
Malamnya baru Ardian dan Nindi sampai di rumah. Mereka langsung ke kamar untuk membersihkan diri yang sudah seharian diluar.
" Sayang mandi berdua yuk..." bujuk ardian dan menggendong istrinya. walaupun Nindi meronta untuk di lepaskan namun tidak bisa melepaskan diri, dari gendongan Ardian yang kuat. Ardian memasukan istrinya ke Bathtub.
Nindi yang sudah basah akhirnya pasrah, ya ritual pembuatan cucu buat mami papi mereka pun terjadi, namun tidak berlangsung lama, karena mereka sudah kelelahan karena main di pantai tadi.
Setelah selesai, mereka pun ketiduran karena kelelahan. dan mami papi mereka pun tidak berani mengganggu, karena perselisihan pagi tadi.
Esoknya,Nindi bangun pagi, setelah mandi dan sholat Subuh dia langsung ke dapur bantu pembantu nya. Karena suara heboh di dapur membuat Mami Rasti keluar kamar.
" Hai, kalian cerita apa sih, heboh banget tawanya" tanya mami tiba-tiba yang membuat semua yang di dapur kaget.
"Eh mami udah bangun, maaf telah mengganggu istirahat mami". kata Nindi rasa bersalah.
" Bukan menganggu, tapi mami penasaran aja, kalian itu cerita apa sampai heboh gitu".
" Ini nya, non Nindi cerita lucu". jawab Bik Ina membantu menjawab.
Mendengar cerita Bik Ina Mami Rasti pun tertawa sambil memegang perut.
" wah.. heboh sekali di dapur.. ". suara Papi tiba-tiba.
" ini pi, cerita Soni dengan Rosi. Seperti nya mereka cocok, kita jodohin aja gimana pi".
" boleh juga tuh, Soni tu kan nggak punya pacar, sibuk mengurus anakmu yang manja itu".
" Sekarang kan nggak manja lagi pi". potong Ardian membela diri.
" Ya lumayan, semua itu karena bantuan mantuku, makasih ya sayang sudah mau merobah sifat anak mami yang manja ini". jawab Mami Rasti, memeluk Nindi.
Nindi hanya tersenyum malu, diperlakukan seperti itu.. sarapan sudah di siapkan diatas meja, dan mereka langsung duduk mengelilingi meja makan.
" Enak ya mi, kalau mantu kita tinggal disini, papi bisa tambah gemuk nih, jika di suguhi sarapan yang berbeda terus". Kata Pak Nugraha memuji masakan mantunya.
" bukan saya saja yang masak pi, semua juga bantuan bibik". jawab Nindi sungkan.
" Iya, ini bubur apa namanya sayang, mami baru coba". tanya mami penasaran.
" Ini namanya bubur kampiun mi, dulu kami jualan ini di rumah, semasa Ibuk masih ada".
" Wow... jaualan apa saja dulu ibumu sayang".
tanya mami makin penasaran.
" Dulu kami buka kedai di samping rumah, macam macam menu sarapan, lontong sayur, gado-gado, bubur kampiun, tapi boleh juga belinya tidak dicampur, misalnya kacang hijau saja dibelinya pakai roti tawar".cerita Nindi panjang lebar mengenang masa orang tuanya masih hidup. Kedua mertua nya semakin kagum dengan mantunya. tidak sia sia mereka menjodohkan anaknya dengan gadis yang bertelenta, mandiri dan cantik pula. pikir mereka. Ardian hanya senyum senyum saja, karena ia sudah biasa mendapatkan menu seperti itu, selama di Riau dulu. makanya Ardian jatuh cinta dengan istrinya. yang berbeda dengan ceweknya yang dulu.