Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Seminggu berlalu sejak bertemunya dengan keluarga Angga, kini keduanya menjadi lebih dekat. Rara sudah mulai bisa menerima kehadiran laki-laki tampan itu sepenuhnya, luka dari masa lalunyapun sudah terobati oleh Dokter muda itu.
Siang ini seperti biasa Rara menunggu kedatangan Angga untuk makan siang bersama, sekaligus Rara ingin menyampaikan kesediaannya memulai hubungan bersama laki-laki yang sudah satu tahun itu menemani kesendirian dan kesedihannya, namun sudah setengah jam menunggu, sosok laki-laki tinggi itu tidak juga menampakan diri sedangkan makanan sudah selesai ia buat.
Akhirnya Rara memutuskan untuk mengantarkan makanan itu kerumah sakit, khawatir sang penghuni hatinya itu terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga melupakan mengisi perutnya sendiri. Karena sudah beberapa kali Angga mengajak Rara ketempat kerjanya membuat Rara kini tidak kesulitan untuk menemukan dimana ruang kerja Angga berada.
Setelah sampai didepan pintu ruangan Angga yang sedikit termuka Rara berniat untuk mengetuk pintu tersebut, namun dengan cepat ia urungkan saat melihat dua orang berbeda kelamin tengah menikmati makan siang didalam sana dengan ditemani canda tawa yang mampu membuat dada Rara bagai tertimpa beton, sesak.
Menghela napas panjang untuk mencegar air matanya terjatuh. Rara sadar ia tidak berhak marah, toh siapa dia, kekasih saja bukan. Ia tidak memiliki hak untuk cemburu bukan?
Lalu apa hak Rara atas Angga?
“Loh, Ra kok disini?” kaget Angga saat mendapati keberadaan Rara berada di depan pintu ruangannya. Rara hanya menampilkan senyum tipisnya. Lalu beralih menatap perempuan cantik yang berada di samping Angga yang juga mengenakan jas Dokter.
Wanita itu Cantik, dewasa, anggun, tinggi dan juga memiliki tubuh yang ideal ditambah dengan pekerjaannya yang sebagai Dokter, sudah bisa dipastikan bahwa wanita berpendidikan tinggi dan terpelajar sangat pas bersanding dengan Angga, tidak seperti dirinya yang jauh dari kata sempurna, bahkan tinggi badannya hanya sebatas pundak Angga, itupun karena bantuan heels yang dikenakannya. Rara meringis sendiri membayangkannya.
“Gak apa-apa kok, tadi aku mampir aja, abis nganter Sani berobat.” Bohong Rara menyembunyikan Luchbox di belangan punggungnya. Angga menggangguk.
“Dia siapa, Ga?” Tanya wanita disamping Angga.
“Oh iya, kenilin, Resa ini Rara,” ucap Angga.
“Adik kamu? Tanya wanita bernama Resa itu setelah saling menjabat tangan dengan Rara. Angga hanya membalas dengan senyum tipisnya membuat Rara sedikit kecewa.
“Kak Angga, kalau begitu aku permisi ya, Sani mungkin udah selesai.” Pamit Rara berlalu meninggalkan kedua orang itu tanpa menunggu persetujuan keduanya. Kembali menyembunyikan Luchbox yang dibawanya, Rara melangkah dengan rasa kecewa, ia menyesal telah datang ketempat ini dan melihat laki-laki yang berhasil mencuri hatinya tengah berduaan bersama wanita lain, wanita yang lebih segalanya dibandingkan Rara.
Angga menatap kepergian Rara, entahlah ia merasa begitu menyesal pada perempuan yang dicintainya itu. Sekilas tadi Angga melihat kekecewaan di mata bulat milik perempuan tersayangnya itu. Saat hendak menyusul Rara, namun tangan Angga ditahan oleh perempuan disampingnya, menatap bingung pada laki-laki tampan itu yang jujur telah lama ia sukai.
“Kamu mau kemana?” tanya Resa.
“Nyusulin Rara.” Jawab Angga seadanya.
“Ngapain Adik kamu disusul? Nanti juga kan ketemu dirumah,” ucap Resa.
“Dia bukan Adikku, tapi calon istri aku.” Jawab Angga yang membuat wanita bernama Resa itu terkekeh geli.
“Becanda kamu gak lucu tahu, Ga. Masa adik sendiri mau dinikahin.” Resa menggeleng-ngelengkan kepalanya masih belum menghentikan tawanya yang terlihat anggun. Angga menaikan sebelah alisnya menatap Resa.
“Dia emang benar calon istri aku kok.” Jawab Angga dengan wajah serius. Tawa Resa terhenti saat mendapati keseriusan dari ucapan laki-laki yang telah lama ditaksirnya itu.
“Sungguh?” Tanya Resa memastikan. Angga mengangguk yakin.
“Lalu, Aku? Kamu … Angga, serius dia calon istri kamu? Terus hubungan kita?” Tanya Resa bertubi-tubi matanya sudah berkaca-kaca. Angga menaikan sebelah alisnya bingung.
“Maksudnya? Hubungan kita? Hubungan apa? Kita gak pernah memiliki itu. Aku selama ini hanya menganggap kamu sebagai teman. Gak lebih,” ucap Angga mengarti dengan apa yang dimaksud wanita di hadapannya itu.
“Tapi aku sudah sejak lama suka sama kamu, Ga! Selama ini kamu juga nyamannyaman aja dekat aku, gak pernah menolak kehadiran aku.” Tangis Resa pecah saat itu juga. Angga melepaskan genggaman Resa di tangannya dengan pelan, menatap wanita di hadapannya itu dengan serius.
“Tapi maaf, Sa aku gak suka sama kamu. Selama ini aku hanya menganggap kamu teman gak lebih. Tolong jangan salah artikan sikap ku terhadap kamu selama ini. Sekali lagi maaf, tapi aku harus pergi, aku gak mau calon istri aku salah paham dengan kita. Satu jam lagi aku kembali untuk melanjutkan pekerjaan, biar Dokter Padli yang menggantikanku satu jam kedepan.” Jelas Angga pergi meninggalkan Resa yang masih menangis ditempatnya.
Angga berlari mengejar Rara yang sudah tidak terlihat lagi, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi Rara di Cafenya, karena ia yakin perempuan tercintanya itu pasti kembali ke Café.
Sesampainya di sana Angga menatap sekeliling, namun tidak mendapati Rara, hingga ia teringat Rara tadi sempat mengatakan bahwa dia mampir karena mengantar Sani berobat. Namun kini Angga mendapati Sani, salah satu karyawan Rara tengah sibuk melayani pengunjung, sama sekali tidak melihat wajah pucat pada Gadis itu, justru Sani terlihat amat sehat. Dan dalam sekejap Angga dapat menebak bahwa Rara berbohong.
“Tan, Rara ada gak?” tanya Angga pada Tania yang kini duduk di meja kasir.
“Ada di atas. Bukannya barusan baru pada ketumu ya? Ckck baru juga ditinggal beberapa menit udah kangen lagi aja.” Ledek Tania terkekeh geli. Angga tidak menanggapi dan langsung meminta izin untuk keatas menghampiri Rara.
Tok tok tok
“Masuk!”
Setelah mendapat izin dari sang pemilik ruangan Angga masuk dan mendapati Rara yang tengah fokus pada laptopnya. Angga melihat Lunchbox tergeletak di atas meja kerja Rara, membuat nya semakin bersalah. Bisa ia tebak Rara datang ketempatnya pasti mengantarkan makan siangnya karena ia tak datang seperti hari-hari biasanya.
“Ra?” Rara mendongak menatap Angga lalu tersenyum tipis ketara sekali dipaksakan.
“Oh, Kak Angga. Ada apa Kak?” Tanya Rara sebiasa mungkin. Lalu kembali memfokuskan pandangannya pada laptop di hadapannya mengabaikan Angga yang masih berdiri tak jauh darinya.
“Maaf ya, Kak aku lagi sedikit sibuk meriksa pembukuan.” Jawab Rara tanpa menoleh pada laki-laki tampan itu.
“Kamu marah ya?” Tanya Angga.
“Maaf, Ra tadi itu Resa teman kerja aku, gak lebih.” Rara mengalihkan tatapannya pada Angga, tersenyum amat tipis.
“Aku gak marah kok. Karena aku sadar, aku bukan siapa-siapa Kak Angga. Dekat dengan siapa pun itu terserah Kak Angga. Karena aku, untuk marah dan cemburu pun tidak
berhak. Salahku memang menggantungkan kamu terlalu lama.” Angga terdiam mendengar ucapan perempuan cantik itu, dan bisa ia lihat, ada luka dan kecewa di mata bulatnya itu.
“Ra, ak …”
“Jika kamu lelah menunggu, tolong ucapkan padaku agar aku berhenti berharap pada keseriusanmu. Maaf sudah membawamu pada penantian panjang ini. kamu tahu sendiri, bukan tanpa alasan aku melakukan ini, aku hanya ingin luka ini mengering sebelum penghuni baru menempati. Jangan paksakan jika memang tidak mampu untuk bertahan.”
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤