Salsabylla Dela Vinci, wanita keturunan Indo-Prancis, memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada Ghani Alghibrani, lelaki bijak yang hidup dalam kesederhanaan.
Lelaki itu datang di saat Bylla sedang rapuh. Sikapnya yang tulus berhasil meluluhkan hati Bylla.
Namun, belum sempat mereka menjalin cinta, keadaan memaksa Ghani untuk pergi. Ia meninggalkan Bylla demi merintis karier.
Seiring waktu yang terus berjalan, Ghani berhasil menjadi bintang, banyak yang mengagumi dan bahkan mengidolakan.
Jurang terjal mulai terbentang di antara mereka, kedudukan yang setara malah membuat keduanya berada di titik terjauh. Ketika tak ada lagi jalan untuk bersama, sedangkan hati masih menyimpan rasa yang senada, keduanya hanya menggantungkan asa pada takdir dan kuasa Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Untuk Ghani
"Bylla, dengarkan Tante!" kata Suci sambil menggenggam kedua bahu Bylla.
"Tidak ada rahasia apa-apa dalam keluarga kamu. Kamu adalah anak kandung orang tuamu, mereka hanya sibuk sayang, kamu tahu sendiri kan, orang tua kamu adalah pembisnis besar," sambung Suci sambil menatap Bylla.
"Tapi Tante."
"Sebentar lagi kamu menikah, kamu akan menempuh saat-saat bahagia, jadi jangan bersedih lagi, ya. Percayalah, orang tuamu, itu sangat menyayangimu. Percayalah sama Tante!" kata Suci sambil tersenyum.
"Begitukah Tante?"
"Iya."
Bylla tidak menjawab, namun ia langsung memeluk Suci dengan erat, seolah ia sedang melepaskan kerinduan pada sosok sang ibu. Suci membalas pelukan Bylla, dalam hati ia sangat kasihan dengan gadis itu. Namun mau bagaimana lagi, ini adalah keinginan Mika. Mereka tidak mau memaksa, karena saat ini kondisi Mika sedang tidak baik-baik saja.
"Saat aku sudah menikah nanti, aku akan bertanya sama Mama dan Papa. Kenapa mereka bersikap seperti ini, meskipun aku selalu percaya dengan Om Andra, dan juga Tante Suci. Tapi saat ini, aku benar-benar ragu dengan ucapan mereka." Batin Bylla dalam hatinya.
"Bylla!" panggil Andra yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Eh, Om Andra," jawab Bylla sambil tersenyum, ia melepaskan pelukannya, dan menatap pamannya.
"Minum, Mas?" tanya Suci.
"Iya, tiba-tiba aku merasa haus." Jawab Andra.
"Om, kapan-kapan kalau ke sini lagi, Keyvand diajak dong. Aku sudah lama tidak bertemu dengan dia," ucap Bylla sambil menatap Andra.
"Akhir-akhir ini Keyvand sedang sibuk, nanti kalau sudah senggang pasti dia ke sini." Jawab Andra.
"Saat aku menikah nanti, ajak dia ya, Om!" kata Bylla.
"Iya."
"Pasti Byl, kakaknya menikah, mana mungkin dia tidak datang." Sahut Suci.
Hubungan Bylla dan Keyvand memang cukup dekat, bahkan lebih dekat daripada hubungannya dengan Mika. Keyvand adalah lelaki humoris yang mudah akrab dengan siapa saja, banyak orang yang menyukainya. Kendati demikian, ia juga tidak terlalu dekat dengan Mika, menurutnya, Mika adalah gadis yang manja dan sedikit sombong, jauh berbeda dengan Bylla, dan hal ini membuat Keyvand merasa kurang nyaman.
"Kalau begitu, aku ke kamar dulu ya Om, Tante," pamit Bylla.
"Iya." Jawab Andra dan Suci bersamaan.
"Mas, kamu bicara apa sama Bylla? Dia mendesakku untuk mengatakan yang sebenarnya, kamu jangan aneh-aneh!" bisik Suci sambil menatap suaminya.
"Aku sedikit keceplosan Ma, kamu tahu kan, aku itu sebenarnya kasihan sama Bylla." Jawab Andra.
"Iya, aku tahu. Tapi kamu juga harus menghargai Mika dong, Mas. Ini adalah permintaan Mika, mana sekarang kondisinya sangat buruk lagi, kamu harus bisa menjaga rahasia, Mas," kata Suci masih dengan suara pelan.
"Iya, aku tidak akan membahas hal itu lagi." Jawab Andra.
Sementara itu, Bylla masuk ke dalam kamarnya. Ia mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang.
"Kenapa tidak ada yang mau jujur padaku, ahh semua menyebalkan!" gerutu Bylla sambil memeluk guling.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering nyaring. Bylla bergegas meraihnya, dan senyuman di bibirnya langsung mengembang, saat menatap nama dalam layar ponselnya.
"Halo, Rey!" sapa Bylla sambil bangkit dari tidurnya.
"Hallo sayang."
"Kamu sudah sampai?" tanya Bylla.
"Sudah, ini baru saja masuk kamar. Kamar yang sebentar lagi akan kita huni berdua," jawab Reymond sambil tersenyum manis, seraya meraih bantal, dan menumpukan dagunya di sana.
"Masih lama Rey, masih satu bulan ya," sahut Bylla sambil menatap wajah sang kekasih yang memenuhi layar ponselnya.
"Kamu diajak besok tidak mau."
"Jangan gila ya! Ini pernikahan, bukan sekedar membeli kopi," kata Bylla sambil tertawa. Dan Reymond juga ikut tertawa.
Cukup lama mereka berbincang, saling bercanda sampai hampir setengah jam.
"Sayang, tidurlah! Ini sudah larut," ucap Reymond.
"Kamu juga tidur, ya."
"Iya."
"Ya sudah, aku matikan ya," ucap Bylla.
"Iya."
"Selamat malam Rey, selamat tidur, dan semoga bermimpi indah," ucap Bylla.
"Selamat tidur juga untukmu, sayang. I love you."
"I love you too, sayang."
Sambungan telepon berakhir, namun Bylla masih menatap layar ponselnya sambil terus tersenyum. Ia mengusap gambar dirinya dan Reymond yang dijadikan wallpaper di ponselnya.
"Bersamamu aku selalu tersenyum, Rey. Sekian lama kita menjalin hubungan, sedetikpun aku tak pernah merasa bosan." Ucap Bylla dengan pelan.
***
Waktu begitu cepat bergulir, tiga minggu sudah berlalu sejak orang tua Reymond bertandang ke rumah Bylla. Persiapan pernikahan berjalan dengan lancar, foto prewedding, fitting baju pengantin, semuanya sudah selesai. Bahkan ratusan undangan sudah disebar, hanya tinggal beberapa yang masih belum dikirimkan.
Resepsi pertama dilangsungkan di rumah Bylla, sekaligus dengan ijab qabulnya. Tiga hari kemudian, Bylla akan diboyong ke rumah Reymond, mengulang resepsinya di sana, sekaligus pindah ke rumahnya. Sebagai seorang istri, dia ikut ke rumah suami.
Saat ini, Bylla sedang duduk sendiri di sofa kamarnya, menatap lembaran undangan yang akan ia berikan kepada Ghani. Sekilas matanya menatap foto dirinya dan Reymond yang terpajang di lembaran itu, lagi-lagi ia tersenyum, kehadiran Reymond benar-benar kebahagian dalam hidupnya.
"Tinggal satu hal lagi yang membuat kebahagiaan ini menjadi sempurna, semoga di hari pernikahanku nanti, Mama dan Papa benar-benar pulang, aku sudah sangat merindukan mereka," ucap Bylla sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar, ada satu pesan chat yang baru saja Reymond kirimkan padanya.
Sayang, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke rumah Ghani. Ada klien yang tiba-tiba mengajak bertemu untuk membahas kerjasama, maaf ya sayang.
Sebaris kalimat yang Reymond kirimkan padanya. Bylla menghela nafas panjang, hampir satu jam ia menunggu, ternyata Reymond tidak bisa mengantarnya.
Baiklah, tidak apa-apa. Semoga pembahasannya berjalan dengan lancar. Kalau begitu, aku ke rumah Ghani sekarang ya, keburu malam.
Iya, hati-hati ya sayang.
Iya.
Setelah selesai mengirimkan pesan chat untuk kekasihnya, Bylla beranjak dari duduknya. Ia menyambar tas selempangnya, dan keluar dari kamarnya.
Bylla menuruni tangga, dan menemui neneknya di ruang tengah.
"Oma, aku akan keluar sebentar!" pamit Bylla sambil menyalami tangan neneknya.
"Ke mana?"
"Mengantarkan undangan untuk teman, hanya sebentar Oma." Jawab Bylla.
"Hati-hati ya!"
"Iya, Oma."
Lalu Bylla menyambar kunci mobilnya, dan bergegas keluar dari rumahnya. Hari sudah menjelang senja, matahari sudah sangat condong ke arah barat.
Bylla masuk ke dalam mobilnya, dan mulai melajukannya.
Bylla menikmati perjalanannya, sambil mendengarkan musik melayu yang mengalun merdu. Sesekali ia menirukan suara sang vocalis yang melantunkan liriknya dengan penuh penghayatan.
"Ku tuang rasa hanya untukmu
Di dalam hati tiada meragu
Padamu kasih ku titip rindu
Jagalah kasih sepanjang harimu
Seiring waktu detik berlalu
Aku kau sayang dia kau madu
Salah menduga baik hatimu
Ternyata dusta dalam dirimu." Bylla ikut menirukan suara Andra Respati yang sedang melantunkan lagunya yang berjudul Karma Cinta.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya Bylla tiba di gang kecil, di dekat rumah Ghani, kala itu senja sudah menyapa.
Bylla menghentikan mobilnya tepat di depan teras, lalu ia membuka pintunya, dan melangkah turun.
"Assalamu'alaikum," ucap Bylla sambil mengetuk pintu. Ketika itu pintu rumah hanya terbuka sedikit, dan suana di dalam juga terlihat sepi, entah kemana mereka.
"Assalamu'alaikum." Ucap Bylla untuk yang kedua kalinya.
Untuk beberapa menit lamanya, masih tidak ada jawaban dari dalam. Entah kemana Ghani, Arron, dan juga anak-anak. Bylla memutuskan untuk duduk di teras rumah, ia menunggu di sana, mungkin saja Ghani atau Arron belum pulang, pikirnya kala itu.
Namun tak lama kemudian, Bylla dikejutkan oleh suara wanita paruh baya yang meneriakinya dari kejauhan.
"Mau ngapain, Neng?" teriak wanita itu.
"Saya ingin menemui Ghani Bu, pemilik rumah ini," jawab Bylla sambil tersenyum.
"Lho memangnya kamu tidak tahu?" tanya wanita itu sambil melangkah lebih dekat.
"Tidak tahu apa ya Bu?"
"Pemilik rumah ini sudah pindah, rumahnya dijual beberapa hari yang lalu, saudara saya yang membelinya, Neng." Jawab wanita itu.
"Benarkah?"
"Iya."
Bylla tertegun di tempatnya, pindah ke mana Ghani? Kenapa mereka pergi?
Entah apa hubungannya, namun perlahan Bylla merasa ada yang hilang dari dalam hatinya. Membayangkan jika kedepannya ia tidak bisa bertemu lagi dengan Ghani, tiba-tiba ada rasa rindu yang menyeruak begitu saja, rindu akan kata-kata bijaknya, rindu akan nasihat-nasihatnya. Hanya sekadar teman, tapi kenapa Bylla merasa kehilangan. Ada apa dengan dirinya?
Bersambung...
karya mu thor lain dari yg lain.keren n bgus😘😘😘😘