Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaget
Aku bingung sekali sama perlakuan kedua orang tuaku saat ini. Sebenarnya, apa yang mereka rencanakan dengan memanggil aku pulang lebih awal dari kampus. Lalu setelah aku sampai, malah minta aku untuk mandi dan dandan cantik.
"Katakan dulu sama Nia, jika tidak mau katakan. Maka Nia gak akan mandi dan dandan," kataku sambil berjalan meninggalkan mama dan papa lalu duduk di sofa ruang tamu.
Mama dan papa saling pandang, lalu menghampiri aku yang duduk di sofa tampa mengikuti apa yang mama dan papa katakan tadi.
"Oke, mama katakan sama kamu. Kita sebentar lagi akan kedatangan tamu. Mama harap kamu gak bikin mama kecewa dengan sifat kamu yang manja ini," kata mama sambil duduk disamping aku.
"Tamu?" kata ku sambil melihat mama dan papa.
"Iya tamu, keluarga terpandang yang menjadi teman papa ingin bertamu kerumah kita. Anaknya sangat tampan lho Nia," kata papaku sambil senyum.
"Ya ampun, sudah ku duga ini pasti soal perjodohan yang mama bicarakan kemaren bukan?" kataku sambil melihat papa.
"Nia, kami hanya ingin mengenalkan kamu dengan anak dari keluarga terpandang. Kebetulan papa punya anak perempuan dan dia punya anak laki-laki. Jadi kami hanya ingin mendekatkan kalian saja kok, hitung-hitung kalo ada jodoh kalian pasti akan bersama," kata papa.
Aku melihat papa yang tersenyum manis itu. Kemudian, aku alihkan pandangan kearah mama yang juga tersenyum. Apa mau aku kata, mereka memang tidak memaksa aku untuk menerima perjodohan. Tapi, secara tidak langsung mereka sangat berharap aku mau dijodohkan dengan anak teman papa itu.
"Baiklah, Nia keatas dulu."
Aku bangun dari dudukku, terlihat mama dan papa senyum melihat aku bersedia untuk mendegarkan apa yang papa katakan. Aku berjalan dengan malasnya, menaiki anak tangga yang rasanua terlalu banyak. Biasanya juga sedikit anak tangga yang akan mengantarkan aku kekamarku. Tapi karna aku malas, anak tangga berubah jadi banyak.
....
Ntah berapa lama aku dikamar, aku pun memutuskan untuk langsung saja turun dari kamarku. Dengan dandan seadanya dan baju rumahan biasa, aku menuruni anak tangga.
Saat aku sampai diruang tamu, aku lihat sudah ada tamu yang bicara sama mama dan papaku. Sepasang suami istri yang duduk berhadapan dengan mama dan papa dan seorang lelaki yang duduk di sofa membelakangi aku.
Mama bangun saat melihat aku, sedangkan sepasang suami istri itu hanya senyum saat melihat aku.
"Kenalkan jeng Ratih, ini anak saya namanya Rania."
Sontak saja, lelaki yang membelakangi aku itu berdiri dan langsung melihat aku. Betapa kagetnya saat lelaki itu berdiri dan melihat kearah aku.
"Pak Rama ...." kataku sangat kaget.
"Kamu ...." kata pak Rama tak kalah kagetnya.
Sepasang suami istri itu pun bangun dari duduknya. Begitu juga dengan papaku, ia juga bangun dan menghampiri aku.
"Kalian sudah saling kenal ya?" kata mama dari pak Rama.
"Iya," kata pak Rama singkat.
"Wah, bagus dong Rama. Kalo kalian saling kenalkan tidak susah-susah lagi kami menggenalkan kalian. Langsung saja kerencana yang lainnya," kata papa pak Rama.
"Jangan buru-buru Sutama, kita masih punya banyak waktu. Anakku belum lulus kuliah lagi saat ini," kata papaku.
"Yah, anakmu itu kuliah lho Johan bukan sekolah. Kalo sekolah ia, kamu harus cemaskan. Tapi kalau kuliah, tidak ada hal yang perlu dicemaskan," kata Sutama Williom.
"Ayo duduk, kenapa kalian pada berdiri semuanya sih," kata mamaku.
Semuanya pun duduk ketempat masing-masing. Tinggal aku dan pak Rama yang masih saja berdiri diposisi kami yang tadi. Aku melihat pak Rama, ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sama halnya dengan aku, aku tidak percaya kalau orang yang diniatkan akan dijodohkan dengan aku itu adalah orang yang sangat aku sukai.
"Lho, kalian kok gak ikut duduk. Apa segitu kagetnya saat melihat satu sama lain?" kata mamaku.
"Lestari, kamu kayak gak pernah muda aja deh. Biarkan anak muda itu disana, dan kita bicarakan masalah pertunagan mereka saja," kata Ratih.
Pak Rama senyum terpaksa melihat mamanya dan mamaku. Lalu ia duduk di sofanya yang tadi. Sedangkan aku, masih merasa bingun. Namun aku melangkahkan kaki ku untuk duduk di samping mama dan papaku.
"Kenapa kamu terlihat sangat kaget anak manis?" kata mama pak Rama padaku.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif