Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif
Kalau ada yang bilang hari-hari jadi terlihat jauh lebih indah karena jatuh cinta, Tama setuju. Kini ia selalu bersemangat setiap bangun pagi. Bayangan gadis cantik yang akan ia jumpai hari ini membuat Tama mandi dan sarapan sambil bernyanyi kecil.
Kamar kos Tama berada di lantai dua. Selisih dua kamar adalah kamar kakaknya, Arka. Kamar di lantai dua lebih luas dibanding dengan kamar kos yang ada di lantai bawah, ada kamar mandi di dalam, berbeda fasilitas di lantai bawah. Namun dapur ada di lantai bawah, juga sebuah ruangan di tengah-tengah bangunan yang dijadikan tempat ngumpul dan nonton tivi bersama.
Arka menyembulkan kepalanya ke kamar adiknya, dan melihat Tama sedang berpakaian sambil bersiul kecil. Arka mengernyit. Baru kali ini Tama bisa bangun pagi dengan mudah setelah semalaman nonton bola sampai subuh. Biasanya ia perlu menyeret adeknya itu ke kamar mandi, atau menyiram adiknya itu dengan air dingin agar Tama bisa benar-benar bangun.
"Tam, pinjem kaus kaki dong. Punya gue kotor semua. Lupa mau dibawa ke laundry." kata Arka, nyengir. Biasanya Tama akan mengomel mendengar kebiasaan kakaknya yang ceroboh ini, karena sudah pasti kaus kakinya tak akan kembali. Tapi kali ini Tama hanya memasang muka lempeng sambil mengangkat bahunya santai.
"Ambil aja sendiri," jawab Tama sambil menyisir rambut nya. Arka heran dengan tingkah Tama yang tak seperti biasa, tapi memutuskan untuk tidak berkomentar. Ia hanya mengangkat alisnya heran dan segera menuju tempat penyimpanan kaus kaki milik Tama. Tama memang selalu rapi, berbeda dengan dirinya.
Sebelum berangkat biasanya Tama akan memasak sesuatu atau setidaknya menyiapkan sesuatu untuk mereka sarapan, kadang bisa ia bagi pula dengan teman-teman kosnya yang lain. Jadi ketika ia turun ke dapur dan tidak mendapati makanan apapun di meja makan, sebaliknya ia justru mendapati Tama tengah menyesap kopi sambil nyengir padanya, keheranan Arka jadi berlipat ganda.
"Hari ini Tama lagi malas masak, Bang. Soalnya ada janji sarapan bareng sama cewek,hmmp," celetuk Marko yang langsung mulutnya langsung dibekap Tama.
Arka menggaruk kepalanya bingung.
"Ada telor di kulkas atau elo bisa beli bubur ayam di gang depan. Jangan manja, lah Bang" kata Tama melihat kebingungan Arka.
"Apes, Lo, Bang. Tama yang jatuh cinta elo yang merana." kata Marko disusul tawanya yang menggelegar. Tama memandang kesal pada temannya itu.
"Merana apanya? Sembarangan" tukas Tama.
Arsen masuk ke dapur sambil mengeringkan rambutnya.
"Siapa yang jatuh cinta?" tanyanya sambil menghabiskan kopi di cangkir Tama. Tama memandang cangkir kopinya dengan pasrah. Teman-temannya memang kurang ajar semua.
"Siapa lagi? Jelas Tama lah. Yang katanya nggak tertarik sama cewek karena ribet dan cerewet, sekarang jadi bucin abis!" jawab Marko puas.
"Raina?" tanya Arsen tanpa basa-basi. Arka dan Marko ikut tertarik melihat reaksi Tama. Sebaliknya, Tama masih memasang muka lempeng dan tanpa ekspresinya. Dia hanya mengangguk.
"Ck. Dari sekian banyak cewek cantik, kenapa harus dia sih?" Arsen tidak bisa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya.
"Memang ceweknya Tama kenapa, Ar?" tanya Arka.
Arsen hampir saja mengatakan hal-hal yang diketahui umum tentang Raina, tentang segala reputasi buruknya di kampus, ketika merasakan tatapan Tama menghunus tajam ke arahnya. Tatapan yang berarti, elo bakal mati kalau berani ngomong.
"Urus urusan elo sendiri." kata Tama masih sambil memberikan tatapan peringatan kepada Arsen. Setelah ia pikir Arsen mengerti, ia pun beranjak. Sudah tak sabar bertemu gadisnya.
"Gue duluan"
"Jangan ngebut, Tam." kata Arka. Tama hanya menggumam tanpa menyahut pesan kakaknya.
Tama mengakui, segalanya akan jauh lebih rumit jika keluarganya tahu tentang reputasi Raina. Tentang segala rumor yang beredar tentang gadis itu. Tapi sejak ia mengenal Raina, ia tidak menganggap gadis itu sama seperti gosip-gosip yang beredar tentangnya.
Raina memang sedikit angkuh dengan orang-orang yang tidak dikenalnya baik. Dia juga sembrono, sering menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya. Sesuatu yang membuat Tama ingin melindunginya dan membuka satu persatu rahasia gadis itu.
--------------------------------
Raina menyadari hidupnya jadi lebih teratur saat bersama Tama. Tidak ada lagi begadang, bersenang-senang di klub malam, telat makan, jajan sembarangan, atau bolos kuliah. Tama tidak pernah terang-terangan melarangnya, cowok itu hanya akan memberi Raina tatapan tajam yang akhirnya membuat Raina menuruti keinginan Tama.
Satu hal yang masih sering membuat Tama naik darah adalah cara Raina berpakaian. Bukannya ia tidak suka melihat Raina dengan baju-baju ketat dan terbuka, ia suka jika pemandangan itu tersaji hanya untuknya. Ia tidak mau lelaki lain menikmati keindahan Raina. Katakan kalau Tama posesif, ia tidak peduli.
Sudah jam sebelas malam saat Raina baru saja mengantar Tama pulang setelah cowok itu menghabiskan waktu dari sore tadi dirumahnya. Ia sudah membersihkan wajahnya dan bersiap tidur, saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan yang langsung membuat Raina kaget setengah mati.
Pesan itu dari Anya.
[Ke Eksodus sekarang, Na. Temenin Jemma. Dia lagi galau abis diselingkuhin sama Rian. Gue harus balik sekarang, Didit udah jemput gue. Jemma belom mau pulang]
Pesan itu diikuti sebuah foto. Jemma yang setengah teler sedang menari gila-gilaan di lantai dansa. Raina mengumpat. Tama pasti akan murka jika tahu ia menginjakkan kaki ke klub malam lagi, tapi semuanya akan aman jika Tama tidak tahu, bukan?
Raina menyambar kardigan tipis untuk menutupi dress pendeknya, dan tanpa merias wajah ataupun menyisir rambut, gadis itu segera mengeluarkan mobilnya dari garasi. Jemma lebih membutuhkannya saat ini.
Setengah jam kemudian Raina tiba di Eksodus, sebuah klab malam yang tengah naik daun setahun belakangan ini. Suasana di dalam sangat meriah karena malam ini menghadirkan DJ terkenal ibukota.
Raina susah payah menembus lautan pengunjung klab malam. Aroma alkohol yang tajam, asap rokok yang tebal serta remang cahaya dan lampu disko membuat Raina kesulitan menemukan Jemma.
Setelah nyaris menyusuri setiap sisi klab malam, menyingkirkan tangan-tangan nakal yang hendak melecehkannya, Raina melihat Jema. Sedang ditindih seorang pria di atas sofa berbentuk setengah lingkaran. Jemma nampak tidak melawan.
Tanpa pikir panjang Raina segera melepas sepatunya dan menggunakannya untuk memukul kepala cowok itu. Cowok itu berbalik sambil mengumpat, memegangi kepalanya. Untung Raina tidak menggunakan sepatu hak tinggi malam ini. Jika iya, maka kepala cowok itu pasti sudah bocor dan berdarah.
"Sialan! Siapa elo berani ganggu kesenangan gue?" cowok itu menyipit memandang Raina. Kemarahannya surut digantikan dengan tampang tertarik.
Gadis di hadapannya ini sangat cantik meskipun tampil seadanya. Namun gaun pendek itu tidak mampu menutupi pesona dan daya tarik yang dimiliki Raina.
"Elo kasih apa ke temen gue, hah?" bentak Raina setelah melihat Jemma setengah sadar dengan pipi memerah dan mata sayu. Obat perangsang, Raina hampir yakin.
Cowok yang hampir melecehkan Jemma tadi bernama Revan. Saat Raina sedang berusaha menarik Jemma agar bangun, Revan justru memeluk Raina dari belakang. Raina memberontak, tentu saja. Namun jeritannya tidak berpengaruh apa-apa.
"Gue nggak keberatan kalau elo nggantiin teman elo. Kalau sama elo, gue nggak butuh obat apapun" bisik Revan di telinga Raina. Raina menggigit lengan cowok itu sehingga Revan melepaskannya sambil menyumpah.
Raina kembali mencoba memapah Jemma yang kini menggeliat-geliat di atas sofa. Revan rupanya belum menyerah, kembali berusaha menubruk Raina dan menindihnya di sofa, benar-benar menggantikan posisi Jemma seperti yang dikatakan cowok itu.
Raina tak kehilangan akal. Setelah pemberontakan yang sia-sia, karena bagaimanapun tenaganya tak sebanding dengan tenaga cowok mabok ini, Raina akhirnya mengarahkan dengkulnya ke ************ Revan. Sekarang cowok itu jatuh tersungkur sambil memegangi asetnya yang nyeri luar biasa.
"Dasar jalang sialan!" maki Revan.
Raina beringsut bangun, merapikan gaunnya. Kardigan tipisnya entah raib kemana akibat pergumulannya dengan Revan tadi.
Dan pada saat itulah, ia melihat Tama. Cowok itu tinggi menjulang di hadapannya. Tatapannya tajam. Raut mukanya keras. Raina tahu Tama murka.
"Elo nggak apa-apa, Neng?" pertanyaan itu berasal dari Marko yang muncul dari belakang Tama. Raina bingung harus bilang apa karena Tama mendiamkannya dari tadi.
"Gue nggak apa-apa." Raina tak berani memandang Tama. Ia memapah Jemma, menahan berat tubuh sahabatnya itu yang sempoyongan.
"Kunci mobil elo siniin, Neng. " kata Marko lagi. Raina merogoh tasnya dan menyerahkan kunci mobilnya pada Marko.
Keempat orang itu kini sudah berada di tempat parkir, di depan mobil Raina. Jemma sudah duduk di kursi penumpang.
"Biar gue yang nganter temen elo, Neng. Elo balik sama Tama aja." tawar Marko. Raina serta merta menolak.
"Nggak! Gue nggak mabok, gue masih bisa nyetir kok. Lagian gue nggak bisa ngebiarin Jemma sama cowok, apalagi dia lagi teler gitu. Gimana gue yakin kalau Jemma bakal aman?"
"Dia bakalan aman sama Marko. Kamu, pulang sama aku." kata Tama dingin. Raina langsung diem dan mati kutu.
Tanpa menunggu lagi Tama menarik lengan Raina menuju mobil Arka yang ia pinjam. Marko nyengir. Cowok yang pendiam biasanya serem kalau lagi marah. Dia tidak yakin Raina bakalan aman dari Tama malam ini.