tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wabah matrealisme
Siang hari bolong pada saat menuju ruangan kelas.
Jam masuk pelajaran sebentar lagi akan dimulai, sementara para siswa/i langsung menyiapkan kamera dan ponsel mereka masing-masing, terlihat sigap berbaris seperti reporter menyambut kedatangan para artis Genk sultan, karenanya mereka sudah mengetahui tentang kekayaan yang dimiliki oleh Genk sultan yang terkenal tajir dan tampan, sontak hal itu membuat para siswa/i dikelasnya geger saat melihat ke empat anggota Genk sultan akan memasuki ruangan kelas.
"STOP!!!" seru bocah sumo yang sudah mengetahui rahasia dibalik Genk sultan saat pertama kali, dirinya langsung terjatuh bertekuk lutut dihadapan mereka berempat secara tiba-tiba. "Lho belum bayar iuran tagihan bulan lalu, dan kali ini lho berempat nunggak belum bayar iuran!
sekarang cepetan serahin uang Lo mana!" pinta bocah sumo itu memaksa.
"Bayar dan usir cepat bocah gendut itu!!!" ujar Zim melirik ke ketiga temannya.
"Beres." Rinto langsung melemparkan kartu debit VIP yang terkenal akan kelangkaannya, karenanya kartu debit VIP hanya terdapat tiga kartu saja dalam suatu negara.
"What the ****! apa gue gak salah liat?
mereka tajir banget ya Aloh!" sergah si cewek primitif (Resti bilar 16 tahun) memandang takjub pada keempat orang tampan yang ada dihadapannya itu, meskipun kenyataannya adalah sebuah penghinaan semata_-.
Cih!! biasa aja kali, dasar cewek liat cowok cuma dari hartanya doang!, pikir Zim setelah memalingkan wajahnya sombong. Lalu, berjalan secara dingin menuju kursi belajarnya yang berada diposisi paling belakang.
Tanpa ia sadari semua sorot mata terpokus padanya yang berlagak seperti pangeran, Bahkan tak sedikit lubang hidung para siswi mimisan keluar ingus, saat memandang ketampanan uang warna merah bergambar pahlawan yang dimilikinya, seraya langsung merobek secarik kertas untuk meminta izin tanda tangan para anggota genk sultan sebagai salah satu tanda fans setia mereka.
"Abang Zim, coret-coret dada aku dong pake tanda tangan abang!"
"Abang Zim, aku teraktir jajan di kantin yuk! tapi kamu yang bayarin."
"Aku saja, aku adalah ketua OSIS nya di sekolah ini."
"Memangnya kenapa kalo ketua OSIS, aku adalah bunganya di sekolah ini lho!"
Gak nyangka, nasib gue bakalan berakhir terancam kaya gini!, pikir Zim sampai membuatnya merasa syok berat di saat semua cewek kelas matrealisme mengelilingi kursi belajarnya sambil melontarkan beberapa kata-kata menggoda. Sehingga membuatnya canggung diam terpaku di kursi belajarnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
Namun untungnya saja insiden itu tidak berlangsung begitu lama. Karenanya salah satu anggota genk sultan (Rinto yakni sebagai ketua yang memegang penuh atas seluruh kekuasan anggota Genk sultan) dengan inisiatifnya, berusaha menarik tangan sang pemilik tampang sultan itu hingga keluar dari dalam kelas yang di susul ramai oleh para siswi yang sudah terpapar virus penyakit matrealisme.
Catatan:
Penyakit matrealisme ialah salah satu penyakit yang hanya dimiliki oleh para kaum hawa saja.
Efeknya sangat mudah tertular dan berbahaya yang akan mengancam seluruh uang para lelaki kaya raya.
.
.
.
.
.
.
"Mendingan Lho balik aja sana, gak baik bocah tampang sultan kaya lho sekolah!" usul Rinto, menghawatirkan temannya yang sudah menjadi buronan para cewek matrealisme.
"Iya bener kata lho, ternyata sekolah gak cocok buat tampang sultan kaya gue." balas Zim, yang tengah bersembunyi dibalik tembok ruangan kantin.
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣