Kana Bintang Artana.
Laki-laki dingin yang mampu membuat hati siapapun menjerit melihatnya.
Bukan karena seram. Tetapi karena ketampanannya yang dapat membuat para gadis jatuh cinta padanya.
Begitupun Kaila. Gadis pemalu yang ikut andil menyukainya. Namun rasa sukanya memudar saat mengetahui betapa menyebalkannya seorang Kana.
Dan tanpa Kaila sadari, perlahan namun pasti, Kana mulai menunjukkan rasa sukanya pada Kaila.
Akankah keduanya berakhir bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prepti ayu maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Part 15
Adinda tersenyum puas setelah mendapatkan kembali dompet miliknya. Ia mengucapkan banyak terima kasih pada sang pemilik toko dan menghampiri Aji yang tengah menunggunya.
Perasaan Aji saat ini tidak tenang. Ia memikirkan Kaila yang sudah ia tinggal begitu saja. Apakah gadis itu kembali ke ruko atau pulang ke rumah, Aji tak tahu. Ia beberapa kali mencoba menghubungi gadis itu, namun hingga detik ini, telponnya pun tidak angkat.
"Apa dia marah sama gue?" lirih Aji dalam pikirannya.
"Udah, yuk!" ucap Adinda yang sudah berada di hadapan Aji.
Aji mengangguk dan mengenakan helm-nya.
"Ji, mau langsung pulang atau gimana?" tanya Adinda yang sudah naik ke motor Aji.
"Ke ruko Oma Raisa dulu ya?"
Adinda berdecak. "Ngapain sih ke sana? Gue males banget ketemu Oma itu."
"Sebentar aja. Ada sesuatu yang mau gue pastiin."
Adinda menghela napas. "Mending lo anterin gue dulu pulang ke rumah deh."
Aji mengangguk setuju. Ia pun melajukan motornya dan meninggalkan tempat tersebut.
-o0o-
Kana melepas helm-nya dan masuk ke dalam ruko Omanya. Malam ini ruko terlihat ramai. Banyak para pengunjung yang datang untuk mencicipi kue Raisa yang terkenal, ataupun mengambil kue yang sudah di pesan sebelumnya.
"Oma!" teriak Kana membuat beberapa pengunjung menoleh. Termasuk Raisa.
Raisa tersenyum dan berjalan menghampiri cucunya. "Ada apa, sayang?"
"Kaila mana?"
"Loh, tadi Oma suruh dia pergi sama Aji," ucap Raisa dengan senyuman.
"Oma nyuruh Kaila pergi sama Aji?" tanya Kana mengulangi.
Raisa mengangguk dengan senyuman. "Memang ada apa sih?"
Kana menoleh ke sekeliling. Saat ini keduanya tengah menjadi pusat perhatian. "Oma, mending kita bicara di dalem aja," lirih Kana dan di angguki oleh Raisa.
Raisa mengajak cucunya ke dalam dan melanjutkan pembicaraannya yang terpotomg.
"Ada apa? Ada apa kamu dateng-dateng cari Kaila? Hmm?" tanya Raisa to the point.
"Oma kenapa sih semakin deketin Kaila sama Aji?"
Raisa melebarkan mata. "Loh, bukannya kemarin kamu udah bahas ini juga ya?"
Kana berdecak. "Oma, Kana gak suka kalau Oma jodoh-jodohin Kaila sama Aji."
"Memangnya kenapa? Kamu cemburu?" tanya Raisa penasaran.
Kana mengangguk. "Iya. Kana cemburu. Kana suka sama Kaila, Oma. Kana gak suka kalau Oma malah jodoh-jodohin Kaila sama Aji. Sekarang Kana tanya, sebenarnya cucu Oma siapa sih? Kana atau Aji?"
Raisa tersenyum. "Kalian berdua sama-sama cucu Oma. Tapi kalau kamu suka sama Kaila— ya mau gimana lagi?"
Kana mendengus kesal. "Sekarang Kaila sama Aji pergi berdua? Terus kalau terjadi apa-apa sama Kaila, siapa yang tanggung jawab?"
"Ya Aji dong. 'Kan Oma udah nyuruh Aji buat jagain Kaila."
"Pokoknya Oma, Kana gak suka ya kalau Oma deket-deketin Aji lagi sama Kaila. Kaila itu milik Kana."
Raisa terkekeh. "Uluh, uluh, akhirnya cucu Oma jatuh cinta juga sama perempuan."
Kana menatap Omanya dengan raut kesal. Namun terkesan menggemaskan bagi Raisa.
'Drrrt!'
Ponsel Raisa bergetar.
Kana ikut menoleh pada ponsel Omanya. "Siapa Oma?"
"Aji," jawab Raisa saat membaca nama yang tertera pada layar ponsel.
Raisa menggeser tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga. "Halo, Aji?"
"Oma, maaf, Aji mau nanya. Kaila udah sampai di ruko belum ya?"
Kana melebarkan mata mendengar suara Aji dari ponsel Omanya.
Raisa menggeleng refleks. "Belum, Aji. Memangnya kamu gak sama dia?"
"Enggak, Oma. Tadi Aji gak sengaja ninggalin Kaila di sana."
Kana mengepalkan tangannya. "AJI! KURANG AJA LO YA!" ucapnya kesal dan berjalan keluar dari ruangan Raisa.
Kana menghampiri Susi yang tengah melayani pembeli. "Tante, minta alamat Kaila nganterin kue tadi."
"Untuk apa, Kan?"
"Penting. Cepetan, Tante. Sekalian sama alamat Kaila juga."
Susi mengangguk dan menuliskan apa yang Kana minta. Ia menyerahkan kertas itu pada Kana.
Kana membacanya sekilas dan berlari pergi meninggalkan ruko Omanya.
Pikirannya sudah sangat tidak tenang. Ia harus segera sampai di sana dan mencari keberadaan Kaila.
Kana menstater motornya dan mulai melajukannya. Namun apalah daya Kana, ia tidak dapat melajukan motor dengan kencang.
Tangannya mengepal dan kembali memukul stang motornya. Di saat seperti ini, ia harus menyayangkan takdir mengapa ia harus memiliki ketakutan akan kecepatan. Kana tidak meminta ini, namun ia juga tidak dapat menghindarinya.
Ia memejamkan mata beberapa saat dan mencoba untuk mengatur kecepatan. Ini pertama kalinya Kana mencoba. Ia tak yakin, namun ini semua demi Kaila. Ia harus menemukan Kaila dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
Belum lama Kana mengatur kecepatannya, kepanikan mulai menghinggapi dirinya. Air matanya perlahan luruh. Tangannya gemetar.
"Kan, lo harus bisa. Ini demi Kaila."
Kana mengangguk dan kembali dengan kecepatan penuh. Untungnya malam ini jalanan cukup sepi.
"Kana, lo pasti bisa. Lo harus lawan rasa takut lo," ucapnya dengan tangan bergetar dan air mata yang jatuh.
Jika banyak orang, mungkin Kana akan merasa malu. Ia sendiri saja malu untuk menceritakan phobianya pada Kaila.
Ia tak ingin gadis itu merasa kasihan padanya.
Ingat! Kana adalah laki-laki yang penuh gengsi dan tidak suka untuk di kasihani. Ia lebih baik menyembunyikan semuanya dan bersikap jika semuanya baik-baik saja.
"Everything is okay. Don't ever worried about me!" Itulah kalimat yang selalu Kana ucapkan.
Lama Kana menahan rasa takutnya, akhirnya ia sampai di tempat yang menjadi tujuan Kaila sore tadi.
Ya, saat ini ia sudah sampai di rumah Bu Galih. Kana turun dari motor dan mencoba menenangkan diri. Ia mengusap air matanya yang terus lolos dan menghela napas mengurangi rasa berdebarnya.
Cukup lama ini menetralkan diri, Kana pun memberanikan diri mengetuk pintu rumah Bu Galih.
'Tok! Tok! Tok!'
"Assalamualaikum."
Tak ada jawaban dari dalam.
Kana kembali mengetuk pintu tersebut. "Assalamualaikum. Permisi."
Tetap tak ada jawaban.
Kana mencoba mengintip rumah tersebut dari jendela kaca. "Lampu hidup semua kok."
Kana menghela napas dan kembali mengetuk pintu. "Assalamualaikum. Permisi."
Tetap tak ada jawaban.
Kana meraih kertas yang ia bawa tadi dan men-dial nomor yang tertera.
'Tuttttt!'
Telponnya tersambung.
"Ayo dong Bu, angkat."
"Nomor yang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan anda. Cobalah beberapa saat lagi."
Kana berdecak dan mengusap wajahnya frustasi.
"Kaila." Kana kembali menghidupkan ponselnya dan kali ini ia akan men-dial nomor Kaila.
'Tuttttt!'
Telponnya tersambung. Namun yang membuat Kana merasa aneh, suara ponsel berbunyi terdengar dari dalam.
"Kaila! Kaila! Gue tahu lo di dalem!" teriaknya seraya mengetuk pintu itu. "Kaila!"
Tak ada jawaban. Tak lama, suara ponsel itu pun berhenti bersamaan dengan Kana yang mematikan sambungannya.
"Kai! Gue tahu lo di dalem!"
Tak ada jawaban.
'Tok! Tok! Tok!'
"Kaila! Ini gue, Kana!"
'Ceklek!'
Pintu di buka oleh wanita paruh baya yang Kana yakini adalah Bu Galih.
Bu Galih menunduk dan tak berani memandang wajah Kana. Ibu itu benar-benar terlihat takut dan cemas.
"Bu, teman saya ada di dalem 'kan?"
Bu Galih menggeleng. Ia menyerahkan sebuah ponsel pada Kana. "Ini ponselnya."
Kana melebarkan mata tak mengerti.
Bu Galih menangis dan menarik Kana untuk masuk ke dalam.
Ia melihat ke sekeliling dan segera mengunci pintu.
"Bu, ada apa?" tanya Kana tak mengerti.
"Apa gadis yang nganter kue tadi namanya Kaila?"
Kana mengangguk. "Iya, dia Kaila. Kaila kenapa, Bu?"
"Kaila di culik, nak." Bu Galih kembali menangis. "Tadi Ibu liat dia di bawa para preman pergi. Ibu gak berani nolong dia. Ibu Cuma bisa lihat dari jendela dan menghubungi para tentangga. Tapi waktu tetangga keluar, Kaila udah di bawa masuk ke dalam mobil dan di bawa pergi. Ibu Cuma nemuin hpnya."
Kana menggelengkan kepala. Tangannya mengepal. Ia meninju dinding di depannya dengan emosi yang meluap.
"Tolong kamu selamatkan dia. Dia perempuan baik-baik. Ibu takut para preman nyakitin dia."
Kana mengangguk dan keluar dari rumah Bu Galih.
Emosinya benar-benar meluap. Ia tak tahu harus meminta bantuan dengan siapa lagi. Ia sudah tidak percaya lagi pada Aji. Aji benar-benar membuatnya merasa marah.
"Bima." Kana mengangguk. "Ya, gue harus minta bantuan Bima.
-o0o-
tapi Lo biarin dia, ngizinin dia.
tolol.
seharusnya Kaila tegas dgn perasaannya kalau ga suka bilang jgn PHP anak org kan pada ujungnya sakitkan kayak Adinda dong tegas dia langsung blg ke Aji dia ga bisa