Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.
Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.
Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.
Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?
Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.
"Dia milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Aku terbangun dengan kepala berdenyut. Kulirik ponsel, sudah pukul 06.00 pagi. Aku bangun, membersihkan diri, lalu turun menyiapkan sarapan. Kopi hampir selesai ketika kudengar suara itu.
"Pagi, Sepupu Kecil. Tidur nyenyak?"
Aku menatap Richard dengan jijik dan marah. Dia hanya menyeringai miring, menyambar sebuah apel, lalu pergi lari pagi.
"Pagi, pelayan!" Begitulah Ester menyebutku. "Mana smoothie-ku? Kamu tahu aku harus minum smoothie detoks setiap pagi."
"Sebentar, aku buatkan."
"Ck... sudahlah, dasar tidak berguna. Aku minum di pusat kebugaran saja."
Aku berdiri di sana dengan perasaan sakit, ingin menangis, ketika paman dan bibiku masuk dapur.
"Pagi, Nak. Kenapa mukamu begitu?" tanya Francesco.
"Pasti pura-pura supaya bisa lolos dari kerjaan rumah," sahut Pilar.
"Tidak apa-apa, Paman. Kalau Paman permisi, aku mau membereskan rumah."
Aku keluar secepat mungkin supaya mereka tidak melihat air mataku.
Aku tidak mau jadi tidak tahu terima kasih pada Paman, tapi aku sudah tidak sabar mencari kerja dan pergi dari rumah ini, pikirku.
Mereka sarapan, Paman berangkat kerja, dan Bibi pergi ke pusat kebugaran. Selesai membereskan rumah, aku memasak makan siang. Setelah itu aku naik ke kamar, mandi, memakai gaun yang ringan, lalu berangkat ke rumah Sara. Hari ini dia libur dan mengundangku makan siang di tempatnya. Sara tinggal di apartemen yang nyaman, hadiah dari ayahnya ketika dia genap 18 tahun. Dia berasal dari keluarga kaya dan sebenarnya tidak perlu bekerja karena ayahnya memberinya uang bulanan, tapi dia ingin mencari uang sendiri. Dia jarang bicara soal keluarganya. Setiap kali kusinggung, dia tampak tidak nyaman dan buru-buru mengganti topik. Yang kutahu hanya orangtuanya tinggal di Sisilia dan dia punya kakak laki-laki berumur 27 tahun.
Sesampainya di lobi, penjaga memberitahukan kedatanganku. Sara mengizinkanku naik, dan dia sudah menunggu di depan pintu.
"Hai, Say! Kangen banget."
"Astaga, seperti kita tidak bertemu bertahun-tahun saja."
Kami berpelukan, lalu dia menyuruhku masuk.
Dia sudah menyiapkan lasagna bolognese, makanan favoritku, ditemani anggur merah, dan es krim untuk pencuci mulut. Kami makan sambil mengobrol sepanjang sore. Dia bercerita tentang gebetan barunya, betapa seksi cowok itu dan betapa jago dia berciuman.
"Tolong, Say, lewati bagian detailnya."
"Astaga, aku cuma penasaran, sampai kapan kamu mau mempertahankan sabuk kesucian itu?"
Aku memutar bola mata ke arahnya dan menjawab,
"Sampai aku bertemu laki-laki yang pantas kuserahi diriku."
Gantian dia yang memutar bola mata, lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak.
Di sisi lain kota, sebuah telepon berdering.
Telepon tersambung
"Ada apa, Pepi?"
"Selamat sore juga untukmu. Aku cuma menelepon untuk memastikan pembukaan klubmu tetap tanggal 19 sesuai rencana."
"Oke. Pastikan semuanya beres untuk malam pembukaan. Aku tidak mau ada kejutan."
"Siap, Bos. Serahkan padaku."
Telepon ditutup
Namaku Fabrizio Lutero, umurku 28 tahun. Aku pemimpin mafia Sisilia sekaligus pemilik tiga klub malam paling terkenal di Italia, dan sepertinya pada 19 Oktober nanti aku akan membuka yang keempat. Pepi adalah tangan kananku sekaligus sahabat terbaikku. Dialah yang menyiapkan semuanya untuk pembukaan klub baru itu.
Aku pria ambisius dan punya mata bisnis. Sejak mengambil alih mafia dari ayahku sepuluh tahun lalu, bisnisku terus berkembang. Dalam sepuluh tahun itu aku mendapat banyak sekutu, tapi juga mengoleksi beberapa musuh. Bukan masalah besar. Tidak ada yang berani melawanku. Julukanku Iblis Sisilia. Aku penembak jitu, dan aku ahli dalam seni penyiksaan.
Aku sedang di ruang kerja, memeriksa beberapa dokumen, ketika seseorang menerobos masuk.
"Boleh aku tahu kenapa kamu tidak meneleponku?"
"Kamu gila? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruanganku? Kurasa akulah yang masih memerintah di sini, sialan!" Aku menggebrak meja sekuat tenaga.
"Astaga, Sayang, tenanglah. Kupikir aku tidak perlu diumumkan dulu, soalnya..."
"Berhenti di situ, Ruth. Sudah kubilang di antara kita tidak ada apa-apa."
Ruth berumur 25 tahun, tingginya 1,70 meter, bermata biru, pirang, rambutnya sepinggang, dengan dada dan bokong besar. Jujur saja, perempuan yang bisa menghentikan lalu lintas. Tapi hubunganku dengannya, dan dengan perempuan mana pun, hanya soal seks. Sampai hari ini belum ada perempuan yang bisa mengikatku. Aku tidak punya waktu maupun kepala untuk urusan cinta, dan secantik apa pun Ruth, dia bukan yang pertama.
"Astaga, Fabrizio, kamu dingin sekali, tidak punya hati. Sudah dua bulan kita bersama dan kamu masih memperlakukanku begini."
"Biasakan diri atau enyah! Sekarang katakan, apa yang membuatmu masuk tanpa diumumkan?"
"Aku datang untuk bilang kita pergi bersama ke pembukaan klubmu."
"Siapa yang bilang?"
"Aku pikir..." Aku memotongnya lagi.
"Sejak kapan kamu bisa berpikir!" (Ouch, yang itu pasti menusuk, wkwk.)
"Ya ampun, Fabrizio, apa susahnya mengajakku?"
Aku tahu apa maunya. Dia ingin tiba di klub sambil bergandengan tangan denganku, supaya semua orang tahu kami bersama.
"Tidak. Kalau mau datang, datang saja sendiri."
Ruth berjalan ke arahku, mendekat sampai dekat sekali, lalu berlutut. Dia menurunkan ritsleting celanaku dan mulai menggerakkan tangannya naik turun. Begitu menyadari kejantananku sudah menegang, dia langsung melahapnya dan mulai mengisap. Aku menyandarkan kepala ke belakang dan membiarkannya bekerja dengan mulut sehebat itu. Ketika aku merasa akan klimaks, aku mencengkeram rambutnya dan mulai menghentak keras ke dalam mulutnya. Dia tersedak, karena, bukan sombong, ukuranku memang di atas rata-rata. Aku menghentak lebih keras, lalu menyemburkan puncakku jauh di dasar tenggorokannya. Perempuan nakal itu menelan semuanya. Kuangkat dia dan kutelungkupkan di atas mejaku, lalu kukeluarkan kondom dari saku dan kupasang di kejantananku yang masih tegang. Kusingkap gaunnya, kusibakkan celana dalamnya ke samping, dan kubenamkan diriku ke dalamnya tanpa peringatan. Ruth mengerang keras selagi aku menghujam makin lama makin kuat. Sekarang dia menjerit nikmat. Satu tanganku mencengkeram rambutnya, tangan satunya menampar bokongnya berkali-kali tanpa memutus irama. Aku menghentak makin cepat dan makin keras sampai batasku, lalu mencapai klimaks dengan nikmat. Kucabut diriku darinya, membuang kondom di kamar mandi, membersihkan diri, lalu berkata pada Ruth yang masih telungkup di meja, berusaha memulihkan tenaga,
"Sekarang keluar. Aku banyak urusan."
"Astaga, Fabri..."
Tidak kubiarkan dia menyelesaikan kalimatnya.
"AKU BILANG KELUAR!"
Dia pergi sambil menghentak-hentakkan kaki, dan aku kembali ke pekerjaanku.