Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 6
Febby mendengarkan dengan seksama, sesekali mendengkus sebal atau menghela napas geregetan.
"Wah, parah banget emang tuh sepupu-sepupunya Reyden! Pengen gue garuk juga mukanya biar tau rasa!" gerutu Febby kesal.
"Tapi, Sya... lo keren banget sih. Bisa-bisanya lo sedewasa itu nanggepin sikap Reyden yang nutup soal masa lalunya."
Misya tersenyum tipis, mengaduk pelan es lemon tea di hadapannya.
"Mau gimana lagi, Feb? Kalau dipaksa juga percuma. Lagian, aku sadar... setiap orang kan berhak punya rahasia, termasuk masa lalu. Yang penting kan sekarang sikap dia ke aku sudah jauh berubah. Dia bela aku di depan keluarganya kemarin. Walau aku tahu kalau dia belum memiliki perasaan sebagai seorang suami ke aku. Mungkin kalau aku mendengar cerita masa lalu Rey akan membuat aku over thingking, Feb. Aku sedang berjuang untuk rumah tangga aku sekarang. Dan aku nggak mau kalau hal itu malah membuat aku..."
Febby mengangguk-angguk setuju, lalu tersenyum jail.
"Iya juga sih, aku paham maksud kamu. Dari yang awalnya cuek kayak es batu, sekarang suami lo udah mulai berubah, setidaknya dia menghargai lo sebagai seorang istri. Tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita sama gue. Gue selalu ada buat lo, Sya!"
"Makasih, Feb. Kamu juga kan harus fokus untuk mempersiapkan pernikahan kamu..."
Mereka berdua kembali tertawa lepas. Pertemuan siang itu berlangsung hingga pukul dua siang. Setelah urusan pemilihan undangan selesai, Misya segera pamit pulang agar tidak terlalu sore sampai di rumah, mengingat pesan suaminya tadi pagi.
Tepat pukul empat sore, mobil Reyden memasuki halaman rumah. Pria itu menepati janjinya untuk pulang lebih cepat. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, suasana terasa sepi. Reyden melepaskan jas kerjanya, melonggarkan dasinya, lalu melangkah ke lantai atas untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dengan pakaian rumah yang lebih santai, kaos polo abu-abu dan celana bahan katun Reyden turun ke lantai bawah. Dari arah dapur, ia mencium aroma harum tumisan bumbu yang menggugah selera.
Reyden melangkah mendekati dapur. Di sana, tampak Misya yang mengenakan apron berwarna pink pastel sedang sibuk memotong beberapa sayuran di atas talenan. Rambutnya dicepol longgar, menyisakan beberapa helai anak rambut di leher jenjangnya.
Reyden bersandar di ambang pintu dapur, melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan istrinya dalam diam. Kehadiran pria itu baru disadari Misya saat wanita tersebut berbalik untuk mengambil mangkuk di rak sebelah.
"Eh, Mas... Kapan pulangnya?" kaget Misya begitu melihat suaminya sudah berdiri di sana.
Reyden melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.
"Baru sepuluh menit yang lalu. Selesai jalan dengan Febby?" tanya Reyden lembut.
Tangannya secara natural terulur, merapikan anak rambut Misya yang berantakan ke belakang telinga. Jantung Misya berdegup sedikit lebih cepat mendapati perhatian manis itu.
"Sudah, Mas. Tadi seru banget bantu Febby milih undangan."
Reyden mengangguk, lalu pandangannya beralih menatap mangkuk-mangkuk berisi bahan makanan di atas meja dapur.
"Kamu lagi masak apa? Wanginya enak banget."
"Oh, ini?" Wajah Misya berbinar antusias. Ia menoleh menatap suaminya dengan senyuman lebar.
"Mumpung Mas hari ini pulang cepat, aku mau masakin makanan spesial kesukaan kamu. Tapi, aku mau tanya dulu..."
Reyden mengangkat sebelah alisnya, tersenyum tipis.
"Tanya apa, Hm?"
"Malam ini... Mas mau dibikinkan apa sama aku?" tanya Misya penuh semangat, menatap suaminya dengan mata berbinar-binar menunggu jawaban.
"Mau sop buntut kuah hangat, ayam masak rica-rica kesukaan kamu waktu itu, atau mau aku coba resep baru daging teriyaki?"
Reyden tertegun sejenak menatap antusiasme istrinya. Pria itu tersenyum tulus, senyuman hangat yang benar-benar lepas tanpa beban. Ia mendekatkan wajahnya, menatap lekat manik mata wanita yang kini telah sepenuhnya mengisi hatinya.
"Apa saja yang kamu masak, saya pasti makan dengan lahap, Misya," jawab Reyden lembut.
"Tapi... kalau boleh request, saya mau masakan apa pun yang dimasak sama istri saya ini. Dan... habis makan, kita nonton film berdua di ruang tengah. Mau?"
Pipi Misya seketika merona merah mendengar gombalan langka dari suaminya. Ia mengangguk malu-malu sambil tersenyum lebar.
"Mau, Mas... Kalau gitu, tunggu sebentar ya, semuanya bakal beres sebentar lagi!"
Reyden mengangguk, lalu mendaratkan satu kecupan singkat di puncak kepala Misya sebelum membiarkan istrinya kembali melanjutkan memasak. Reyden memperhatikan Misya dari ruang tengah. Ada sesuatu yang aneh dari pandangan matanya. Sedangkan Misya tidak memperhatikan hal itu, dia terlihat sangat senang dan lebih fokus memasak untuk Reyden.
"Selesai..." suara riang Misya membuyarkan lamunan Reyden.
Wanita itu melangkah mendekati meja makan dengan membawa mangkuk besar berisi sop buntut kuah hangat yang mengepulkan uap harum, disusul sepiring daging teriyaki dan sepiring nasi putih hangat.
Misya meletakkan semuanya dengan hati-hati, lalu melepas apron pink pastel yang tadi dipakainya. Ia menoleh dan mendapati Reyden sedang menatapnya lekat-lekat dari arah ruang tengah.
"Mas? Kenapa masih di situ? Ayo makan, keburu dingin lho," panggil Misya sambil tersenyum manis, menghampiri meja makan.
Reyden bangkit dari sofanya, lalu melangkah pelan mendekati meja makan. Pria itu menarik kursi, duduk di hadapan istrinya, namun matanya masih menyiratkan keheningan yang pekat.
Misya yang sedang menyiapkan piring dan menyendokkan nasi untuk suaminya merasa ada yang aneh dengan sikap Reyden. Ia menghentikan gerakannya sejenak.
"Mas... ada apa? Dari tadi aku perhatiin kamu kayaknya pendiam banget. Ada hal yang bikin kamu pusing lagi?" tanya Misya hati-hati, menatap manik mata hitam suaminya.
Reyden menatap piring di hadapannya sejenak, lalu mendongak menatap Misya lurus-lurus. Suaranya terdengar datar, khas bariton kaku miliknya, meski ada sedikit nada berat di dalamnya.
"Ah tidak ada!" jawab Reyden yang di balas anggukan dari Misya.
Dia tak mau banyak bertanya, karena tidak mau merusak moment mereka makan malam ini. Moment yang jarang mereka miliki apalagi kalau Rey sudah mulai kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Bagaimana, Mas? Apa ada yang kurang dari masakan aku?" tanya Misya harap-harap cemas menunggu respon dari suaminya.
"Enak... Ini enak sekali. Masakan kamu selalu enak, Misya." Puji Rey membuat Misya bertepuk tangan girang.
Mbak Atin yang berada di dapur menyembunyikan senyum bahagianya melihat bagaimana pasangan itu mulai terlihat dekat dan suasana di antara mereka mulai mencair. Dia adalah saksi bagaimana mereka pertama kali tinggal di rumah itu dengan rasa canggung yang luar biasa. Dua tahun bukan waktu yang singkat, itu adalah waktu yang lama untuk mereka. Namun melihat bagaimana komunikasi mereka mulai membaik membuat Mbak Atin juga merasa senang.