NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Hari pernikahan arus akhirnya tiba...

"Anhar...." panggil Juita.

anhar mendekati sang ibu...

"bagaimana, apa arus sudah datang"

Anhar menggeleng.

"dia belum pulang dari kemarin..."

"anak ini, apa tak bisa diam di rumah dulu. Sudah tau ini acara pentinya, malah dia gak ada." ucap dewangga.

Juita dari tadi terus duduk dan berdiri, sesekali dia menatap ke luar rumah saat ada suara motor.

"sudahlah ma, arus sudah besar. Dia pasti tau ini hari pentingnya" ucap Anhar.

"har... kamu tau sendiri gimana adikmu kan.? Gimana mama gak khawatir"

"bener kata mamamu, ini udah hampir jam 8 tapi adikmu belum juga muncul, sedangkan acara akad jam setengah 10 mau mulai"

"aku tau pa, tapi mau gimana lagi. Ponselnya gak aktif jadi aku gak bisa mastiin, tapi biasanya arus kalok ponselnya gak aktif dia ada di jalan"

"doa aja memang kayak gitu..."

tak lama Sudara motor sport terdengar di luar.

Seperti biasa, sang ibu langsung menengok ke luar.

Saat melihat arus yang turun dari motor, Juita langsung membuka pintu dan menarik anaknya itu.

"ada apa si ma..."

"rus kamu tau kan ini hari apa, kenapa baru pulang"

"aku tau... Tapi acaranya masih lama"

Juita tak memperdulikan perkataan arus, dia tetap menyeret anaknya ke lantai 2 tempat kamar arus berada.

"cepet mandi, habis itu pergi ke ruang mama untuk di rias."

arus baru mau membuka suara Juita sudah lebih dahulu berbicara.

"gak ada bantah, pokoknya cepat. Jam 9 kita berangkat ke rumah Alya."

walau arus terkenal pembangkang, tapi jika mamanya sudah begini dia hanya bisa menurut.

setelah semuanya siap, mereka akhirnya berangkat ke rumah pengantin.

Penampilan rapi arus ini benar benar menyita perhatian setiap orang.

Arus yang biasanya mengenakan celana dengan robek di lutut dan selalu mengenakan kaos hitam, kini mengenakan setelan jas.

arus kini berhadapan dengan wali nikah. setelah penghulu memberi aba aba, sang wali langsung membaca ijab dengan lantang.

Dengan satu tarikan napas arus menjawab dalam bahasa arab yang sangat fasih, dia menggunakan bahasa arab karena sebelumnya Alya sepat mengirimkan pesan.

Kalau bisa saat mengucapkan kabul dalam bahasa arab, karena ini mimpiku dari kecil. Isi pesan seminggu lalu.

Bahkan ini membuat satu tempat terdiam...

Bahkan Alya terdiam di dalam ruangannya..

"dia benar benar mewujudkan apa yang ku minta" batinnya.

Awalnya ia pikir arus tak akan memperdulikan permintaannya.

Karena pesannya hanya centang 2 tanpa berubah warna.

Ini terjadi karena arus memang hanya melihat pesan itu dari notif pesan dan dia tak membukanya.

"bagaimana para saksi...?" tanya penghulu.

Pertanyaan ini baru menyadarkan beberapa orang yang terdiam tadi...

"ternyata arus bisa mengucapkan kabul dalam bahasa arab, bahkan lancar" seru beberapa tetangga.

"ia... padahal ku kira dia akan kesulitan saat membaca kabul. gak ku sangka bahkan arus membaca dalam bahasa arab."

Juita yang mendengar pujian pujian untuk putranya, ia tersenyum sambil mengelap air matanya.

Setelah ijab dan Kabul selesai, kini giliran Alya yang keluar dari ruangannya.

arus terdiam saat melihat wanita mengenakan, gaun pengantin dengan cadar yang menutupi riasan.

"jangan liat lama lama, nanti gak tahan.." bisik Anhar.

"apaan si..." sikut arus.

Anhar sebenarnya sedari tadi juga memperhatikan Bagas, ia bisa melihat raut wajah pria itu yang terlihat murung.

Bahkan setelah ijab dan kabul, bagas terlihat meninggalkan tempat acara.

Anhar sebenarnya kasihan dengan temannya itu, tapi dia tak dapat menyusul. Lagi pula ini pernikahan adiknya.

Setelah di atas panggung, Alya memegang tangan arus dan menciumnya.

Namun saat menyentuh tangan suaminya ini, arus bisa merasakan getaran di tangan Alya..

Namun ia pura pura tak sadar.

Sepanjang hari, mereka hanya duduk dan sesekali mengalami tamu yang naik, dan kadang berfoto.

Untungnya acara ini hanya sampai sore, karena permintaan arus.

"rus, apa kamu yakin mau nginep di hotel untuk malam pertama..." tanya dewangga.

"hotel....?" tanya Alya sepontan.

Ia sama sekali tak di beri tahu tentang ini, Alya menatap arus.

"rus... Beneran kita nginep di hotel...?"

"ly, dia sekarang suamimu. Panggil dengan hormat" Tegur Juan.

"maaf pa" jawab Alya.

Alya kembali menatap arus, ia bingung mau memanggil apa. Di pikirannya hanya terlintas kata mas, karena orang tuanya dan orang tua arus juga memanggil dengan sebutan itu kepada suami mereka.

Namun belum sempat Alya memanggil dengan panggilan itu, arus sudah memotong melihat Alya yang terdiam tadi.

"kak saja"

Alya mengangguk.

"apa beneran di hotel, apa gak sebaiknya di rumah saja"

"hotel" jawab arus.

Walau suara arus tak keras dan tak terkesan membentak, tapi sekujur bulu kuduk Alya berdiri takut.

Lia mendengar ke adik sepupunya itu, ia sedikit menyenggol Alya.

"keknya arus gak mau malam romantisnya terganggu."

Alya bergetar, bukan malam romantis yang ya bayangkan.

Ia malah membayangkan dirinya di gantung karena berbuat salah.

"mikir apa aku, bisa bisanya menikah sama arus" batin Alya.

Namun menyesal sekarang percuma, lagi pula pernikahan ini inisiasi darinya juga.

Walau berat, Alya akhirnya tetap ikut naik ke mobil bersama arus.

Sepanjang jalan keduanya hanya diam, Alya hanya sibuk menatap ke luar mobil.

Sesekali ia menoleh ke arah arus.

"ada apa" tanya arus akhirnya.

Alya sedikit menunduk, ia ragu.. Namun akhirnya dia mengungkapkan apa yang ia pikirkan juga.

"kenapa harus di hotel..?" tanyanya.

"lebih tenang"

"tenang...? Tenang apaan, padahal di rumah juga bisa tenang...!" tentu Alya hanya berkata dalam hati, mana berani dia mengatakan itu langsung ke arus.

Selama 3 jam perjalanan, tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir masing masing. Benar benar seperti orang yang sama sekali tak kenal, bahkan orang yang tak saling kenal terkadang akan membicarakan beberapa hal jika berdua selama itu.

Alya yang jarang ke luar, desa sedikit kagum saat melihat hotel mewah yang mereka kunjungi.

Ia juga melihat arus yang seakan sudah biasa saat memesan kamar.

"kak, apa kamu sering memesan hotel..?" tanya Alya akhirnya.

"tentu..."

"sama siapa...? Apa sama pacar..?"

arus berhenti, bahkan Alya sampai memegang keningnya karena menabrak tubuh tinggi besar arus.

"kenapa tiba tiba berhenti..?"

arus berbalik, menatap Alya.

"kalo jalan lihat lihat" ucap arus.

"ya kalok kakak gak tiba tiba berhenti aku juga gak akan nabrak..." jawabnya kesal.

setelah itu arus kembali melangkahkan.

"apaan si orang ini" batin Alya.

"sendiri..." ungkap arus tiba tiba.

"sendiri...? Sendiri apanya.?" tanya alay bingung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!