NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Napas Naya seolah tersangkut di tenggorokan. Otaknya seketika lumpuh, tak mampu merangkai satu pun kata untuk merespons bisikan Kafka yang menyapu telinganya. Jarak mereka terlalu dekat, sangat dekat hingga Naya bisa melihat pantulan dirinya sendiri di manik mata Kafka yang gelap dan pekat. Wangi cedarwood dan mint dari tubuh pria itu menginvasi ruang udaranya, membuat dada Naya berdebar dengan ritme yang nyaris menyakitkan.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kewarasan yang ia miliki, Naya mendorong dada bidang Kafka menggunakan kedua telapak tangannya. Gerakan itu tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat Kafka menegakkan tubuhnya dan menarik diri.

"A-apaan sih, Kaf! Jangan bercanda!" seru Naya dengan suara bergetar, mati-matian menghindari tatapan intens pria itu. Ia meraih cangkir kopi di atas meja dengan tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menenggaknya terburu-buru tanpa memedulikan suhunya yang masih mengepul. Cairan pahit dan panas itu sukses membakar lidahnya, namun Naya lebih memilih rasa sakit fisik itu daripada harus menghadapi kecanggungan yang membunuh ini.

Kafka hanya terkekeh pelan. Suara tawanya rendah, berat, dan bergetar di udara, menyisakan getaran aneh di perut Naya. Pria itu sama sekali tidak terlihat tersinggung dengan penolakan kasar Naya. Sebaliknya, senyum miring di bibirnya justru semakin memperjelas bahwa ia sangat menikmati reaksi panik wanita di hadapannya.

"Yah, kalah lagi kan gue! Sialan emang hyper-nya buta map!"

Teriakan frustrasi Nessa dari atas karpet menjadi penyelamat hidup Naya pagi itu. Sahabatnya itu membanting ponselnya ke atas sofa dengan wajah bersungut-sungut, sepenuhnya tidak menyadari ketegangan luar biasa yang baru saja terjadi hanya beberapa meter darinya. Nessa bangkit berdiri, merapikan piyama satin hijaunya, lalu berjalan gontai ke arah dapur.

"Gue laper banget sumpah. Kaf, lo masak apa sih wangi banget? Lo bikin sarapan kan buat gue?" tuntut Nessa sambil mengintip ke arah island table di dapur bersih.

Kafka memutar tubuhnya, memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celana training-nya dengan santai. "Ada omelette dan roti panggang di meja. Makanlah."

Nessa bersorak kegirangan, langsung mengambil posisi di salah satu kursi bar dan mulai menyendok sarapannya. "Wah, sekolah mahal-mahal di London ternyata lo pulangnya jadi koki, Kaf. Lumayan lah, ada gunanya juga lo balik ke sini."

Kafka hanya menggelengkan kepalanya pelan menanggapi celotehan kakaknya. Ia kemudian berjalan kembali ke arah dapur, mengambil selembar roti panggang dan menaruhnya di atas piring kecil. Ia berjalan mendekati Naya yang masih duduk kaku di sofa, lalu meletakkan piring itu tepat di sebelah cangkir kopi Naya.

"Isi perutmu, Kak. Alkohol dari semalam belum sepenuhnya hilang dari sistem tubuhmu," ucap Kafka datar, namun ada nada perintah yang tak terbantahkan di sana.

Naya menatap roti panggang itu, lalu menatap Kafka yang kini berjalan menuju dapur untuk membersihkan peralatan masaknya. Punggung lebar itu bergerak dengan ritme yang tenang. Naya menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa anak laki-laki ingusan yang dulu selalu merengek minta dibelikan es krim kini berubah menjadi sosok pria dewasa yang mendominasi seperti ini? Semuanya terasa tidak masuk akal.

"Tumben banget lo pagi-pagi udah di sini, Nay," suara Nessa mengalihkan perhatian Naya. Sahabatnya itu sedang mengunyah omelette dengan mulut penuh. "Terus, baju kerja lo semalam basah kuyup semua di keranjang cucian. Lo kehujanan? Mobil lo mana?"

Pertanyaan Nessa bagaikan seember air es yang disiramkan tepat ke atas kepala Naya. Realitas kembali menghantamnya tanpa ampun. Tiramisu yang basah. Pintu apartemen. Sepatu hils hitam. Desahan dari dalam kamar.

Tangan Naya yang berada di atas pangkuannya perlahan mengepal erat. Rasa mual kembali mengaduk-aduk perutnya, bukan karena hangover, melainkan karena rasa jijik dan sakit yang luar biasa. Ia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.

"Gue... gue sama Reno putus, Nes," ucap Naya lirih. Suaranya pecah di ujung kalimat.

Dentingan garpu yang beradu dengan piring porselen mendadak berhenti. Nessa mematung di kursinya, matanya melebar menatap punggung Naya. Di dapur, pergerakan Kafka yang sedang mencuci wajan juga terhenti seketika. Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

"Apa lo bilang?" Suara Nessa terdengar berat, kehilangan nada cerianya yang biasa. Ia turun dari kursi dan setengah berlari menghampiri Naya, menjatuhkan diri di sebelah sahabatnya itu. "Putus? Kenapa? Kalian bukannya hari ini anniversary yang ketiga ya? Lo bahkan bela-belain balik cepet dari Surabaya!"

Satu tetes air mata akhirnya lolos dari pertahanan Naya, jatuh membasahi punggung tangannya. "Gue mergokin dia, Nes. Di apartemennya... sama perempuan lain. Di tempat tidur mereka..."

Naya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Napasnya tercekat oleh isak tangis yang mati-matian ia tahan. Nessa menggeram marah, merengkuh bahu Naya ke dalam pelukannya. Sahabatnya itu mengelus punggung Naya dengan protektif, sementara mulutnya mulai menyemburkan sumpah serapah paling kasar untuk mantan kekasih Naya.

"Brengsek! Laki-laki nggak tahu diuntung! Udah gue bilang dari dulu, muka dia tuh muka-muka manipulatif, Nay! Biar gue samperin apartemennya sekarang, gue obrak-abrik tuh isinya!" Nessa mengamuk, wajahnya merah padam menahan amarah.

Di tengah pelukan Nessa dan tangisannya yang tertahan, sudut mata Naya menangkap pergerakan dari arah dapur. Kafka berdiri mematung sambil mencengkeram tepi meja marmer begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahang pria itu mengeras, otot-otot di lehernya menegang. Mata hitamnya menatap lurus ke arah Naya, memancarkan kilat kemarahan yang begitu pekat dan kelam, jauh lebih menyeramkan daripada amarah Nessa yang meledak-ledak.

Namun saat pandangan mereka bertemu, sorot mata Kafka perlahan melembut. Kemarahan di sana melebur menjadi sesuatu yang lain. Sebuah rasa iba, dan... kepedihan yang aneh. Seolah melihat Naya menangis adalah hal yang paling menyiksa baginya. Pria itu membuang muka, menarik napas panjang, lalu berjalan cepat menaiki tangga menuju lantai dua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kepergian Kafka yang tiba-tiba membuat dada Naya mencelos. Ia merasa bersalah telah membawa drama patah hatinya ke rumah ini dan merusak pagi pertama Kafka setelah pulang ke Indonesia.

Dua jam berlalu setelah sesi menangis dan meluapkan amarah. Naya kini duduk di sofa dengan perasaan yang jauh lebih lega, meskipun hatinya masih terasa kosong. Ia telah mandi dan meminjam pakaian Nessa—sebuah kaus oversized berwarna hitam dan celana jeans yang sedikit kepanjangan untuknya.

"Nes, gue harus balik ke apartemen Reno sekarang," ucap Naya tegas, memecah keheningan saat Nessa sedang bersiap-siap dengan pakaian kerjanya.

Nessa menautkan alisnya. "Ngapain lo ke sarang penyamun itu lagi? Mau minta balikan? Gue cincang lo ya, Nay!"

"Nggak, gila lo!" Naya mendengus pelan. "Barang-barang gue masih banyak banget di sana. Baju kerja, dokumen penting, skincare, semuanya. Gue harus beresin semuanya hari ini sebelum gue kehabisan keberanian buat ke sana lagi."

Nessa menggigit bibir bawahnya, terlihat bimbang. Ia melirik jam tangan mahalnya. "Duh, Nay, gue pengen banget nemenin lo labrak si Reno sekalian. Tapi jam sepuluh ini gue ada meeting sama klien dari Jepang, nggak bisa di-cancel sama sekali. Bos gue bisa ngamuk kalau gue cabut."

"Nggak apa-apa, Nes. Gue bisa pergi sendiri pakai taksi—"

"Nggak bisa!" potong Nessa cepat. Ia menoleh ke arah lantai dua dan berteriak lantang, "Kafka! Turun lo sekarang!"

Beberapa saat kemudian, Kafka muncul di ujung tangga. Ia sudah berganti pakaian. Kaus hitamnya kini dibalut dengan kemeja flanel tebal berwarna navy yang kancingnya dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana jeans gelap. Rambutnya disisir rapi, menampilkan dahi dan alisnya yang tebal. Sekali lagi, Naya harus menahan napas menyadari betapa sempurnanya proporsi fisik pria itu.

"Ada apa?" tanya Kafka dengan suaranya yang tenang.

"Lo temenin Naya ke apartemen mantannya sekarang," perintah Nessa tanpa basa-basi sambil memasukkan laptop ke dalam tas kerjanya. "Dia mau ambil barang-barangnya. Lo setirin dia, bawain barangnya, dan pastiin mantan brengseknya itu nggak berani nyentuh Naya seujung kuku pun. Ngerti?"

Mata Naya melebar. "Nes! Nggak usah! Kafka kan baru sampai semalam, dia pasti masih jetlag. Gue bisa—"

"Aku ambil kunci mobil dulu di kamar," sela Kafka, memotong penolakan Naya dengan nada santai namun mutlak. Pria itu tidak menatap Naya, melainkan langsung berbalik kembali ke kamarnya, meninggalkan Naya yang mematung dengan mulut setengah terbuka.

"Tuh kan, dia mau. Udah, lo tenang aja, Nay. Ada Kafka, si Reno nggak bakal berani macem-macem. Adek gue itu sabuk hitam Taekwondo kalau lo lupa," ucap Nessa seraya menepuk bahu Naya sekilas, lalu bergegas menuju pintu depan. "Gue cabut dulu ya! Kabarin kalau ada apa-apa!"

Sebelum Naya sempat memprotes lagi, pintu utama sudah tertutup rapat. Naya mendesah pasrah. Hari ini benar-benar berjalan di luar kendalinya.

Lima belas menit kemudian, Naya sudah duduk membeku di kursi penumpang mobil SUV hitam milik Nessa yang kini dikemudikan oleh Kafka. Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat menyesakkan. Suara rintik hujan yang kembali turun di luar sana menjadi satu-satunya sumber suara yang mengisi keheningan yang canggung ini.

Naya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap kosong ke arah jalanan ibu kota yang mulai padat. Pikirannya berkecamuk. Ia takut menghadapi Reno. Ia takut pertahanannya runtuh saat melihat wajah pria yang telah menemaninya selama tiga tahun terakhir. Namun di sisi lain, kehadiran pria jangkung di kursi pengemudi di sebelahnya ini memberikan distraksi yang luar biasa kuat.

Aroma cedarwood dan mint memenuhi udara di dalam mobil, membuat Naya tanpa sadar menghirupnya dalam-dalam. Itu aroma yang sangat menenangkan.

Saat mobil berhenti di sebuah lampu merah, Kafka menoleh menatap Naya. Pria itu menyadari jemari Naya yang bertaut erat di atas pangkuannya, gemetar dan pucat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kafka mengulurkan tangan kirinya, menyalakan pemutar musik di dasbor mobil. Lantunan lagu bergenre Lo-Fi yang pelan dan menenangkan mengalun memenuhi kabin.

Saat Kafka menarik tangannya kembali, ujung jari besarnya secara tidak sengaja menyentuh punggung tangan Naya yang dingin. Sentuhan itu hanya berlangsung sepersekian detik, seringan bulu, namun rasanya seperti ada aliran listrik bervoltase rendah yang menyengat kulit Naya.

Naya menoleh, menatap Kafka dengan terkejut. Namun pria itu sudah kembali menatap lurus ke jalanan, rahangnya terkatup rapat. Hanya saja, Naya bisa melihat urat-urat halus bermunculan di lengan bawah Kafka yang mencengkeram kemudi dengan sangat kuat.

"Kau tidak pantas menangis untuk pria seperti itu, Kak," suara Kafka mengalun rendah, memecah keheningan bersamaan dengan lampu yang berubah hijau. "Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Seseorang yang tahu bagaimana cara menghargaimu."

Kalimat itu diucapkan dengan sangat pelan, nyaris seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Namun efeknya bagi Naya begitu luar biasa. Ada ketulusan yang pekat dalam nada suara Kafka, menyentuh sudut terdalam hati Naya yang sedang hancur.

Mobil akhirnya berbelok memasuki pelataran parkir apartemen Reno. Jantung Naya kembali berpacu liar. Ketakutan kembali menyergapnya. Begitu Kafka mematikan mesin, Naya mematung di kursinya, kakinya terasa berat untuk melangkah keluar.

Melihat keraguan Naya, Kafka keluar dari mobil lebih dulu. Ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Naya. Pria itu berdiri menjulang di samping pintu, menghalangi rintik hujan yang terbang terbawa angin.

Naya mendongak, menatap wajah Kafka. Mata hitam pria itu tidak lagi memancarkan kilat menggoda seperti tadi pagi. Kali ini, tatapan itu memancarkan ketegasan, perlindungan, dan rasa aman yang tak tergoyahkan.

Kafka mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan untuk Naya keluar dari mobil. Saat Naya ragu-ragu menyambut uluran tangan itu, Kafka bergerak maju satu langkah. Telapak tangan pria itu yang besar dan hangat mendarat dengan lembut di punggung bawah Naya, menuntunnya keluar dari kungkungan rasa takut. Sentuhan protektif itu membuat sesuatu berdesir hangat di perut Naya.

"Jangan menunduk," bisik Kafka tepat di samping telinga Naya saat mereka melangkah menuju lobi apartemen. "Aku ada di belakangmu, Kak Naya. Kita hadapi sama-sama."

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!