Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Masalah jembatan Lore'i ternyata benar-benar menyita waktu Alexander. Baru saja bermesraan dengan istrinya. Alexander harus kembali ke sana karena ternyata masih ada beberapa masalah administrasi.
"Anak sialan. Apa Raphael tidak bisa menggantikanmu!" teriak Rudolph melihat cucunya kembali pergi.
"Maaf Tuan. Kehadiran Tuan muda sangat dibutuhkan. Mereka tidak percaya saya. Lagi pula, saya tidak punya apa-apa selain saya suruhan Tuan Muda!" jawab Raphael.
Alexander tak menggubris kekesalan kakeknya. Ia tetap pergi, karena jembatan itu sangat menguras uangnya. Jadi ia harus memastikan jika semua sesuai kehendaknya.
Char hampir menangis karena ditinggal lagi oleh suaminya. Entah kenapa, semenjak Alex menghilangkan perjanjian satu tahun pernikahan mereka. Membuatnya tak bisa berpisah sebentar saja dengan Alex.
"Sayang, apa kamu benar-benar harus pergi?" Char menatap suaminya dengan berkaca-kaca.
Alexander, Rudolph bahkan Raph berhenti mendadak mendengar panggilan itu. Suasana mendadak mencekam. Alexander berbalik menatap istrinya yang sudah mau tumpah air di pelupuk matanya.
"Sayang!" rengek Char lalu mengait lengan baju suaminya dan menggoyang-goyangkannya seperti anak kecil ingin minta permen.
"Jangan pergi boleh," pintanya penuh harap.
Rudolph menatap Alexander dengan rasa penasaran, sementara Raph hanya berani melirik atasannya dengan ekor matanya saja. Keduanya tegang menanti jawab sang mafia.
Aura dingin dan kaku yang biasanya menyelimuti sosok Alexander Philip Romanov melorot seketika saat jemari mungil Charoen mengguncang lengan jasnya. Panggilan "Sayang" serta tatapan berkaca-kaca dari sang istri bekerja bagai mantra sihir yang melumpuhkan seluruh logika sang mafia nomor satu itu.
Raphael yang berdiri kaku di belakang Alexander menahan napasnya, sementara Rudolph menyunggingkan senyum lebar yang dipenuhi rasa puas.
Alexander menghela napas panjang—sebuah helaan napas pasrah yang tak pernah terdengar dari mulutnya selama tiga puluh tahun ia hidup. Tanpa memedulikan tatapan kakeknya maupun para pengawal yang berjaga, Alexander memutar tubuhnya, menyelipkan kedua lengan kokohnya ke bawah pinggang dan paha Charoen, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
"E-eh! Alex!" Charoen terkejut, refleks melingkarkan kedua tangannya di leher tegap sang suami.
Alexander menatap manik mata istrinya dengan binar kelabu yang lumer dan hangat.
"Raphael," panggilnya dengan suara berat tanpa menoleh.
"S-saya, Tuan Muda?" cicit Raphael gemetar.
"Tunda penerbangan helikopter sepuluh menit," perintah Alexander tegas. Pria perak itu lalu membawa Charoen kembali melangkah masuk ke dalam kastil, menaiki anak tangga menuju kamar utama mereka.
"Hahaha! Bagus! Tunjukkan pada para politikus busuk di Lore'i itu siapa yang memegang kendali atas dirimu sekarang, Alex!" tawa Rudolph pecah bergema di seluruh aula utama.
Di dalam kamar yang tenang, Alexander meletakkan Charoen dengan perlahan di atas kasur king size. Pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Charoen, terkekeh pelan sembari menatap wajah merona istrinya.
"Panggil aku seperti itu lagi," bisik Alexander, suaranya bertolak belakang dengan ketegasannya di lapangan.
"A-apa...?" Charoen mengalihkan pandangannya, mendadak malu setengah mati atas keberaniannya tadi di depan kakek mertua dan asisten suaminya.
"Panggilan yang tadi. Panggil aku seperti itu lagi, atau aku tidak akan pernah berangkat ke Lore'i dan membiarkan jembatan satu triliun dolar itu terbengkalai," ancam Alexander dengan nada menggoda.
Charoen menggigit bibir bawahnya, menatap suaminya penuh kepasrahan sebelum berbisik pelan tepat di depan bibir Alexander,
"Sayang... cepatlah pulang nanti."
Serangan manis itu sukses membuat Alexander memejamkan mata sejenak, menahan gemuruh di dadanya sebelum mendaratkan ciuman dalam dan hangat di bibir istrinya.
"Aku pulang cepat sayang," jawab Alexander dengan napas menderu.
Seluruh tubuhnya menegang, tiba-tiba hasrat itu datang. Ia mengepal tangan kuat-kuat, sungguh wangi tubuh istrinya sangat membuatnya mabuk kepayang.
"Sayang, kamu nggak jadi pergi?" tanya Char lalu merebahkan diri dan menatap suaminya penuh kepasrahan.
Alexander menggeram sempurna, ia benar-benar tak tahan. Pria berambut perak itu mengambil ponselnya.
"Raph, kau urus semuanya dulu. Aku menyusul ...," Char tersenyum menggoda suaminya dengan menggigit bibirnya nakal.
"Kapan Tuan Muda!"
"Secepatnya aku bisa!"
Alexander segera mematikan teleponnya dan kamar itu pun penuh adegan mesra sepasang suami istri.
Sementara Raph menatap ponselnya yang baru saja ditutup sang atasan. Lalu matanya menatap lantai atas.
"Pergi sana! Jangan ganggu cucuku!" usir Rudolph kesal.
Raph menghela napas panjang, ia pun terpaksa pergi sendiri, menjalankan perintah sang atasan..
Sayangnya, jika Alexander masih ada negosiasi. Jika Raph, hanya pelurunya saja yang diletuskan dan orang-orang itu tak bicara selamanya.
Lima jam berlalu, Alexander turun dengan wajah segar. Tampak cahaya memenuhi dirinya setelah memuaskan diri dengan istrinya. Senyum kecilnya timbul saat turun, Rudolph menatapnya penuh selidik.
"Kenapa kau turun sendiri. Mana Char? Kau tidak menyiksanya tadi kan?" cecarnya cerewet.
Alexander hanya terkekeh pelan menyikapi kecerewetan sang kakek. Pria perak itu merapikan kancing lengan kemeja hitamnya yang sudah rapi, memancarkan aura puas dan segar yang tak bisa disembunyikan.
"Dia sedang tidur, Grandpa," jawab Alexander santai seraya menghampiri meja dan menyambar cangkir kopi hitamnya. "Dan tidak, aku tidak menyiksanya. Aku hanya memanjakannya sesuai permintaan istriku sendiri."
Rudolph mendesis pelan, lalu menyunggingkan senyum puas sembari mengacungkan tongkat kayunya ke arah Alexander.
"Bagus kalau begitu! Jangan sampai kau melukai cucu menantuku. Sekarang, cepat pergi ke Lore'i sebelum Raphael memusnahkan setengah pejabat di sana! Kau tahu sendiri asistenmu itu tidak punya kesabaran sepertimu."
"Aku berangkat sekarang," sahut Alexander.
Sebelum melangkah keluar, ia menyempatkan diri kembali melirik ke arah tangga atas, membayangkan wajah tertidur lelap Charoen yang menggemaskan dengan jejak-jejak kemesraan mereka beberapa jam lalu. Senyum tipisnya makin terkembang sebelum wajahnya berubah kembali dingin dan penuh dominasi saat melangkah menuju helipad.
Sementara itu, lima jam berlalu di Lore'i.
Atmosfer di gedung balai kota Lore'i tempat negosiasi proyek jembatan berlangsung benar-benar tegang dan mencekam. Raphael berdiri tegak di ujung meja rapat berukuran panjang, memegang sepucuk pistol berpenyenyap suara yang masih mengeluarkannya asap tipis di ujung larasnya.
Di lantai marbel yang dingin, seorang pejabat daerah yang tadi mencoba memeras biaya administrasi tambahan kini terkapar tak bernyawa dengan lubang peluru tepat di dadanya.
Para pejabat lainnya yang tersisa duduk gemetar hebat, wajah mereka pucat pasi tanpa darah, tak berani mendongak apalagi mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tuan Muda Alexander menunda kedatangannya karena ada urusan mendesak yang jauh lebih penting daripada rengekan uang suap kalian," ujar Raphael datar, menyapu pandangan dinginnya ke sekeliling ruangan. "Ada lagi yang ingin mempertanyakan soal anggaran administrasi jembatan ini?"
"T-tidak, Tuan Raphael! Kami... kami setuju dengan semua klausul dari keluarga Romanov! Bebas pajak dan tanpa syarat!" seru seorang politikus paling senior dengan suara gemetar, bergegas menandatangani dokumen di depannya tanpa berani menawar lagi.
Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka lebar. Alexander melangkah masuk dengan jubah hitam yang melambai, memancarkan aura penguasa mutlak.
Mata kelabu Alexander melirik sekilas ke arah mayat di lantai, lalu menatap Raphael.
"Kau menyelesaikan bagianmu dengan cepat, Raphael," ujar Alexander datar seraya menarik kursi utama di ujung meja.
"Mereka terlalu banyak bicara, Tuan Muda. Saya hanya memangkas birokrasi yang berbelit-belit," jawab Raphael membungkuk hormat, menyodorkan pena berlapis emas ke tangan atasannya.
Alexander menyunggingkan senyum dingin, membubuhi tanda tangannya di atas berkas resmi proyek Lore'i. Masalah bernilai triliunan dolar yang sempat rumit itu kini selesai sepenuhnya hanya dalam hitungan menit di bawah ketegasan dan nama besar sang penguasa Romanov.
"Bereskan kekacauan ini," perintah Alexander seraya berdiri kembali. "Aku harus segera pulang ke kastil. Istriku sedang menungguku."
Proyek Lore'i resmi tuntas dan Alexander bergegas pulang kembali ke Kastil.
"Raph, siapkan villa di Bukit Dondelesh! Buat surat-suratnya atas nama istriku!" perintahnya saat naik helikopter.
"Baik Tuan Muda!" sahut Raph.
"Oh ya. Aku juga sudah transfer satu juta dolar sebagai bonusmu! Cutilah dua hari, Raph. Ibumu pasti sangat merindukanmu!" ujar Alexander lagi.
"Terima kasih, Tuan Muda!" seru Raph senang bukan main.
Helikopter Alexander pun naik, Raph gegas membuka ponsel dan melihat rekeningnya. Di sana sejumlah uang tertera dan penerimaan satu juta dolar.
"Bu ... Nanti kita makan ayam saus jamur ya," gumamnya lalu bayangan wanita paru baya yang tersenyum hangat menyambutnya pulang dan memanggilnya.
"Raphael ... Anakku!"
Bersambung.
eh ... Kok melow ya Raph?
Next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung
bau bau akan keromantisan n kebucinan sang mafia akan segera menguar nh