NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 16 ] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Pasado Mañan-

Malam ini udara dingin menusuk halaman kediaman utama Carlous, membawa aroma alkohol mahal dan minyak senjata. Di sudut pelataran, tiga sosok berdiri dengan aura intimidatif.

"Gua yakin Tuan Muda Zaidan masih perlu waktu buat berkembang," bisik Ezekiel serak seraya membetulkan jas hitamnya.

Dante dan Luca mengangguk setuju. Dante bersandar pada pilar batu dengan kemeja terbuka yang memperlihatkan bekas luka di dadanya, sementara Luca menatap penuh hasrat pada kiriman minuman keras kelas atas yang baru tiba.

"Gila, itu Scotch langka yang dipesan Tuan Hans?" Luca menyeringai. "Gua mesti rasain itu sekarang."

Jemari Luca baru terulur ketika sebuah bayangan memotongnya.

"Luca, sabar dulu! Acaranya saja belum dimulai~ jangan sampai kau teler duluan!" Maron menepis jemari Luca.

"Berikan itu!" gertak Luca, matanya menyipit berbahaya. "Hey, slow down, bitch!"

"This is not!...For you!" balas Maron dingin, menggeser botol itu ke sisi kakinya.

"Yang bener aja Mor!,cuman sebotol doang apa masalah nya sih?!" Luca maju dengan rahang mengeras.

"Uhh. Lebih tepatnya memohon... untukku kalau tetap mau," ejek Maron sinis.

Luca menerjang. Maron menggeser tumpuan, memutar tubuh, lalu mengait kaki Luca.

Brak! Luca tersungkur, wajahnya menghantam tanah berkerikil. Ezekiel hanya menghela napas, sementara Dante terkekeh.

"Yah, sudah kuduga," ucap Maron memandang rendah.

"Agghrh, berisik!" umpat Luca seraya bangkit dan membersihkan debu.

"Dengarkan aku ya... bocah!" Maron menunduk mengintimidasi. "Sebanyak apa pun kamu bersaing denganku, kamu akan selalu kalah. Ingat itu."

"Sial! Lu cuma lagi beruntung saja, Maron!" teriak Luca dengan buku jari memutih.

"Ahh sudahlah, aku malas berdebat denganmu lagi," Maron membelakangi Luca. "Untuk sekarang, lebih baik kalian bertiga masuk. Sebentar lagi acaranya akan dimulai."

Dante menepuk bahu Luca. "Lu duluan aja. Kita di sini masih nungguin Tuan Oscar—"

"Tuan belum juga sampai?" tanya Maron memotong.

Dentang berat gerbang besi raksasa memecah malam. Tiga sedan hitam mewah masuk beriringan. Dari mobil tengah, Oscar turun dan mengulurkan tangan pada istrinya, Anisa.

Anisa meremas gaunnya di ambang pelataran. "Besar sekali rumah nya..." bisiknya.

Pandangan Anisa tertuju pada patung perunggu wanita berjas yang menggenggam tongkat kristal—memancarkan aura dominasi mutlak. Ia membaca pahatan nama di bawahnya.

"Nicolette Ladesya?"

Oscar menyandarkan dagu di dekat bahu Anisa. "Ini patung Bunda. Patung ini dibuat untuk menghormati kepergiannya... karena beliau telah lama berjasa semasa hidupnya."

"Ayo, masuk," pimpin Oscar menuntun Anisa melewati pintu utama.

Lorong mansion dipenuhi aroma lavender dari vas-vas porselen mahal. Di dinding, deretan foto menyimpan sejarah kelam Nicole—penguasa mafia yang mengeksekusi ratusan nyawa sebelum tewas dalam eksekusi mati akibat pemberontakan.

Anisa berhenti di depan foto usang Nicole bersama seorang pria yang bagian wajahnya robek. "Mas Oscar? Kenapa... foto yang rusak ini tetap dipajang? Siapa pria yang bersama Bunda itu?"

Oscar mendekat. "Itu Ayah. Dia biasanya tidak pernah mau berfoto tanpa topeng. Dan sekalinya memiliki foto yang memperlihatkan wajahnya... Bunda justru merobek bagian itu. Entah ke mana sisanya sekarang."

Oscar mendesah berat. "Sudah lama sekali semenjak kepergian Bunda. Seandainya kami semua tahu wajah Ayah dengan jelas, mungkin di luar sana tidak hanya ada satu patung."

"Maksud Mas... selama ini kalian belum pernah melihat bentuk wajah Ayah kalian sendiri?" Anisa terperanjat.

Oscar tersenyum tipis. "Yah... begitulah. Banyak hal yang belum kamu ketahui, Anisa. Dan banyak hal pula yang belum bisa aku ceritakan. Untuk sekarang, kita tidak usah membahasnya. Ini hari bahagia keponakan kita, kan? Ini akan menjadi pesta meriah keluarga."

"Iya, Mas... benar."

Mereka menuju taman belakang tempat ratusan tamu kelas atas berkumpul. Anisa memperhatikan pria tua bermata tajam bak predator yang duduk menyendiri. "Apa beliau yang duduk di sana adalah kakeknya Mas?"

"Bukan, sayang~" Oscar menggeleng. "Dia Xenon Obela. Beliau bawahan Kakak Ed sekaligus penasihat setianya. Xenon sudah lama bekerja di sini... dulu dia melayani Ayah,kini ia lakukan hal sama sebagaimana sekarang dia melayani Kakak Ed."

Tepuk tangan riuh membahana saat Zaidan muncul di balkon lantai dua dengan tegap.

"Dia tampan sekali~" gumam Azy pada suaminya, Hans, yang menggendong Arlot dan Alex.

"Yah~ tampan seperti ayahnya," balas Hans tipis. Dentang lonceng emas menandai usainya pembaptisan tradisi klan. Zaidan resmi berusia 17 tahun.

.

.

.

.

"Anda benar-benar berniat mengundang mereka ke acara ini?! Apa anda sudah gila?!" bentak Xenon Obela di ruang kerja.

Edwardo Carlous tetap bersandar santai di meja mahoni, menyesap cerutu dengan aura dingin mematikan. "Gila? Siapa yang sebenarnya gila di sini sampai menghabisi nyawa seseorang?"

Ketika akhirnya Pintu terbuka memperlihatkan siluet tamu yang mereka berdua tunggu tunggu,Benjamin Yohan pimpinan Clan Mans masuk dikawal dua putranya, Azrel Heimans dan Bart Heimans. Ketegangan berdarah langsung memenuhi ruangan.

"Mari~ silahkan masuk dan duduklah yang nyaman di bangku yang sudah saya siapkan, Tuan-tuan," sapa Edward ramah-sinis. Azrel dan Bart menatap jijik.

Yohan duduk. "Mengapa perlu memanggil saya kemari?"

"Yah... kami mengundang Anda secara terhormat untuk membahas sesuatu secara terbuka dan transparan," jelas Edward.

"Lanjutkan."

Edward memainkan belati berukir. "Setiap akhir tahun, sesuai perjanjian antara klan, kita bersumpah untuk membagi rata daratan barat atas jalur balik pemasokan senjata. Termasuk klan kami."

"Seminggu setelah rute perbatasan barat dibuka, seorang pria misterius melakukan kunjungan pada salah satu rute yang biasa kami lewati bersama pihak berwajib, menyabotase markas kami, menghancurkan semua yang ada di dan merampok keuntungan yang ada.sunguh sebuah insiden tidak menyenangkan... yang membuatku sangay merugi besar," lanjut Edward.

"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Yohan dingin.

Edward mengarahkan belati berdarah kering itu ke meja. "Tiga hari setelahnya, adikku Oscar menemukan jalur pemasokan senjata berbelok ke tempat tujuan berbeda... dengan nama pengemudi truk Reksa Finance dan seorang penyelundup bernama Gilbert Heimans."

Mata Yohan membelalak—itu nama putranya yang dikira telah tewas.

"Tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap Anda, tetapi jelas di sini pemuda bernama Gilbert Heimans adalah putra bungsumu. Dan dia bersekongkol dengan hukum. Tentunya... saya hanya ingin menuntut masalah ini diperbaiki."

"Itu semua bohong!" potong Bart murka. "Jika Gilbert melakukan ini, maka dia bertindak atas pemikirannya sendiri! Atau mungkin... karena kalianlah yang memulai semuanya! Adikku masih terlalu muda, wajar jika dia menyimpan dendam!"

"Bart benar, adik kami masih sangat muda tidak mungkin ia berprilaku demikian tanpa alasan?!" timpal Azrel keras.

Wilgard keluar dari bayang-bayang. "Dia masih muda? Bukankah dia tiga tahun lebih tua dariku?"

"Jangan ikut campur, Wil," potong Ed tegas.

Azrel tertawa sinis. "Yah... lihat dia. Berjalan ke mari seperti anjing yang tidak memiliki ikat leher!"

"Jelas sekali adik kami meninggal!" bentak Bart maju. "Dia seorang wali kota muda yang terhormat! Tindakan pembunuhan yang kalian lakukan adalah cara kalian mengakui tuduhan atas berita bohong itu!"

"Berisik, bajingan!" raung Wilgard.

"Kau yang bajingan! Darah campuran!" balas Azrel.

"Apa kau bilang?!" Wilgard menerjang, namun Edward memukul meja keras.

Brak!

"CUKUP!" teriak Xenon gemetar.

"Tuan Yohan yang terhormat, jika tidak bisa memperbaiki permasalahan ini... lebih baik kita sudahi saja pembahasan ini. Dan saya mohon Anda cepat angkat kaki dari rumah ini!"

Yohan bangkit dan merapikan jasnya. "Baiklah~ memang tidak ada lagi yang pantas kita bahas. Kami mohon pamit." Yohan dan kedua putranya hengkang dengan tatapan membunuh.

Edward menyesap kopinya datar ke arah Wilgard. "Pergi temui istri-istrimu. Jangan lampiaskan amarahmu padaku." Wilgard menggeram dan pergi.

Wilgard menggeram rendah, mengepalkan tangan lalu berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah kasar. Ed tahu betul—kesehatan mental Wilgard memerlukan pelampiasan ekstrem pada wanita untuk meredakan dorongan membunuh yang bergejolak di kepalanya.wajar lah jika kenyataanya Wil memiliki banyak wanita di sisinya.

Kini tinggal Edward dan Xenon.

"Sekarang... jelaskan," kata Edward menyulut cerutu baru.

Xenon berkeringat dingin. "Semuanya... di luar perkiraan saya, Tuan."

Xenon menghela napas panjang, menceritakan bagaimana ia mengutus salah satu komplotan bawahannya untuk mengamankan jalur perbatasan barat. Jalur yang seharusnya aman berdasarkan Perjanjian V—kesepakatan mutlak antarklan mafia untuk tidak pernah melibatkan kepolisian atau saling menjatuhkan dalam bisnis haram mereka.

Namun, ketika pasokan itu tiba di markas inti Carlous, aparat hukum tiba-tiba mengepung tempat tersebut. Xenon mengira ada pengkhianat di dalam klan. Dalam kemarahan buta, atas perintahnya bawahannya justru memburu sosok yang salah—Amora Lemos, sahabat dekat Gilbert Heimans.

Amora tewas di tangan anak buah Xenon secara tragis, menyulut dendam kesumat dalam diri Gilbert. Gilbert yang murka kemudian menghadap rute pengiriman Carlous di hari berikutnya. Namun, Gilbert tidak tahu bahwa truk pengiriman hari itu dikawal langsung oleh komplotan anak buah Wilgard—pasukan pembantai yang tidak kenal ampun. Pembantaian tak terhindarkan, merenggut nyawa Gilbert dan sebagian besar anak buahnya.

karena tak percaya atas kematian Gilbert akibat perintahnya sendiri, Xenon memutuskan membersihkan jejak tersisa dengan melakukan skenario seolah olah Gilbert mati karena kecelakaan mobil yang ia kendarai sendiri

"Semenjak kejadian tersebut... saya benar-benar merasa bersalah," bisik Xenon menunduk. "Seharusnya saya tidak bertindak sesuai apa yang saya rasakan... melainkan apa yang saya pikirkan."

Edward menatap kosong nan mematikan dari balik kepulan asap.

"Kamu boleh pergi, Xenon. Aku butuh waktu sendiri~"

"Baik, Tuanku." Xenon membungkuk lalu melangkah keluar.

Pintu tertutup. Edward menyandarkan kepala, membiarkan keheningan menyerap keriuhan pesta Zaidan yang samar dari jauh.

Sementara cerutu tersebut masih terus di nikmati nya, terlintas sebuah secercah ingatan yang baru saja ia dengar tadi-

"Yah... lihat dia. Berjalan ke mari seperti anjing yang tidak memiliki ikat leher!"

Perkataan yang semula azrel Katakan itu menyadarkan nya tentang sesuatu

Mungkinkah

Seorang pemilik anjing benar benar memiliki tali cukup untuk mengikat seluruh anjing anjing nya?, atau apakah benar seekor anjing bisa setia tanpa tali pengikat?

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!