NovelToon NovelToon
Retak Di Antara Kita

Retak Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Priska Heriska

Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.

sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.

dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fondasi dari peluh dan doa

Sore mulai merayap pelan, membawa jingga yang pudar di balik atap-atap rumah. Pintu depan terbuka dengan deret pelan yang sudah sangat kami kenal. Bapak melangkah masuk. Bahunya yang terbalut kaos lusuh tampak sedikit membungkuk.

Di tangannya, ada kantong plastik hitam berisi sebungkus kecil kopi sachet hasil jerih payahnya bekerja sebagai buruh harian bangunan dari pagi hingga petang.

Wajah Bapak tampak lelah, guratan peluh di dahinya belum sempat kering. Namun, begitu melihat Ibu yang sedang menyajikan nasi di meja makan dan mata Kakak yang masih sedikit sembap, Bapak langsung tahu ada yang tidak beres.

Ibu tidak langsung bercerita saat itu juga. Sambil menuangkan air putih untuk Bapak, Ibu hanya menepuk pelan bahu suaminya itu, menyuruh Bapak mandi dan makan lebih dulu. Kami bertiga duduk mengitari meja kayu sederhana. Suasana makan sore itu terasa lebih senyap dari biasanya. Tidak ada suara sendok yang beradu nyaring, hanya suara kunyahan yang pelan dan angin sore yang segar.

Begitu suapan terakhir selesai, Ibu akhirnya membuka mulut. Dengan suara tenang namun terselip getar sisa air mata tadi siang, Ibu menceritakan lagi apa yang terjadi di dekat tukang sayur keliling.

Bapak mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Rahang Bapak yang keras mulai mengatup rapat. Tangan kasarnya yang penuh bekas semen dan kapur mengusap wajahnya yang kasar. Sebagai orang yang setiap hari membanting tulang di bawah terik matahari demi anak-anaknya bisa sekolah, mendengar anak yang ia banggakan diolok-olok sebagai pemalas tentu menghujam dada Bapak sama dalam dan perihnya.

Bapak menarik napas panjang, lalu meletakkan tangannya di atas meja.

"Nggak usah dimasukkan ke hati," suara Bapak berat, khas suara pekerja kasar yang menyimpan keteguhan. "Biar bapak yang capek di luar nyari semen, asal kalian berdua sekolah yang bener. Omongan orang di gang nggak bisa dipakai buat beli beras."

Kakak menunduk, menatap piringnya yang sudah kosong. Setetes air mata kembali lolos jatuh ke meja.

"Besok Senin tetap berangkat," lanjut Bapak dengan suara yang tidak menerima bantahan, tapi penuh kehangatan seorang ayah. "Kalau ada yang tanya atau nyinyir lagi, tatap matanya, jalan lurus. Bapak nggak pernah malu sama kerjaan Bapak, kalian juga nggak boleh malu sama diri kalian sendiri."

Ketika malam Minggu tiba, suasana rumah terasa lebih hangat, meski udara di luar mulai lembap karena sisa gerimis sore. Lampu bohlam di ruang keluarga yang kuning remang-remang menemani kami bertiga duduk di lantai beralas tikar.

Biasanya, malam Minggu adalah waktu bagi keluarga lain untuk keluar rumah atau sekadar menonton televisi bersama tetangga. Tapi di rumah kami, malam Minggu diisi dengan suara halaman buku yang dibalik pelan-pelan.

Kakak sudah duduk di meja belajarnya lagi. Tas sekolah yang tadi siang sempat ia pandang sebagai beban, kini sudah terbuka rapi. Buku-buku paket dan catatan matematika tersusun di hadapannya. Di sampingnya, segelas air putih hangat menemani.

Aku duduk bersila di dekat pintu kamar, memerhatikan Kakak dari belakang. Bahunya tidak lagi bergetar menahan tangis. Ada fokus baru di sana sebuah ketenangan yang lahir dari rasa sakit yang dipaksa mengeras menjadi baja.

Di ruang depan, Bapak dan Ibu sedang merapikan lembaran uang hasil upah harian hari ini. Ibu menghitungnya dengan teliti, memisahkan uang untuk belanja besok pagi, uang saku kami berdua, dan sedikit sisa yang dimasukkan ke dalam kaleng biskuit usang tempat simpanan. Sesekali Bapak membisikkan sesuatu, membuat Ibu mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.

Aku bangkit, berjalan mendekati meja belajar Kakak.

"Kak," panggilku pelan.

Kakak menoleh, menampakkan wajah yang jauh lebih segar dibandingkan sore tadi.

"Kenapa, Ris?"

"Besok siang, belanja sayur buat Ibu biar aku aja yang turun ke depan," kataku sambil tersenyum lebar. "Bu Wati enggak ada kalo di tukang sayur satunya, depan tetangga bukan di gang."

Kakak mendengus pelan, kali ini bukan karena sedih, tapi karena menahan tawa kecil. Ia menggeleng, lalu kembali menatap buku pelajarannya. "oke, kamu yang belanja"

Malam semakin merayap jauh ke dalam sunyi, tetapi lampu bohlam kuning di ruang tengah seolah enggan meredupkan semangat kami. Setelah pembicaraan singkat tentang tukang sayur tadi, aku teringat satu tanggung jawab yang belum ku selesaikan untuk hari Senin.

Aku kembali ke dekat pintu kamar, mengambil tas sekolahku yang tergeletak di sudut tikar, lalu mengeluarkan sebuah buku tulis bergaris. Ada tugas Pekerjaan Rumah (PR) Bahasa Indonesia yang tenggat waktunya besok Senin: membuat sebuah puisi bebas.

"Kak," panggilku lagi, kali ini sambil membawa buku tulis dan sebuah pulpen. "Bisa bantu aku? Ada PR bikin puisi, tapi aku bingung mau mulai dari kata apa."

Kakak menghentikan ketukan penanya di atas buku matematika. Ia menoleh, memandang buku tulis yang ku sodorkan, lalu tersenyum tipis. Sisa-sisa kesedihan di matanya kini benar-benar telah digantikan oleh binar hangat seorang kakak yang siap melindungi adiknya.

"Sini," kata Kakak, menggeser sedikit posisi duduknya agar aku bisa ikut berbagi pojok meja belajar yang sempit itu. "Puisi itu bukan cuma soal kata-kata indah yang rumit, Ris. Puisi itu tentang apa yang kita rasakan. Kamu lagi mikirin apa sekarang?"

Aku terdiam sejenak. Mataku beralih pada punggung Bapak yang masih duduk di lantai ruang depan bersama Ibu, menghitung lembaran uang kumal hasil peluh seharian. Aku juga melihat tangan Kakak yang kembali menggenggam pena dengan kokoh.

"Aku mau nulis tentang rumah ini, Kak. Tentang Bapak, Ibu, dan Kakak," jawabku jujur.

Kakak mengangguk pelan. Ia mengambil selembar kertas buram, lalu menuliskan beberapa kata kunci di sana: keringat, malam, baja, dan senyum.

"Bagus. Anggap kata-kata ini sebagai fondasi, kayak semen yang Bapak aduk setiap hari," bisik Kakak, nadanya bersemangat. "Sekarang, coba kamu rakit kalimat pertamanya. Bayangkan suasana malam ini."

Selama satu jam berikutnya, malam Minggu kami berubah menjadi ruang kreasi yang penuh kehangatan.

Kakak membimbingku dengan sabar. Ketika aku kesulitan mencari rima yang pas, ia akan memberikan pilihan kata yang lebih menyentuh. Ketika kalimatku terlalu kaku seperti membaca berita, ia mengajariku cara menyisipkan rasa di dalam setiap baitnya. Ibu sempat berjalan mendekat, membawakan kami sepiring pisang rebus hangat, lalu kembali ke kamar bersama Bapak.

Tepat saat jarum jam dinding tua kami berdentang pelan menunjukkan tengah malam, puisi itu akhirnya selesai. Aku menuliskannya dengan rapi di buku tugas menggunakan tinta hitam:

Di bawah bohlam kuning yang temaram,

Kami merajut mimpi di kala malam.

Bukan dari emas atau gelimang harta,

Rumah ini tegak karena peluh dan doa.

Biarlah jemari luar mencibir angkuh,

Kami punya pundak bapak yang tak 'kan runtuh.

Biar semen dan kapur membungkus raga,

Harkat kami adalah belajar hingga bermakna.

Esok Senin, langkah kami tak akan ragu,

Menatap masa depan, menepis segala abu.

Sebab di rumah kecil yang sarat cinta,

Luka hari ini, telah menjelma baja.

Kakak membaca bait demi bait yang baru saja ku tulis dengan saksama. Aku bisa melihat matanya sedikit berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena rasa bangga yang membuncah.

"Ini bagus banget, Ris," ucap Kakak tulus, sambil menepuk pundakku. "Ibu dan Bapak pasti bangga kalau dengar ini."

Aku menutup buku tugas itu dengan perasaan lega yang luar biasa. Rasa cemas tentang omongan orang di gang, tentang hari Senin, dan tentang masa depan, menguap begitu saja digantikan oleh keyakinan baru.

Di dalam rumah berdinding sederhana ini, kami mungkin miskin harta, tetapi kami kaya akan tekad yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh kata-kata siapa pun.

1
Gunadi Hudaya
priska, bisa ikuti aku? ada beberapa bagian yg ingin aku review dari novelmu kalo kamu tidak keberatan
Priska: Tentu saja boleh kakak
total 1 replies
Gunadi Hudaya
dulu aku memang pernah menikmati pendidikan di sekolah dasar. tp sdh lama sekali. dan ternyata saat berhadapan dengan keponakanku yg sd juga ga bisa related. sd dulu dan sd sekarang beda sekali
Priska: Benar SD sekarang berbeda, terimakasih kk udah mau mampir 🙏
total 1 replies
Jiayou
semangat ya kak
pokoknya harus Sampek ending
Priska: iya terimakasih kakak udah mampir 🙏
total 1 replies
Bayu Aksa
Berasa nostalgia jaman sekolah dasar 🤭💪semangat terus ya👍
Priska: siap, terimakasih kk
total 1 replies
Dino Prayoga
seruuu😍😍
Priska: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Dino Prayoga
💪
Huang ying308
halo kak , semangat👍
Priska: hai, terimakasih kak
total 1 replies
Pae Karjo
bagus semangat 💪💪
Priska: terimakasih
total 1 replies
jinggaarundari
waduhh, sedih juga ya jadi Riska...
Priska: iya, terimakasih sudah mampir kk
total 1 replies
Huang ying308
💪💪💪 semangat KK ⭐⭐⭐⭐⭐
Priska: terima kasih
total 1 replies
Rahman Ncusbre
yo tetap semangat
Priska: terima kasih
total 1 replies
Novita Wulan Sari
Ceritanya seru dan Emosional banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!